Buried, 95 menit tahan nafas :D

Buried, 95 menit tahan nafas 🙂

Ini film terakhir yang kutonton di bioskop. Tidak ada rencana sebelumnya karena sebetulnya pengen nonton ‘Three Days Later’ tapi ga keburu.  Akhirnya film ini yang menjadi pilihan.

Film diawali dengan layar gelap, tanpa cahaya. Hanya desah nafas tidak beraturan. Sesaat kemudian muncul cahaya yang disusul dengan suara penuh
kepanikan. Itulah suara Paul Conroy (Ryan Reynolds) yang menjadi pemeran utama dan satu-satunya sosok yang muncul di film ini. Paul adalah seorang supir truk yang bekerja untuk sebuah perusahaan kontraktor di Irak. Dalam perjalanannya mengirim barang-barang untuk sebuah komunitas di sana,  ia bersama 7 orang rekannya diberhentikan, diculik, dan disiksa oleh sekelompok warga Irak. Paul hanya ingat dia dipukul dan kemudian pingsan. Ketika tersadar ia mendapati dirinya sudah berada di dalam peti mati yang dikuburkan dalam tanah. Di dalam peti mati itu rupanya Paul dibekali lampu senter, pisau, dan ponsel beraksara Arab. Dalam kepanikannya Paul mencoba menghubungi nomor-npomor yang ia ingat. Hingga kemudian sang pelaku penculikan menghubunginya dan meminta tebusan $US 5 Juta dalam waktu 2 jam atau hal buruk akan menimpa orang yang dicintainya.

Upaya Paul untuk mendapatkan tebusan, mencari pertolongan, dan berkomunikasi dengan orang-orang terdekatnya itulah yang kita saksikan dalam
film berdurasi 95 menit ini. Tentu saja berhadapan dengan keterbatasan oksigen di dalam peti kayu berukuran tersebut ditambah dengan kendala teknis lainnya: batere ponsel dan gas lighter yang terbatas. Disini sang sutradara, Rodrigo Cortez terbilang sukses menampilkan suasana sesak napas dalam ruang terbatas ruang dan cahaya tersebut. Begitu pula Ryan Reynolds yang sebelumnya kita kenal lewat film bergenre komedi dapat berperan serius. Karena untuk film semacam ini pasti dibutuhkan aktor yang mampu berperan kuat.

Sebetulnya ide cerita yang dimunculkan cukup menarik. Tentang banyak hal yang sangat mungkin terjadi di Irak -dan wilayah konflik lainnya- pasca serangan Amerika terhadapnya. Apapun bisa saja terjadi atas nama balas dendam, termasuk terhadap orang sipil yang hanya berkepentingan mencari nafkah seperti Paul Conroy. Begitu pula dengan sinematografi yang digarap dengan jeli. Penempatan kamera pada sudut yang tepat dengan hanya memanfaatkan empat sumber cahaya (lampu Senter, cahaya ponsel, lighter, dan lava lamp) berhasil menunjukkan suasana muram dan sebuah peti mati yang terkubur di padang pasir. Namun diluar itu, film berbiaya minim ini (hanya $US 3 juta) tidak cukup menarik untuk menjadi tontonan pada umumnya. Terlalu absurd untuk menjadi sebuah pilihan menikmati saat santai. Apalagi yang sedang mencari tontonan tengah malam. Hingga saat film berakhir, banyak penonton yang tidak segera beranjak dari tempat duduknya. Banyak yang mengeluarkan komentar: ‘hah..begini aja?’ dan ‘ini film terburuk yang pernah gw tonton!’ dan ‘aku masih ga ngerti..’. Sebagian yang lain mungkin hanya membatin: ‘apa ya maksudnya film tadi?’ 🙂

Tapi untuk penggemar film, tak ayal lagi Buried adalah sajian yang sangat cerdas dan menarik. Kalau buatku sendiri, di tengah saja deh.. Aku sendiri tidak terlalu bisa menikmati film absurd. Tapi untuk sebuah film minimalis dengan biaya dan pemeran terbatas, ini memang film yang tidak biasa. Dan of course untuk ide gilanya, patut diacungi jempol.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s