Mengenang seorang Layla (dan mensyukuri 7 tahun rumahku)

Rumah sakit itu masih berdiri megah di sudut persimpangan Jalan BKR dan Kopo. Ada yang perih tiap melintasi salah satu rumah sakit swasta terbesar di Jawa Barat ini. Meski peristiwa itu sudah berlalu lebih dari 7 tahun lalu, tapi perasaan itu masih sama.. Masih sama dengan ketika ia menatapku untuk terakhir kalinya. Kehilangan seringkali terasa menyakitkan biarpun segenap upaya logika mengingatkan: kematian adalah keniscayaan.

Siang itu kami sempat bersama untuk beberapa saat. Berbincang sejenak tentang Mara dan kampus. Ia juga sempat mengucap lirih pada sang suami: “nanti kalo udah sembuh kita nikahin dhenok ya, Yah…” Itu perjumpaan terakhir kami sebelum perawat berseragam mendorong tempat tidurnya menuju ruang operasi. Pada detik terakhir sebelum memasuki pintu ruang -yang akan merobek tubuhnya untuk kesekian kalinya itu- ia menatapku. Pada titik itu aku merasa tidak akan bisa menatapnya lagi. Pada matanya kulihat kata maaf: “aku tidak bisa memenuhi ucapanku”.

Hari itu Sabtu, aku sedang bertugas siaran siang dengan pilihan lagu-lagu tanah air. Ada permintaan untuk memutarkan kembali “Satu Jam Saja – Asti Asmodiwati” dengan titipan pesan: untuk Ibu. Lagu ini sempat diputarkan pada jam siaran lagu Indonesia pagi. Kubayangkan pikiran Ibu masih dipenuhi pikiran tentang Mara yang tengah mengalami sedikit masalah. Seperti kata Asti, ia hanya berharap sejam.. Tapi bahkan sejam pun bukan milik dia lagi. Pada siang itu juga Ibu sudah dalam keadaan coma. Ketika kusadari tidak lagi bisa konsentrasi pada siaran aku minta ijin untuk menuju rumah sakit. Yang kutemui kemudian adalah kehilangan itu. Alat kejut listrik yang berulang-ulang dipaksa membangunkan si Ibu pun kehilangan keperkasaannya. Ya, aku dan kami semua akhirnya harus kehilangan Ibu.

Kami memanggilnya Ibu, sebagian orang lagi memanggilnya Mbak. Nama lengkapnya Noor Achirul Layla. Di dunia radio siaran ia mencomot nama suaminya menjadi Layla S Mirza. Tapi ia akrap disapa Ea, Mbak Ea, Ibu Ea. Aku mengenalnya pada tahun kedua kuliahku. Saat itu Ibu mengajar mata kuliah Jurnalistik Radio. Entah karena terlalu asing dengan materinya atau saat itu aku masih mengalami gegar budaya, rasanya hanya masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Maka yang kuingat dari Ibu adalah model bajunya yang lucu-lucu dan cocok dengan bentuk badannya yg proporsional (ga berkualitas amat yak ni mahasiswa, kuliah malah ngliatin baju dosen! :D). Aku baru mengenalnya lagi ketika aku benar-benar butuh tambahan uang dan kebetulan seorang kawan mengajakku untuk kerja magang di Radio Mara.

Awalnya posisiku hanya sebatas aku bawahan dan dia atasan. Tapi dari sini aku mulai melihatnya dari aneka sudut pandang, tidak hanya warna-warni baju yang dikenakannya 🙂  Dia seorang perempuan yang pintar, punya komitmen kuat terhadap keluarga, punya komitmen terhadap amanah yang dipegangnya, dan royal kepada bawahannya. Hingga suatu kali aku memberanikan diri bertanya: “Bu, kok si anu yang lebih baru masuk sudah diikutkan pelatihan?” Untuk beberapa jenak ia menatapku, antara tatapan tidak percaya dan baru sadar. “O kamu mau to? Kirain ga berminat..” Kurasa dari sini kami sama-sama belajar, bahwa aku musti bisa lebih berani menyampaikan keinginanku dan bahwa ia juga musti memahami tipikal anak buah seperti aku yang tampak tak memiliki obsesi dan tanpa minat terhadap apapun. Sejak saat itu aku cukup intens berkomunikasi dengannya, dan iapun mulai banyak menawariku terlibat proyek-proyek sampingan Radio Mara. Suatu kali ada sebuah peristiwa yang terjadi padaku yang kemudian makin membuatku merasa dekat dengan Ibu. Bahkan iapun tak sungkan menceritakan hal-hal yang sangat pribadi. Ia seorang atasan yang kurasa bisa benar-benar menjadi ibu, teman, dan sekaligus guru buatku.

Juli 2003 aku memutuskan mengambil kredit rumah (rumah mungil yang kuhuni sekarang). Keputusan ini tak lepas dari dukungan Ibu. Aku ingat betul, secara matematis tabunganku tidak mencukupi untuk membayar uang muka. Gajiku juga tidak mencukupi untuk membayar cicilan bulanannya sekalipun aku mengambil jangka waktu 15 tahun. Tapi Ibu bilang akan mengupayakan “sesuatu” yang nantinya bisa mendukungku agar keinginanku punya rumah sendiri terealisasikan. Akhirnya semua proses kulewati hingga tibalah saat akad kredit. Ketika itu Ibu sudah dirawat di RS Immanuel: kanker pada usus besar! Dengan gembira kubawa serenteng kunci rumah baruku. “Ibu…aku dah punya rumah!” teriakku. Ia hanya tersenyum di atas pembaringan. “Sama-sama, nduk. Kamu mendapatkan yang menjadi hakmu,” begitu komentarnya waktu kusampaikan terimakasihku. Saat itu tak terlintas sama sekali kalau Ibu akan pergi untuk selamanya. Karena pada tahun 1999 ia pernah menjalani operasi yang sama untuk kanker rahim yang dideritanya dan sukses. Dan pada sakitnya kali inipun, kondisinya berangsur membaik. Bahkan pada hari sebelum pulang, bersama kawan dari Mara, Bu Rani dan Hirra, kami tertawa-tawa dengan berbagai cerita lucu. Hirra mencuci rambut Ibu dan aku menggunting kukunya. (Saat menggunting kuku ini tiba-tiba gunting kukunya patah. Kemudian hari orang mengatakan itu sebagai salah satu pertanda.)

Ternyata kegembiraan itu tidak berlangsung lama. Beberapa hari pulang Ibu harus kembali ke rumah sakit dan harus menjalani kembali pembedahan. Dari sini kondisi kesehatannya semakin memburuk hingga tim medis akhirnya menyerah. 8 November 2003 Ibu dipanggil pulang menghadap Sang Khalik. Rupanya Dia hanya memberikan 4 tahun kepada Ibu untuk berkarya dengan gemilang. Dalam kurun waktu ini ia memang banyak mengalami hal yang luarbiasa, mencetak banyak prestasi di dunia penyiaran, menjadi direktur Radio Mara, menjabat Ketua Jurusan Jurnalistik-FIKOM UNPAD, dan sudah menjadi kandidat doktor di UPI.

Ibu sudah pergi. Sosoknya tak lagi kami lihat wara-wiri di antara ruang-ruang di Guntursari Wetan 27. Tak bisa kami cela-cela lagi cara parkir mobilnya yang suka sembarangan. Tak pernah kami nikmati lagi jajan baso kampung gratis bareng-bareng. Tak pernah kami lihat lagi dia nongkrong di depan laptop dengan kaos Mara warna putih dan celana jins yang digulung sampai betis. Tak mungkin lagi kami nebeng gratis maen bowling di BSM. Tak pernah kulihat lagi cincin mutiara di jari manisnya yang langsing. Tak akan pernah kami lihat lagi bicaranya yang selalu semangat.

Ia tidak pernah sempat menengok rumah mungilku. Ia juga tidak pernah sempat lagi menerima ucapan panjang umur pada hari ini. Tapi biarlah aku tetap mengucapkan selamat: Selamat ulang tahun, Ibu Ea… (aku kangen Ibu).

Catatan:
Aku memutuskan menempati rumah baruku pada hari ini, 7 tahun lalu. Tapi karena faktor teknis akhirnya kepindahan diundur menjadi tgl 14. Sekedar penanda rasa terimakasihku pada Tuhan karena sempat mengenalkanku pada sosok bernama Layla.. Dan ini hanya ceritaku, karena aku yakin banyak orang yang punya cerita sendiri. Ibu dengan sadar telah meninggalkan jejaknya secara pribadi kepada setiap orang yang dikenalnya.

Iklan

5 pemikiran pada “Mengenang seorang Layla (dan mensyukuri 7 tahun rumahku)

  1. Thanks Dhenok’s tulisannya yang mengenang sosok beliau 7 tahun yang lalu, dan ada koreksi kecil “sudah menjadi kandidat doktor di UPI” seharusnya kandidat doktor Unpad.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s