Kisah dari perjalanan mudik (demi ‘cinta’ nih hoh?!)

Sepasang anak muda tampak ngobrol asik diantara deretan manusia yang menunggu datangnya kereta. Ahayyy…dari matanya aku tau, si cowok lagi tuingtuing sama si cewek. Bukan bermaksud nguping lho, tapi emang terdengar cukup jelas. Dan inilah kurang lebih obrolannya:

“Mau kemana?”
“Bandung”
“Wah bareng ya..nanti duduknya samaan aja”
“Emang nomer kursinya berapa?”
“Ah, kereta ini ga usah pakai nomor”

Ternyata kami menunggu kereta yang sama, Malabar jurusan Malang-Bandung. Dan kurasa kami pun naik kelas yang sama, ekonomi. Setelah terakhir naik kereta ekonomi jaman kuliah dulu, mudik kali ini aku menggunakannya lagi. Judulnya mengenang masa muda (baca: lagi menghemat alias boke ;p). Tapi yang ini memang lebih bagus dibanding kereta ekonomi yang kunaiki dulu: Kahuripan. Fasilitasnya lebih mirip kelas bisnisnya Mutiara Selatan, tapi dengan kursi 3-2.

Alkisah tibalah sang kereta. Bersama kawanku, Novi, aku bergegas untuk menemukan tempat duduk kami. Wah, tempat duduk kami -yang untuk 3 orang- sudah terisi 2 orang. Dan kok ya kebetulan sekali, salah satu yang menempati kursi kami adalah seorang ibu yang sempat kulihat duduk bersama pasangan anak muda tadi. Memang kebetulan sekali, si pasangan ini ambil duduk di depan kursi kami.

“Cari tempat lain aja, ga pake nomor”. Si cowok angkat bicara.
“Wah, ga deh..nomor saya disini dan ga mau kalau nantinya diusir sama orang yg punya kursi,” kataku.
“Kayanya masnya yang cari tempat duduknya sesuai nomor.” Gadis muda yang duduk di sebelah si ibu ikut bicara. Rupanya si ibu memang pergi berbarengan dengan pemuda itu. Mungkin ibunya.
“Gapapa, saya sudah biasa naik kereta ini, ga perlu sesuai nomor.” Si cowok bersikukuh.
Akupun bersikukuh,”Mas, saya tidak mau. Saya mau duduk di kursi sesuai nomor saya”.

Akhirnya, kepada si ibu itu cowok nunjuk ke kursi di sisi. Setelah si ibu berlalu, kami pun duduk; sambil mikir: tega nian ni cowok ngusir ibunya menjauh. Jadilah muda-mudi ini sekarang duduk persis di depan kami.

“Mustinya mas cari tempat duduk sesuai nomernya.” Kembali kudengar komentar gadis muda di sebelahku. Ah, rupanya dia tidak tau bagaimana upaya si cowok untuk PDKT sm cewek berambut panjang di sebelahnya.
“Ah, saya sebulan sekali naik kereta ini, ga pernah sesuai nomor.”
“Saya malah seminggu sekali naik kereta ini, dan selalu duduk sesuai nomor.” Ujar si gadis muda sengit.
“Biasanya saya naik tempat duduknya sudah ditempati orang.” Si cowok masih mencoba membela diri.
“Ya kalau begitu minta orang pindah. Karena kalau kaya sekarang mas sudah ambil kursi orang.” Komentar si gadis makin terdengar pedas. Aku tidak tau, gadis di sebelahku ini sejenis orang yg peduli orang lain atau hanya sekedar ingin punya peran saja..(kemudian kusimpulkan kalau dia sejenis tipe kedua karena kulihat dia buang seenaknya pembungkus makanan lewat jendela. really hate that! buatku orang yang peduli orang lain tidak akan melakukan itu 😦 )

Kuabaikan obrolan mereka. Aku lebih tertarik mengamati aura berbunga-bunga dari pasangan di depanku. Si cewek adalah perempuan mungil berambut panjang dengan tubuh langsing. Kutaksir usianya sekitar awal 20-an. Pakaiannya sederhana tapi tampak cukup percaya diri. Sedangkan si cowok mungkin sekitar 3-4 tahun lebih tua. Rambutnya agak panjang mendekati bahu. Yang membuatku sedikit terganggu adalah ketika mataku tertumpu pada jari-jarinya. Voila..hampir semua jarinya berkuku panjang. Dulu aku sering dengar di kampungku para orang tua bilang: jangan mencari istri berkuku panjang, biasanya ga doyan kerja. Nah ini laki-laki berkuku panjang. Bukan soal doyan kerja sih, tapi apa bisa ya kerja dengan kuku sepanjang 1,5 cm begitu? Kerja apa ya kira2? Kurasa untuk menekan tuts komputer bahkan sama sekali tidak bisa.

Tapi aku suka mengamati ekspresinya ketika berbincang dengan si cewek. Jelas sekali ia menunjukkan ketertarikannya. Hahaha..paling lucu memang kalau mengamati orang yang lagi berbunga-bunga. Betul-betul seolah dunia milik kita berdua tea.. Cuma yang mengesalkan kok ya sebegitu teganya dia mengusir ibunya menjauh.

Tuiiiittt..peluit panjang dan kereta pun berhenti. Stasiun Kediri. Beberapa penumpang baru berdatangan dan ambil tempat. Penumpang lama yang sebelumnya menggunakan tempat duduk secara bebas pun akhirnya bergerak. Tak terkecuali si ibu.

“Tuh kan, kasian ibunya, mas..harus mencari kursi lagi.” Kembali gadis di sebelahku ambil peran.
“Dia bukan ibu saya kok, tetangga,” ujar si cowok sambil menunjuk kursi kosong di belakang kepada si ibu.

OOooooo tetangga. Tapi piye to, mas…dititipin tetangga apalagi yg sudah berumur begitu kok diabaikan begitu saja. Demi mengejar cinta nih hoh!

Aku membayangkan andaikan aku di posisi si cewek, yang mungkin dari awal kenal merasa berbunga-bunga..masihkah begitu setelah melihat sikap si cowok. Kayanya si engga. Tapi ga tau juga ya..konon katanya ketika si panah cupid nancep, bikin orang yang ketancep jadi tampak bodoh. Aku ingat beberapa kawan yang punya cerita itu. Si Udi yang konon katanya merasa ‘digantung’ dalam status yang tidak jelas, tidak pernah dianggap kekasih di hadapan orang laen tapi di belakang pengennya nyosor mulu, tapi tetap saja mencoba bersabar dan nrimo. Atau si Vita yang 3 tahun berhubungan dengan tanpa persetujuan orang tua pasangannya, tapi si pasangan juga tidak bergeming melakukan proses; diapun tetap melanjutkan hubungan hingga kini. Juga si Mia yang bolak-balik ditinggal pacarnya selingkuh tapi tampaknya masih punya segudang kata maaf. Dan hai..bagaimana denganku sendiri? Setelah kuingat-ingat, dalam serangkaian hubungan yang pernah kujalani, tampaknya aku selalu berusaha untuk toleran, mengerti, memaafkan.. Selalu kubilang itu namanya pengorbanan, seperti teori cinta Erich Fromm. Tapi jangan-jangan inilah yang seperti dinilai orang: jatuh cintrong bikin kita tampak bodoh.. hikshiks..

Tuiiiittt..peluit panjang dan kereta pun berhenti. Setelah sekian pemberhentian akhirnya si pemilik nomor kursi yang sesungguhnya tiba.

Si cowok akhirnya mengalah dan beranjak dari kursinya. Dan o’o.. si cewe mengintil di belakangnya. Padahal yang kutau tuh cewek memang mustinya duduk di kursi itu. Tapi ternyata dia memilih untuk tetap bersama si cowok beralih ke gerbong satu lagi. Langsung pengen niru Titik Puspa: jatuh cinta berjuta rasanya….

Tuiiiiit..peluit panjang. Kereta kembali berjalan hingga akhirnya tiba di Bandung pagi, jam 9 lewat. Entah bagaimana kelanjutan kisah dua anak muda itu. Apakah mereka akhirnya terpisah karena tidak mendapati dua kursi kosong. Ataukah masih bersama dan hubungannya berlanjut. Kemudian kisah perjalanan kereta ini akan menjadi kenangan indah buat mereka..uhuuuuyyyyy. Kalau ketemu mereka lagi akan kutanya detil ceritanya 🙂

Iklan

3 pemikiran pada “Kisah dari perjalanan mudik (demi ‘cinta’ nih hoh?!)

  1. Huehehehee… apa makna yg ada di dalamnya..??
    itu kejadian beneran.. ? :))

    “Dan hai..bagaimana denganku sendiri? Setelah kuingat-ingat, dalam serangkaian hubungan yang pernah kujalani, tampaknya aku selalu berusaha untuk toleran, mengerti, memaafkan.. Selalu kubilang itu namanya pengorbanan, seperti teori cinta Erich Fromm. Tapi jangan-jangan inilah yang seperti dinilai orang: jatuh cintrong bikin kita tampak bodoh.. hikshiks..”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s