The Iron Lady: ajangnya sang diva Hollywood, Meryl Streep

Akhirnya ketemu waktu juga untuk nonton film ini. Setelah datang ke acara peluncuran buku, ketemu partner nonton..jadi deh :)

Menyebut “Iron Lady” sebagian besar orang akan langsung mengasosiasikan dengan sosok perempuan kuat Inggris yang selama lebih dari satu dekade menjadi perdana menteri (1979-1990). Yup, Margaret Thacher. Film ini memang berkisah tentang perempuan yang bisa dikatakan sebagai perempuan pertama dengan peran kuat di kancah politik tersebut. The Iron Lady tampil dalam 2 sosok, ketika muda (Alexandra Roach) dan tua (Meryl Streep).

Film menggunakan alur maju mundur, dari masa kini ke masa lalu, saat Thacher muda mengawali kariernya. Bagaimana perjuangan gadis muda penuh ambisi itu memulai perjalanan karirnya di dunia politik, saat mulai masuk partai Konservatif Inggris hingga mencalonkan diri menjadi ketua partai yang seklaigus menjadi Perdana Menteri Inggris. Kemajuan berpikirnya dan ketegasan sikap merupakan kunci Thacher yang lantas mendapatkan dukungan untuk menduduki kursi pemerintahan tertinggi di negara Inggris tersebut.

Satu dekade bukanlah masa yang singkat. Konstelasi politik mengalami banyak perubahan. Tentunya sulit untuk menampilkan seluruh konflik dengan drama yang sempurna dalam sebuah durasi singkat film. Begitupun yang muncul di film ini. Penggambaran ditekankan pada ketegasan Thacher yang sanggup membawa kemajuan, baik di bidang ekonomi, sosial dan politik untuk Inggris. Kemudian kegagalannya karena keputusan-keputusannya yang kontroversial dan sikap keras yang dinilai berlebihan oleh sebagian koleganya, para kolega yang akhirnya menyingkirkannya. Dan berakhir pada frustasi yang berbarengan dengan pertambahan usianya yang makin menua.

Secara keseluruhan sebetulnya film ini tampil seperti film biopik pada umumnya. Yang membuatnya berbeda adalah sang tokoh sentral yang diperankan dg sangat baik oleh Meryl Streep (dan karena namanya pula aku pengen nonton film ini). Meryl Streep tampil sempurna di film ini. Baik dari bahasa tubuh, logat bicara, maupun emosi yang sangat kuat dalam menggambarkan berbagai ekspresi. Penampilan Streep didukung oleh tata rias yang sangat detil dan membuat tampilan Streep benar-benar menyerupai Thatcher, baik ketika masih menjabat sebagai perdana menteri yang cantik bersinar hingga ketika ia telah menjadi sosok rapuh yang menderita demensia.


Menurutku Meryl Streep memang nyaris tak pernah gagal dalam memainkan perannya. Tengok saja perannya di Kramer vs Kramer, Out of Afrika, Devil wears Prada, Julie and Julia, dan banyak filmnya yang lain. Ia seolah tau betul karakter orang yang dilakonkannya. Maka menjadi penting memang untuk sekedar tahu sejarah Britania Raya di bawah pemerintahan Thacher. Termasuk kisah hidupnya baik di masa kecil, di masa remaja dengan kemampuan pikir yang bahkan melampaui para laki-laki yang ketika itu lebih banyak berkuasa, bagaimana dia mengendalikan pemerintahan, dan kisah pasca dia berkuasa dan segala sindrom dan sakit yang dideritanya. Karena kalau tidak, sebagai sebuah film biopik film ini juga tidak cukup lengkap menjawab kebutuhan penonton akan pengetahuan terhadap salah satu sosok yang berpengaruh di abad 20 ini.


Dan sekali lagi, karena kalau tidak kita hanya akan melihat permainan sang tokoh utama saja; rangkaian cerita tidak cukup tergarap apik, hanya tampak seperti potongan kisah yang digarap bolak-balik dan para pemeran pendukung tidak tampil optimal karena kurangnya pendalaman karakter. Kecuali kalau tujuan nontonnya seperti aku, melihat penampilan Meryl Streep, kita akan benar-benar terpuaskan.

Sutradara: Phyllida Lloyd
Produser: Damian Jones
Penulis: Abi Morgan
Pemain: Meryl Streep, Jim Broadbent, Anthony Head, Richard E Grant, Alexandra Roach, Harry Lloyd, Olivia Colman, Nicholas Farrell, Paul Bentley, Robin Kermode, John Sessions, Roger Allam, Michael Pennington, Angus
Wright, Julian Wadham, Reginald Green, Teresa Mahoney, Mary Robinson, Nick Shaw
Musik: Thomas Newman
Sinematografi: Elliot Davis
Editing: Justine Wright
Studio Film4/UK Film Council/Canal +/CinéCinéma/Goldcrest Film Production LLC/DJ Films/Pathé
Durasi: 105 menit


Savitri Scherer: Pramoedya Ananta Toer Luruh Dalam Ideologi

“Satu-satunya kesalahan Pram adalah dia berpikir dengan sangat jelas dan menulis dengan sangat bagus,” ujar Seno Gumira Ajidarma dalam diskusi peluncuran buku bertajuk “Pramoedya Ananta Toer Luruh dalam Ideologi” di Cemara 6 Galery, Jakarta, kemarin.

Melalui buku ini, sang penulis, Savitri Scherer bukan saja menjelajahi biografi Pram, tetapi juga hubungan antara dunia nyata dengan dunia fiksinya. Savitri membongkar struktur kompleks mediasi antara Pram dan dunia kreatifnya dengan memperhatikan suasana juga kekuatan-kekuatan sosial, kebudayaan, politik yang gegap gempita oleh pertarungan ideologi dan semangat zaman penuh intrik polemik pemenjaraan dari periode 1950-1980 yang dialami serta mempengaruhinya. Ia juga menelusuri pandangan-pandangan sosial dan politik Pram untuk memahami karir sastranya, seraya menilai tanggapan-tanggapannya terhadap norma-norma sosial dan sastra pada masanya.

Itu garis besar yang dikemukaan saat diskusi. Sebagian disampaikan moderator dan Seno Gumira sebagai pembicara, karena sang penulis, Savitri Scherer tak cukup banyak bicara di pertemuan ini :(

Buku ini sendiri sebetulnya merupakan disertasi dari sang penulis saat mengambil gelar PhD di Australia pada tahun 1981. Saat itu berbagai tulisan tentang Pram dan yang berhubungan atau dihubung-hubungkan dengan komunis hukumnya adalah haram. Kalaupun tersedia diedarkan secara sembunyi-sembunyi. Maka timbul ide di kemudian hari menjadikan disertasi ini buku, untuk mengenal Pram lebih dekat dari penelitian yang dilakukan Savitri. Komunitas Bambu menerbitkannya.

Lengkapnya bagaimana? Silakan baca, karena aku juga baru baca bab pembuka :)


Belajar dari Bung Hatta

Sedang melakukan kekonyolan yg luar biasa: terjebak di dalam gedung kantor setelah semalam diserang pening dan tidak sanggup pulang.. Pagi semua terkunci dan satpam entah dimana, tak tampak :( Dan aku cuma menemukan biskuit dan kopi. Ah, biarlah..mari lakukan sesuatu yang masih bisa dilakukan (semoga peningnya ga muncul lagi).

Lalu kutemukan tulisan ini, tampak menarik untuk dibagikan. Dari tulisan kawan di fesbuk: Sunardian Wirodono, penggiat sastra dan media di Jogja.

***

DONGENG SEDERHANA MENGENAI BUNG HATTA

Pada Januari 1935, Bung Hatta dan kawan-kawan seperjuangan, tiba di Tanah Merah, Boven Digoel (Papua). Kepala pemerintahan di sana, Kapten van Langen, menawarkan dua pilihan: bekerja untuk pemerintahan kolonial dengan upah 40 sen sehari dengan harapan nanti akan dikirim pulang ke daerah asal, atau menjadi buangan dengan menerima bahan makanan in natura, dengan tiada harapan akan dipulangkan ke daerah asal. Hatta menjawab, bila dia mau bekerja untuk pemerintah kolonial waktu dia masih di Jakarta, pasti telah menjadi orang besar dengan gaji besar pula. Maka tak perlulah dia ke Tanah Merah untuk menjadi kuli dengan gaji 40 sen sehari.

Hatta memilih di penjara. Dan dalam pembuangan, Hatta secara teratur menulis artikel-artikel untuk surat kabar Pemandangan. Honorariumnya cukup untuk biaya hidup di Tanah Merah dan dia dapat pula membantu kawan-kawannya. Rumahnya di Digoel dipenuhi oleh buku-bukunya yang khusus dibawa dari Jakarta sebanyak 16 peti. Beberapa buku yang ditulisnya selama pembuangan itu, antara lain, “Pengantar ke Jalan llmu dan Pengetahuan” dan “Alam Pikiran Yunani”.

Pada awal Agustus 1945, Panitia Penyidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia diganti dengan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, dengan Soekamo sebagai Ketua dan Mohammad Hatta sebagai Wakil Ketua. Anggotanya terdiri dari wakil-wakil daerah di seluruh Indonesia, sembilan dari Pulau Jawa dan dua belas orang dari luar Pulau Jawa. Pada tanggal 16 Agustus 1945 malam, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia mempersiapkan proklamasi dalam rapat di rumah Admiral Maeda (JI Imam Bonjol, sekarang), yang berakhir pada pukul 03.00 pagi keesokan harinya. Panitia kecil yang terdiri dari 5 orang, yaitu Soekamo, Hatta, Soebardjo, Soekarni, dan Sayuti Melik memisahkan diri ke suatu ruangan untuk menyusun teks proklamasi kemerdekaan. Soekarno meminta Hatta menyusun teks proklamasi yang ringkas. Hatta menjawab tangkas, “Bung yang menuliskan, saya yang mendiktekan,…” Dan Soekarno yang sama-sama keras kepala pun, menurutinya.

Jaman Perang Kemerdekaan, Indonesia harus mempertahankan kemerdekaannya dari usaha Pemerintah Belanda yang ingin menjajah kembali. Pemerintah Republik Indonesia pindah dari Jakarta ke Yogyakarta. Dua kali perundingan dengan Belanda menghasilkan Perjanjian Linggarjati dan Perjanjian Renville, tetapi selalu berakhir dengan kegagalan akibat kecurangan pihak Belanda. Untuk mencari dukungan luar negeri, pada Juli I947, Bung Karno memerintahkan Bung Hatta untuk meminta bantuan senjata kepada Jawaharlal Nehru. Cara untuk pergi ke India pun dilakukan secara rahasia. Bung Hatta memakai paspor dengan nama ‘Abdullah, co-pilot’. Lalu beliau berangkat dengan pesawat yang dikemudikan Biju Patnaik, seorang industrialis yang kemudian menjadi menteri pada kabinet PM Morarji Desai. Bung Hatta diperlakukan sangat hormat oleh Nehru dan diajak bertemu Mahatma Gandhi. Nehru adalah kawan lama Hatta sejak 1920-an, dan Gandhi mengetahui perjuangan Hatta. Setelah pertemuan, Gandhi diberi tahu oleh Nehru, bahwa ‘Abdullah’ itu adalah Mohammad Hatta. Apa reaksi Gandhi? Dia marah besar kepada Nehru, karena tidak diberi tahu yang sebenarnya. “You are a liar!” ujar Mahatma Gandhi sang kharismatik itu. Bisa jadi, itu satu-satunya kebohongan Bung Hatta, demi kemerdekaan Indonesia.

Salah satu yang menonjol dari Hatta, tentu kesederhanaannya. Sri Mulyani Indrawati, mantan Menkeu RI, pernah membuat analisis bagus, bahwa salah satu faktor kebangkitan ekonomi nasional di periode awal paska krisis moneter (sekitar Tahun 1999 hingga 2001) adalah karena adanya semangat “menunda berkonsumsi”. Bedanya, Sri Mulyani berteori, sementara Hatta mempraktikkannya. Menurut Hatta, rakyat Indonesia harus pandai menunda hasrat berlebihan dalam mengkonsumsi.

Dongeng menunda konsumsi Hatta ini menjadi sangat klasik, seperti bagaimana ia mesti menabung untuk membeli sepatu Bally. Bung Hatta menggunting sepotong iklan dari koran, ia simpan baik-baik dan disisipkan di meja kerjanya. Guntingan “pariwara” koran itu adalah tentang produk sepatu Bally yang ia idam-idamkan, yang tidak pernah kesampaian hingga akhir hayatnya. Padahal, waktu itu beliau adalah wakil presiden sebuah negara dengan penduduknya yang puluhan juta. Bukankah Bung Hatta sebenarnya bisa menggunakan kekuasaanya sebagai wapres? Dan berlusin-lusin sepatu Bally akan datang ke rumahnya? Tetapi si Bung sanggup menahan diri. Menunda konsumsi.
Konon pula, si Bung pernah ditawari oleh produsen mobil Ford, untuk membangun jalan lintas se-Sumatera, dengan syarat produk-produk Ford bebas diperjualbelikan di Indonesia. Bung Hatta menolak. Bukan karena tak butuh jalan, tetapi khawatir rakyatnya keranjingan mobil Ford, sesuatu yang belum pantas saat itu.

Bahkan soal air mandi pun, Hatta sangat hemat. Sewaktu di pengasingan, Bung Hatta sangat “dibenci” oleh sahabat-sahabatnya hanya gara-gara soal air di kolam pemandian. Si Bung tahu persis, berapa gayung harus dikucurkan untuk membersihkan seluruh tubuh. Ia memperlakukan air dengan sangat hemat. Wakil Presiden pertama RI itu marah jika kawan-kawannya boros air. Masalah sepele? Mungkin. Tapi bayangkan Indonesia sekarang, ada daerah banjir, ada daerah kekeringan, ada orang memandikan mobil dengan mengocorkan air seboros-borosnya.

Wakil presiden yang menggunakan mobil dinas De Soto ini, bukan fasilitas negara. Itu mobil hadiah seorang pengusaha, Djohan Djohor. Kenapa beliau mau menerima pemberian seorang pengusaha? Karena Djohan Djohor kebetulan adalah pamannya. Sang Paman mengancam, jika tidak mau menerima mobil pemberiannya, itu sama saja mempermalukan perjuangan rakyat Indonesia! Entah bagaimana logiknya, Hatta yang selalu menolak pemberian pengusaha itu, akhirnya menerima. Jangankan sepatu Bally yang waktu itu harganya selangit, barang lain yang juga tak mampu dibelinya adalah mesin jahit, yang juga sudah lama didambakan sang istri. Waktu itu, memang Hatta sudah mengundurkan diri dari jabatan wakil presiden, 1 Desember 1956. Uang pensiun yang diterimanya sangat kecil. Uang pensiun sebagai wapres itu, hampir sama dengan Dali. Pelukis Salvador Dali? Bukan, ini nama sopir Bung Hatta yang digaji pemerintah.

Dalam kondisi seperti ini, keuangan keluarga Bung Hatta memang sangat kritis. Sampai-sampai, pernah suatu saat Bung Hatta kaget melihat tagihan listrik, gas, air, dan telepon yang harus dibayarnya. Menghadapi keadaan itu, Bung Hatta tidak putus asa. Dia semakin rajin menulis untuk menambah penghasilannya. Baginya, biarpun hasilnya sedikit, yang penting diperoleh dengan cara yang halal. Itu sebabnya, mengapa Bung Hatta mengembalikan sisa uang yang diberikan pemerintah untuk berobat ke Swedia. Itu dilakukan, karena sepulang dari Swedia, Bung Hatta mendapati bahwa uang tersebut masih bersisa, dan dia merasa itu bukan haknya.

Bung Hatta, adalah seorang pendiam. Namun pernah suatu ketika, ia berpidato di Lapangan Ikada (sekarang Lapangan Merdeka) pada tanggaI 8 Desember 1942. Cukup menggemparkan banyak kalangan. Ia mengatakan, “Indonesia terlepas dari penjajahan imperialisme Belanda. Dan oleh karena itu saya tak ingin Indonesia menjadi jajahan kembali. Tua dan muda merasakan ini setajam-tajamnya. Bagi pemuda Indonesia, saya Iebih suka melihat Indonesia tenggelam ke dalam lautan, daripada mempunyainya sebagai jajahan orang kembali,…”

Jadi pengen nyanyiin lagunya Iwan Fals..

sumber tulisan: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=3132753848877&set=a.1390672857941.2052602.1565711715&type=1


Tracy Chapman, penulis lirik unik tentang cinta dan kritik sosial

Awal sekali mendengar lagunya, aku menduga si pemilik suara adalah seorang laki-laki berkulit hitam. Black voice-nya bener, tapi dia perempuan dengan suara bariton. Give Me One Reason. Itulah lagunya yang pertama kali kudengarkan di Radio Mara, Bandung. Yup, dialah Tracy Chapman.

Lalu muncul boyband asal Irlandia, Boyzone yang salah satunya membawakan -baru kemudian aku tau kalau itu adalah- lagunya Chapman: “Baby Can I Hold You”. Hmmm baru bertambah referensinya. Seorang kawan mengingatkan, selain lagu cinta, Tracy juga banyak menulis lirik bertema sosial. Dia mengenalkanku pada “Talking About Revolution”. Coba kita simak liriknya..

Talking About Revolution

Don’t you know
They’re talkin’ about a revolution
It sounds like whisper
Don’t you know
They’re talkin’ about a revolution
It sounds like whisper

While they’re standing in the welfare lines
Crying at the doorsteps of those armies of salvation
Wasting time in the unemployment lines
Sitting around waiting for a promotion

Poor people gonna rise up
And get their share
Poor people gonna rise up
And take what’s theirs

Don’t you know
You better run…
Oh I said you better
Run
Run
Run…

***

Kepiawaian Chapman bermain musik dan menulis lirik sudah dimulai sejak masa kanak, persisnya ketika perempuan yang dilahirkan di Cleveland, Ohio ini berumur 11 tahun. Tapi baru 13 tahun kemudian ia memulai debut karir penyanyi profesionalnya. Sebelumnya, selama di college, Chapman melakukan pertunjukan di jalanan, menyanyi, bermain gitar dan harmonika di kafe-kafe di Cambridge, Massachusetts. Kesempatan rekaman baru ia dapatkan setelah lulus dari Tutfts. Pada tahun 1988 Chapman berhasil meluncurkan album bertajuk namanya: “Tracy Chapman”.  Publik penikmat musik menyukainya. Besar di panggung, Chapman pun mengadakan pertunjukan di TV pada acara Nelson Mandela 70th Birthday Tribute concert pada bulan Juni di tahun yang sama. Dari ajang tersebut, lagunya “Fast Car”, mulai masuk tangga lagu di Amerika dan akhirnya berhasil menjadi Top 10 lagu pop versi Billboard Hot 100.

Dua album yang dia rilis berikutnya tak cukup menuai sukses, namun masih mendapatkan sambutan baik plus status platinum. Kesuksesan baru ia tuai lagi pada album keempatnya, “New Beginning” yang dirilis pada tahun 1995. Album ini melahirkan hit “Give Me One Reason” yang juga memberinya Grammy Awards untuk kategori lagu Rock terbaik (1997).

Chapman yang terlahir di tanggal 30 Maret 1964 ini menyelesaikan semua studinya dengan baik. Ia juga banyak terlibat dalam kegiatan sosial, diantaranya menyelenggarakan konser amal untuk AIDS. Tak heran jika kemudian pada Mei 2004, Tufts-almamaternya menganugerahinya gelar Doctor of Fine Arts untuk kontribusinya dalam bidang sosial dan seni.

Nyanyi yuk ah! Ini lirik dan musik indah yang Chapman buat, lagu yang menunjukkan ketegaran seorang perempuan sekaligus kerapuhannya dan ingatan yang indah sekaligus memilukan terhadap orang yang dicintainya. Perfecto!

The Promise

If you wait for me
Then I’ll come for you
Although I’ve travelled far
I always hold a place for you
In my heart
If you think of me
If you miss me once in a while
Then I’ll return to you
I’ll return and fill that space in your heart

Chorus-
Remembering your touch
Your kiss
Your warm embrace
I’ll find my way
Back to you
If you’ll be waiting

If you dream of me
Like I dream of you
In a place that’s warm and dark
In a place where I can feel
The beating of your heart
(chorus)

I’ve longed for you
And I have desired
To see your face your smile
To be with you wherever you are
(chorus)

Please say you’ll be waiting
Together again
It would feel so good to be in your arms
Where all my journeys end
If you make a promise
If it’s one that you can keep
I vow to come for you
If you wait for me
And say you’ll hold
A place for me
In your heart

***

referensi wikipedia


Liburan Kemarin…

Lama banget ya aku tidak menengok rumahku.. Terlalu banyak yang ingin diceritakan, tapi terlalu sedikit energi untuk menuangkannya. Ah, mungkin aku mengingat liburan akhir tahun kemarin..

Berada di rumah yang hijau oleh tanaman.. Berjumpa dengan saudara :)

Berjumpa dengan kawan2 SD..

Menenggok kerabat yang sudah mulai kehilangan daya ingatnya. Namanya Panson. Aku memanggilnya Pakdhe Panson. Kakak tertua bapakku ini sebetulnya punya nama asli Herjuwono. Tapi saat Belanda masih bercokol di bumi pertiwi, mereka minta pakdhe mengganti namanya. Dan nama itulah yang kami kenal hingga kini..

Dan tentu saja maen air di Teluk Prigi, bareng keponakans :)

Dah pengen liburan lagi deeehhhh… :)


Kekasih-ku Abu dan Puisi Sutardji Calzoum Bachri

Aku jatuh hati padanya, yang menatapku sayu dengan mata kuning terang di antara bulu abunya.
Dia, kekasih-ku abu.

Lalu aku teringatkan pada Sutardji dengan puisinya..

Ngiau! Kucing dalam darah dia menderas
lewat dia mengalir ngilu ngiau dia bergegas lewat dalam aortaku dalam rimba
darahku dia besar dia bukan harimau bukan singa bukan hiena bukan leopar
dia macam kucing bukan kucing tapi kucing
ngiau dia lapar dia merambah rimba afrikaku dengan cakarnya dengan amuknya
dia meraung dia mengerang jangan beri
daging dia tak mau daging Jesus jangan
beri roti dia tak mau roti ngiau kucing meronta dalam darahku meraung
merambah barah darahku dia lapar 0 alangkah lapar ngiau berapa juta hari
dia tak makan berapa ribu waktu dia
tak kenyang berapa juta lapar lapar kucingku berapa abad dia mencari mencakar menunggu tuhan mencipta kucingku
tanpa mauku dan sekarang dia meraung
mencariMu dia lapar jangan beri daging jangan beri nasi tuhan menciptanya tanpa setahuku dan kini dia minta
tuhan sejemput saja untuk tenang sehari untuk kenyang sewaktu untuk tenang..


Ketika Lennon beradu gitar dengan Che di Chicago

Kemarin secara berturut-turut aku mendapat kiriman foto ini, dari dua orang kawan. Kurasa kawan-kawan yang mengirimi ini tau betul aku penyuka Lennon-Beatles dan mungkin menduga aku sedikit kiri (baca: slendro) hehe..

Tertulis catatan di bawahnya: “Di studio siang itu, di Chicago, 11 Agustus 1966, Lennon ditemani Guevara dengan gitar di tangan dan impian kebebasan. Che memang tidak pintar menyanyi, tapi ia spontan mengambil gitar dan tetap bernyanyi –tepatnya berteriak, banyak lagu tentang penindasan. John mendengarkan tanpa mengatakan sepatah kata pun. (Benarkah kejadian dalam foto ini hoax semata?”

Agak heran memang melihat tampilan mereka berdua, tapi aku gembira saja dapat memelototi dua cowok ganteng berkarakter ini :) Coba cari info ini sana sini, munculnya malah di milis (setelah tidak siaran aku nyaris tidak pernah membuka post di milis bitel). Adalah begawan bitel, Pandu Ganesa alias Pak Gono yang menyampaikan analisis ilmiahnya.

Kucopas lengkap saja komentarnya Pak Gono, meski ada bahasa Jawa yang aneh2 :) :

“Hayyya, ini sotosop atawa rawonsop? Tampang Lennon di sini adalah versi circa album Somewhere in New York City (1972). 11 Agustus 66, Bitel berangkat dari London, tiba di Boston dan lanjut ke Chicago landing pukul 16.55. Malamnya ada konferensi pers yang untungnya Lennon tidak diplokotho lagi soal: lebih populer ketimbang Yesus. Besuknya baru mereka main. (sumber: The Beatles Chronicle). Jadi, antiklimaks dong? Tapi gpp kok, bagus juga untuk penyemangat mereka yang progresif revolusioner, walau Lennon sendiri sudah bersabda dalam Revolution: but if you talk about destruction, dont you know you can count me OUT (atau IN, terserah pilih yang mana, soalnya ada 2 versi sih). Kasihan tuh pager Senayan rusak.
……………….
Yang konyol, waktu tahun 66, usia Che kan sudah 38 tahun, sudah tuwek, dalam foto itu kelihatan masih umur 20 tahunan, seumuran dengan foto2 yang banyak beredar di kaos2 itu. Lagian ngapain juga dia jalan2 ke Chicago. Karena Che pernah ke Indonesia, maka kalau misalnya ada foto dia sedang salaman dengan Bing Slamet atau Oslan Hussein, atau penyanyi kroncong istana, saya malah langsung percaya.”

Gitu deh… Tapi memang tampak seru foto kedua cowok ganteng itu ya :)

 

 

 


New Year Eve Party with The Beatles Mersey

Tahun baru? Hah, telat amat postingnya?!
Ah, biarlah daripada tidak telat ;p

*******

31 Desember 2011. Perjalanan kereta yang panjang, dan melelahkan. Lebih lama dua jam, yang biasanya 12 jam menjadi 14 jam ternyata cukup berpengaruh. Headache! Alhasil akhir tahun diisi dengan tidur panjang. Tapi ah, masa iya aku melewatkan tahun baru dengan tidur. Pergantian tahun buatku sebetulnya hanya bertambahnya angka, penanda beranjak tua. Tapi tinggal di Jakarta, tanpa rumah kecilku, tanamanku, dan meong2ku rasanya seperti digiring ke sudut sepi tanpa penghuni.. Maka kupertimbangkan dua tawaran: makan rame2 atau bergabung dg beberapa kawan komunitas Beatles. Aku pilih tawaran kedua.

Undangan datang dari kawan di komunitas Beatles, Bowie, untuk melewati pergantian tahun bersama The Beatles Mersey, band asal Liverpool, spesialis lagu-lagu The Beatles. Tapi..ahaiii..kendaraan umum penuh semua. Orang begitu antusias ingin melewatkan tahun baru dalam keramaian. Barangkali sama, tak seorang pun ingin mengalami kesepian. Jadilah aku ikut berjejal di antara para penumpang bis yang sibuk bercerita tentang kembang api dan pesta tahun baru dengan caranya masing-masing. Tapi ah dasar sopir kopaja borokokok..semua penumpang dipaksa turun Monas!

Tapi baiklah, kuputuskan untuk jalan kaki, dari Monas menuju Jakarta Theater, tempat pertunjukan berlangsung (berikutnya jalan kaki kusadari sebagai mekanisme melepas racun luka hati yang cukup mujarab!). Tiba di Jakarta Theater langsung bergabung dengan 3 kawan lain: Bowie, Budi, dan Tumpak yang begitu antusias ingin difoto. Hadeewwh…




Sebagai anggota komunitas kawakan dan pemain musik, mereka menguasai betul perbitelan. Tak heran jika celetukan2 yang muncul adalah kritikan2 terhadap permainan musik band duplikat Beatles ini.

*******

Seperti halnya The Beatles, The Beatles Mersey juga terdiri dari 4 orang, yakni Markus Bloor sebagai John Lennon, David Howard sebagai George Harrison, Steven Howard sebagai Paul McCartney, dan Brian Ambrose sebagai Ringo Starr.  Tampil pertama mereka langsung mengusung lagu dari era psikedelik, Sgt. Peppers Lonely Hearts Club Band dari album dengan judul yang sama. Lengkap dengan kostum mereka.


Baru sekitar 45 menit terakhir lagu bergeser ke era awal kemunculan The Beatles. Formasi penonton yang berjumlah sekitar 300 orang itu sudah mulai berubah. Yang awalnya rapi, sebagiannya mulai meruah mendekati panggung, menyanyi dan menari bersama.

Yang membuat mereka terlihat seru adalah karena mereka bule, mendekati performa The Beatles apalagi ditambah dengan kostum yang mendukung. Selebihnya kurasa tidak ada yang istimewa. Itu pula yang diamati kawan saya, Tumpak. Menurutnya -karena mereka menyebut diri band duplikasi Beatles- mereka tidak tampil maksimal. Dari bahasa tubuh kurang menjiwai personalitas masing-masing. Begitu pula dalam musikalisasinya. Banyak detil yang terlewatkan. Bahkan menurut Tumpak, grup lokal G-Pluck tampil lebih bagus.

Belasan hits sejak kedatangan The Beatles di benua Amerika seperti I Wanna Hold Your Hand, She loves You, All My Loving, dan lagu-lagu berirama rock n roll lain menggempitakan suasana hingga jarum jam persis di angka 12. Lepas dari kekurangan mereka, The Beatles Mersey malam itu sangat menghibur, menemani para penikmat Beatles melewati pergantian tahun 2011-2012.

Dan sekarang sudah hari ke empatbelas. Semoga masih indah adanya, kawans :)


Lelaki adalah seluruh keherananku kepada manusia *)

“aku tahu, aku yang mesti pergi, dari rasa dan peristiwa yang menjerat kita”

Kalimat itu menjadi serupa mantra pada sepertiga bulan terakhir. Hari-hari yang absurd. Hari-hari yang dipenuhi pertanyaan tak terjawab. Hari-hari yang dijejali kata tak terucap. Hari-hari yang dibanjiri rindu tak terbendung. Hari-hari yang dipenuhi marah yang menggunung…

Dan hari ini adalah hariku, hari dimana aku akan bergerak dari titik aku berdiri tegak. Sendiri. Lalu kutemukan lagu ini, lengkap..
Mari temani aku bernyanyi, kawans..menyingkirkan sesak yang masih pekat mengendap.

SISTEM

by Mukti-mukti & J Renata

mesti bagaimanakah katakan aku mesti bagaimana
pada batas sepi kunanti kau, selalu kunanti
tak kapok ku berharap bayangmulah sekiranya terlukis di pintu
tak kuputus kecewaku

tegaskan, sekali ini bakal kau lumat aku dalam siksa perpisahan
nyatakan agar tertepati luka yang kita tahu pasti ada
ucapkanlah, ucapkan
walau setengah mati ingin aku tutup telinga dengan batu
mimpi pun aku tak berani
karena aku angin dan kau nyanyian burung yang terdengar
lapat-lapat
katakan saja…..

aku tahu, aku yang mesti pergi
dari rasa dan peristiwa yang menjerat kita

*******

Makasih, Mukti-Ibay…

*) contekan syair Afrizal Malna: cinta adalah seluruh keherananku kepada manusia...

 

 


Mission: Impossible – Ghost Protocol, film action sukses di 2011

Sebetulnya ini hanya ‘pilihan kebetulan’ melewatkan soreku kemarin. Awalnya ingin membuktikan apresiasi seorang kawan terhadap “Machine Gun Preacher” yang menyebutkan kalau film itu bukan sekedar adegan laga, tapi ada konflik politik yang asik plus keterlibatan gereja di dalamnya. Ternyata agak enggan untuk menggunakan angkutan menuju bioskop yang masih menayangkan film yang diaktori Gerard Butler itu. Jadilah, Cinema 21 TIM yang jadi pilihan. Dan satu-satunya film yang masuk akal untuk kutonton hanya ini: Mission: Impossible – Ghost Protocol.

Film diawali dengan gambaran dari angkasa Budapest, kota dengan sekumpulan bangunan tua yang menarik. Memasuki kota kita langsung disuguhi adegan duel antara sejumlah laki-laki hingga akhirnya sang tokoh, Trevor Hanaway, yang ternyata agen tersebut tewas. Pembunuhnya perempuan cantik berambut pirang, Sabine Moreau (Léa Seydoux) yang sempat terekam oleh pesawat seluler agen yang menjadi korban.

Peristiwa tersebut kemudian digambarkan lebih detil oleh agen Jane Carter (Paula Patton) saat melakukan penjemputan Ethan Hunt (Tom Cruise) dari penjara. Tugas mereka adalah mengambil dokumen yang sebelumnya sempat diselamatkan oleh Hanaway. Persoalan penting menunggu mereka: menggagalkan peluncuran nuklir oleh teroris asal Rusia, Kurt Hendricks (Michael Nyqvist). Bertiga, bersama agen Benji Dunn (Simon Pegg) mereka bergegas menuju kota tujuan, Dubai.

Sebuah rencana pun digagas. Ethan yang menyamar sebagai jendral Rusia, dan ditemani Benji yang menjadi asistennya, akan mengambil kode peluncuran nuklir yang tersimpan dalam sebuah gedung. Namun yang terjadi kemudian adalah Ethan dan kelompoknya dijebak dan kemudian malah menjadikan mereka sebagai tersangka. Karena kejadian tersebut Impossible Mission Force (IMF) pun terpaksa ditutup ijin operasinya. Menteri Pertahanan Negara Amerika Serikat yang sekaligus Sekretaris IMF (Tom Wilkinson) mengatakan langsung kepada Ethan dalam perjumpaan mereka di tepi kota itu. Mr Secretary juga mengenalkan Ethan kepada analis intelijen, William Brandt (Jeremy Renner) yang menemaninya. Saat perbincangan masih berlangsung, mereka ditembaki oleh pasukan keamanan Rusia. Mr Secretary tewas. Brandt yang tak punya pilihan lain akhirnya bergabung dengan Ethan dan dua agen lainnya. Petualangan baru pun dimulai, tanpa perencanaan detil dan suport dari pemerintah.

Mission: Impossible edisi kali ini tak jauh dengan 3 seri film sebelumnya, full action. Franchise yang sudah dimulai sejak 1996 ini memang lebih memilih menyuguhkan laga dibandingkan dengan konflik cerita. Bahkan untuk seri kali ini lebih ringan konflik dibandingkan dengan seri sebelumnya. Ada konflik batin Jean saat berhadapan dengan Sabine Moreau yang telah menghabisi nyawa Hanaway, merenggut laki-laki yang dicintainya sekaligus menggagalkan operasi yang dipimpinnya. Konflik batin juga dialami Brandt yang ternyata punya bukan semata seorang analis, tapi menghilangkan fungsi agen dirinya karena masa lalu yang coba dilupakannya. Masa lalu yang ternyata terhubung dengan Ethan. Selebihnya tak ada konflik yang cukup berarti. Kerjasama mereka tergarap dengan baik, chemistry terbangun solid diantara keempatnya. Bahkan sosok Kurt Hendricks, sang teroris yang mustinya menjadi musuh utama kelompok inipun tidak muncul dengan jelas. Sosoknya tampak hanya mampir lewat.

Tapi sekali lagi -sejak kemunculannya di awal sebagai serial televisi pada pertengahan tahun 60an- film tv kreasi Bruce Geller ini memang menjual adegan laga dengan dukungan teknologi canggih. Terlebih di seri kali ini. Selain intensitas aksi yang lebih meningkat, Mission: Impossible – Ghost Protocol juga menyuguhkan impian teknologi yang membuatku berdecak kagum. Sentuhan Brad Bird juga menjadikan film ini tampil berbeda. Sutradara pemenang Oscar ini mampu mengarahkan Mission: Impossible – Ghost Protocol sebagai film aksi yang prima sekaligus mewarnainya dengan humor-humor cerdas yang menggelitik di sepanjang film.

Brad Bird menjadi tokoh penting dalam film ini. Namun tentu saja peran para pemain juga ikut membuat film ini sukses. Tom Cruise tetap menjadi jaminan. Lupakan gambaran manis Cruise di Top Gun, A Few Good Man, atau Rain Man dan film-film lain di masa mudanya. Tapi di usianya yang jelang 50 tahun ia masih tampil prima. Dan lebih ganteng bo’ :D   Begitupun anggota tim lainnya, Jeremy Renner, Simon Pegg, dan Paula Patton menjadikan film ini disebut-sebut sebagai film action tersukses di sepanjang tahun 2011. Apa itu indikasi akan muncul seri kelima? Kita tunggu saja :)

Selamat menonton!

Sutradara: Brad Bird
Produser: Tom Cruise, J. J. Abrams, Bryan Burk
Penulis: André Nemec, Josh Appelbaum (screenplay), Bruce Geller (TV series, Mission: Impossible)
Pemain: Tom Cruise, Jeremy Renner, Simon Pegg, Paula Patton, Michael Nyqvist, Vladimir Mashkov, Samuli Edelmann, Anil Kapoor, Josh Holloway, Léa Seydoux, Tom Wilkinson, Ving Rhames, Michelle Monaghan

Musik: Michael Giacchino, Lalo Schifrin (themes)
Sinematografi: Robert Elswit
Editing: Paul Hirsch
Studio Paramount Pictures/Skydance Productions/Bad Robot/FilmWorks/Stillking Films/TC Productions
Durasi: 133 menit


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 36 pengikut lainnya.