Selamat datang 2011!

Pergantian tahun seringkali dikaitkan dengan resolusi; membuat resolusi untuk tahun berikutnya. Tapi aku bukan tipe orang yang suka membuat resolusi. Seingatku baru 2 kali aku membuat resolusi ketika bergabung dalam sebuah komunitas. Ada perayaan dan dan doa bersama jelang pergantian tahun, kemudian tiap orang diberi kesempatan untuk menyampaikan sejumlah list yang menjadi resolusinya masing-masing. Dan itu akan jadi janji yang akan direview pada pertemuan tahun berikutnya. Dua resolusi itu kusampaikan dalam forum di dua komunitas yang berbeda. Karena sesungguhnya aku merasa sedikit tertekan untuk melakukan itu, membuat resolusi-sharing dengan kelompok-mencoba menjalankannya karena merasa ada yang memelototi hehehe.. Bukan berarti alergi, hanya tidak terbiasa saja. Karena tentu saja membuat komitmen pribadi dalam momentum apapun akan selalu bermanfaat.

Memasuki tahun ini, tidak membuat list resolusi memang, tapi ada dua komitmen utama: (1) berwirausaha sebagai komitmen untuk mandiri, dan (2) berhemat sebagai komitmen peduli lingkungan.

* Mengapa berwirausaha?

meong bikin kalung

Meong pun berwirausaha

Aku mulai terjun ke dunia kerja pada tahun 1996. Saat itu semata karena kondisi keuangan. Memasuki kuliah semester 6, keuangan semakin seret, dan tidak ada jalan lain selain mencari pekerjaan. Sebagian besar masa kerjaku kujalani di dunia broadcasting, dunia yang sangat menarik. Namun tetap saja, status karyawan pada akhirnya menjadi tidak aman. Dan kurasa 13 tahun waktu yang cukup untuk keluar dari zona nyaman dan mulai bermain di zona beresiko. Kenapa? Karena ada beberapa pertimbangan..

Pertama, secara penghasilan tidak kemana-mana alias mentok di angka yang kurang lebih sama dalam kurun waktu yang sekian lama. Akhirnya juga musti pintar-pintar mencari penghasilan sampingan. Belum lagi urusan pensiun masa tua. Perusahaan broadcasting relatif kecil dan sejauh yang kutau belum ada yang menyediakan dana pensiun untuk karyawannya. So, musti dipirin sendiri dong ya..

Kedua, menyadari kenyataan bahwa dunia pendidikan seolah hanya meluluskan calon pekerja. Sementara dunia kerja tidak menyediakan cukup ruang untuk mereka. Beruntunglah aku bekerja sejak di bangku kuliah dan tidak pernah mngandalkan ijazah untuk bekerja. Tapi statistik menunjukkan bahwa sarjana yang menganggur merupakan salah satu kategori pengangguran terbesar. Jadi, biarlah ruang kosongku diisi orang lain 🙂 Itupun kalau masih ada…

Ketiga, tren bisnis semakin menunjukkan betapa pentingnya kita semua berwirausaha. Persaingan yang semakin ketat, mengharuskan semua perusahaan memaksimalkan efisiensi. Rekrutmen karyawan terus ditekan. Saat ini saja penerimaan karyawan kebanyakan dilakukan dengan sistem kontrak, paling tidak pada 2 tahun pertama. Bahkan banyak yang menyalahi aturan dengan sistem kontrak secara terus menerus. Jika karyawan tidak dibutuhkan lagi maka akan ada PHK. Masih bagus jika diberikan pesangon. Saat ini banyak perusahaan yang melakukan ‘pembiaran’ bahkan teror psikologis yang membuat karyawan tidak betah sehingga memilih mengundurkan diri, yang artinya perusahaan tidak mengeluarkan pesangon. Kemudian juga sistem outsourcing yang semakin memperkecil peluang para pencari kerja maupun yang ingin meningkatkan posisi di kantor tempatnya bekerja.

Keempat, menjadi orang yang bebas dan mandiri. Betapa berat beban yang disandang para pegawai negeri karena mereka dibiayai rakyat (karena aku paling sebal kalau melihat PNS berkeliaran di mall pada jam kerja, apalagi kalau ngantornya hanya sekedar isi buku absensi). Selain itu menjadi karyawan baik negeri maupun swasta akan selalu terpaku pada tanggal gajian dan kenaikan gaji. Ini bukan mengabaikan mereka yang telah bekerja dengan baik, tapi bicara soal fakta, bahkan itulah yang sebagian besar terjadi di negeri ini.

Kelima, menciptakan lapangan kerja untuk orang lain. Ini cita-cita besarnya.. Semoga akan tiba di saat itu. Amin 🙂

* Mengapa harus berhemat?

hemat untuk bumi

Hemat untuk menyelamatkan bumi

Waktu di bangku SD dulu ada tulisan besar yang terpampang di dinding kelas: Hemat Pangkal Kaya. Tentu saja kalimat pendek itu benar adanya. Tapi bicara tentang hemat tidak sesederhana itu, apalagi kalau hanya dipadankan dengan urusan materi. Hemat jika dikaitkan dengan persoalan lingkungan akan punya andil besar terhadap keberlangsungan bumi ini. Contoh sederhana untuk melakukannya adalah mengikuti teladan masyarakat tradisional: mengambil hanya sejumlah yang dibutuhkan. Dan itu berlaku di lini manapun dalam keseharian kita. Bukan hanya apa-apa yang kita ambil langsung dari alam, tapi juga apa-apa yang kita harus mengeluarkan uang untuk mendapatkannya.

Apakah ini akan mudah? Ya..dalam pengucapannya. Tapi memang tidak hanya untuk diucapkan, tapi dilakonkan.. So let’s do it, save the world!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s