Berkunjung ke Istana Maimoon

Dari jauh bangunannya tidak terkesan seperti sebuah istana, bangunan yang relatif sederhana dan tanpa benteng. Konon memang ini melambangkan kesederhanaan orang Melayu dan kedekatan pemimpin dengan rakyatnya. Istana yang terletak di Jalan Brigjen Katamso No 55, Medan, Sumatra Utara ini juga sering disebut Istana Kuning karena warna kuning memang mendominasi warna bangunan. Sekilas tampak kental perpaduan budaya Melayu dan Islam. Itu yang tertangkap langsung oleh mataku. Tapi begitu memasuki gedung, penilaianku sedikit bergeser. Ada sentuhan Eropanya juga rupanya. Dan ternyata Istana Maimoon memang hasil karya arsitek Belanda, seorang tentara KNIL, bernama Kapten Th. van Erp, dan dikerjakan oleh pemborong Italia.

Bangunan istana ini rupanya merupakan perpaduan antara gaya arsitektur Melayu, Arab, Moghul, India, dan Eropa. Pembangunannya konon menghabiskan dana sebesar Fl 100.000 (atau setara 1 juta gulden Belanda). Istana terdiri atas dua lantai dengan ketinggian 14,40 meter.

Di bagian depan, terdapat 28 anak tangga berundak terbuat dari marmer mengkilat asal Italia. Dinding dan atapnya dihiasi ornamen perpaduan antara Melayu dan Timur Tengah. Sang arsitek, merancang bentuk pintu dan jendela dengan lebar dan tinggi sesuai gaya arsitektur Belanda. Tapi, terdapat pula beberapa pintu yang bergaya Spanyol. Sementara pengaruh Arab Islam tampak dari keberadaan lengkungan (arcade) pada atap dengan tinggi lengkungan berkisar antara lima sampai delapan meter. Keseluruhan bangunan ditopang 82 tiang batu berbentuk segi delapan dan 43 tiang kayu dengan lengkungan-lengkungan yang berbentuk lunas perahu terbalik dan ladam kuda.

Ketika akan memasuki ruangan kita disambut oleh dua buah plakat dari marmer pada pilar sebelah kanan dan kiri tangga. Yang sebelah kiri bertuliskan Aksara Arab sedangkan sebelah kanan bertuliskan Bahasa Belanda dan bertanggalkan 26 Agustus 1888 yang merupakan tanggal diresmikannya istana ini.

Memasuki ruang dalam kita akan melihat pembagian ruangan berupa ruang induk, sayap kanan, dan sayap kiri. Atap bangunan yang berbentuk limas dan kubah berada tepat di atas tiga ruangan tersebut. Di ruang induk (balairung) seluas 412 meter, terdapat singgasana berwarna kuning menyala yang berhiaskan kristal cantik dari Eropa. Ruang ini merupakan tempat upacara penobatan raja dan upacara adat lainnya. Di tempat ini pula, sang Sultan menerima para pembesar kesultanan lain. Sementara itu, pada dinding ruangan
ini terpajang foto sultan-sultan Deli dan permaisuri.

Selain singgasana, ruangan yang berhias ornamen dengan warna-warni yang indah ini juga terdapat beberapa benda peninggalan Kesultanan Deli, seperti sejumlah keris, pedang, payung kerajaan, tombak, lima buah gebuk (tempat air untuk membasuh tangan dan kaki sultan), dan tepak sirih. Semua benda tersebut masih terawat cukup baik. Dari ruangan ini, dapat disaksikan ukir-ukiran Melayu, seperti motif pucuk rebung pada pinggiran atas lesplank.

Ruangan-ruangan lain yang dulunya merupakan ruang pribadi raja, permaisuri, dan keluarganya kini dimanfaatkan untuk keperluan lain. Ada yang digunakan untuk memamerkan souvenir dan ada pula yang dipakai untuk menyimpan benda-benda peninggalan kesultanan.

Sementara di halaman bagian depan sebelah kanan istana ada sebuah bangunan berisi potongan meriam yang namanya meriam puntung. Kata dongeng, meriam ini merupakan penjelmaan dari adik Putri Hijau yang waktu itu menjelma jadi meriam karena Kerajaan Deli diserang oleh Kerajaan Aceh akibat pinangan terhadap Puteri Hijau ditolak. Nah, ceritanya karena meriam tersebut menembak dengan terus menerus, meriam itu pun akhirnya patah jadi dua (puntung) dan konon katanya juga potongan dari meriam itu terlempar sampe ke daerah tanah tinggi karo (yang jaraknya kurang lebih 70-an km dari tempat istana maimoon ini berada).

Istana Maimoon berada di area seluas empat hektare. Istana ini sendiri memiliki luas 2.772 meter persegi dan 30 ruangan. Sejak 1946, istana tersebut dihuni para ahli waris Kesultanan Deli. Berbagai pertunjukan seni tradisional Melayu sering digelar dalam rangka memeriahkan hari-hari besar Islam. Sayangnya waktu kunjunganku tidak berbarengan dengan perayaan apapun (dan itupun musti bergegas karena kunjungan hanya dibatasi sampai jam 5 sore).

Sejarah Kesultanan Melayu

Kemegahan Istana Maimoon yang kita saksikan saat ini tidak lepas dari perjalanan sejarah Kesultanan Deli di Sumatra Timur. Pada sekitar tahun 1612, Kerajaan Aceh mengutus seorang laksamana bernama Sri Paduka Sultan Gocah Pahlawan yang bergelar Laksamana Khoja Bintan ke tanah Deli.

Gocah Pahlawan berhasil mengambil alih kekuasaan Kerajaan Haru di Deli Tua pada 1630. Gocah Pahlawan kemudian menjadi penguasa di daerah taklukan itu mewakili penguasa Aceh hingga tahun 1653. Pada 1669, Deli melepaskan diri dari Aceh yang semakin melemah akibat situasi politik internal yang menggerogoti kekuasaan raja. Tak banyak catatan sejarah yang membicarakan periode awal pisahnya Kerajaan Deli dari Kerajaan Aceh.

Namun, menurut sejarah, pada tahun 1854, Deli kembali ditaklukkan oleh Aceh dan Osman Perkasa Alam diangkat sebagai Sultan. Kedudukan Sultan Osman digantikan oleh Sultan Mahmud Perkasa Alam yang memerintah pada tahun 1861-1873.

Kegemilangan Kesultanan Deli mencapai puncaknya ketika dipimpin oleh putra sulung Sultan Mahmud Perkasa Alam, yaitu Sultan Makmun al-Rashid Perkasa Alam (1873-1924). Pada masa beliaulah pembangunan berbagai sarana pemerintahan berjalan pesat, termasuk pembangunan Istana Maimoon.

Pertanyaanku kemudian: kenapa Istana Maimoon tampak kurang terawat? Di pintu masuk bahkan ada permintaan untuk memberikan sumbangan sekadarnya untuk perawatan gedung.

Disebut, secara historis kemegahan Istana Maimoon berbanding lurus dengan kemakmuran Kesultanan Deli pada masa Sultan Makmun ar-Rasyid Perkasa Alamsyah, sultan ke-8 dan pendiri istana. Sultan Deli yang juga menjadi kepala Masyarakat Hukum Adat menyewakan tanah kurang lebih seluas 4.000 bahu (1 bahu = 0,74 ha) kepada pengusaha Belanda untuk perkebunan tembakau yang terkenal dengan sebutan Tembakau Deli. Asro Kamal Rokan mencatat, melalui kontrak keperdataan yang dikenal dengan Akta Konsesi, pada Juli 1863, dikelolalah tanah tersebut oleh beberapa perusahaan swasta Belanda, di antaranya Deli Maatchappij dan Deli Cultuur Maatschapij. Dari hasil penyewaan tanah itu, pihak kesultanan mendapatkan keuntungan sangat besar sehingga mampu membangun sarana-sarana publik. Masjid Raya Medan, Masjid Labuhan Deli, dan Istana Maimoon tercatat sebagai bangunan megah yang dibangun pada masa itu. Perkebunan tembakau terus berkembang dari tahun ke tahun, hingga pada 1874, jumlah perusahaan dari Belanda mencapai 22 buah.

Maka pertanyaanku pun terjawab oleh sopir taksi yang kutumpangi: “Pada masa kemerdekaan Kesultanan berpihak pada Belanda dan tidak mengakui kemerdekaan Indonesia.”
Apa betul begitu? Meskipun sekarang telah menjadi bagian dari NKRI, tapi luka sejarah tidak hilang. Entahlah..aku belum menemukan referensinya. Tapi dugaanku yang lain adalah karena tidak ada yang sungguh-sungguh memperjuangkan keberlangsungan kesultanan ini. Sang sultan sendiri yang masih sangat muda kini dalam asuhan keluarga di Makasar karena sang ayah yang tentara meninggal dunia saat terjadi konflik di Aceh (ini juga info dari bapak sopir).

Apapun itu, sebagai bagian dari sejarah, Istana Maimoon menarik untuk dicermati apalagi dikunjungi. Jadi selamat berkunjung. Aku akan menunggumu disini šŸ™‚

referensi: harian republika dan booklet istana maimoon

Iklan

Satu pemikiran pada “Berkunjung ke Istana Maimoon

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s