Norak dan kuper versus ndeso: masalah memaknai bahasa dan ketepatan dalam penggunaannya

Si Karyo baru 2 bulan menginjakkan kaki di Kota Bandung. Lingkungan baru dan budaya baru menjadikan Karyo sedikit kewalahan ketika harus berurusan dengan hal-hal yang berbau kota. Maka kemudian Karyo pun sering mendengar gumaman “ndeso, kamu..”

Ungkapan ‘ndeso’ disampaikan ketika -dalam kasus ini- si Karyo tidak melakukan sesuatu seperti yang orang kota lakukan, atau berpandangan seperti orang kota punya pandangan. Tapi adakah istilah untuk Joni, orang kota yang kemudian tinggal di desa dan tidak bisa beradaptasi dengan lingkungan desa? Apakah orang akan mengatakan “dasar kota kamu, Joni!” Sejauh ini aku belum pernah mendengarnya.

Jadi apa sebetulnya masalahnya? Kelas! Yup, pembedaan kelas. Feodal sekali ya…

Aku jadi ingat di kampungku dulu. Pada suatu masa ketika aku masih di bangku SD seorang kawan yang singgah ke rumah bertanya “mbokmu kemana?” Aku ingat, dulu aku tersinggung. Panggilan mbok diberikan kepada ibu-ibu yang tinggal di kampung dari strata ekonomi bawah. Lebih tinggi lagi: emak. Sedangkan untuk ibu-ibu dari kota atau kalaupun di desa dia secara ekonomi mapan ia akan dipanggil ibu atau lebih keren lagi: mama . Mungkin karena melihat kondisi rumahku yang kecil dengan bilik bambu dan fasilitas seadanya, dia langsung menyimpulkan bahwa panggilan tepat untuk ibuku adalah ‘mbok’. Jadi urutannya dari yang terendah: mbok, mak, ibu, mama.. Itu yang kukenali dulu.

Panggilan-mbok, mak, ibu, atau mama-nya sebetulnya tidak menjadi masalah. Yang menjadi masalah ketika sebutan-sebutan itu ditempelkan kepada seorang ibu berdasarkan kelasnya.

Kembali ke soal ‘ndeso’ tadi, sama..tidak ada masalah dengan desa. Maka bukankah lebih tepat kalau kita menggunakan kata ‘norak’ atau ‘kuper’ alias kurang pergaulan? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia norak memiliki arti ‘tidak pas’. Begitu pula kuper yang merupakan istilah slank tapi sudah diterima jadi bahasa pergaulan dan sudah banyak digunakan. Sehingga kata itupun menjadi pas untuk mengistilahi orang kota yang tidak padu dengan tata cara orang desa, dan sebaliknya orang desa yang tidak padu dengan tata cara orang kota. Ada perlakuan yang mustinya sama dalam konteks ini.

Kenapa aku merasa perlu membahas ini? Bukan karena berasal dari desa, tapi melihat bahwa kita ini terbiasa dan membiarkan pembedaan kelas terus berlangsung. Akibatnya feodalisme masih bercokol dan terus hidup: desa adalah sub ordinat dari kota, orang miskin adalah sub ordinat orang kaya, orang biasa adalah sub ordinat pejabat, rakyat adalah sub ordinat penguasa, perempuan adalah sub ordinat dari laki-laki, masyarakat lokal adalah sub ordinat dari masyarakat nasional, masyarakat nasional adalah sub ordinat dari masyarakat dunia..

Barangkali membahas tentang ‘ndeso’ adalah sesuatu yang sederhana. Tapi kalau hal-hal yang sederhana saja tidak sanggup mengubah, bagaimana dengan hal-hal yang lebih besar dan rumit? Jadi, mari kita lebih bijak dalam memilih kata..

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s