Jalan-jalan ke Kota Pempek (jilid 2-tamat)

Tujuan wisata bersejarah berikutnya adalah Masjid Agung Palembang. Masjid Agung merupakan masjid tua dan memiliki peran penting dalam sejarah Palembang. Masjid yang berusia sekitar 263 tahun ini terletak di Kelurahan 19 Ilir, Kecamatan Ilir Barat I, tepat di pertemuan antara Jalan Merdeka dan Jalan Sudirman, pusat Kota Palembang.

Masjid ini awalnya disebut Masjid Sultan karena dalam sejarahnya dibangun pada tahun 1738 oleh Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo dan diresmikan pemakaiannya sepuluh tahun kemudian pada 28 Jumadil Awal 1151 H (26 Mei 1748). Pada awal pembangunannya bangunan masjid hanya seluas 1.080 meter persegi dengan daya tampung 1.200 jemaah. Pada awal pembangunannya (1738-1748), sebagaimana masjid-masjid tua di Indonesia, Masjid Sultan ini tidak mempunyai menara. Baru pada masa pemerintahan Sultan Ahmad Najamudin (1758-1774) dibangun menara yang letaknya agak terpisah di sebelah barat. Bentuk menaranya seperti pada menara bangunan kelenteng dengan bentuk atapnya berujung melengkung. Pada bagian luar badan menara terdapat teras berpagar yang mengelilingi bagian badan. Bentuk masjid yang kita lihat sekarang jauh berbeda dengan bentuk awalnya karena sudah melalui sejumlah renovasi. Perbaikan pertama dilakukan oleh pemerintah Belanda setelah terjadi perang besar tahun 1819 dan 1821. Setelah dilakukan perbaikan kemudian dilakukan penambahan/perluasan pada tahun 1893, 1916, 1950-an, 1970-an, dan terakhir pada tahun 1990-an. Pada pekerjaan renovasi dan pembangunan tahun 1970-an oleh Pertamina, dilakukan juga pembangunan menara sehingga mencapai bentuknya yang sekarang. Namun menara asli dengan atapnya yang bergaya Cina tidak dirobohkan. Kini luas masjid 5.520 meter persegi dengan daya tampung 7.750. Sayangnya lalu lintas lagi ramai sekali, dan tidak mendapatkan sudut yang pas sekaligus aman untuk mendapatkan gambar yang bagus 😦

Pada jamannya, masjid yang berada di pusat kerajaan ini menjadi pusat kajian Islam yang melahirkan sejumlah ulama penting. Sebut saja Syekh Abdus Samad al-Palembani, Kemas Fachruddin, dan Syihabuddin bin Abdullah adalah beberapa ulama yang berkecimpung di masjid itu dan memiliki peran penting dalam praksis dan wacana Islam.

Tak jauh dari Masjid Agung, tampak megah Jembatan Ampera. Jembatan ini mulai dibangun pada April 1962 itu. Konon ketika baru dibangun, bagian tengah jembatan dapat dinaikturunkan. Entah dengan teknologi apa, untuk dapat memindahkan bagian tengah jembatan yang berat keseluruhannya mencapai 944 ton itu dapat diangkat. Bahkan kapal besar berukuran lebar 60 meter dan tinggi maksimum 44 meter pun dapat melintasi ruang bawah Jembatan Ampera ini. Namun sekarang jembatan ini sudah tidak lagi dapat dinaik turunkan. Meski begitu, rangkaian besi kokoh Jembatan Ampera tetap menjadi pemandangan yang menarik. Namun kunjungan ke jembatan yang membelah Sungai Musi ini tertunda dulu karena pilihan berikutnya jatuh pada Pulau Kamaro. Pertimbangannya, sebaiknya sudah kembali ke daratan sebelum petang datang.

Pulau Kemaro adalah pulau yang terletak di delta Sungai Musi. Kemaro artinya Kemarau, karena konon pulau ini tidak pernah terendam air bahkan saat Sungai Musi meluap naik dan merendam perumahan di sisi sungai. Tapi jangan salah, Anda tak akan jumpai pulau yang kering dan tandus. Begitu perahu mendarat, Anda akan disambut ramah pepohonan yang tumbuh subur dengan ucapan selamat datang datang dan salam kesejahteraan untuk para pengunjung.

Tak jauh dari pantai Musi akan segera Anda jumpai Pagoda yang sebelumnya sudah terlihat ketika berperahu. Pagoda ini berlantai 9, dan memang menjadi daya tarik utama bagi para pengunjung Pulau Kemaro ini. Awalnya hanya sebuah klenteng yang dibangun sejak 1962. Namanya Klenteng Soei Goeat Kiong (atau yang lebih dikenal dengan Klenteng Kuan Im). Sedangkan bangunan Pagoda berlantai 9 itu baru mulai dibangun tahun 2006. Kisah yang banyak diperdengarkan dan menjadi legenda di pulau ini adalah kisah cinta Tan Bun An dan Siti Fatimah yang makamnya dibuat berdampingan di depan klenteng.

Alkisah, Siti Fatimah adalah puteri Raja Palembang yang dilamar oleh Pangeran dari Cina bernama Tan Bun An. Syarat yang diajukan Siti Fatimah pada Tan Bun An adalah menyediakan 9 Guci berisi emas. Tan Bun An menerima syarat yang diajukan dan kembali ke negeri asalnya untuk mengambil emas. Untuk menghindar bajak laut saat diperjalanan, tanpa sepengetahuan Tan Bun An, anak buahnya menutupi guci-guci tersebut dengan asinan dan sayur. Ketika kapal tiba di palembang , Tan Bun Ann memeriksa guci tersebut dan kecewa karena guci-guci itu dipikirnya hanya berisi asinan dan sayur. Dengan marah dan kecewa maka seluruh guci tersebut dibuangnya ke Sungai Musi. Namun pada lemparan terakhir, guci terhempas pada dinding kapal dan pecah berantakan sehingga terlihatlah kepingan emas yang ada didalamnya.
Rasa penyesalan yang dalam membuat sang pangeran menerjunkan diri ke sungai dan tenggelam. Melihat hal itu Siti Fatimah pun ikut menceburkan diri ke sungai sambil berkata: “Jika ada tanah tumbuh di tepi sungai ini, maka disitulah kuburan saya”. Pulau Kemaro tersebut dianggap sebagai kuburan sang puteri dan perlambangan cinta keduanya. Begitulah kata legenda… 🙂

Suasana ramai Pulau Kemaro dapat Anda temukan saat perayaan Cap Go Meh, yaitu perayaan pada 15 hari (saat terang bulang) setelah tahun baru Imlek. Pada saat itu pulau ini banyak dikunjungi oleh mereka yang ingin merayakannya dari berbagai penjuru tanah air, bahkan konon sengaja dibuat jalur khusus berupa jembatan ponton (terapung) agar bisa menyebrang dari tepian dekat pabrik Intirub.

Untuk sampai di Pulau Kemaro Anda bisa menggunakan perahu (baik perahu cepat maupun perahu klotok) dengan ongkos sekitar Rp 100 ribu per perahu pulang pergi. Jadi kalau banyakan jatuhnya lebih murah. Tapi masih bisa tawar-tawarn kok. Kemaro berjarak 5 km arah hilir dari Jembatan Ampera (Benteng Kuto Besak). Dengan perahu klotok waktu tempuhnya sekitar 45 menit.

Jelang petang barulah aku tiba kembali di daratan Kota Palembang. Maka di hari terakhir ini pula kumanfaatkan untuk makan malam di tepi Musi, serta melihat dari dekat dan menjejaki Jembatan Ampera.

So.. selamat berkunjung ke Palembang dan Pulau Kemaro, kawans 🙂

Barangkali berminat tulisan tentang perjalanan lainnya:

– Jalan-jalan ke Kota Pempek (jilid 1)

– Legenda Huta Siallagan di Samosir

– Mengunjungi Medan, Danau Toba, dan Samosir

Iklan

8 pemikiran pada “Jalan-jalan ke Kota Pempek (jilid 2-tamat)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s