Nagabumi I, dongeng pendekar ternama tanpa nama (jilid I)

Nagabumi I: Jurus Tanpa Bentuk

Aku suka Seno Gumira. Aku suka caranya bercerita yang selalu mengejutkan, tak pernah serupa. Kadang terasa seperti lapis legit, yang manisnya meresap sampai langit-langit paling dalam. Kadang meleleh seperti es krim, hilang tercecap lidah dalam sekali lumat. Tak jarang dia
serupa penganan tanpa nama yang tak kuketaui pula rasa pastinya, membuatku berpikir tp tetap ingin mengunyahnya. Intinya, apapun yang ditulis Seno selalu ingin kubaca.

Begitu pun dengan Nagabumi. Buku ini kutemukan di sebuah toko buku, berjajar diantara buku yang lain. Tanpa dibekali bacaan resensi dari manapun, kuambil buku itu: ahaiiii..Seno menulis cerita silat! Nyaris tidak jadi dibeli karena harganya yang lumayan menguras kantong. Tapi akhirnya kubawa pulang juga buku itu atas kebaikan seorang kawan 🙂

Cerita silat kugemari sejak masih di bangku SD. Selain karya sastra balai pustaka yang kupinjam dari perpustakaan sekolah, aku juga gemar meminjam buku2 Kho Ping Ho dari perpustakaan umum. Dan puluhan jilid bisa kutuntaskan dalam sehari. Entah berapa judul yang sudah kubaca.

Maka menarik buatku, ketika seorang Seno menulis tentang silat.

Lewat buku bertajuk “Nagabumi I: Jurus Tanpa Bentuk” ini Seno bercerita tentang seorang pendekar tanpa nama dengan latar belakang pertikaian politik berbalut agama pada abad VIII-IX. Sang tokoh berlaku sebagai pencerita. Aku, yang ketika memulai cerita sudah berumur 100 tahun ini telah mengundurkan diri dari dunia persilatan. Namun karena saat sunyinya terusik kedatangan orang-orang tak dikenal, maka kembalilah ia ke dunia yang sudah seperempat abad ditinggalkannya. Rupanya ada fitnah terhadap dirinya. Disinilah cerita mengalir. Sang Pendekar Tak Bernama menarik ulur kisah-kisah di waktu lampau dan menyambungkan dengan masa kini, mencari benang merah dari segala perkara baru yang ditemuinya. Maka iapun kemudian terpikir untuk menuliskan riwayat hidupnya pada lembaran-lembaran daun lontar. Ini juga menjadi pilihannya ketika menyadari kemungkinan hidupnya akan segera berakhir.

Seperti halnya kisah-kisah rekaan Kho Ping Ho, Nagabumi juga menyuguhkan pandangan-pandangan filosofis yang berlaku pada masa itu. Ini yang membedakan buku ini dibandingkan buku-buku silat lainnya yang pernah terbit di tanah air. Seno juga melengkapi perbendaharaan pembaca dengan data sejarah yang terbilang detil. Namun berhubung terlalu detil, banyak bagian yang
kulewatkan. Barangkali suatu saat butuh, novel ini bisa menjadi semacam sumber referensi 🙂 Diluar itu, Seno menguraikan kisah ini dengan
memikat. Sebagai penulis sastra, ia tetap setia pada jalurnya. Meski begitu, cerita silatnya tetap terasa membumi. Tentang bagaimana para pendekar bertarung dengan jurus-jurus andalannya, tentang intrik polistik kekuasaan, tentang pergulatan pikiran-pikiran besar pada masa itu, dan tentu saja tentang kisah percintaan yang menggetarkan.

Unfortunetly, novel yang dipublikasikan GPU November 2009 ini dicetak dalam kemasan hardcover 815 halaman yang membuat harganya lumayan
mahal. Tapi tampaknya keluaran berikutnya tetap layak untuk ditunggu… 🙂

Iklan

2 pemikiran pada “Nagabumi I, dongeng pendekar ternama tanpa nama (jilid I)

    • wah, saya malah belum tau soal nagabumi 3. yang kedua saja belum 😦 dapat file pdf, tp ga seru..pengen punya buku. krn blm kebeli jadinya malah belum kebaca 😦

      coba mas hendy cek di http://duniasukab.com. malah di sini nagabumi 2 juga belum ditulis hehe..
      bikin resensinya ga, mas hendy..nagabumi 2?

      btw trimakasih sudah bkunjung 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s