Bebas-Out, potret muram pekerja perempuan di Jepang

Judul        : Bebas – Out
Penulis     : Natsuo Kirino
Penerbit     : Gramedia Pustaka Utama
Terbit         : 2007
Halaman     : 576
Kategori     Mistery-Thriller

Saat mengambil buku ini dari tumpukan buku diskon, aku hanya melihatnya sepintas lalu. Minimal 2 bulan sekali aku berburu buku diskon di Gramedia. Biasanya yang kuambil adalah buku sastra, buku masak, buku biografi, dan buku-buku yang berkaitan dengan komunikasi atau dunia media. Nah salah satu buku yang kuambil adalah ini: Bebas-Out. Sepintas lirik aku melihat tulisan ini novel tentang Jepang dan mendapat penghargaan. Padahal kalau aku sedikit melotot, ini buku tidak akan mungkin kupilih.. seraaaaaam! Pada sampulnya saja sudah tergambar pisau.

Akhirnya tiba juga saat aku ambil buku ini untuk dibaca. Sejak halaman pertama yang tertangkap adalah suasana muram. Buku ini mengisahkan tentang bagaimana orang bisa terjebak pada sebuah peristiwa tanpa mampu untuk kembali, bahkan berpaling sekalipun.

Adalah empat perempuan yang bekerja shift malam di sebuah pabrik makanan kotak di pinggiran Tokyo. Mereka adalah Masako, Yayoi, Yoshie, dan Kuniko. Masing-masing perempuan ini memiliki masalah pelik dalam kehidupan pribadinya. Masako, hidup sendiri di tengah suami dan anak remajanya yang tak lagi akur. Yoshie, janda miskin, yang harus merawat ibu mertuanya yang mengalami sakit kronis dan anak-anak yang bikin ulah. Kuniko, perempuan yang demi gaya hidup mewahnya rela menumpuk hutang. Dan Yayoi, ibu 3 anak yang cantik namun mendapat perlakuan kasar dari sang suami. Persoalan pribadi yang bertumpuk bersinggungan dengan jam malam yang melelahkan, membuat gambaran suasana pertemanan mereka pun diliputi kemurungan. Namun bukan hanya itu, ada kisah yang lebih mengerikan yang kemudian mereka hadapi.

Kisah ini bermula dari tindakan lepas kendali Yayoi. Istri yang baik dan setia ini akhirnya tidak sanggup menahan kekesalannya pada sang suami. Perlakuan buruk, tanpa nafkah, dan berselingkuh. Lengkap memang penderitaannya. Hingga suatu kali ketika sang suami datang dan memberitau kalau ia telah menghabiskan tabungan mereka, dengan kalap Yayoi menjerat leher sang suami dengan ikat pinggangnya. Dalam kebingungan Yayoi minta bantuan Masako-teman kerja yang dianggapnya dapat diandalkan- untuk menyingkirkan mayat Kenji, suaminya. Merasa tenaga perempuannya yang terbatas, Masako minta bantuan Yoshie dengan iming-iming akan ada bayaran untuk apa yang dilakukannya. Kuniko yang tanpa sengaja datang ke rumah Masako, akhirnya terlibat juga dalam upaya mengenyahkan mayat Kenji.

Ide awal melakukan mutilasi sebetulnya datang dari Yayoi. Namun akhirnya itulah yang kemudian disepakati dan dilakukan oleh Masako dibantu dua temannya. Tempatnya di kamar mandi Masako. Dan hasilnya, Kenji yang sudah dalam bentuk potongan-potongan kecil itupun disebar ke penjuru kota. Karena keteledoran Kuniko, potongan tubuh ditemukan oleh polisi. Seluruh kota gempar.

Interogasi pun dilakukan. Kecurigaan polisi jatuh kepada sang istri, Yayoi. Tapi kecurigaan juga tertuju pada Satake, pemilik klub malam yang sebelumnya bermasalah dengan Kenji. Perburuan terus dilakukan. Para perempuan inipun memainkan perannya masing-masing agar terbebas dari tuduhan. Perburuan lainpun juga dilakukan. Yup, Satake. Si pemilik klub yang akhirnya dijebloskan dalam penjara ini bertekad untuk menuntut balas atas apa yang tidak dilakukannya.

Usaha untuk memburu dan usaha untuk menghidar ini bermain di sepanjang cerita. Plot cerita berjalan agak lambat, karena banyak detil yang coba ditampilkan oleh sang penulis. Untuk yang kurang suka detil, mungkin akan banyak melewatkan banyak halaman. Tapi buatku yang paling mengganggu adalah penggambaran detil proses mutilasi. Terasa seperti tengah membaca buku manual melakukan mutilasi. Seram tapi sesekali terasa menggelikan.

Beberapa titik yang menjadikannya lambat juga adalah penggambaran tentang suatu hal dari sudut pandang beberapa tokohnya. Membaca pengulangan cerita dengan sudut pandang yang berbeda. Untungnya dengan detilnya penggambaran itu, karakter tokohnya terbangun dengan kuat. Rasanya aku bisa langsung melihat sosok Masako yang kurus, pucat, dan dingin. Atau mengasihani Yoshie yang tampak bungkuk karena usia dan kelelahan yang dideritanya. Merasa sebal membayangkan Kuniko yang bertubuh tebal, tolol, tapi sok. JUga merasa simpati sekaligus menyayangkan sikap lemah tapi plin-plan-nya Yayoi. Rasanya juga ikut merasa depresi dan murung membaca penggambaran mereka.

Menurutku memang layak kalau Natsuo Kirino mendapat penghargaan untuk bukunya ini. Ia berhasil menyusun cerita yang rumit dengan cukup rapi. Antar bagian kisah terasa padu dan dipersiapkan dengan baik sehingga alurnya berjalan dengan nyaman untuk diikuti. Apakah tidak ada romance sama sekali di buku ini? Ada. Kisah pertautan rasa antara Masako dan Satake cukup menarik. Tapi tetap, dengan penggambaran yang muram. Dan jangan berharap ada happy ending 🙂

Buku ini menarik buatku. Kisahnya tidak biasa, dan sangat ‘perempuan’. Tapi sekedar saran, sebaiknya dibaca kalau lagi happy. Jadi kalaupun terbawa murung tidak kebablasan. Tapi sebetulnya buku ini juga bisa menjadi pengingat: sebaiknya nalar kita selalu terjaga agar ketika terjebak dalam situasi negatif kita tidak mengambil keputusan yang salah. Karena akibatnya adalah kita tak bisa berpaling, apalagi kembali.

Iklan

Satu pemikiran pada “Bebas-Out, potret muram pekerja perempuan di Jepang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s