Batas: upaya menguji batas ketahanan diri

Film diawali dengan adegan dikejarnya seorang gadis (Ardina Rasti) -di tengah hutan- oleh beberapa orang laki-laki. Tak lama ketegangan berakhir karena perjumpaan dengan sejumlah laki-laki lain yang kemudian membantu si gadis. Kemudian adegan berlanjut ke perempuan lain (Marcella Zalianty) yang dalam perjalanan ke desa tujuan.

Dikisahkan, Jaleswari (Marcella) ditugaskan oleh pemimpin perusahaan untuk menyelidiki mandegnya kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan mereka. CSR ditujukan untuk pendidikan di sebuah perkampungan di wilayah Entikong, Kabupaten Sangau, Kalimantan Barat. Sebagai perempuan kota dengan gaya hidup modern Jaleswari tidak berharap akan tertahan lama di wilayah tersebut, dia hanya akan bertahan sesuai penugasan yaitu 2 minggu.

Setelah melalui perjalanan panjang dan hambatan khas wilayah pedalaman, tibalah Jales di lokasi yang langsung disambut oleh Adeus (Marcell Domits), guru yang merupakan penduduk lokal. Adeus mengira Jales adalah guru yang ditugaskan di daerahnya, menggantikan guru-guru sebelumnya yang tidak pernah bertahan lama. Merasa bukan guru tentu saja Jales menolak. Namun ia iba melihat keadaan anak-anak yang sebetulnya berhasrat untuk belajar. Akhirnya mau tidak mau dia berperan sebagai guru untuk anak-anak Dayak tersebut. Salah satu hal yang coba ditanamkan oleh Jales adalah bahwa mereka tidak boleh bergantung pada negara sebelah -yang langsung berbatasan dg kampung tersebut, mengajak mereka untuk mandiri dan bangga dengan negeri sendiri.

Dari sinilah masalah berawal, karena rupanya ada pihak yang tidak menghendaki penduduk setempat berkembang. Merekalah yang selalu menggagalkan upaya CSR perusahaan Jales untuk pendidikan di kampung tersebut. Ternyata memang ada agenda lain dari kelompok orang yag dipimpin oleh Otig (Otig Pakis) tersebut: traficking! Karena itu Otig tak ingin penduduk pintar agar mudah dibodohinya. Maka, seperti yang dilakukannya terhadap para guru sebellumnya, ia pun mengirimkan teror serupa kepada Jales.

Diantara konflik dengan Otig dan kelompoknya, ada pertautan istimewa antara Jales dengan polisi perbatasan yang sudah dijumpainya sejak awal, Arif (Arif Saputra). Arif inilah yang banyak membantu Jales terutama dalam ketakutannya menghadapi Otig. Bersama Arif ini pula Jales berhasil membongkar ulah Otig. Dengan Arif ini pula Jales kembali bangkit dari keterpurukannya setelah ditinggal suami dan dibebani tugas berat memasuki hutan Borneo.

Dengan durasi hampir dua jam, film ini menyuguhkan terlalu banyak isyu sehingga tidak fokus. Memang konon kata “Batas” disini tidak hanya mengacu pada batas wilayah tempat film ini dibuat -konflik tetang nasionalisme- namun juga batas yang ada di setiap manusia, konflik batin dalam menghadapi persoalan, batas ketahanan diri masing-masing personal. Sayangnya karena isyunya terlalu banyak, maka konflik yang dibangun pun tidak matang, sepotong-sepotong dan hanya permukaan. Selain itu film ini berusaha keras memasukkan pesan moral -yang aku tidak suka dari sejumlah film nasional kita. Alhasil film ini secara umum terasa berat, lambat, dan melelahkan.

Selain itu ada beberapa detil yang terasa mengganggu. Ini dia yang sempat kuamati:

1. Jales tinggal di wilayah terpencil dengan penerangan hanya menggunakan lampu minyak. Tapi pesawat seluler tidak pernah mati. Setidaknya mustinya ada upaya untuk menunjukkan dimanakah ada sumber listrik untuk umum?
2. Saat hujan deras mengguyur bumi, sang ketua adat (Piet Pagau) mengunjungi Jales dalam keadaan badan kering. Menjadi aneh karena dengan rumah yang cukup berjarak dan hujan yang demikian deras, sang panglima tiba tanpa tampak air setitik pun.
3. Adeus yang jelas-jelas orang lokal beberapa kali tidak konsisten menyebut wilayah tinggalnya sebagai ‘kampung’ dan ‘dusun’.
4. Pada obrolan Jales dengan ibunya, terdengar cara sebut nama yang beda. Jales menyebut dirinya dengan vokal ‘e’ seperti pada kata ‘lem’ sedangkan dari ibunya terdengar seperti pada kata ‘lemari’. Aneh to? Masa ibu yang mengajari bagaimana anak memanggil namanya sendiri sampai salah mengeja..

Apalagi ya? Mmmm… Tapi baiklah, kita lupakan saja beberapa detil yang -menurutku- aneh itu. Anggap saja ini puisi yang berbicara atas kehendaknya sendiri, tak peduli detil. Dan film ini memang puitis, tanah Borneo ditampilkan detil indahnya, begitu pula kehidupan harmonis suku Dayak dengan alam sekitarnya. Selain itu kita juga akan cukup dihibur oleh para pemain. Nama-nama seperti Marcella Zalianty, Piet Pagau, dan Jajang C Noer tentu saja merupakan jaminan, meskipun aku sempat putus asa melihat penampilan Marcella di awal. Ardina Rasti yang di film ini muncul nyaris tanpa suara justru bermain bagus, dengan ekspresi yang ‘dapet’. Sedangkan Arifin Putra -yang hanya selintas sempat kulihat di tv- bermain lumayan, plus penampilannya yang gagah dan ganteng dengan kulitnya yang tampaknya dibuat lebih gelap. Para pemain pendukung lainnya juga memainkan perannya dengan cukup baik.

Dan yang pasti film ini mengingatkanku pada perjalanan Pontianak-Sintang empat tahun lalu 🙂

Sutradara: Rudi Soedjarwo
Produser: Marcella Zalianty
Penulis: Slamet Rahardjo Djarot (screenplay), Lintang Sugianto (story)
Pemain: Marcella Zalianty, Arifin Putra, Piet Pagau, Jajang C Noer, Ardina Rasti, Otig Pakis, Norman Akyuwen, Marcell Domits, Alifyandra, Tetty Liz Indriati, Amroso Katamsi
Musik: Thoersi Argeswara
Sinematografi: Edi Michael
Editing: Wawan I Wibowo
Durasi: 115 minutes
Studio: Keana Productions & Communication.

Iklan

Satu pemikiran pada “Batas: upaya menguji batas ketahanan diri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s