Belajar cinta dari Erich Fromm

Hari ini suasananya mungkin seperti yang digambarkan Wet Wet Wet: Love is all around, penuh bunga, penuh warna merah jambu, dan penuh lambang hati. Orang memang lantas menjadi sibuk menyambut datangnya hari ini. Aku tidak termasuk orang yang terlalu mengistimewakan hari. Konon katanya ini agak keterlaluan, tapi ah..kenapa juga dibilang keterlaluan ya? Hehehe..

Tapi karena banyak orang yang bicara tentang cinta di hari ini, aku lantas (dan sebetulnya selalu) teringat sama Om Fromm. Orang yang menjadi guruku dalam mempelajari cinta tapi rasanya kok ga lulus-lulus. Entah begitu tidak cerdasnya seorang dhenok atau begitu rumitnya mempraktekkan cinta. Karena cinta bukan semata romance-hati berdebar-debar pada pandangan pertama, cinta bukannya sesuatu yang gubrak..jatuh dari langit, dan karena cinta adalah usaha tanpa henti. Dan memang ajaran Om Fromm dalam membahas cinta tidak berdasarkan kajian meye-meye seperti lagu-lagu melayu yang lagi marak, tidak seperti kisah asmara dalam novel tipis oplah berlimpah, tidak seperti film cengeng yang menguras air mata. Sebaliknya, ajarannya keras dan serius. Karena menurut Fromm, idenya mengenai cinta merupakan jawaban dari masalah eksistensi manusia.

Nama Erich Fromm sendiri dikenal sebagai salah satu tokoh yang memiliki perhatian besar terhadap arah masyarakat kapitalis dan pengaruhnya terhadap kajian massa rakyat. Perhatiannya dalam ilmu psikologi sosial membuahkan banyak karya yang menunjukkan pemikirannya yang kaya dan tajam. Bahkan bukan psikologi saja yang dibedah, tapi juga gagasan sosial-humanis.

Dalam bukunya, The Art Of Loving, Fromm menjelaskan bahwa kebutuhan manusia yang paling dalam adalah kebutuhan untuk mengatasi keterpisahannya dan meninggalkan penjara kesendiriannya. Kegagalan untuk mengatasi keterpisahan ini yang akan menyebabkan gangguan kejiwaan. Lantas banyak cara yang kemudian dilakukan individu untuk mengatasi keterpisahannya dari individu lainnya. Dalam cinta, ada jawaban yang utuh yakni terletak pada pencapaian penyatuan antar pribadi dan peleburan dengan pribadi lain. Hasrat akan peleburan antar pribadi ini yang paling kuat pengaruhnya dalam diri manusia. Inilah kerinduan mendasar dan kekuatan yang menjaga manusia untuk selalu bersama.

Menurut Fromm ada dua jenis cinta:

1. Cinta penyatuan simbiosis. Disini cinta memiliki pola hubungan antara pasif dan aktif, dimana keduanya tidak dapat hidup tanpa yang lain. Bentuk pasif dari penyatuan simbiosis disebut sebagai ketertundukan (submission) atau dalam istilah klinis disebut sebagai Masokhisme. Pribadi yang Masokhisme keluar dari perasaan isolasi dan keterpisahan yang tak tertahankan dengan menjadikan dirinya bagian dan bingkisan pribadi lain yang mengatur, menuntun dan melindungi dirinya. Bentuk aktif dari penyatuan simbiosis disebut sebagai dominasi (domination), dalam klinis disebut sebagai sadisme. Pribadi yang sadistis ingin keluar dari kesendiriannya dengan membuat pribadi lain menjadi bagian dan bingkisan dirinya.

2. Cinta yang dewasa. Ini merupakan penyatuan dalam kondisi tetap memelihara integritas dan individualitas seseorang. Cinta adalah kekuatan aktif dalam diri manusia, kekuatan yang dapat meruntuhkan tembok yang memisahkan manusia dari sesamanya, dan yang menyatukan dirinya dengan yang lain.

Tentu saja pilihan yang terbaik adalah cinta dewasa. Dalam jenis cinta dewasa, cinta menjadi kekuatan aktif dalam diri manusia, kekuatan yang meruntuhkan tembok yang memisahkan manusia dari sesamanya, yang menyatukan dirinya dengan yang lain; cinta membuat dirinya mengatasi perasaan isolasi dan keterpisahan, namun tetap memungkinkan dirinya menjadi dirinya sendiri, mempertahankan integritasnya.

Fromm memandang manusia sebagai makhluk yang sadar akan dirinya, mempunyai kesadaran tentang dirinya, sesama, masa lalu, kemungkinan masa depannya dan kesadaran akan eksistensinya sebagai sesuatu yang terpisah. Sadar akan keterpisahan ini merupakan faktor utama munculnya kegelisahan, kecemasan dan dapat menjadi pintu gerbang menuju gangguan kejiwaan. Dan dalam keterpisahan itu, hanya cinta yang dewasa yang mampu mengatasinya.

Karakter aktif dari cinta yang dewasa ditunjukkan dengan hasrat untuk lebih memberi daripada menerima. Memberi disini memiliki makna wujud paling nyata dari potensi diri. Dalam setiap tindakan memberi, individu akan merasakan kekuatan, kekayaan, dan kekuasaan atas dirinya. Maka memberi akan lebih membahagiakan daripada menerima. Maka manusia tidak akan memberi untuk menerima. Pada akhirnya memberi akan membuat orang lain menjadi pemberi. Karena cinta adalah kekuatan yang melahirkan cinta.

Unsur-unsur dasar dari cinta, meurut Fromm adalah:
1. Perhatian (Care): Cinta adalah perhatian aktif pada kehidupan dan pertumbuhan dari apa yang kita cintai. Implikasi dari cinta yang berupa perhatian terlihat jelas dari perhatian tulus seorang ibu kepada anaknya.
2. Tanggungjawab (Responsibility): Tanggungjawab dalam arti sesungguhnya adalah suatu tindakan yang sepenuhnya bersifat sukarela. Bertanggungjawab berarti mampu dan siap menganggapi.
3. Rasa Hormat (Respect): Rasa hormat bukan merupakan perasaan takut dan terpesona. Bila menelusuri dari akar katanya (respicere = melihat), rasa hormat merupakan kemampuan untuk melihat seseorang sebagaimana adanya, menyadari individualitasnya yang unik. Rasa hormat berarti kepedulian bahwa seseorang perlu tumbuh dan berkembang sebagaimana adanya. “If you love somebody, set them free”…begitu kata Om Sting 🙂
4. Pengetahuan (Knowledge): Pengetahuan yang menjadi satu aspek dari cinta adalah pengetahuan yang tidak bersifat eksternal, tetapi menembus hingga ke intinya.

Perhatian, tanggungjawab, rasa hormat dan pengetahuan mempunyai keterkaitan satu sama lain. Semuanya merupakan sindrom sikap yang terdapat dalam pribadi yang dewasa, yaitu dalam pribadi yang mengembangkan potensi dirinya secara produktif.

Bukankah kalau membaca Fromm terdengar sederhana? Tapi pada prakteknya tiap individu akan dihadapkan pada kepentingan, pada ego, pada hasrat, dan melupakan kepedulian, tanggung jawab, dan rasa hormat terhadap orang lain.

Jadi, mari kita belajar lagi 🙂
Belajar mencintai dengan benar….

Have a happy valentine’s day, dear friends…

Iklan

2 pemikiran pada “Belajar cinta dari Erich Fromm

  1. entah pengetahuan saya yg kurang atau bagaimana, tapi saya memaknai lain buku dari om fromm yg berjudul the art of loving. Keterasingan diri yg dimaksud, bukanlah terpisah dari individu lain, tapi terasing dari kecenderungan2 fitrawih manusia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s