Sindrom jelang pernikahan, atau…?

Baru jam 7 malam lewat. Sepi. Anak2mpusmeong cukup lengkap malam ini, tapi mereka nyaris tidak bersuara karena sedang pada tidur. Dalam kesenyapan seperti ini kadang suka muncul pertanyaan (atau pernyataan ya?) : apa sudah saatnya aku mengakhiri status ‘single’ku? Tapi segera pertanyaan itu terpatahkan oleh pertanyaan berikutnya: apa iya pernikahan menjamin hilangnya kesenyapan? Pastinya begitu, karena toh pernikahan bukan soal kondisi sendiri atau berdua; bukan soal menemani dan ditemani dalam waktu tak terbatas. Masing-masing toh individu dengan segala urusannya yang bisajadi sama sekali tidak berurusan dengan kesenyapan.

Di tengah kilatan pertanyaan dan pernyataan itu datang telefon dari seorang kawan. Sebelumnya kusapa dia lewat yahoo masenger: “ngomong2 kok aku blm jg dapet kabar ttg tanggal ya.. jadi moal yeuh?!”

Rupanya dia lebih suka bicara daripada menulis.
“Ya jadilah, tapi belum sempet kirim undangan.” Kata kawanku sambil menyebutkan waktu dan tempat pelaksanaan upacara dan pesta pernikahannya.
“Mumet-e aku!” Nah lho, ada apa ini? Ada tanda-tanda mau curhat nih hehehe..
“Kenapa, stres jelang nikah?”
“Iya juga, cape ngurus ini dan itu. Tapi yang paling stres cape ngadepin dia.”
“Walah, kenapa pula?”
“Jelang nikah kok dia jadi berubah 180 derajat ya.”
“Misalnya gimana tuh?”
“Ya dia yang dulu cuek aja sekarang jadi segala ingin tau. Mau pergi kemana pengen tau, sms-telefon dari siapa pengen tau, sms ga dijawab langsung ngamuk. Sekarang jadi cemburuan banget. Kadang kalau lagi kesal suka langsung nangis-nangis. Ugh..bingung, kok jadi begini.”
Wah-wah…antara bersimpati dengan dia yang emang orangnya cuek, tapi pengen ketawa juga mengingat betapa sebelumnya dia dengan cukup yakin bilang: aku mau menikah saja, sudah cape berhubungan tidak jelas.
Tapi tak urung aku mencoba bijak: “Ah, mungkin karena sedang stres dirimu menjadi kurang toleran kali..”
“Ya mungkin juga, tapi emang kaget banget liat perubahan dia.”
“Emang sejak kapan sikapnya berubah?”
“Januarilah, habis lamaran.”
Aku berhitung: mereka kenal bulan Oktober, 3 bulan kemudian mulai terjadi perubahan sikap, 3 bulan kemudian menikah. Hmmm..entahlah, apa ini hanya sekedar -yang seperti cerita orang2- kepanikan jelang pernikahan, ataukah bakal permanen. Bahasan akhirnya memang tidak berlanjut. Selain soal teknis telefon, kurasa memang dia sudah tidak punya pilihan lain selain melanjutkan proses menuju pernikahannya.

So, ada apa dengan ‘pernikahan’? Aku ingat cerita beberapa orang kawan, tentang perubahan-perubahan sikap yang terjadi pasca pernikahan.

Adalah Kris. Sempat menjalani hubungan cukup lama sebelum akhirnya menikah. 5 tahun! Bukankah itu waktu yang lama. Memang sih, kurun waktu selama itu tidak dalam kondisi betul-betul ‘in relationship’. Tapi setidaknya dalam kurun waktu itu mereka sudah saling mengenal diantaranya sebagai teman. Tapi nyatanya begitu memasuki kehidupan pernikahan, apa yang diketahui sebelumnya berubah total. Sifat yang seblumnya tidak pernah muncul, tiba-tiba jadi berhamburan keluar. Sikap buruk yang awalnya dalam kadar 5 persen (kaya bir aja ya :)) kini meningkat drastis 70 persen. Susahnya, komunikasi tidak berjalan baik..sehingga keberatan demi keberatan, persoalan demi persoalan pun menumpuk dan tak teruraikan.

Kemudian seorang kawan lain, sebut saja Fitri. Yang ini lebih parah. Proses mereka tidak cukup lancar memang, karena si perempuan ‘terpaksa’ cepat-cepat menikah agar tidak ‘dilangkahi’ adiknya. Namun dalam pengenalan yang relatif singkat itu semuanya berjalan dengan wajar, si calon suami juga berlaku normal-normal saja. Eeeeeeh ternyata oh ternyata..bukan hanya berubah sekian puluh derajat. Ketika telah berstatus suami, si jantan ini rupanya menyimpan kebohongan besar diantaranya soal pekerjaan. Alhasil, si Fitri yang kemudian harus menjadi tulang punggung keluarga kecil mereka. Maka, kisah pun tak jadi sambung menyambung seperti halnya kisah sinetron Cinta Fitri 😀

Ada pula Eka. Dinikahinyalah kemudian perempuan yang membuat dia bisa melupakan seseorang di masa lalunya. Komunikasi konon berjalan lancar, cukup perhatian, dan bisa berbagi. Kenyataannya kemudian, yang muncul hanya aku, aku, dan aku. Aku adalah pusat, lebih kurang begitu perilaku si istri.

Beda halnya dengan kawanku yang lain, Danny. Dari awal berhubungan dia sudah tau kalau bakal bininya cemburuan abis. Tapi pertimbangannya: jam biologis gw dah butuh menikah, dan yaaaa sapa tau nanti dia berubah.. Dan bisa ditebak, cemburunya semakin menjadi. Yang terjadi kemudian adalah kisah-kisah baru untuk membuat hidup lebih hidup. Mengerti kan maksudku? ;p

Dan ujung dari kisah-kisah itu adalah perpisahan. Atau setidaknya muncul wacana perpisahan.

So, apa itu pernikahan? Tentu saja banyak macam jawaban atas pertanyaan itu. Tapi dalam konteks ini, pernikahan adalah seperti halnya pola hubungan yang lainnya, yang terus membutuhkan pembelajaran dalam meningkatkan kualitasnya, baik dari masing-masing personal maupun dalam keterkaitan diantara keduanya.

Jadi, kawan.. kalau dirimu sudah memutuskan menikah, ya menikah sajalah. Bakal seperti apa nantinya, tak harus terlalu khawatir. Bukankah menikah atau tidak masalah akan selalu ada? Dan bukankah kalau sudah tambah pengalaman berarti tambah pinter dan tambah wise untuk menyelesaikan persoalan? Iya ga sih? Kok ga yakin ya? Hehehe..

Iklan

Satu pemikiran pada “Sindrom jelang pernikahan, atau…?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s