Hidup sendiri, kenapa tidak?

Bangun tidur tadi kudapati sebuah pesan di layar hpku: Aku membangun sebuah rumah mungil seperti saranmu dulu. Rumahnya dah jadi. Cuma masalahku skrg, aku ternyata ga nyaman hidup sendiri.. Maka jadilah aku bermigrasi kembali ke ortuku.

Respon yang langsung muncul di benakku: begitu sulitkah hidup sendiri?

Di dunia Barat, seorang anak yang berusia di atas 20 tahun-terutama laki-laki memilih untuk tinggal diluar rumah keluarga besar. Tak heran jika laki-laki dewasa yang masih tinggal bersama orang tua akan dianggap tidak mandiri dan memalukan. Bahkan sang orang tua akan mencari cara untuk mengusirnya dari rumah. Masih ingat Failure To Launch? Di film ini dikisahkan Tripp (Matthew McConaughey) yang berusia 35 tahun masih tinggal di rumah orang tuanya. Begitupun 2 kawan dekatnya. Hal ini membuat orangtuanya kesal dan tidak bahagia. Hingga sampai memutuskan menyewa jasa profesional untuk ‘mengeluarkan’ sang anak dari rumah. Ini bukan film favorit, tapi film ini tentu saja mewakili keseharian dan sikap hidup para orang tua di dunia Barat.

Bagaimana dengan kita? Di Jawa ada pemeo: mangan orang mangan kumpul (makan atau tidak yang penting berkumpul). Bahkan budayawan Umar Kayam menjadikan kalimat ini sebagai judul buku yang berisi kumpulan kolomnya di Harian Kedaulatan Rakyat. Meskipun kalimat itu tidak muncul di semua judul kolom, tapi semangatnya terlihat jelas di dalam lingkungan keluarga Pak Ageng: makan tak makan asal berkumpul, yang penting damai, bersatu, tidak berantem, biarpun sedang lapar. Entahlah, seberapa kental hal ini terimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Diluar urusan ‘mangan ora mangan kumpul’ tadi, berbagai faktor tentunya mempengaruhi sang anak untuk hidup mandiri. Kenyamanan yang selama ini diberikan orang tua, misalnya pekerjaan rumah seperti mencuci, menyetrika, membereskan kamar, dan memasak. Seringkali pula orang tua memang tidak tega untuk melepaskan anaknya hidup sendiri. Bukan saja bagi anak-anak yang belum menikah, bahkan yang sudah menikah pun kalau bisa ditahan untuk tetap tinggal bersama. Terlebih lagi jika sang orang tua secara finansial mampu. Jadi tampaknya memang dibutuhkan keberanian dan kedewasaan untuk untuk tinggal terpisah dari orangtua memulai hidup baru lebih mandiri.

Kalimat di atas tidak harus diartikan men-judge lajang yang masih tinggal bersama orang tuanya adalah tidak mandiri. Kemandirian tentu saja dapat dilihat dari cara seseorang menyikapi berbagai persoalan yang menyangkut diri dan lingkungannya maupun dalam skala yang lebih besar lagi. Kalau alasannya adalah tidak ingin susah, takut kesepian, dan merasa lebih nyaman terus tinggal bersama orangtua padahal sudah mampu mandiri secara finansial..nah kalau ini sih jelas-jelas ada persoalan kemandirian secara psikologis dari si lajang dewasa. Pada akhirnya mereka akan sulit untuk menemukan jati diri dan akan selalu dibayangi sosok orangtua mereka dlam setiap pengambilan keputusan. Mereka juga akan sulit memiliki kehidupan pribadi tanpa intervensi dari orangtua.

Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda termasuk lajang dewasa yang secara finansial sudah bisa menghidupi diri sendiri? Jadi kenapa tidak memutuskan untuk hidup mandiri?

Tantangan hidup sendiri pastinya lebih berat dibandingkan tinggal bersama orangtua, teknis maupun non teknis. Maka dibutuhkan persiapan secara teknis dan non teknis pula jika memang sudah memutuskan untuk hidup sendiri. Secara teknis dibutuhkan banyak informasi sebelum kita memutuskan dimana kita akan tinggal, lingkungan seperti apa yang akan kita gauli, dan fasilitas pendukung apa saja yang kita butuhkan. Untuk penyuka keramaian ya mungkin lebih baik memilih tempat tinggal yang tidak terpencil. Yang penyuka makanan atau tempat kongkow ya sebaiknya memilih lokasi memudahkan akses ke area fasilitas dimaksud. Kalau tidak cukup suka bersosialiasi dengan lingkungan sekitar, tinggal cari perumahan dengan cluster tertutup. Dan sebagainya..dan sebagainya.. Semuanya bisa diatur..

Sementara untuk non teknisnya, hal pertama yang dihadapi pastinya adalah orang tua. Keterpisahan orang tua dari anak yang sudah sekian lama bersama tentu akan berat. Bisajadi mereka akan menjadi sensitif bahkan malah pundung begitu sang anak memutuskan keluar. Tapi ketika hidup mandiri menjadi pilihan, memberikan pengertian kepada orang tua adalah PR yang harus dituntaskan.

What’s next? Konon masalah utama hidup sendiri adalah kesepian. Di awal memulai hidup sendiri mungkin bisa coba diatasi dengan membuat acara kecil-kecilan secara berkala yang menghadirkan teman atau keluarga. Untuk yang suka tanaman bisa mencoba menerapkan impian taman yang selama ini hanya dalam angan. Bagi penyuka binatang, bisa memelihara binatang piaraan yang akan menyibukkan diri selama di rumah. Kalau tinggalnya di lingkungan perumahan yang terbuka, kenapa tidak mulai bersosialisasi dengan warga sekitar? Dan catatan pentingnya: ga perlu malu untuk mengakui kalau punya masalah finansial kepada keluarga atau masalah kesepian kepada teman-teman. Bantuan akan datang tanpa kita harus kembali tinggal di rumah orang tua.

Buatku pribadi, menjadi mandiri adalah satu-satunya pilihan. Karena disinilah tantangan untuk menjadi lebih dewasa, bertanggungjawab baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Karena peluang paling besar bagi kita untuk belajar bertanggungjawab adalah saat kita tinggal sendiri.

Apakah ini mudah? Aku yakin tidak. Buatku mungkin relatif lebih mudah karena ‘dipaksa’ oleh keadaan untuk hidup sendiri, kuliah dan bekerja di tempat yang jauh dari orang tua. Tapi bukankah itupun pilihan?

Maaf..maaf.. bukan bermaksud mengguruimu, kawans! Hanya sedang getek mendapati beberapa kawan laki-laki yang tak berani hidup sendiri…

Iklan

3 pemikiran pada “Hidup sendiri, kenapa tidak?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s