Menjajagi bisnis MLM

Saat ini berbagai macam produk dipasarkan dengan sistem Multi Level Marketing (MLM) atau Network Marketing. Ada pulsa elektrik, buku, kosmetik, program komputer, sabun, bahkan rokok, dan kopi. Sepertinya orang-orang yang berjiwa bisnis sedang berlomba-lomba mendirikan perusahaan MLM dan menawarkan peluang bisnis dengan bonus-bonus super kepada calon membernya.

Apakah dengan begitu kita perlu ikut-ikutan terlibat di bisnis ini? Jawabannya iya dan tidak.

YA, karena bisnis MLM adalah yang bisnis paling memungkinkan untuk yang tidak memiliki modal besar. Sistem MLM meniadakan jalur distribusi, biaya promosi, biaya pergudangan lokal, dan biaya distribusi. Bayangkan berapa besar uang yang dikeluarkan oleh perusahaan konvesional untuk melakukan semua itu: biaya distribusi, promosi, dan gedung-gedung. Peranan promosi dan distribusi diambil alih oleh perusahaan MLM dan para membernya yang mengonsumsi produk yang dipasarkan. Maka wajar jika member MLM memperoleh bonus (fee) pemasaran dari produsen jika terjadi transaksi produk (ada omset). Jadi syarat ada tidaknya bonus sebenarnya seperti berjualan konvensional, “ada transaksi, penjual dapat untung (selisih harga konsumen dan harga perusahaan)”. Dengan begitu, selain produk, hanya sistem pembayaran bonus dan struktur jaringanlah yang membedakan perusahaan MLM yang satu dengan perusahaan MLM yang lain. Disini memberlah sang pelaku usaha. Member bisa menjadi bos bagi diri sendiri. Member yang menentukan berapa besar keuntungan yang ingin ia dapatkan dengan menjalankan strategi bisnis yang tepat.

TIDAK, karena sebaiknya memang kita tidak terjun ke bisnis ini karena semata ikut-ikutan. Dibutuhkan kejelian dalam memilih perusahaan yang tepat dan dibutuhkan kesungguhan dalam menjalankannya.

So, di titik mana kita musti jeli agar bisa bergabung dengan perusahaan MLM yang tepat?

1.  Produk Yang Berkualitas

Prinsip MLM adalah menggunakan produk dan membangun jaringan. Jadi pertanyaannya: apakah perusahaan yang menjalankan bisnisnya dengan metode MLM tersebut memiliki produk yang jelas? Banyak MLM yang hanya menjual khayalan tentang bonus, tapi tidak pernah membahas produk mereka sama sekali. Hati-hati, jangan-jangan memang mereka tidak punya produk. Atau lebih bahaya lagi kalau itu hanya money game.

Patokan jelasnya adalah harga barang sebanding dengan kualitasnya.

Jangan terkecoh pula dengan berbagai kamuflase produk yang sulit dideteksi dari awal oleh para pemula. Kadang sistem menawarkan star-upline kit yang murah sekali, tapi pada tengah-tengahnya memaksa member untuk membayar produk perusahaan (dengan sistem tutup poin yang memberatkan), bayar biaya training, atau alat-alat demonstrasi lainnya dengan harga sangat mahal.

2.  Perusahaan penyelenggara sistem MLM

Program MLM yang baik pastilah dikelola oleh perusahaan yang baik pula. Jadi pastikan kita memeriksan terlebih dahulu:
– nama perusahaan
– status badan hukumnya (PT, CV, UD)
– alamat jelas kantor perusahaan
– nomor telepon Customer Service yang bisa dihubungi
– sudah berapa lama mereka beroperasi

Berdasarkan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No. 73/MPP/Kep/3/2000 Tentang Ketentuan Kegiatan Usaha Penjualan Berjenjang, disebutkan di Bab II pasal 2 Ayat 1 bahwa : Perusahaan yang menggunakan system penjualan berjenjang harus berbentuk badan hukum (Perseroan Terbatas) dan WAJIB memiliki IUPB (Izin Usaha Penjualan Berjenjang).

Jadi musti dipastikan bahwa perusahaan itu memiliki IUPB (sekarang SIUPL,  Surat Izin Usaha Penjualan Langsung ).

Yang perlu diperhatikan juga adalah filosofi perusahaan. Ada perusahaan MLM yang memiliki visi dan filosofi bisnis sangat bagus. Mereka sungguh-sungguh ingin menyejahterakan member dan menjalin kemitraan selama mungkin. Ada pula yang mengutamakan filosofi menolong sesama dan memberikan pelayanan terbaik bagi siapa pun. Apa motif perusahaan MLM itu dibangun, harus kita pahami betul. Pastikan apakah perusahaan itu memiliki visi untuk terus membesarkan diri bersama-sama para member. Jangan kita pilih MLM yang tidak memiliki visi jelas atau sekedar mencari keuntungan sesaat. Dalam sejarah MLM, banyak sekali perusahaan berguguran karena tidak memiliki tujuan pasti,
kecuali meraup keuntungan di atas kesengsaraan orang.

3.   Memiliki program pelatihan yang baik

Sebelum bergabung, bertanya sebanyak-banyaknya kepada calon upline. Selidiki apakah dia mau menyediakan waktu yang cukup untuk kita. Selidiki apakah dia cukup berpengalaman dan berpengetahuan luas mengenai bisnis ini. Dan tentu saja, pastikan kalau dia bersedia membantu kita.

Perusahaan MLM yang baik pasti mempunyai program pelatihan untuk para membernya. Jadi pastikan kita mendapat informasi yang cukup tentang jadwal pertemuan, tempat pertemuan, dan berapa biaya yang harus dikeluarkan oleh membernya untuk mengikuti pertemuan-pertemuan tersebut. Karena MLM yang baik pasti menyelenggarakan program-program pelatihan secara terus-menerus melalui support sytem. Jangan sampai setelah bergabung, dan bahkan belum menghasilkan apa-apa tapi sudah tercekik sama biaya pertemuan yang mahal.

4.  Sistem remunerasi yang baik

Sistem remunerasi (atau bonus) yang baik adalah yang wajar, realistis, dan tidak muluk-muluk. Pastikan apakah sistem remunerasi yang berlaku benar-benar dibangun atas dasar saling menguntungkan antara kita, upline, dan perusahaan bersangkutan. Apakah penghasilan kita bisa melebihi upline jika kita bekerja lebih keras dari mereka? Sistem remunerasi yang baik tentu memungkinkan hal tersebut, agar upline tidak makan gaji buta.

Jadi, mari temukan perusahaan dengan sistem MLM yang baik, dan sama-sama menjajaginya 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s