Selamat Idul Fitri 1432 H, kawans :)

Hari-hari ini aku menapaki perjalanan waktu tak ubahnya zombie..langkah yang berat, jiwa yang penat, dan harapan yang serupa kapas terombang-ambingkan angin. Keinginan untuk mengucap syukur datang dan pergi sejalan dengan hilang timbulnya kesadaran bahwa aku ada bukan semata ada. Ada sebab..dan ada yang mengatur.

Malam ini, jelang Lebaran..aku masih tak kuasa menulis apapun. Tapi aku teringatkan pada apa yg kutulis 2 tahun lalu, saat mudik Lebaran ke kampung halaman, meninggalkan sejenak pekerjaanku di Manado ketika itu. Aku kembali ingin membacanya, kemudian mengenang masa kecilku dan mensyukuri setiap detil peristiwa hingga aku tiba di hari ini (pun ketika aku masih saja harus berhadapan dengan kesemena-menaan).

*******

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar…. takbir berkumandang tanpa henti. Kulihat jam di hpku: 04.10. Waktu Manado. Berarti di sini baru 03.10. Suara takbir membangunkanku pagi ini. Selalu begitu. Terjaga oleh suara takbir pada dini hari Lebaran pertama. Kemudian tercenung dalam suasana yang entah apa ini namanya.

Lebih dari 20 tahun lalu, ketika aku masih sangat muda, pada tiap Lebaran ibuku selalu membuat dua macam kue: krupuk jepit dan madumangsa. Meski dengan suguhan seadanya, kami tidak pernah ketinggalan ikut merayakan Lebaran. Krupuk jepit dibuat pada malam hari sedangkan madumangsa keesokan harinya. Kami anak-anaknya biasanya ikut menemani, sekedar memegang gagang pemanggang krupuk jepit atau membungkus madu mangsa. Diluar itu sebetulnya yang kami nanti-nantikan adalah kapan krupuk jepit sedikit gosong, karena itu akan jadi bagian kami. Atau berharap masih ada madumangsa yang tersisa di wajan, untuk kami bersihkan dengan jari-jari kami. Ya, itu kesenangan tersendiri buat kami, karena rasanya tidak pernah ada kue-kue seenak itu bisa kami nikmati di hari biasa. Dalam kesederhanaan itu kami saling berbagi tawa.

Begitulah bertahun-tahun kami melakukannya, di rumah bilik kami berukuran 8x10m yang sesak oleh penghuni. Cerita itu sudah jauh tertinggal. Semuanya telah bergerak mengikuti takdirnya. Tapi pada tiap dini hari Lebaran pertama kenangan itu selalu kembali menyergapku: terjaga oleh wangi madumangsa, setengah mengantuk membantu membungkusnya sampai selesai, tertawa bersama berebut ‘intip’nya, dan ditemani suara takbir tanpa henti…

Begitupun yang terjadi pagi ini.. aku terngungu dan hanya berbisik lirih: “Terimakasih Tuhan untuk segala yang telah Kau beri. Dalam kehidupanku di masa lalu, aku pernah dimarjinalkan. Aku berjanji tidak akan melakukan hal yang sama terhadap orang lain, apapun perbedaan kami. Ingatkan aku senantiasa pada janjiku ini. Beri aku hati untuk mampu berbagi cinta dengan sesama. Dan ajar aku senantiasa hidup dalam hikmatMu. Amin.”

Selamat Idul Fitri 1430 H, mohon maaf lahir dan batin…

Bendo, Trenggalek, 2009-2009

******

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s