Gulliver’s Travel, film plesetan yang gagal

gulliver's travel, film plesetan yang gagal

Alasan utama nonton film ini sesungguhnya adalah ingin tahu seberapa bagus special effect yang ditampilkan film ini. Dan memang bagus. Penggambaran sosok raksasa dan manusia liliput, komunikasi dianataranya dan penggambaran alam yang mewadahi mereka terlihat wajar dan menarik. Namun buat saya ini tidak masuk kategori film menarik. Bahkan garing, kalau orang Sunda bilang. Terlalu ringan dan sederhana.

Film ini mengisahkan Gulliver (Jack Black), pemimpin bagian surat menyurat di sebuah media massa New York yang nyaris tidak memiliki obsesi untuk maju. Hanya karena ingin mendapatkan perhatian dari Darcy (Amanda Peet), redaktur bagian tulisan perjalanan di media tersebut yang selama ini digandrunginya, Gulliver membuat tulisan palsu seolah-olah dia pintar membuat laporan perjalanan. Dibumbui dengan bualannya tentang perjalanan-perjalanan yang pernah dilakukannya, Darcy menawari Gulliver untuk melakukan liputan di Segitiga Bermuda.

Siapa nyana kalau bualannya berakibat begitu fatal. Mau tidak mau Gulliver menerima tawaran tersebut. Namun kemudian perjalanan kapal Gulliver tersentak oleh gelombang kawasan Bermuda Triangle yang terkenal angker. Maka terdamparlah Gulliver di sebuah kawasan yang dipenuhi manusia super mungil. Iapun kemudian menjadi tawanan Kerajaan Liliput karena menganggapnya sebagia mata-mata musuh. Beruntuglah Gulliver, karena dalam sebuah ketidaksengajaan, ia berhasil menyelamatkan para anggota kerajaan dari serangan musuh, pasukan Blefuscu. Si makhluk raksasa ini pun dianggap sebagai pahlawan. Raja memberinya pelayanan super dan tidak tanggung-tanggung memberinya jabatan jendral kerajaan tersebut. Keadaan ini menyulut kemarahan sang jendral sebelumnya, Edward (Chris O’Dowd) yang kemudian bersekongkol dengan Blefuscu untuk menyerang negaranya sendiri. Dan dapat ditebak, pihak Gulliver dan Liliput menang.

Pada beberapa bagian film ini memang sanggup mengundang tawa. Tapi selebihnya sama sekali tidak ada greget. Jack Black adalah Jack Black, perannya disini sama dengan film-film yang pernah dibintanginya, kecuali Kingkong dan sebagai dubber film-film animasi. Sedangkan para pemeran lainnya juga tampil sangat biasa.

Yang kemudian membuatku kecewa adalah beberapa artikel yang kujumpai menyebut Gulliver’s Travel adalah sebuah novel yang sangat terkenal di tahun 1726. Novel tulisan Jonathan Swift ini bukan sekedar berisi cerita imajinatif yang menarik, tapi juga menyampaikan banyak kritik sosial mengenai kehidupan masyarakat pada masa itu. Pada masanya novel ini meraih sukses besar, bukan hanya pujian dari kalangan kritikus tapi juga diminati para pembacanya. Novel itu kemudian banyak diadaptasi ke dalam bentuk serial radio, televisi, maupun film.

Sayang usaha Rob Letterman, sutradara yang terakhir yang mencoba mengangkat karya Swift tersebut ke layar lebar gagal. Bersama duo penulis naskah, Joe Stillman dan Nicholas Stoller, Letterman ingin menjadikan Gulliver’s Travel sebagai tayangan hiburan dan mengesampingnya esensi dari novel itu sendiri. Sayangnya, sekali lagi, sebagai film hiburan, Gulliver’s Travel tidak lucu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s