Cerita sore

Hari menjelang sore ketika aku meninggalkan rumah, ikut meramaikan jalanan menuju kota. Pada satu ruas jalan, dari jauh kulihat sebuah gerobak baso mencoba membelah arus kendaraan. Tapi rupanya roda kanan terjebak batu pinggiran aspal. Tukang baso yang masih terbilang muda itu tampak panik, mungkin karena melihat kendaraan yang menjadi tersendat gara-gara menunggu gerobaknya berlalu. Dalam kepanikannya, usahanya untuk membelokkan gerobak bukan cuma sia-sia sebaliknya malah berakibat fatal. Gerobak oleng, dia tidak sanggup menahan pergerakan gerobak, maka limbunglah sang gerobak. Kejadian itu berlangsung kilat. Orang-orang baru bergegas menolong ketika air beruap panas disertai baso, ceker ayam, dan material perbasoan tumpah ruah ke jalanan..tak terselamatkan. Setelah berhasil tegak berdiri, si akang untuk sejenak tampak linglung mengamati dagangannya. Kubayangkan dia menyesalkan musibah yang baru saja dialaminya, karena itu bisa berarti dia harus kembali pulang untuk mengambil ulang bahan dagangan, atau mungkin dia berpikir tidak bisa pulang membawa keuntungan hari ini untuk anak-istri, atau mungkin dia memikirkan ongkos perbaikan gerobak yang bisajadi bukan miliknya… Ah, aku jadi ingat Pak Herjuno.

Suatu hari Pak Herjuno pulang dengan pakaian dan topi pet kotor dengan debu dan koyak di beberapa bagian. Punggung tangan terlihat sedikit lecet. Peti es yang terbuat dari seng juga penyok-penyok.. Stang sepeda jengkinya miring. “Aku mau kesenggol colt buntung,” kata Pak Herjuno sambil membuka peti es. Satu per satu dikeluarkannya es lilin aneka warna dari dalam peti. Uap dingin menyeruak diantara batangan es yang dibalut debu dan pasir. Rupanya setelah tersenggol kendaraan, sepeda jengki oleng dan jatuhlah ia bersama sepeda dan peti es. Alhasil es lilin-es lilin itupun berhamburan keluar, berserakan di jalanan berdebu. Aku tidak ingat persis ceritanya, apakah dia jatuh di tengah keramaian atau di tempat sepi, ada yang menolong ataukah cuma susah payah sendiri. Yang kuingat hanyalah dengan dibantu istri dan anak-anaknya, Pak Herjuno membersihkan es lilin yang kotor, disusun lg ke dalam peti, diletakkan di atas boncengan sepeda, dan diikat kuat dan rapi. Ia kemudian berganti baju dan bergegas berangkat lagi untuk menjajakan es lilin. Biar kata cuma penjual es lilin, Pak Herjuno selalu bersih dan rapi. Aku tidak ingat apa ekspresinya ketika itu, sedih atau murung. Begitu pula Ibu Herjuno, apakah ekspresinya kecewa karena suaminya pulang membawa hasil tapi malah merugi. Bagaimana tidak..sang suami berangkat lagi sudah jelang sore, sedangkan sisa es lilin yang masih banyak sebagiannya rusak karena terjatuh. Yang kutau pasti anak-anak gembira, karena bisa menikmati es lilin yang terpaksa tidak bisa dijual. Tapi barangkali Pak Herjuno tidak sempat sedih atau marah, karena ia segera meluncur..menyusuri jalan-jalan desa..menggoyangkan lonceng kecil di tangan kirinya: klining klining.. es es.. klining klining.. es es..

neng dhenok

bersama bapak dan ibu herjuno

Itulah sepenggal cerita Pak Herjuno pada lebih dari 25 tahun silam. Cerita yang barangkali dia sendiri sudah lupa, di antara serangan penyakit-penyakit menuanya. Tapi percayalah, Bapak..kami, anak-anakmu tak akan pernah lupa. Untuk setiap keringat yang kau cucurkan untuk kami, akan kami ingat senantiasa. Lekas sembuh, Bapak..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s