Working Class Heroes, Wiji Thukul, dan Tukul Arwana (catatan kecil di Hari Buruh 2012)

BURUH-BURUH
(Wiji Thukul)

di batas desa
pagi-pagi
dijemput truk
dihitung seperti pesakitan
diangkut ke pabrik
begitu seterusnya

mesin terus berputar
pabrik harus berproduksi
pulang malam
badan loyo
nasi dingin

bagaimana kalau anak sakit
bagaimana obat
bagaimana dokter
bagaimana rumah sakit
bagaimana uang
bagaimana gaji
bagaimana pabrik? mogok?
pecat! mesin tak boleh berhenti
maka mengalirlah tenaga murah
mbak ayu kakang dari desa

disedot
sampai pucat
(solo, 4-86)

Kubaca puisi ini pada pagi tadi. Lalu melintas tanya iseng di kepalaku, apa jadinya kalau aku membuat pertanyaan ke sejumlah orang: “Tahu Wiji Thukul ga?” Maka kubayangkan akan kudapat jawaban seperti ini:
A: Taulah…”kembali ke laptop”
B: Wiji Thukul? Tukul Arwana maksudnya?
C: Tau, yang bawain Empat Mata itu kan?
D: Think quick!

Lalu aku teringatkan pada lagunya John Lennon, Working Class Hero. Kubuka folder koleksi The Beatles-ku, kuputar dan kudengarkan. “A working class hero is something to be,” begitu katanya.

Apakah kita selalu butuh pahlawan? Barangkali. Barangkali kita memang membutuhkan sosok yang setidaknya mampu menumbuhkan gairah, mengembalikan semangat yang melemah karena benturan keadaan, mengingatkan idealisme semula, mempertahankan mimpi-mimpi yang dalam dunia nyata bagai utopia semata. Pertanyaannya: pahlawan yang seperti apa?

Berangkat dari pertanyaan iseng sebelumnya, mencoba melihat dua sosok yang kebetulan memiliki sejumlah kemiripan itu: Wiji Thukul dan Tukul Arwana.

Kedua laki-laki ini lahir dari provinsi yang sama, Jawa Tengah. Wiji Thukul yang lahir di Solo, hanya selisih 2 bulan lebih tua dibandingkan Tukul Arwana. Mereka lahir di tahun yang sama. Keduanya berangkat dari kalangan yang terbatas secara finansial. Saat keluarganya kesulitan membiayai sekolahnya, Tukul Arwana (lahir di Semarang, 16 Oktober 1963) berkeliaran di jalan menjadi sopir angkutan. Selain itu laki-laki yang lahir dengan nama Riyanto ini juga memanfaatkan kemampuannya melawak untuk menyokong kebutuhan ekonomi keluarganya. Keadaan yang tak kunjung membaik membuatnya berpikir untuk hijrah ke Jakarta. Mengubah nasib di ibukota, seperti harapan banyak orang.

Nasib baik memang berpihak padanya. Meski tidak berjalan mulus, akhirnya Tukul mengalami perjumpaan dengan media massa: menjadi penyiar radio, bintang video klip, hingga bergabung dengan Srimulat. Kemampuannya yang cepat menemukan ide segar merespon banyolan ditangkap dengan baik oleh pengelola media tv yang lalu memberinya sebuah ruang khusus. Maka berkibarlah namanya. Lalu seperti lazimnya media yang telah menjadi industri, hukum pasar pun berlaku. Minat pasar yang besar, rating yang tinggi, jam tayangpun ditambah. Keunikan itupun hilang. Tayangan itu di mataku tak ubahnya tontonan populer yang menjemukan. Terlebih ketika perempuan lebih banyak diposisikan sebagai objek.

Terlepas dari penilaian subjektifku, Tukul Arwana mungkin sudah menjadi pahlawan. Euforia sentimen irasional ‘wong cilik’ yang melihat sosok dari kalangannya bisa muncul meraksasa sedemikian rupa. Dilengkapi dengan buaian mimpi akan kemewahan yang telah dimahfumi dan diterima sebagai sajian yang wajar dari sebuah industri media. Lantas bagaimana dengan Wiji Thukul?

Laki-laki bernama asli Wiji Widodo (lahir di Sorogenen, Solo, 26 Agustus 1963) ini dibesarkan oleh keluarga tukang becak. Ia gemar menulis puisi sejak SD dan melanjutkannya dengan dunia teater saat masuk bangku SMP. Thukul sempat mengenyam pendidikan hingga kelas dua Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Solo jurusan tari. Untuk menunjang hidupnya dan keluarganya, Thukul bekerja sebagai pedagang koran, menjadi calo karcis bioskop, dan menjadi tukang plitur di sebuah perusahaan mebel. Meski demikian ia aktif mengajak anak-anak di kampungnya untuk berkegiatan teater dan dan melukis. Ia juga bergabung dengan Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (Jakker).

Sejak semula Thukul sudah terlibat dalam sejumlah aksi massa. Pada tahun 1992 ia ikut demonstrasi memprotes pencemaran lingkungan oleh pabrik tekstil PT Sariwarna Asli di Solo. Lalu pada 1994 ia pernah ditangkap dan dipukuli militer karena memimpin aksi massa petani di Ngawi. Tahun 1995 ia mengalami cedera mata kanan karena dibenturkan pada mobil oleh aparat sewaktu ikut dalam aksi protes karyawan PT Sritex. Thukul terlibat aktif dalam proses pembentukan Partai Rakyat Demokratik, PRD. Lima hari setelah deklarasi PRD, terjadi kerusuhan, penyerbuan Kantor DPP PDI Megawati di Jalan Diponegoro, Jakarta. Pada peristiwa 27 Juli 1996 tersebut pihak militer menuduh PRD sebagai dalang. Partai dan organisasinya dilarang, tapi Thukul tetap bergerak. Puisi-puisinya muncul di bawah tanah, baik terbit di majalah PRD Pembebasan maupun dalam bentuk fotokopi. Tersebar dari tangan ke tangan. Satu bait dari puisinya yang berjudul Peringatan menjadi sangat terkenal dan terus diteriakkan dalam berbagai aksi mahasiswa di berbagai kota, yaitu “hanya ada satu kata, lawan“.

Rekam jejak Wiji Thukul menunjukkan masih ada komunikasi antara dia dan kawan-kawan aktivisnya pada tahun 1998, sebelum kemudian menghilang. Pada April 2000, istrinya, Sipon menyampaikan laporannya ke Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras).

Sudah jelang petang, John Lennon masih bernyanyi: “A working class hero is something to be…”

Dan malam nanti, sementara layar dengan gambar bergerak menampilkan para perempuan berpupur tebal, bergincu merah, dan bergaun indah tertawa ceria di antara gurauan yang entah artinya apa, seorang perempuan di sebuah sudut kota lain sedang mengingat ungkapan suaminya:

aku pasti pulang
mungkin tengah malam dini
mungkin subuh hari
pasti
dan mungkin
tapi jangan
kau tunggu

(15 Januari 1997)

Lima tahun sudah berlalu. Pada akhirnya ungkapan itu hanya menjadi Catatan, persis seperti sang suami menjuduli puisinya.

*1 Mei 2012: untuk semua yang terpinggirkan… (oleh hegemoni kekuasaan, apapun wujudnya)

***

mengurai ketegangan dengan..biasa...meong :)


Mengenang Seorang Pram (6 Februari 1925 – 30 April 2006)

Mengenang Pramoedya Ananta Toer, aku menemukan catatan ini di sini:

http://pejalanjauh.com/2006/05/saat-saat-terakhir-pramoedya-menjelang/

Menurut catatan penulis, tulisan ini pernah diterbitkan panitia fky 2007 dalam buku berjudul “tongue in your ear”.

Selamat membaca catatan menarik dari bung pejalan jauh ini…

*******

Menjelang Berakhirnya Pasar Malam

– Mengenangmu, Pram….

Semalaman, dari jam setengah 10 malam sampai Minggu pagi, saya berada di kediaman Pram di Utan Kayu. Bersama sejumlah teman, saya mengalami langsung, menyaksikan dengan mata kepala sendiri, bagaimana Pramoedya meregang nyawa, melawan maut, dan kemudian menyerah.

Mengingat kembali proses-proses itu, saya seperti sedang membaca kembali Bukan Pasar Malam.

Saya datang ke rumah Pramoedya sekitar pukul 22.30, Sabtu malam, bersama Ella Devianti, gadis cantik yang baru saja menelurkan novel pertamanya, Paradoks Maggy. Sesampainya di sana, saya langsung disuruh masuk ke halaman rumah Pram. Saya lihat masih banyak orang di sana. Ada beberapa reporter televisi sedang menenteng kamera. Yang saya lihat secara jelas hanya reporter SCTV.

Rumah Pram 2 meter di atas jalan, dan memasuki halamannya berarti kita mesti menaiki jalan masuk yang menanjak. Di sana saya belum melihat satu pun orang yang ku kenal. Saya duduk sesaat di tanjakan halaman rumah, persis di sebelah seorang lelaki paruh baya yang duduk tercenung.

Saya beranikan diri bertanya: “Bagaimana kabar si Bung?”

“Saya tak tahu persis. Katanya malah sudah meninggal,” jawabnya pendek. Ia langsung menunduk begitu usai menjawab

Saya terhenyak. Saya tak percaya tentu saja. Sebab 15 menit sebelum sampai, Muhidin M Dahlan, karib dan rekan sekantor, mengabarkan Pram masih bertahan setelah melewati masa krisis sebanyak tiga kali. Saya juga tak percaya karena sebelum berangkat saya sempat membuka detik.com, dan di sana dikabarkan bahwa Pram masih bisa bertahan, dan bahkan minta sebatang rokok kesayangannya, Djarum Super.

Saya tengok kanan-kiri. Saya lihat beberapa orang yang ku kenal. Bersama Ella saya kemudian mendekati mereka yang duduk mengelilingi sebuah meja kaca, persis di samping kanan rumah. Saya bertanya pada Muhidin. Dan Chavchay Syaifullah, wartawan Media Indonesia yang baru saja melaunching bukunya tentang Chairil Anwar, menjawab: “Aman, bung. Terkendali!”

Saya lega. Saya hisap sebatang rokok. Dua batang rokok. Tiga batang rokok. Sembari terus saja bercakap-cakap. Membincangkan apa saja. Selama proses inilah belasan sms dari karib-karib saya masuk menanyakan kebenaran kabar wafatnya Pram. Sekitar pukul setengah 12, sms Faiz Ahsoul masuk, juga menanyakan kabar Pram.

Saya jawab: “Pram masih bertahan. Dia baru saja melewati krisisnya yang ketiga. Dan dia malahan meminta rokok.”

Selain kepada Faiz, sms itu juga saya kirim ke Arief Santoso, redaktur budaya Jawa Pos.

10 menit kemudian Faiz kembali membalas. “Syukurlah. Saya sedang di Kaliurang, menyaksikan Merapi yang mulai memanas. Mungkin Pram dan merapi sudah berjanji saling menunggu.”

Saya diam. Tak ku jawab sms itu.

Kemudian Susilo Ananta Toer, adik termuda Pramoedya keluar menemui beberapa wartawan televisi. Susilo bilang bahwa Pram pernah berjanji untuk bertahan hingga 100 tahun. “Bertahan, Bung. Ini baru 81, belum seratus!”

Saya tersenyum. Siapa yang tahu dan siapa yang sebetulnya menentukan usia?
Yang saya tahu, Susilo pula yang sempat bersikukuh agar Pram tetap dirawat di RS Carolus. Susilo tidak ingin kejadian di mana ayah mereka akhirnya wafat setelah 3 hari dibawa pulang dari rumah sakit. Hal itu bisa dibaca dalam Bukan Pasar Malam.

****
Di hari Minggu yang masih begitu dini, kurang lebih sekitar jam 2 pagi, Astuti Ananta Toer, putri yang begitu dekat dengan Pram, tiba-tiba menghambur dari kamar tempat ayahnya dibaringkan. Ia berteriak-teriak: “Oma… Oma….”

Waktu itu tamu dan pelayat sudah banyak yang undur. Pintu gerbang berwarna hiau sudah ditutup. Kami, yang ada di sebelah kanan kediaman Pram di Utan Kayu, refleks bangkit dari masing-masing duduknya dan langsung menghambur masuk ke dalam kamar depan tempat Pram dibaringkan.

Saya dan yang lain hanya diam terpaku, di ruang tamu, dengan mata yang nanar menatap dari kejauhan, terdengar jelas hentakan nafas satu-satu yang susah payah dihela Pram. Maestro yang dikagumi ribuan anak muda itu tampak tergeletak lemah. Ia diselimuti dengan selimut berwarna coklat bercorak kembang putih-putih. Sepasang lengannya mengenakan sarung tangan berwarna hitam. Sejumlah selang menancap di pergelangan tangan dan hidungnya. Infus dan oksigen.

Saya berada persis di ujung sepasang kaki Pram. Saya lihat sepasang kakinya keluar dari selimut. Sepasang kaki yang lemah dan tampak letih. Dibungkus kaus kaki coklat tipis.

Kembali saya ingat Bukan Pasar Malam. Si tokoh, pada kedatangannya yang pertama mengunjungi ayahnya yang terbaring sakit, memerikan bagaimana sepasang kaki ayahnya; sebuah pemeriaan yang secara luarbiasa akhirnya terulang pada diri Pram sendiri.

“Kudekati ranjang ayahku, kuraba kakinya yang kering. Hatiku tersayat. Bukankah kaki itu dulu seperti kakiku juga dan pernah mengembara ke mana-mana? Dan kaki itu terkapar di atas kasur ranjang rumahsakit. Bukan kemauannya. Ya, bukan kemauannya. Rupa-rupanya manusia ini tak selamanya bebas mempergunakan tubuh dan hidupnya. Dan kelak begitu juga halnya dengan kakiku.” (Bukan Pasar Malam, hal. 48).

Ya…. Seperti juga Pram yang meraba kaki ayahnya, saya menyentuh kaki Pram yang masih menyisakan sejumput udara hangat. Saya melolosi sepasang kaus kaki coklat tipis yang membungkus sepasang kaki Pram yang letih dan berkarat oleh waktu dan sejumlah pengkhianatan.

Saya ingat Yukio Mishima, sastrawan Jepang yang memilih mengakhiri hidupnya dengan cara seppuku yang luarbiasa dramatis, sebuah gaya artisitik memerlakukan kematian tak ubahnya sebuah panggung teater. Mishima yang bunuh diri pada 1970 itu juga pernah menulis sebuah novelet, sama seperti Bukan Pasar Malam, judulnya Patriotisme. Di cerpen itu, Mishima mengisahkan secara detail bagaimana seorang perwira Jepang melakukan seppuku. Dan sungguh menakjubkan, Mishima juga mati dengan cara yang sama seperti ia pernah tuliskan sebelumnya dalam novelet Patriotisme itu.

Pikiran saya ke mana-mana. Saya berdiri persis di tiang tempat dimana botol infus digantungkan. Saya perhatikan botol infus itu. Saya perhatikan, tetes-tetes infus begitu lambat menetes. Dan semua orang, saya kira, juga merasa detik begitu lama beranjak. Lama sekali. Saya pernah ingat seorang suster yang dulu semasa kecil pernah merawat saya sewaktu saya diterjang penyakit demam berdarah. Kata dia, kalau infus cepat habisnya berarti yang dirawat itu ada kemungkinan pulih, sementara jika infus begitu lama habisnya, itu pertanda buruk.

Saat itu saya sadar kalau Pram sedang meregang nyawa. Susah betul ia menarik nafas. Sesekali dagunya terangkat. Mungkin untuk memudahkan masuknya oksigen. Tangannya lemah terkulai. Mujib menggenggam tangan kiri, Oma (panggilan untuk istri Pram) bergantian menggenggam tangan kanan.

Lagi-lagi entah siapa yang memulai, tampaknya Mbak Titik (panggilan Astuti), beberapa orang yang hadir mulai menggumamkan do’a. Ada yang menggumam dalam hati, dan ada yang setengah berteriak. Seisi kamar seperti bergetar oleh do’a dan himpunan kalimat-kalimat suci.

Taufik Rahzen memecah suasana sakral dan menyayat itu dengan suara setengah berteriak: “Bung Pram… Bung Pram…..”

Rahzen mencoba menyadarkan, berupaya agar Pram tak kehilangan kesadaran.

Beberapa saat kemudian, Mbak Titik, dengan nada antara kasihan melihat Pram yang meregang nyawa dan campuran rasa frustasi takut kehilangan, tiba-tiba berkata dengan keras: “sudahlah… biarkan dia pergi. Kasihan. Kasihan dia….”

Seisi kamar terhenyak. “Jangan, Bung! Jangan menyerah, Bung!” batin saya dalam hati seperti hendak menolak rasa pesimis yang pelahan mulai merayap.

Tapi kali ini Pramoedya masih bertahan. Pelan tapi pasti, setelah 45 menit meregang-regang, ia kembali berhasil menguasai kesadarannya. Nafasnya mulai teratur.

“Opa… opa….” teriak Mbak Titik.

Pram menengok ke arah Mbak Titik.

Seantero kamar menarik nafas lega. Pram sadar kembali.

****
Tetapi itu tak lama. Sekitar pukul 03.15 pagi, Pram kembali diterjang krisis. Kali ini lebih menyesakkan untuk disaksikan.

Saya lihat bagaimana orang yang berdiri tegar sendirian bertahun-tahun lamanya, dipenjara di semua rezim yang pernah berkuasa di sini (di penjara kolonial Belanda, rezim fasis Jepang, zaman Soekarno juga Orde Harto), tampak megap-megap. Dagunya sesekali terangkat. Ia berulang kali mengubah-ubah posisi tangannya. Sekali waktu ia merentangkan sepasang tangannya, dengan wajah terangkat, seperti hendak menantang duel sang maut. Kali lain ia meletakkan dua tangannya di atas kepalanya. Tentu saja masih dengan deru nafas yang makin lemah dan patah-patah.

Deru do’a makin kencang menghambur dari seantero kamar. Semua-muanya. Tak terkecuali saya. Dalam hati tentu saja. Saya tak bisa membayangkan bagaimana sakitnya meregang nyawa, menempuhi sekarat, bertarung dengan malaikat penjagal nyawa. Saya ingat sebuah do’a Rasulullah yang memohon kepada Tuhan agar dijauhkan dari sakitnya meregang nyawa, yang kata Rasul, sakitnya tujuh kali lebih menggidikkan dari sayatan pisau yang paling tajam.
Saya bergidik. Begini rupanya meregang nyawa. Hih…. Dan, jujur saja, baru sekali itulah saya lihat orang sekarat. Dan entah ini anugerah ataukah kutuk, pengalaman pertama menyaksikan orang sekarat itu justru ketika Pram, orang yang saya anggap sebagai guru, yang menjadi “aktornya”.

Berkali-kali, Yudistira dan Astuti memegang lengan kiri ayahnya. Sesekali mereka mendekatkan kuping ke mulut Pram, berjaga jika sewaktu-waktu Pram membisikkan pesannya yang terakhir. Yudis sesekali membacakan kata-kata suci ke telinga ayahnya.

Saya tak tahu apa yang ada dalam batin Pram ketika di detik-detik terakhir hidupnya ia dido’akan, dihujani oleh kata-kata yang diyakini suci. Adakah Pram menolak? Mungkinkah Pram menampik?

Pelan-pelan saya khawatir, jangan-jangan Pram merentangkan tangan atau menggeleng-gelengkan kepala sebetulnya sebagai bentuk penolakan Pram atas cara keluarga, karib dan pengagumnya memperlakukan dirinya. Saya khawatir, jangan-jangan Pram hanya ingin mati dengan caranya sendiri, bukan seperti cara orang-orang yang saat itu ada di sampingnya sewaktu sedang bertarung dengan wabah maut.

Tapi kita tidak pernah akan tahu apa yang ada di kepala Pram saat itu. Kita tak akan tahu apakan Pram menolak atau tidak. Dan kita juga tak akan tahu bagaimana sebetulnya Pram ingin menghadapi maut. Lagipula, saya dan barangkali semua orang yang hadir yang mendoakan Pram dengan kata-kata suci yang dalam seumur hidup Pram jarang sekali ia ucapkan, hanya bergerak mengikuti insting, naluri. Saya, dan barangkali juga yang lain, tak pernah terlintas pikiran hendak meng-Islam-kan Pram, sebab saya dan yang lain juga tak tahu apakah Pram muslim atau bukan.

Saya ingat Pram pernah berkata bahwa orang ateis yang menjadi ateis karena pilihan sadar biasanya adalah orang yang paling banyak memikiran Tuhan. “Orang ateis,” dalam kata-kata Pram sendiri, “adalah mereka yang telah melewati banyak ‘stasiun’ pemberhentian.”

Saya tak tahu Pram sudah melewati berapa stasiun. Yang saya tahu, Pram, seperti bisa kita baca dalam Bukan Pasar Malam, membisikkan kata-kata suci yang memuji kebesaran Tuhan ke telinga ayahnya yang baru saja meninggal dunia, 57 tahun lalu, di pengujung warsa 1949 yang muram.

Sejarah barangkali adalah sebentuk persilangan dan tumbukan antara satu pengulangan menuju pengulangan yang lain. Semacam circle. Tak peduli betapa para sejarawan memeluk teguh doktrin ein malig, sejarah hanya terjadi sekali.

Di jam-jam terakhirnya itu, saya, lewat sebuah koinsidensi yang menakjubkan, bisa berada langsung melihatnya, menjadi penyaksi dari satu tahap paling genting setiap manusia: mati!

Pada fase krisisnya yang terakhir, sebelum kemudian ia meninggal pada jam 9 pagi itu, saya menyaksikan bagaimana Pram terus dikendalikan oleh hidupnya, kenangannya, dan aktivitas-aktivitas hidupnya.

Di tengah-tengah badai lara yang makin menyiksa, dengan suara yang parau dan nafas megap-megap, Pram masih sempat menanyakan kabar apakah sampah sudah dibakar.

Pram memang punya hobi aneh: membakar sampah. Jika kita baca Nyanyi Seorang Bisu, kumpulan surat-surat Pram untuk anak-anaknya yang ditulis dari Buru, kita akan tahu bahwa membakar sampah adalah salah satu cara menyibukkan diri seorang Pram selama diburu. Membiarkan diri melamun kosong di pulau pengasingan yang mengerikan sama saja dengan menyerahkan jiwa kita pada kegilaan. Membakar sampah adalah cara Pram melawan waktu yang menggerus, sekaligus sebentuk rsistensi Pram atas pengkondisian rezim Harto yang memang menginginkan agar dia jatuh bukan oleh tangan-tangan kasar aparat, melainkan jatuh dalam kegilaan dirinya sendiri.

Dan Pram tak hanya ingin membakar sampah. Ia juga ingin jenazahnya dibakar, dikremasi. Bukan dikubur. Permintaan yang kelak tak dikabulkan keluarganya.

Yang membuat saya makin tergetar adalah betapa Pram dalam perlawanannya yang terakhir terhadap kematian, akhirnya luruh juga dalam ketakutan. Saya saksikan bagaimana Pram menitikkan air mata. Berkali-kali. Anaknya Yudistira Ananta Toer, dalam perbincangan beberapa jam sebelumnya, mengatakan bahwa ia tak pernah melihat Pram menangis, baik menangis terharu maupun menangis karena sedih, tidak juga ketika Pram pertama kali kembali ke rumahnya di Utan Kayu setelah sepuluh tahun lebih diasingkan ke Pulau Buru.

Tetapi Pram akhirnya masih bisa bertahan juga, seperti memenangkan sebuah ronde dari serangkaian pertandingan melawan maut. Pukul 4 pagi Pram kembaali bisa tersadar.

****
Saya dan beberapa teman akhirnya pamit undur dari rumah Pram. Saya letih. Lelah. Semalaman tak tidur. Tapi yang jauh lebih membikin letih adalah pengalaman menyaksikan seorang Pram, yang sama-sama kami kagumi itu, meregang nyawa, menahan sakit, melawan kematian.

Ya, saya percaya Pram memang melawan sebisanya. Ia masih ingin hidup hingga 100 tahun. Ia masih ingin bertemu dan berdialog terus menerus dengan angkatan muda yang ia harapkan bisa mengembalikan laju Indonesia ke relnya yang benar. Ia juga masih ingin menyelesaikan Ensiklopedi Citra Kawasan Indonesia yang baru tergarap sebagian, kendati sebagian di sini artinya bahan-bahan itu telah menumpuk setinggi 3 meter lebih.

Saya juga yakin Pram akan bertahan. Tidak, Bung Pram pasti bisa bertahan. Pasti. Begitu saya mencoba meyakinkan diri sendiri.

Tetapi saya keliru. Ketika sedang berada di bus kota, sekitar pukul 9 pagi, sebuah sms dari Taufik Rahzen yang isinya pendek sekali, tapi justru membikin dada seperti runtuh: “Pram baru aja jalan….”

Semenit kemudian sms Muhidin masuk. Isinya membikin badan meriang: “Pram telah meninggal dunia. 09.02. Inilah erangannya yang terakhir: “Saya tak kuat. Bakar saya dalam mati saya.”

Saya menyesal tak ada di sampingnya ketika ia terbang pergi. Saya menyesal. Sangat.

Di atas bus kota yang reyot yang membawa saya ke arah Tanjung Duren di wilayah Jakarta Barat itulah saya terima kabar kematiannya. Saya kirim sms pendek ke semua teman yang bisa saya hubungi. “Pram wafat. Barusan.”

****
Pram dimakamkan di Karet, satu pemakaman dengan si binatang jalang Chairil Anwar. Ia memang diantarkan oleh ribuan pelayat dan anak muda yang mengaguminya. Ia dimakamkan secara islami, kepergiannya juga diiringi oleh Internationale dan Darah Juang.

Tetapi pada akhirnya ia pergi sendiri. Sendirian. Sesuatu yang sudah dipahami oleh Pram 57 tahun sebelumnya. Dalam paragraf penutup Bukan Pasar Malam, Pram menulis sesuatu yang akhirnya ia alami juga:

“Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyun-duyun pada kembali pulang… seperti dunia dalam pasar malam. Seorang-seorang mereka datang… dan pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu saat nyawanya terbang entah ke mana.”

*******


Hari Kematian Si Binatang Jalang

Foto Chairil Anwar yang sangat terkenal

KRAWANG-BEKASI

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi

(1948)

Seperti kebanyakan anak sekolah lainnya, akupun mengenali puisi di atas sebagai bagian dari pelajaran sekolah, ketika dimasukkan dalam buku wajib Bahasa dan Sastra Indonesia SMP. Ketika itu aku bukan penulis puisi dan aku juga tak mampu menulis puisi. Dan sampai sekarang juga bukan… (jadi maksudna naon nya? :D ). Sekarang baru aku sadari betapa tidak menariknya pembelajaran sastra yang kudapatkan di bangku sekolah dulu. Barangkali karena sastra tidak dianggap materi yang penting sehingga kajian sastra di bangku sekolah tidak semuanya diberikan oleh guru yang tepat. Guru-guru yang ada hanya sejauh mengajarkan pelajaran bahasa saja.

Pada perjalanannya, komunitas dan teman-teman yang kujumpai banyak yang menjadi penggiat atau sekedar gandrung dunia seni dan sastra, akhirnya sedikit banyak mulai menyimak lebih teliti puisi-puisi yang kujumpai. Termasuk puisinya si abang yang satu ini. Dahsyat! Buatku Chairil Anwar penyair yang cerdas. Pada masanya, pada usianya, dia sanggup mendeskripsikan apresiasinya terhadap dunia sekitar dalam kalimat-kalimat terbatas yang bagus. Pemilihan katanya berbeda dengan para penyair yang muncul pada jamannya. Maka memang layak kalau laki-laki kelahiran Medan, 26 Juli 1922 ini disebut sebagai pelopor Angkatan ’45.

Selain kepiawaiannya mengolah kata, Chairil Anwar juga dikenal memiliki kehidupan yang ganjil. Perokok berat ini divonis TBC karena buruknya gaya hidupnya. Konon ia juga gemar mengutil buku. Para pedagang buku di Kwitang (Jakarta Pusat) kabarnya tau betul kebiasaan Chairil Anwar, namun tak satupn yang melarang atau menindak. Mereka hanya semakin meningkatkan pemantauannya saja. Chairil juga diketahui gemar menggauli kehidupan malam; namanya juga dihubungkan dengan sejumlah nama perempuan. Namun di sisi lain, ia bahkan tak mampu mengungkapkan rasa pada cinta sejatinya, Sri Ayati, yang kemudian hanya dia ungkap dalam puisinya: Senja Di Pelabuhan Kecil.

Satu karyanya barangkali yang mengungkap betul siapa Chairil, bagaimana dia sebagai pribadi dan pemosisian diri di tengah lingkungan sosialnya ketika itu.

AKU

Kalau sampai waktuku
Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

Maret 1943

Ya, dialah Si Binatang Jalang, yang ingin hidup seribu tahun lagi, tapi ketika ajalnya tiba, ia tidak ingin seorangpun meratapinya. Chairil Anwar meninggal dunia pada hari ini, 28 April, 63 tahun silam (1949). Ia tak meninggalkan apa-apa selain karyanya yang abadi.

Chairil Anwar dalam patung


Pada Sebuah Kapal aku mengenalnya.. (selamat ultah Nh. Dini!)

Pada sebuah siang, 3 tahun lalu, aku bertandang ke kantor istri sepupuku di Semarang. Dia punya usaha makanan kesehatan dengan metode mlm yg terbilang sukses. Setelah semalam menginap di rumahnya dan hanya mendengar ceritanya, siangnya aku menemuinya setelah beberapa jenak menyapa kota tua Semarang.

Saat aku datang, seorang perempuan paruh baya sedang duduk di kursi tamu bertanya ini dan itu tentang produk, cerita pengalaman konsumsi, dsb. Terdengar ceria dan sedikit cerewet. Bukan berarti negatif. Tak terlintas sedikit pun kesan itu, bahkan dari awal aku merasa bahwa dia adalah ‘seseorang’. Sambil melihat-lihat produk, sedikit mencuri dengar..diantaranya tentang mengajak teman-teman pengajar di Fakultas Sastra UNDIP untuk menggunakan produk tersebut. Hmm..mulai penasaran, siapakah dia?

Saat melihat tatapan antusiasku iparku langsung mengenalkanku. “Ibu ini penulis lho, bukunya banyak”. Kuduga dia tidak cukup hafal buku-bukunya makanya tidak memberiku judul. Hmm..dari usianya aku mulai menebak-nebak. Tapi khawatir salah, kuulurkan saja tanganku menyebut namaku. Dan ibu paruh baya inipun menyebut namanya: “Nh. Dini”

Wow! Sebetulnya bertemu dengan para penulis yang bukunya bertebaran di toko buku dan menjadi koleksiku dan banyak orang lainnya bukan hal yang aneh karena aku sering hadir di diskusi-diskusi sastra. Tp entah kenapa pertemuan dengan Nh. Dini membuatku takjub. Mungkin karena di tempat yang tak kuduga dan yang lebih tepat mungkin adalah karena aku melihatnya dalam kondisi sehat.

Tak lama sebelum pertemuan itu aku sempat membahas kondisi Nh. Dini dengan seorang kawan yang sama2 menyukai karyanya. Konon Nh. Dini sakit parah. Demi kesembuhannya bahkan ia sempat menjual barang2nya. Sumbangan pun mengalir dari para penggemarnya. Dewan Kesenian Jawa Tengah berperan aktif dalam upaya penggalangan dana tersebut. Bupati Jawa Tengah ketika itu juga mengulurkan tangan.

Saat kukonfirmasi, perempuan bernama lengkap Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin ini mengatakan kalau memang banyak pihak yang berisiatif membuka dompet peduli. Tampaknya email berantai masih terus berjalan bahkan setelah Nh. Dini sudah mendapatkan kesembuhan seperti saat kujumpai siang itu. Dan kukatakan pada Nh. Dini, aku gembira mendapatinya sehat :)

Aku mengenal karya Nh Dini sejak di bangku SMP saat pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Ketika itu salah satu bacaan wajibnya adalah Pada Sebuah Kapal (1972). Karya selebihnya baru kubaca ketika sudah kuliah antara lain La Barka (1975), Namaku Hiroko (1977), dan Pertemuan Dua Hati (1998). Karya2nya yang lain banyak kita jumpai dalam bentuk cerpen lepas, kumpulan cerpen, maupun novellet.  Yang menarik buatku adalah Nh. Dini menulis dengan gaya konvensional. Dan konsisten dari karyanya yang paling awal hingga yang terbaru. Menarik pula mencermati ide ceritanya yang sangat kental dengan pembelaan terhadap perempuan. Hal itu belakangan juga diakuinya sebagai keberpihakan terhadap keadilan gender. Untuk penulis pada jamannya ide tersebut tentulah sudah terbilang berani, setidaknya berbeda. Dan bahasanya pun santun. Perihal seks diceritakannya detil tapi tetap lembut meski ada keliaran di dalamnya (sangat terkesan dengan percintaan di La Barka).

Nh. Dini telah menulis sejak usia belasan. Di usianya yang ke-20, saat ia bekerja sebagai pramugari di Garuda Indonesia Airways, Dini menerbitkan kumpulan cerita pendeknya, Dua Dunia. Perempuan kelahiran Semarang, 29 Februari 1936 ini menjadi pemandu terbang selama 3 tahun. Selain sekedar singgah selama bekerja sebagai pramugari, sejumlah kota besar di beberapa negara pernah ia jelajahi dan diantaranya kemudian ia tinggali seperti  Jepang, Kamboja, Perancis, Amerika Serikati yakni saat ia menjadi istri seorang diplomat, Yves Coffin. Namun pada 1980 ia memutuskan kembali ke Indonesia. Pada 1985 ia baru mendapatkan kembali kewarganegaraannya setelah resmi bercerai dari Yves setahun sebelumnya. Akibat perceraian itu sendiri, mantan penyiar radio ini kehilangan hak asuh kedua anaknya, Marie-Claire Lintang (kini 51 tahun) dan Pierre Louis Padang (kini 45 tahun). Ia juga hanya mendapatkan  10.000 dollar AS yang kemudian malah digunakannya untuk membuat pondok baca anak-anak di Sekayu, Semarang. Bertahun-tahun kemudian Dini mengembangkan taman bacaan serupa di Jogjakarta.

Dini telah melahirkan 20 buku. Tapi hingga kini perempuan penyayang tanaman ini masih aktif menulis. Ia sekarang tinggal di tempat yang sudah direncanakannya jauh sebelumnya: Panti Wredha Langen Wedharsih, Ungaran.

Dan pada hari ini, hari yang hanya kita temui empat tahun sekali ini Nh. Dini bertambah usia. Selamat ulang tahun, Ibu Dini…tetap sehat dan aktif berkarya. Aku masih menunggu karya-karya berikutnya :)

dari beberapa referensi


Ningsih, sang perintis (Sekolah Hijau)…

Ningsih, sang perintis (foto: kompas)

“Aku hanya lulusan SD dan cacat, apa yang bisa saya lakukan?” Jangan bayangkan kalimat ini terungkap dengan nada yang mengiba. Sebaliknya kalimat ini terucap dalam nada bersemangat. Karena kalimat ini memang datang dari seorang perempuan perkasa yang mampu menembus segala keterbatasannya.

Namanya Prapti Wahyuningsih. Aku menemuinya Senin lalu di salah satu ruang di sebuah sekolah swasta di Jl. Merdeka Bandung. Awalnya hanya sekedar silaturahmi terkait sms provokatif bernuansa sara yang datang dari seseorang yang kami sama-sama kenal. Namun karena persamaan minat soal pendidikan dan lingkungan hidup, maka di dalam bangunan berusia ratusan tahun berdinding dan berkayu kokoh itupun obrolan berkembang.

Ningsih -demikian ia biasa dipanggil- sudah memasuki dunia kerja saat usianya masih sangat belia, 11 tahun. Tentu saja bekerja bukanlah pilihan terbaik yang bisa ia pilih. Bekerja merupakan satu-satunya pilihan yang ketika kedua orang tuanya tak sanggup menyekolahkannya dan keringatnyalah yang sejauh itu ia tahu mampu menghasilkan rupiah untuk mendukung perekonomian keluarga kecil mereka, ia dan kedua orang tuanya.

Dalam perjalanannya sebagai buruh, Ningsih melihat sendiri ketidakadilan yang terjadi dalam hubungan antara pemilik modal dan para buruh. Seiring pertambahan usia dan kemampuannya mencerna persoalan, dia mulai melibatkan diri dalam organisasi buruh. Ia pun mencoba meningkatkan kemampuan kognitifnya dengan membaca. Dan buku pertama yang membuat ia tergoda untuk membaca adalah buku tentang ekonomi politik dari abad 19 yang sangat terkenal itu. “Ga
tau kenapa aku tertarik sama buku itu. Mungkin karena di sampulnya ada gambar laki-laki brewokan,” cerita Ningsih sambil tertawa. Tentu saja yang dimaksud Ningsih bukan Sinterklas :)

Apa yang Ningsih pelajari dari organisasi membuat ia lebih melek terhadap persoalan sosial di sekitarnya. Di antara ketidakberdayaan menghadapi kemiskinannya sendiri, pada sebuah malam Idul Fitri justru ia mengucap doa: ”Bila ada umur panjang, izinkanlah aku berbagi makanan. Bila ada umur panjang, izinkanlah aku berbagi pakaian. Bila saat ini dipandang hina karena keadaanku, izinkanlah suatu saat aku mempunyai sekolah.”

Akhirnya pada tahun 1999 Ningsih berhenti bekerja dan memilih konsentrasi berjuang untuk masyarakat miskin seperti yang pernah menjadi doanya. Wilayah yang ia pilih pendidikan, karena menurutnya pendidikan merupakan awal dari segalanya. “Dalam bayangan saya, sekolah adalah tempat berbagi ilmu dan pengetahuan antarmanusia, bukan sekedar gedung,” ujarnya.

Pelajaran menghitung kambing

Tahun 2002 Ningsih memilih Karawang sebagai ‘sekolah’ pertamanya. Di balik gedung-gedung pabrik menjulang tinggi, adalah sebuah desa bernama Cibenda, Ciampel yang penduduknya berpendidikan sangat terbatas. Ide Ningsih muncul saat melihat sendiri bagaimana petani di desa ini ditipu bandar jagung. Sang bandar menyimpan angka 100 dari angka 170 di timbangan. Jadilah 170 kg jagung hanya dihargai 70 kg. Para petani tidak melakukan protes karena mereka memang tak bisa baca-tulis.

Tapi akan membuat sekolah seperti apa? Uang ia tidak punya. Mau mengumpukan donasi pasti akan membutuhkan waktu lama. Mau meminta support dari pemerintah khawatir malah tidak dianggap. Sementara konsep ‘sekolah’ sendiri tidak populer dalam komunitas. “Abdi alim sakola, rieut (saya tidak mau sekolah, pusing).” Begitu kata Djadjat yang sering dijumpai Ningsih sedang menggembalakan kambing, saat ditanyai perihal sekolah. Tetapi Ningsih tidak kehilangan
akal. Suatu kali dia sembunyikanlah seekor kambing yang sedang digembalakan Djadjat. Saat Djadjat kelimpungan mencari kambingnya yang hilang, Ningsih muncul dan bertanya. Rupanya Djadjat kehilangan kambingnya bukan berdasarkan hitungan tapi dari ciri fisik sang kambing. Dari situlah Ningsih mulai mengenalkan Djadjat pada angka. Djadjat pun menjadi murid pertamanya.

Murid berikutnya adalah gadis kecil bernama Nana. Lantas dimintanya Nana mengajak teman-teman kecilnya untuk belajar menggambar, berhitung, dan membaca bersama hanya dengan menggunakan media tanah yang mereka pijak dan ranting dari pohon yang tumbuh di desa mereka. Ningsih menamai pertemuan ini sebagai ‘main sekolah-sekolahan’.

Keberhasilan pendidikan alternatif Ningsih yang berbuah petaka

Setelah melewati banyak hambatan dan usaha ekstra keras untuk memotivasi anak-anak, pada saatnya Ningsih bisa melihat hasil kerjanya. Pada sebuah siang, tak satupun anak yang hadir untuk main sekolah-sekolahan. Selidik punya selidik rupanya mereka tengah membantu orang tua mereka panen kacang ijo dan melihat orang tua mereka melakukan transaksi jual-beli dengan para tengkulak. Nana yang sudah mulai bisa menghitung protes dengan angka hasil hitungan tengkulak. Sang ayah memarahi anak perempuannya. Ningsih pun kemudian diminta bantuannya untuk memastikan kebenaran angka ini. Dan benar seperti kata Nana, sang tengkulak mengutip 3 kg kacang ijo milik petani. Cerita tentang hitungan Nana ini pun lantas menjadi legenda.

Sejak saat itu, warga desa berubah sikap seratus persen. Mereka mendorong anak-anak atau cucunya untuk ikut main sekolah-sekolahan. Ningsih langsung ‘memanfaatkan’ situasi ini dengan mencari para orang tua yang ternyata sempat mengenyam pendidikan. Meski hanya sebatas sekolah dasar, mereka masih bisa menularkan kemampuan baca-tulisnya kepada warga lainnya. Masih dalam konteks main sekolah-sekolahan, Ningsih memberi sebutan dosen untuk mereka.

Melihat perkembangan baik ini, bersama warga Ningsih mendatangi Kepala Desa Parung Mulia (desa terdekat) untuk minta ijin menjadikan SD dan SMP kelas jauh, agar anak-anak di Ciampel bisa mengikuti ujian nasional. Kemudian hari sekolah saung ini menjadi SD dan SMP kelas jauh yang ditinggalkan Ningsih dan kelangsungannya kemudian dilanjutkan oleh warga desa. Djadjat sang penggembala kambing pun telah lulus SLTA, melanjutkan ke Universitas terbuka untuk kemudian menjadi kepala SMP.

Keberhasilan Ningsih hingga di titik ini tidak hanya mensyarakatkan pengorbanan sekadarnya. Ancaman demi ancaman dia dapatkan dari orang-orang yang terusik kepentingannya karena kehadiran perempuan asli Solo ini. Bukan sekedar teror namun hingga pada tindak kekerasan, bahkan kekerasan terburuk yang bisa dialami seorang perempuan: kekerasan seksual. Ningsih harus membayar mahal keberhasilan pendidikan alternatif yang dirintisnya di desa kecil yang
sebelumnya seperti tidak pernah masuk dalam perencanaan pembangunan negeri ini.

Bangkit dan berjuang kembali

Tampaknya tidak ada kata menyerah dalam kamus hidup Ningsih. Meski dihajar oleh peristiwa tragis, ditolak, dan tak berdaya oleh sakit, ia tetap mensyukuri hidupnya. “Saya ini lengkap kok, Mbak.. Saya adalah bayi yang ditemukan di kardus, cacat, miskin, tak berpendidikan. Jadi kalau saya harus menghadapi kejadian tidak menyenangkan lainnya ya melengkapi saja,” ujar Ningsih masih tertawa meski air masih mengalir di sudut matanya. “Allah itu Maha Tau, Maha Sempurna, Maha Pencipta.. Akan selalu datang pertolongan pada waktunya. Akan indah pada waktunya.”

Pergulatan Ningsih tidak sederhana. Namun ia berusaha untuk rendah hati, mengalah dengan menyediakan diri menerima resiko, membuat ruang kosong dalam roh hati untuk media penyembuhan, hingga ia merasa sudah siap untuk bangkit dan berjuang lagi. Bukan hanya untuk diri sendiri namun juga untuk sesama. Maka kreativitasnya kemudian mengalir dengan deras. Dan semuanya justru berangkat dari keterbatasannya.

Berawal dari ketidakmampuannya membayar zakat, ia memeras otak untuk mendapatkan uang dari barang-barang yang dianggap ‘tinggal buang’. Maka muncullah ide Zakat Sampah. Ningsih meminta teman-temannya untuk mengumpulkan sampah yang masih bisa didaur ulang untuk kemudian ia jual dan uangnya ia gunakan untuk membayar zakat. Kemudian hari ia jadikan idenya ini untuk keperluan yang lebih besar: Program Zakat Sampah untuk membesarkan sekolah hijau yang kemudian berhasil ia dirikan bersama teman-temannya. Konsep main sekolah-sekolahan yang dulu pernah ia buat, diterapkannya di sekolah hijau ini.

Setelah berpindah-pindah dalam mengajak anak-anak belajar dengan metode alternatif di beberapa tempat, akhirnya sejak Maret 2010 Ningsih memilih tinggal tetap di Kampung Cikasimukan, Desa Mandala Mekar, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung. Melalui uang pinjaman tanpa bunga dari teman-temannya, Ningsih mengontrak rumah di desa tersebut. Murid-murid tidak dibebani biaya besar, hanya membayar Rp 1.000. Zakat Sampah masih menjadi program pendukung pendanaan sekolah ini. Sampah-sampah yang ia dapatkan dari sejumlah tempat itu diolah lagi menjadi aneka produk daur ulang seperti sandal, tas belanja, dan wadah kosmetik. Sedangkan sampah organik diangkut ke Lembang, Bandung untuk diolah menjadi kompos. Sementara untuk membayar utang uang kontrakan dan untuk keperluan pribadinya Ningsih mencicilnya dari honor kerja sampingannya, seperti merawat orang sakit, menunggui jenazah, mengasuh anak, atau membersihkan rumah.

Itulah sepenggal cerita Ningsih, perempuan kelahiran 26 Januari 1978, perempuan lajang yang hanya lulus SD namun punya harapan besar akan sebuah perubahan melalui pendidikan alternatif yang peduli terhadap keberlangsungan alam.

*******

“Alhamdulillah saya dikasi peluang untuk berkompetisi mendapatkan kesempatan mempelajari pendidikan alternatif di Hutan Amazon.”  Begitu kata Ningsih mengakhiri perbincangan kami. Wuiiihhh..ngiler aku membayangkan berkeliaran di salah satu hutan penting di kawasan eksotis tersebut.

Nah nah..siapakah yang masih merasa menjadi makhluk paling menderita di bumi ini? Bertemu dan belajarlah pada Ningsih karena dia pakarnya :)

Temans, saat ini Ningsih dinominasikan untuk mendapatkan Frans Seda Award. Beri dukungan ya :)
Cek di:
www.facebook.com/Frans.Seda.Award
franssedaaward.atmajaya.ac.id/


Mengenang seorang Layla (dan mensyukuri 7 tahun rumahku)

Rumah sakit itu masih berdiri megah di sudut persimpangan Jalan BKR dan Kopo. Ada yang perih tiap melintasi salah satu rumah sakit swasta terbesar di Jawa Barat ini. Meski peristiwa itu sudah berlalu lebih dari 7 tahun lalu, tapi perasaan itu masih sama.. Masih sama dengan ketika ia menatapku untuk terakhir kalinya. Kehilangan seringkali terasa menyakitkan biarpun segenap upaya logika mengingatkan: kematian adalah keniscayaan.

Siang itu kami sempat bersama untuk beberapa saat. Berbincang sejenak tentang Mara dan kampus. Ia juga sempat mengucap lirih pada sang suami: “nanti kalo udah sembuh kita nikahin dhenok ya, Yah…” Itu perjumpaan terakhir kami sebelum perawat berseragam mendorong tempat tidurnya menuju ruang operasi. Pada detik terakhir sebelum memasuki pintu ruang -yang akan merobek tubuhnya untuk kesekian kalinya itu- ia menatapku. Pada titik itu aku merasa tidak akan bisa menatapnya lagi. Pada matanya kulihat kata maaf: “aku tidak bisa memenuhi ucapanku”.

Hari itu Sabtu, aku sedang bertugas siaran siang dengan pilihan lagu-lagu tanah air. Ada permintaan untuk memutarkan kembali “Satu Jam Saja – Asti Asmodiwati” dengan titipan pesan: untuk Ibu. Lagu ini sempat diputarkan pada jam siaran lagu Indonesia pagi. Kubayangkan pikiran Ibu masih dipenuhi pikiran tentang Mara yang tengah mengalami sedikit masalah. Seperti kata Asti, ia hanya berharap sejam.. Tapi bahkan sejam pun bukan milik dia lagi. Pada siang itu juga Ibu sudah dalam keadaan coma. Ketika kusadari tidak lagi bisa konsentrasi pada siaran aku minta ijin untuk menuju rumah sakit. Yang kutemui kemudian adalah kehilangan itu. Alat kejut listrik yang berulang-ulang dipaksa membangunkan si Ibu pun kehilangan keperkasaannya. Ya, aku dan kami semua akhirnya harus kehilangan Ibu.

Kami memanggilnya Ibu, sebagian orang lagi memanggilnya Mbak. Nama lengkapnya Noor Achirul Layla. Di dunia radio siaran ia mencomot nama suaminya menjadi Layla S Mirza. Tapi ia akrap disapa Ea, Mbak Ea, Ibu Ea. Aku mengenalnya pada tahun kedua kuliahku. Saat itu Ibu mengajar mata kuliah Jurnalistik Radio. Entah karena terlalu asing dengan materinya atau saat itu aku masih mengalami gegar budaya, rasanya hanya masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Maka yang kuingat dari Ibu adalah model bajunya yang lucu-lucu dan cocok dengan bentuk badannya yg proporsional (ga berkualitas amat yak ni mahasiswa, kuliah malah ngliatin baju dosen! :D ). Aku baru mengenalnya lagi ketika aku benar-benar butuh tambahan uang dan kebetulan seorang kawan mengajakku untuk kerja magang di Radio Mara.

Awalnya posisiku hanya sebatas aku bawahan dan dia atasan. Tapi dari sini aku mulai melihatnya dari aneka sudut pandang, tidak hanya warna-warni baju yang dikenakannya :)   Dia seorang perempuan yang pintar, punya komitmen kuat terhadap keluarga, punya komitmen terhadap amanah yang dipegangnya, dan royal kepada bawahannya. Hingga suatu kali aku memberanikan diri bertanya: “Bu, kok si anu yang lebih baru masuk sudah diikutkan pelatihan?” Untuk beberapa jenak ia menatapku, antara tatapan tidak percaya dan baru sadar. “O kamu mau to? Kirain ga berminat..” Kurasa dari sini kami sama-sama belajar, bahwa aku musti bisa lebih berani menyampaikan keinginanku dan bahwa ia juga musti memahami tipikal anak buah seperti aku yang tampak tak memiliki obsesi dan tanpa minat terhadap apapun. Sejak saat itu aku cukup intens berkomunikasi dengannya, dan iapun mulai banyak menawariku terlibat proyek-proyek sampingan Radio Mara. Suatu kali ada sebuah peristiwa yang terjadi padaku yang kemudian makin membuatku merasa dekat dengan Ibu. Bahkan iapun tak sungkan menceritakan hal-hal yang sangat pribadi. Ia seorang atasan yang kurasa bisa benar-benar menjadi ibu, teman, dan sekaligus guru buatku.

Juli 2003 aku memutuskan mengambil kredit rumah (rumah mungil yang kuhuni sekarang). Keputusan ini tak lepas dari dukungan Ibu. Aku ingat betul, secara matematis tabunganku tidak mencukupi untuk membayar uang muka. Gajiku juga tidak mencukupi untuk membayar cicilan bulanannya sekalipun aku mengambil jangka waktu 15 tahun. Tapi Ibu bilang akan mengupayakan “sesuatu” yang nantinya bisa mendukungku agar keinginanku punya rumah sendiri terealisasikan. Akhirnya semua proses kulewati hingga tibalah saat akad kredit. Ketika itu Ibu sudah dirawat di RS Immanuel: kanker pada usus besar! Dengan gembira kubawa serenteng kunci rumah baruku. “Ibu…aku dah punya rumah!” teriakku. Ia hanya tersenyum di atas pembaringan. “Sama-sama, nduk. Kamu mendapatkan yang menjadi hakmu,” begitu komentarnya waktu kusampaikan terimakasihku. Saat itu tak terlintas sama sekali kalau Ibu akan pergi untuk selamanya. Karena pada tahun 1999 ia pernah menjalani operasi yang sama untuk kanker rahim yang dideritanya dan sukses. Dan pada sakitnya kali inipun, kondisinya berangsur membaik. Bahkan pada hari sebelum pulang, bersama kawan dari Mara, Bu Rani dan Hirra, kami tertawa-tawa dengan berbagai cerita lucu. Hirra mencuci rambut Ibu dan aku menggunting kukunya. (Saat menggunting kuku ini tiba-tiba gunting kukunya patah. Kemudian hari orang mengatakan itu sebagai salah satu pertanda.)

Ternyata kegembiraan itu tidak berlangsung lama. Beberapa hari pulang Ibu harus kembali ke rumah sakit dan harus menjalani kembali pembedahan. Dari sini kondisi kesehatannya semakin memburuk hingga tim medis akhirnya menyerah. 8 November 2003 Ibu dipanggil pulang menghadap Sang Khalik. Rupanya Dia hanya memberikan 4 tahun kepada Ibu untuk berkarya dengan gemilang. Dalam kurun waktu ini ia memang banyak mengalami hal yang luarbiasa, mencetak banyak prestasi di dunia penyiaran, menjadi direktur Radio Mara, menjabat Ketua Jurusan Jurnalistik-FIKOM UNPAD, dan sudah menjadi kandidat doktor di UPI.

Ibu sudah pergi. Sosoknya tak lagi kami lihat wara-wiri di antara ruang-ruang di Guntursari Wetan 27. Tak bisa kami cela-cela lagi cara parkir mobilnya yang suka sembarangan. Tak pernah kami nikmati lagi jajan baso kampung gratis bareng-bareng. Tak pernah kami lihat lagi dia nongkrong di depan laptop dengan kaos Mara warna putih dan celana jins yang digulung sampai betis. Tak mungkin lagi kami nebeng gratis maen bowling di BSM. Tak pernah kulihat lagi cincin mutiara di jari manisnya yang langsing. Tak akan pernah kami lihat lagi bicaranya yang selalu semangat.

Ia tidak pernah sempat menengok rumah mungilku. Ia juga tidak pernah sempat lagi menerima ucapan panjang umur pada hari ini. Tapi biarlah aku tetap mengucapkan selamat: Selamat ulang tahun, Ibu Ea… (aku kangen Ibu).

Catatan:
Aku memutuskan menempati rumah baruku pada hari ini, 7 tahun lalu. Tapi karena faktor teknis akhirnya kepindahan diundur menjadi tgl 14. Sekedar penanda rasa terimakasihku pada Tuhan karena sempat mengenalkanku pada sosok bernama Layla.. Dan ini hanya ceritaku, karena aku yakin banyak orang yang punya cerita sendiri. Ibu dengan sadar telah meninggalkan jejaknya secara pribadi kepada setiap orang yang dikenalnya.


Mohamad Sunjaya, seniman teater sejati

Aku mengenalnya secara pribadi pada tahun 1996 saat bekerja di Radio Mara Bandung. Kami memanggilnya Pak Sunjaya, ada juga yang menyapa Pak atau Kang Yoyon. Pada awal-awal bekerja dengan gedung Radio Mara masih yang lama, sering kujumpai beliau di pagi-pagi dan malam hari. Pagi hari ketika aku kerja shift pagi kujumpai Pak Sunjaya baru selesai mandi dengan aroma shower to shower cologne (marah ga ya Pak Sunjaya kalo kusebut colognenya di masa lalu? hihihi). Biasanya Pak Sunjaya menginap di Radio Mara Senin malam usai siaran Musik Klasik. Atau pada hari-hari biasa pun dia suka menginap di ruangannya karena saat itu beliau masih bertugas sebagai redaktur senior. Aku ingat di ruangannya ada radio kecil dengan kemampuan prima. Aku lupa apa mereknya, tapi Pak Sunjaya begitu membanggakan pesawat radio itu; radio yang juga menjadi acuannya memantau ketepatan waktu. Acuannya BBC. Itu hanya salah satu kebiasaan yang menunjukkan betapa perfeksionisnya bapak yang satu ini. Apalagi contoh yang lainnya? nanti dulu…kita berkenalan dulu dengan sosok Mohamad Sunjaya (untuk yang belum kenal tentu saja).

***

Nama Mohamad Sunjaya sudah tidak asing lagi bagi dunia teater Bandung. Ia menggeluti teater sejak di bangku sekolah menengah atas, yaitu pada tahun 1955. Judul lakonnya waktu itu adalah “Di Langit Ada Bintang” karya Utuy Tatang Sontani dengan sutradara Noor Asmara. Peran demi peran pun dijalani anak ke-6 dari 14 bersaudara ini. Ia adalah aktor angkatan pertama di Studiklub Teater Bandung (STB) yang berdiri tahun 1958, dan sempat menjabat sekretarisnya.  Profesi aktor bagi Mohammad Sunjaya tampaknya adalah pilihan hidup. Dalam sebuah interview ia mengatakan bahwa menjadi aktor panggung sudah menjadi candu. Meski hidup dari aktor panggung belum bisa memberikan kemapanan di Indonesia, ia mendapatkan kepuasan karena menjadi lebih manusiawi.

Meski besar dalam lingkungan keluarga yang terbilang berada dan memiliki kemudahan akses kekuasaan, Mohamad Sunjaya memilih untuk melakoni hidup merdeka sebagai seniman. Jalan hidup Sunjaya pun hampir tidak ada bedanya dengan jalan hidup kelompok-kelompok teater yang ada di Bandung pada umumnya. Lebih banyak menuntut pengorbanan “Ongkos produksinya tinggi, namun tidak laku dijual,” katanya tentang panggung teater. Ia tak segan-segan menjual properti miliknya demi pertunjukkan tetap berjalan. Dan dalam kondisi seperti itu, Sunjaya masih mau mendirikan kelompok teater yang secara komersial sudah pasti bakal merugikan dirinya. Tepat pada usianya yang ke-62 ia mendirikan Actors Unlimited (AUL), sebuah kelompok teater dimana ia menjadi pendiri dan sekaligus direkturnya. Actors Ultimited merupakan sebuah organisasi nirlaba (nonprofit), berbentuk perkumpulan atau grup (seni) yang bergerak dalam bidang teater. Kelompok tersebut didirikan di Kota Bandung pada 28 Agustus 1999 lalu, di Joglo Bandung Toko You, Jln. Hasanuddin No. 12 Kota Bandung. Selain Mohamad Sunjaya para pendiri lainnya adalah Wawan Sofwan, IGN Arya Sanjaya, Diana G. Leksanawati, Fathul A. Husein, dan Sonny Soeng.

Totalitas Mohamad Sunjaya dalam dunia teater memang luar biasa. Dalam usianya yang melewati 70 tahun pun ia masih kuat main teater. Ada sakit jantung dan paru-paru yang memang dideritanya. Namun rupanya itu bukan halangan yang berarti untuk ia menggiati teater. Untuk sumbangsihnya di dunia seni teater ini, Mohamad Sunjaya menerima Anugerah Budaya & penghargaan 2 Abad Kota Bandung pada tahun 2010 lalu.

Selain dunia teater, dunia lain yang juga diakrabinya adalah penyiaran dan media informasi.

Bersama Goenawan Mohamad, mantan pemimpin redaksi TEMPO, Aristides Katoppo, dari harian Sinar Harapan, Fikri Jufri dari TEMPO, pengamat media Ashadi Siregar dari Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, pengamat politik Mochtar Pabottingi juga wartawan seperti Andreas Harsono, Yosep Adi Prasetyo dan juga intelektual muda Islam, Ulil Abshar Abdalla, ia mendirikan Institut Studi Arus Informasi (ISAI) pada Desember 1994. ISAI didirikan menyusul pembredelan majalah TEMPO, Editor, dan Tabloid DeTIK oleh pemerintah Soeharto pada Juni 1994.

Menurutnya pembredelan ketiga majalah tersebut merupakan masalah yang serius bagi kebebasan pers di Indonesia. Saat itu sebagian besar masyarakat Indonesia mengecam tindakan pemerintah tersebut dan melakukan demonstrasi di lebih dari 180 kota secara terus menerus selama hampir 2 tahun dengan melibatkan kalangan pers Indonesia, mahasiswa, aktivis hak asasi manusia, pekerja sosial, dan pemimpin agama.

Sedangkan di Bandung, ketika jurnalisme penyiaran dikuasai oleh RRI yang notabene penyuara kepentingan penguasa, bersama para praktisi radio Bandung membentuk lembaga produksi siaran radio sebagai sumber alternatif. Lembaga ini kemudian berada di bawah Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI). Dan seniman kelahiran Cikalongwetan, Bandung, 28 Agustus 1937 ini sempat menjadi pemimpin redaksi.

Kini Mohamad Sunjaya yang masih memilih melajang ini tinggal di Bandung dan masih bergiat di kehidupan teater bersama rekan-rekan dan anak-anak asuhnya.

***

Jadi, kembali ke pertanyaan sebelumnya, apa lagi ‘kecerewetan’ Mohamad Sunjaya yang lainnya?

“Nama saya Mohamad Sunjaya, mohamad pake o, m hanya satu dan di akhirnya pake d bukan t. Sunjaya, bukan sonjaya dan dengan ejaan baru” misalnya itu. Pak Yoyon juga paling cerewet dalam hal pengucapan, harus tepat. Kalau perlu telepon ke lembaga yang mengerti cara baca dari kalimat yang akan kami baca. Kalau perlu telepon orang yang bersangkutan, yang namanya akan kita sebut. Kalau menerima telepon jangan pernah menyahuti dengan ‘heeh’, itu tidak sopan.. dsb..dsb..

Pernah suatu kali saking khawatir siaran sedang dipantau Pak Yoyon, aku mengulang-ulang kata ‘Leles’ (Garut) agar tidak salah baca. Eh, giliran sudah on air, mungkin saking geumpeurnya, malah salah baca.. Semenit, lima menit, 10 menit..tidak ada telepon. Alhamdulilah, berarti tidak sedang dipantau hehehehe..

Tapi Mohamad Sunjaya tetaplah Mohamad Sunjaya. Dengan segala kecerewetannya yang (maaf, Pak..) kadang terasa melelahkan dan bikin stres,
tapi tak dapat disangkal bahwa beliau adalah guru yang baik. Dan aku yakin banyak yang mengakui itu.

Hari ini juga tanpa alasan khusus menulis tentang sosok Pak Yoyon, hanya tiba-tiba teringat, dan ingin mengatakan: Bapak adalah guru buat saya. Terimakasih untuk pelajarannya. Dan semoga terus sehat untuk dapat terus berkarya dan menularkan ilmu kepada lebih banyak orang :)


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 71 pengikut lainnya.