Mari mengeja mantra: man jadda wa jada!

Akhirnya buku ini pun kubaca dengan ngebut. Apa pasal? Karena membacanya entah mulai dari kapan, belum dilanjutkan juga sampai buku yang keduanya sudah tiba di rumah. Padahal ini buku jelas menarik. Jadi entah kenapa waktu itu sempat terhenti dan terbengkalai begitu saja.

Aku membeli buku ini karena melihat nama penulisnya, Ahmad Fuadi. Dia teman sekampungnya teman kosku waktu kuliah. Tuh orang sudah kemana-mana, sudah bikin tulisan entah apa-apa, sedangkan aku masih di sini dan tidak menghasilkan apa-apa. Jadi judulnya sirik dot com hehe..

Novel ini berkisah tentang kehidupan pesantren Gontor. Alkisah, Alif Fikri yang masih SMP bercita-cita masuk SMA dan kuliah di ITB. Namun ia harus menuruti keinginan orang tuanya untuk belajar agama di pondok pesantren. Alif tentu saja keberatan. Ibunya ingin dia menjadi Buya Hamka sementara ia ingin menjadi Habibie. Namun kesepakatan yang muncul kemudian adalah belajar di pondok pesantren yang dilengkapi dengan pendidikan modern. Pilihannya jatuh pada Pondok Pesantren Gontor. Maka berangkatlah si Alif kecil meninggalkan kampung halamannya.

Dan mengalirlah cerita, kisah hidup Alif saat di pesantren dan saat kini. Saat ia sudah sukses mengecap pendidikan tinggi dan saat ia memulai pencarian dirinya bersama kawan-kawan sepenanggunangan di pesantren terkenal di Ponorogo ini. Meski mengisahkan masa kini dan masa lalu, Ahmad Fuadi menyajikan tulisannya secara sederhana, tanpa alur yang meloncat-loncat sehingga cukup memudahkan pembacanya.

Kisah lucu sekaligus haru mulai muncul saat Alif yang lahir di pinggir Danau Maninjau dan tidak pernah menginjak tanah di luar ranah Minangkabau itu tiba-tiba harus naik bus tiga hari tiga malam melintasi punggung Sumatera dan Jawa menuju sebuah desa di pelosok Jawa Timur.

Di kelas hari pertamanya di Pondok Madani, Alif terkesima dengan “mantra” sakti man jadda wa jada: siapa yang bersungguh-sungguh pasti sukses. Dia terheran-heran mendengar komentator sepakbola berbahasa Arab, anak mengigau dalam bahasa Inggris, dan terkesan melihat pondoknya setiap pagi seperti melayang di udara. Dipersatukan oleh hukuman jewer berantai, Alif berteman dekat dengan Raja dari Medan, Said dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung, dan Baso dari Gowa. Di bawah menara masjid yang menjulang, mereka menunggu Maghrib sambil menatap awan lembayung berarak pulang ke ufuk Barat. Di mata belia mereka, awan-awan itu menjelma menjadi negara dan benua impian masing-masing.

Kemampuan para murid lahir dari disiplin ketat yang berlaku di pondok pesantren ini. Ketatnya aturan dan disiplin yang berlaku untuk semua orang itu kadang terasa mengkhawatirkan untuk anak-anak seusia mereka. Namun segala bentuk aturan itu memang diadakan demi kemajuan para murid. Tak heran jika lulusan Ponpes Gontor terkenal dengan kualitasnya. Disini pendidikan diterapkan tidak hanya di kelas tapi juga merambah ke semua bagian pada detil keseharian. Motivasi selalu diberikan setiap saat agar arah hidup tidak melenceng dan tetap semangat. Setiap murid didorong untuk melakukan sesuatu melebihi orang lain, beyond the limit. Seperti digambarkan penulis, seorang santri baru harus bisa berbahasa Arab dan Inggris dalam jangka waktu 3 bulan, mentaati aturan yang hanya sekali dibacakan dan harus dihafal, dan semua santri juga dilatih menjadi orator, pembicara dalam 3 bahasa.

Fuadi menggambarkan tokoh-tokoh dalam bukunya ini sebagai anak-anak dengan keterbatasan ekonomi. Namun mereka tidak cengeng dan mengasihani diri sendiri. Keterbatasan itu justru menjadikan mereka saling mendukung, memberi semangat, dan bersama menetapkan cita-cita.

Sepintas membaca tulisan Ahmad Fuadi seperti membaca Andrea Hirata dalam tetralogi Laskar Pelangi. Fuadi memang mengakui menulis buku ini karena terinspirasi oleh Andrea. Yang membedakan adalah taat tulisan yang ditunjukkan oleh Fuadi. Berbeda dengan Andrea yang memiliki latar belakang karyawan kantor dan orang ‘ekonomi’, Fuadi sudah mengawali karier penulisannya sejak di bangku kuliah. Ketika masih kuliah di Hubungan Internasional UNPAD ia telah menjadi penulis. Antara lain ia pernah menjadi penulis lepas untuk Majalah Intisari, koresponden Majalah TEMPO, dan wartawan VOA. Berikutnya Fuadi pernah mewakili Indonesia dalam YOUTH EXCHANGE PROGRAM di Quebec, CANADA. Dia juga kuliah satu semester di National University of Singapore dalam program SIF Fellowship, dan mendapat beasiswa Pasca Sarjana Fulbright di School of Media Public Affairs, George Washington University. Dia juga mendapat beasiswa Chevening Award untuk belajar di Royal Holloway, University of London bidang Film Dokumenter.

Jadi, wajar to kalau aku sirik? 😦

Sudah, dhenok.. jangan sirik. Ingat-ingat saja mantranya: man jadda wa jada 🙂

(siap-siap melanjutkan ke Ranah 3 Warna)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s