Tinggalkan styrofoam demi kesehatan dan BUMI tercinta (mari mengolah sampah mandiri dengan Takakura Home Method)

Dalam beberapa hari terakhir, aku bertemu dengan styrofoam sebagai pembungkus makanan. Yang pertama di sebuah pusat perbelanjaan di ibukota. Yang aku ingat, pada sebuah sudut di perbelanjaan ini ada warung lontong Padang. Bergegas aku mencari, agak sulit karena besarnya bangunan dan berjibunnya los-los pedagang. Setelah naik turun eskalator, akhirnya kutemukan juga salah satu menu kesukaanku itu. Tapi o’o..dikemasnya pakai styrofoam! Dan seperti biasa aku akan membatalkan belanja di tempat makanan yang menggunakan styrofoam sebagai kemasan. Bukan hanya karena pengaruh styrofoam terhadap makanan, tapi juga karena tidak adanya komitmen dari si pedagang terhadap lingkungan. Oke deh..akhirnya batal makan lontong Padang.

Berikutnya, saat pulang ke rumahku di sebuah pinggiran kota-sebetulnya lebih tepat disebut desa- selama 2 hari berturut-turut mendapatkan kiriman makanan dari tetangga. Yang pertama ulang tahun anak, dan yang kedua syukuran kelahiran. Dan…dua-duanya menggunakan styrofoam! Bukannya tidak bersyukur, tapi please dong..jangan pake styrofoam 😦 Akhirnya makanan dipindahkan di piring dan kotak styrofoam disimpan. Biasanya kumanfaatkan untuk pembenihan cabe, tomat, atau tanaman lainnya. Tapi bayangkan, berapa banyak orang yang mau memanfaatkan kembali kotak sterofom seperti itu? Sebagian besarnya akan lari ke tempat sampah. Itu yang masih untung..ada yang malah langsung melemparnya ke sungai..

Dalam pemikiranku, satu-satunya alasan mereka adalah sesuatu yang praktis dan murah. Kemungkinannya: (1) mereka sama sekali tidak tahu tentang sterofoam berbahaya sebagai pembungkus makanan dan tidak ramah lingkungan, (2) mereka tahu tapi dengan pertimbangan ekonomis, (3) mereka tahu tapi tidak peduli karena toh bukan mereka sendiri yang makan, dan bodo amat dengan lingkungan.

Kemungkinan tersebut dan fakta yang -setidaknya- kujumpai sebelumnya menunjukkan bahwa pengguna styrofoam beragam, bukan hanya kalangan bawah yang kurang informasi tapi juga mereka yang cukup melek huruf. Bukan hanya mereka yang tinggal di wilayah perkotaan, namun juga sudah menghinggapi masyarakat pedesaan yang ikut terserang budaya instan.

Dan kurasa selain kesadaran masing-masing anggota masyarakat dan juga penghuni bumi ini, perlu adanya keterlibatan pemerintah untuk merumuskan aturan pelarangan penggunaan styrofoam (terutama untuk makanan). Taman Margasatwa Ragunan (TMR) pernah mengeluarkan aturan larangan penggunaan styrofoam sebagai wadah penyimpanan makanan. Bahkan, pihak pengelola mengancam akan mencabut ijin berjualan kepada para pedagang yang masih menggunakan wadah tidak ramah lingkungan tersebut. Itu informasi tahun yang lalu, entah apakah masih berlaku atau tidak saat ini. Karena tentu saja dibutuhkan konsistensi dari si pembuat aturan.

Kita tengok saja Mc Donalds yang beberapa tahun lalu mengumumkan akan mengganti wadah styrofoam dengan kertas. Tapi apa keputusan tersebut berlaku untuk Mc Donalds Indonesia? Tahun 2008, menunggu datangnya pagi aku ngopi di McD Cihampelas. Kopi disuguhkan dengan menggunakan gelas styrofoam. Saat itu kuminum, tapi saat itu juga kuputuskan tidak akan berkunjung ke restoran fast food tersebut. Entah sekarang masih menggunakan styrofoam atau tidak..semoga sih tidak.

Mengapa kita perlu menghindari styrofoam?

Styrofoam berbahaya karena terbuat dari butiran-butiran styrene, yang diproses dengan menggunakan benzana. Benzana ini diketahui dapat menimbulkan masalah pada kelenjar tyroid, mengganggu sistem syaraf sehingga menyebabkan kelelahan, mempercepat detak jantung, sulit tidur, badan menjadi gemetaran, dan menjadi mudah gelisah.

Dibeberapa kasus, benzana bahkan bisa mengakibatkan hilang kesadaran dan kematian. Saat benzana termakan, dia akan masuk ke sel-sel darah dan lama-kelamaan akan merusak sumsum tulang belakang. Akibatnya produksi sel darah merah berkurang dan timbullah penyakit anemia. Efek lainnya, sistem imun akan berkurang sehingga kita mudah terinfeksi. Pada perempuan, zat ini berakibat buruk terhadap siklus menstruasi dan mengancam kehamilan. Dan yang paling berbahaya, zat  ini bisa menyebabkan kanker payudara dan kanker prostat.

Beberapa lembaga dunia seperti World Health Organization’ s International Agency for Research on Cancer dan EPA (Enviromental Protection Agency) styrofoam telah dikategorikan sebagai bahan carsinogen (bahan penyebab kanker).

Saat kita menyimpan makanan atau minuman dalam wadah styrofoam, bahan kimia yang terkandung dalam styrofoam akan berpindah ke makanan. Perpindahannya akan semakin cepat jika kadar lemak dalam suatu makanan atau minuman makin tinggi. Selain itu, makanan yang mengandung alkohol atau asam juga dapat mempercepat laju perpindahan. Penelitian juga membuktikan, semakin panas suatu makanan, semakin cepat pula migrasi bahan kimia styrofoam ke dalam makanan. Padahal di restoran-restoran siap saji dan di tukang-tukang makanan di pinggir jalan, styrofoam digunakan untuk membungkus makanan yang baru masak. Malahan ada gerai makanan cepat saji yang memanaskan lagi makanan yang telah terbungkus styrofoam di dalam microwave. Nah lho..seberapa banyak zat berbahaya yang ikut kita konsumsi?

Selain berefek negatif bagi kesehatan, styrofoam juga tak ramah lingkungan. Styrofoam tidak dapat diuraikan oleh alam, sehingga ia akan menumpuk begitu saja dan mencemari lingkungan. Proses pembuatan styrofoam sendiri juga mencemari lingkungan. Data EPA (Enviromental Protection Agency) di tahun 1986 menyebutkan, proses pembuatan styrofoam menghasilkan banyak limbah berbahaya. Maka kemudian EPA mengkategorikan proses pembuatan styrofoam sebagai penghasil limbah berbahaya ke-5 terbesar di dunia. Selain itu, proses pembuatan styrofoam menimbulkan bau yang tak sedap yang mengganggu pernapasan dan melepaskan 57 zat berbahaya ke udara.

Bagaimana? Masih akan menggunakan styrofoam sebagai kemasan makanan? Please deh..hari gini masih pake styrofoam? Apa kata dunia?

So, daripada mengkhianati BUMI tercinta yang telah memberinkita sumber kehidupan, mari kita bantu dia tetap sehat dengan banyak hal positif yang bisa kita lakukan, misalnya: melakukan 3R, menerapkan pupuk organik, menanam pohon, dan masih banyak lagi. Dan satu hal yang saya ingin ajak di sini: mengelola sampah sendiri. Setelah 3R, kita bisa mengelola sampah di rumah dengan proses sederhana ini. Tidak perpanjang-panjang, silakan lihat videonya. Selamat mencoba!

dari berbagai sumber

Iklan

3 pemikiran pada “Tinggalkan styrofoam demi kesehatan dan BUMI tercinta (mari mengolah sampah mandiri dengan Takakura Home Method)

  1. bagus banget nih buat bahan makalah aku tentang penggunaan sterofom pada pedagang .. makasih yahh ^___^
    oya cara donlot video nya gimana yah??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s