Pertambahan usia dan teror pernikahan

Pergantian angka di kalender besok menandai pertambahan usiaku. Barangkali sudah terlampau terlambat untuk orang tuaku mengkhawatirkan kesendirianku. Aku ingat, bahkan ketika aku masih di bangku kuliah pertanyaan tentang: “kapan kamu menikah?” sudah mulai mengemuka. “Ya nanti, kuliah juga belum beres,” jawabku ketika itu. Padahal aku agak berleha-leha menyelesaikan kuliah karena -alasannya- sambil bekerja. Tapi tampaknya orang tuaku pun tak cukup ‘berani’ untuk masuk lebih jauh, karena ketika itu memang aku sudah membiayai sendiri kuliah dan keseharianku di Bandung, dan tidak pernah menjadi jelas pula kapan aku menyelesaikan kuliahku 😀

Dibesarkan di lingkungan yang terbatas secara finansial, dengan pandangan yang masih konservatif dan sistem sosial yang sangat berpihak pada laki-laki, alhamdulillah aku dapat membangun pandanganku sendiri. Sejauh ini rasanya aku tidak menjadi seorang yang pragmatis apalagi oportunis. Termasuk dalam hal hidup pernikahan. Buatku pernikahan adalah pilihan dalam hidup yang bisa diambil atau tidak. Pernikahan bukanlah pelarian dari ketidakmampuan finansial, pemenuhan tuntutan sosial, bahkan penerusan keturunan. Tapi tetap saja, pertanyaan tentang: “kenapa belum menikah?” atau “apa sih yang ditunggu?” terasa bikin gerah. Apalagi jika ditambahi dengan aneka petuah: “ingat, jadi perempuan itu ada kadaluarsanya” atau “kasian nanti udah tua anaknya masih kecil” atau “perempuan semakin tua akan semakin ditakuti laki-laki” dan masih banyak lagi. Kadang juga pertanyaan aneh seperti: “apa kamu punya trauma dengan laki-laki?” Tentu saja aku merasa tidak harus menjawab semua pertanyaan itu. Buatku cukup dengan menjawab singkat: “belum ketemu saja jodohnya”. Bahkan pernyataan bapakku yang sebetulnya sangat tidak bisa kuterima: “perempuan itu baru dihargai kalau ada (pendamping) laki-laki” kudiamkan saja, karena kurasa berdebatpun tidak akan menemui titik temu.

Cinta dan Pernikahan

Ayu Utami -lewat SAMAN- pernah berujar: “… mencari SUAMI memang seperti melihat-lihat toko perabot untuk setelah meja makan yang pas buat ruangan dan keuangan. Kita datang dengan sejumlah syarat geometris dan budget. Sedangkan KEKASIH muncul seperti sebuah lukisan yang tiba-tiba membuat kita jatuh hati, kita ingin mendapatkannya dan mengubah seluruh desain kamar agar sesuai dengannya”.

Dan aku sepakat dengan itu. Itulah yang selalu terjadi. Maka pada beberapa orang kawan aku pernah bilang: aku mencari kekasih dan bukan suami. Kalau nantinya kekasih itu diajak bersepakat untuk memiliki status sosial sebagai ‘suami’ itu urusan lain. Kenapa begitu? Aku mengartikan kekasih disini kaitannya dengan cinta; cinta seperti yang kusepakati dari Erich Fromm. Bahwa dalam cinta ada perhatian aktif, ada tanggungjawab, ada rasa hormat sebagai kemampuan untuk melihat pasangan sebagaimana adanya dan menyadari individualitasnya yang unik, serta ada pengetahuan sebagai satu aspek dari cinta yang bukan hanya luarnya tapi menembus pada intinya.

Kekasih disini adalah orang yang mampu membangun potensi diri bersama pasangannya, dan mengembangkan potensi universal cinta -tidak melulu dalam hubungan pribadi semata- melainkan cinta yang berperan dalam persoalan kemanusiaan. Maka ketika seorang kawan datang dan minta saran tentang hubungannya dengan pasangannya, yang selalu kubilang adalah: “kau ingin mendapatkan suami atau kau menginginkan kekasih?” Karena setiap pilihan diikuti konsekuensi. Jika pilihannya adalah mengikuti tuntutan sosial untuk memiliki suami (aku tidak melihat dari tinjauan agama), ya carilah suami dan menikahlah. Tapi jika pilihannya adalah menemukan seseorang yang membuatmu ingin bertumbuh sebagai pribadi yang lebih baik, carilah kekasih. Pilihan pertama bisajadi akan melahirkan konflik psikologis berkepanjangan karena tidak adanya kesesuaian pemahaman tentang ‘membangun pribadi’.  Pilihan kedua, siap-siap saja untuk mendapat sebutan macam-macam seperti perawan tua, perempuan ga laku, perempuan bebas, dan aneka kalimat serupa teror tersebut.

Dalam banyak cerita, ada kemungkinan pilihan pertama kemudian berlanjut dengan kondisi pilihan kedua atau sebaliknya. Artinya, pasangan yang awalnya tak dikehendaki kelak bisa menjadi seorang kekasih sejati. Dan pilihan kedua, berangkat dari pasangan kekasih akhirnya memilih untuk membawa ke dalam sebuah pernikahan.

Tapi kalaupun pilihannya adalah pernikahan, semoga itu bukan sebagai pelarian atas alasan finansial, karena itu tak ubahnya prostitut yang dilegalkan. Semoga pula bukan alasan pelarian atas perlindungan, karena itu makin melanggengkan domestifikasi peran perempuan.

Dan semoga pula Tuhan masih memberiku waktu untuk bertumbuh sebagai pribadi yang lebih baik dan ikut membangun esok yang lebih indah. Amin.
Salam sejahtera buatmu, kawans!

Enhanced by Zemanta
Iklan

Satu pemikiran pada “Pertambahan usia dan teror pernikahan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s