Say YES to GAMBARU!

Hari pertama membuka laptop dan internet, setelah lebih dari 10 hari dianggurin karena ditinggal mudik. Hal pertama yg kulakukan adalah cek email. Seperti biasa, yg kulakukan pertama adalah memasukkan ke box sampah sebagian besar email dari milis2 yg kuikuti. Aneh juga ya..padahal kalau ga mau ada notif ya diset aja. Tapi kok ya males aja buat nge-set hehe..

Biasanya setelah acara memasukkan email2 buangan ke kotak sampah selesai, kotak sampah pun langsung dibuang isinya alias didelete. Tapi barusan rada iseng buka lagi, eh nemu postingan yg iseng pengen kubuka. Isinya ternyata tulisan seorang mahasiswa S2 di Jepang. Judulnya si kawan pengirim ini ingin menularkan semangat. Mengapresiasi budaya Jepang, mengkritisi budaya orang sendiri, dan menularkan semangat di dalamnya. Jadilah ko-copy postingan tersebut, dan ingin kutularkan pula disini.

Dan, ini dia tulisannya.. Selamat pagi, kawans!

***

Say YES to GAMBARU!

By Rouli Esther Pasaribu

Terus terang aja, satu kata yang bener2 bikin muak jiwa raga setelah tiba di
Jepang dua tahun lalu adalah : GAMBARU alias berjuang mati-matian sampai
titik darah penghabisan. Muak abis, sumpah, karena tiap kali bimbingan sama
prof, kata-kata penutup selalu : motto gambattekudasai (ayo berjuang lebih
lagi), taihen dakedo, isshoni gambarimashoo (saya tau ini sulit, tapi ayo
berjuang bersama-sama) , motto motto kenkyuu shitekudasai (ayo bikin
penelitian lebih  dan lebih lagi). Sampai gw rasanya pingin ngomong, apa
ngga ada kosa kata lain selain GAMBARU? apaan kek gitu, yang penting bukan
gambaru. Gambaru itu bukan hanya sekadar berjuang2 cemen gitu2 aja yang kalo
males atau ada banyak rintangan, ya udahlah ya…berhenti aja.

Menurut kamus bahasa jepang sih, gambaru itu artinya : “doko made mo nintai
shite doryoku suru” (bertahan sampai kemana pun juga dan berusaha
abis-abisan) Gambaru itu sendiri, terdiri dari dua karakter yaitu karakter
“keras” dan “mengencangkan”. Jadi image yang bisa didapat dari paduan
karakter ini adalah “mau sesusah apapun itu persoalan yang dihadapi, kita
mesti keras dan terus mengencangkan diri sendiri, agar kita bisa menang atas
persoalan itu” (maksudnya jangan manja, tapi anggap semua persoalan itu
adalah sebuah kewajaran dalam hidup, namanya hidup emang pada dasarnya
susah, jadi jangan ngarep gampang, persoalan hidup hanya bisa dihadapi
dengan gambaru, titik.).

Terus terang aja, dua tahun gw di jepang, dua tahun juga gw ngga ngerti,
kenapa orang2 jepang ini menjadikan gambaru sebagai falsafah hidupnya.
Bahkan anak umur 3 tahun kayak Joanna pun udah disuruh gambaru di
sekolahnya, kayak pake baju di musim dingin mesti yang tipis2 biar ngga
manja terhadap cuaca dingin, di dalam sekolah ngga boleh pakai kaos kaki
karena kalo telapak kaki langsung kena lantai itu baik untuk kesehatan,
sakit2 dikit cuma ingus meler2 atau demam 37 derajat mah ngga usah bolos
sekolah, tetap dihimbau masuk dari pagi sampai sore, dengan alasan, anak
akan kuat menghadapi penyakit jika ia melawan penyakitnya itu
sendiri. Akibatnya, kalo naik sepeda di tanjakan sambil bonceng Joanna, dan
gw ngos2an kecapean, otomatis Joanna ngomong : Mama, gambare! mama faitoooo!
(mama ayo berjuang, mama ayo fight!). Pokoknya jangan manja sama masalah
deh, gambaru sampe titik darah penghabisan it’s a must!

Gw bener2 baru mulai sedikit mengerti mengapa gambaru ini penting banget
dalam hidup, adalah setelah terjadi tsunami dan gempa bumi dengan kekuatan
9.0 di jepang bagian timur. Gw tau, bencana alam di indonesia seperti
tsunami di aceh, nias dan sekitarnya, gempa bumi di padang, letusan gunung
merapi….juga bukanlah hal yang gampang untuk dihadapi. Tapi, tsunami dan
gempa bumi di jepang kali ini, jauuuuuh lebih parah dari semuanya itu.
Bahkan, ini adalah gempa bumi dan tsunami terparah dan terbesar di
dunia. Wajaaaaaaar banget kalo kemudian pemerintah dan masyarakat jepang
panik kebingungan karena bencana ini. Wajaaaaar banget kalo mereka kemudian
mulai ngerasa galau, nangis2, ga tau mesti ngapain. Bahkan untuk skala
bencana sebesar ini, rasanya bisa “dimaafkan” jika stasiun-stasiun TV
memasang sedikit musik latar ala lagu-lagu ebiet dan membuat video klip
tangisan anak negeri yang berisi wajah-wajah korban bencana yang penuh
kepiluan dan tatapan kosong tak punya harapan. Bagaimana tidak, tsunami dan
gempa bumi ini benar-benar menyapu habis seluruh kehidupan yang mereka
miliki. Sangat wajar jika kemudian mereka tidak punya harapan. Tapi apa yang
terjadi pasca bencana mengerikan ini? Dari hari pertama bencana, gw nyetel
TV dan nungguin lagu-lagu ala ebiet diputar di stasiun TV. Nyari-nyari juga
di mana rekening dompet bencana alam. Video klip tangisan anak negeri juga
gw tunggu2in. Tiga unsur itu (lagu ala ebiet, rekening dompet bencana, video
klip tangisan anak negeri), sama sekali ngga disiarkan di TV. Jadi yang ada
apaan dong? Ini yang gw lihat di stasiun2 TV :

1. Peringatan pemerintah agar setiap warga tetap waspada

2. Himbauan pemerintah agar seluruh warga jepang bahu membahu menghadapi
bencana (termasuk permintaan untuk menghemat listrik agar warga di wilayah
tokyo dan tohoku ngga lama-lama terkena mati lampu)

3. Permintaan maaf dari pemerintah karena terpaksa harus melakukan pemadaman
listrik terencana

4. Tips-tips menghadapi bencana alam

5. nomor telepon call centre bencana alam yang bisa dihubungi 24 jam

6. Pengiriman tim SAR dari setiap perfektur menuju daerah-daerah yang
terkena bencana

7. Potret warga dan pemerintah yang bahu membahu menyelamatkan warga yang
terkena bencana (sumpah sigap banget, nyawa di jepang benar-benar bernilai
banget harganya)

8. Pengobaran semangat dari pemerintah yang dibawakan dengan gaya tenang dan
tidak emosional : mari berjuang sama-sama menghadapi bencana, mari kita
hadapi (government official pake kata norikoeru, yang kalo diterjemahkan
secara harafiah : menaiki dan melewati) dengan sepenuh hati

9. Potret para warga yang terkena bencana, yang saling menyemangati :

*ada yang nyari istrinya, belum ketemu2, mukanya udah galau banget, tapi
tetap tenang dan ngga emosional, disemangati nenek2 yang ada di tempat
pengungsian : gambatte sagasoo! kitto mitsukaru kara. Akiramenai de (ayo
kita berjuang cari istri kamu. Pasti ketemu. Jangan menyerah)

*Tulisan di twitter : ini gempa terbesar sepanjang sejarah. Karena itu, kita
mesti memberikan usaha dan cinta terbesar untuk dapat melewati bencana ini;
Gelap sekali di Sendai, lalu ada satu titik bintang terlihat terang. Itu
bintang yang sangat indah. Warga Sendai, lihatlah ke atas.

Sebagai orang Indonesia yang tidak pernah melihat cara penanganan bencana
ala gambaru kayak gini, gw bener-bener merasa malu dan di saat yang
bersamaan : kagum dan hormat banget sama warga dan pemerintah Jepang. Ini
negeri yang luar biasa, negeri yang sumber daya alamnya terbatas banget,
negeri yang alamnya keras, tapi bisa maju luar biasa dan punya mental sekuat
baja, karena : falsafah gambaru-nya itu. Bisa dibilang, orang-orang jepang
ini ngga punya apa-apa selain GAMBARU. Dan, gambaru udah lebih dari cukup
untuk menghadapi segala persoalan dalam hidup. Bener banget, kita mesti
berdoa, kita mesti pasrah sama Tuhan. Hanya, mental yang apa-apa “nyalahin”
Tuhan, bilang2 ini semua kehendakNya, Tuhan marah pada umatNya, Tuhan marah
melalui alam maka tanyalah pada rumput yang bergoyang… ..I guarantee you
100 percent, selama masih mental ini yang berdiam di dalam diri kita, sampai
kiamat sekalipun, gw rasa bangsa kita ngga akan bisa maju. Kalau ditilik
lebih jauh, “menyalahkan” Tuhan atas semua bencana dan persoalan hidup,
sebenarnya adalah kata lain dari ngga berani bertanggungjawab terhadap hidup
yang dianugerahkan Sang Pemilik Hidup. Jika diperjelas lagi, ngga berani
bertanggungjawab itu maksudnya  : lari dari masalah, ngga mau ngadepin
masalah, main salah2an, ngga mau berjuang dan baru ketemu sedikit rintangan
aja udah nangis manja.

Kira-kira setahun yang lalu, ada sanak keluarga yang mempertanyakan, untuk
apa gw menuntut ilmu di Jepang. Ngapain ke Jepang, ngga ada gunanya, kalo
mau S2 atau S3 mah, ya di eropa atau  amerika sekalian, kalo di Jepang mah
nanggung. Begitulah kata beliau. Sempat terpikir juga akan perkataannya itu,
iya ya, kalo mau go international ya mestinya ke amrik atau eropa sekalian,
bukannya jepang ini. Toh sama-sama asia, negeri kecil pula dan kalo ga bisa
bahasa jepang, ngga akan bisa survive di sini. Sampai sempat nyesal
juga,kenapa gw ngedaleminnya sastra jepang dan bukan sastra inggris atau
sastra barat lainnya. Tapi sekarang, gw bisa bilang dengan yakin  sama sanak
keluarga yang menyatakan ngga ada gunanya gw nuntut ilmu di
jepang. Pernyataan beliau adalah salah sepenuhnya. Mental gambaru itu yang
paling megang adalah jepang. Dan menjadikan mental gambaru sebagai way of
life adalah lebih berharga daripada go international dan sejenisnya
itu. Benar, sastra jepang, gender dan sejenisnya itu, bisa dipelajari di
mana saja. Tapi, semangat juang dan mental untuk tetap berjuang abis-abisan
biar udah ngga ada jalan, gw rasa, salah satu tempat yang ideal untuk
memahami semua itu adalah di jepang. Dan gw bersyukur ada di sini, saat
ini. Maka, mulai hari ini, jika gw mendengar kata gambaru, entah di kampus,
di mall, di iklan-iklan TV, di supermarket, di sekolahnya joanna atau di
mana pun itu, gw tidak akan lagi merasa muak jiwa raga.

Sebaliknya, gw akan berucap dengan rendah hati : Indonesia jin no watashi ni
gambaru no seishin to imi wo oshietekudasatte, kokoro kara kansha
itashimasu. Nihon jin no minasan no yoo ni, gambaru seishin wo mi ni
tsukeraremasu yoo ni, hibi gambatteikitai to omoimasu. (Saya ucapkan terima
kasih dari dasar hati saya karena telah mengajarkan arti dan mental gambaru
bagi saya, seorang Indonesia. Saya akan berjuang tiap hari, agar mental
gambaru merasuk dalam diri saya, seperti kalian semuanya, orang-orang
Jepang).

Say YES to GAMBARU!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s