Berlebaran di Banten

Setelah sebelumnya memutuskan untuk tinggal di rumah selama Lebaran, akhirnya aku berubah pikiran. Kuputuskan untuk mengunjungi para keponakan di Serang, Banten. Ada yang mengejutkan dari jalur menuju provinsi pecahan Jawa Barat ini: jalan tol yang mulus! Sejak agak sering mengunjungi Serang pada periode 2006 hingga tahun terakhir, ruas tol Jakarta menuju Merak ini tidak pernah absen dari perbaikan. Setiap saat setiap waktu ada saja perbaikan yang dilakukan. Maka sangat mengejutkan mendapati ruas jalan ini sedemikian mulusnya. Entah ini akan bertahan berapa lama.. 🙂

Tapi memasuki Kota Serang aku belum menjumpai kesan yang baru. Masih sama: kota yang kering dan tidak ramah. Itulah kesan yang kudapatkan sedari pertama menginjakkan kaki di kota ini baik ketika masih menjadi bagian dari Provinsi Jabar maupun setelah menjadi provinsi tersendiri.

Beberapa bagian Banten yang buatku menarik adalah bangunan-bangunan tua atau setidaknya bekasnya. Sayangnya sejauh ini aku belum menemukan catatan sejarah yang lengkap tentang Banten. Tapi tidak mengapa, masih menarik untuk menjelajahi tanpa perlu tahu detil sejarah di baliknya..

Yang pertama kami kunjungi adalah Benteng Speelwijk di kawasan Banten Lama. Benteng yang terletak sekitar 10 km dari Kota Serang ini awalnya merupakan benteng Kesultanan Banten yang dibuat pada masa pemerintahan Sultan Banten Abu Nasr Abdul Qohhar (1672 – 1687). Namun pada 1685, Kesultanan Banten diserbu Belanda yang lantas menguasai Banten termasuk benteng yang kemudian mereka renovasi. Di dalam benteng berdiri beberapa bangunan termasuk bangunan bawah tanah. Benteng ini dirancang arsitektur Belanda, Hendrick Lucaszoon Cardeel. Nama Speelwijk diambil sebagai penghormatan terhadap Gubernur Jenderal Speelma.

Kini di antara reruntuhan  Benteng Speelwijk adalah tanah lapang luas yang dijadikan arena bermain bola, ajang bermain para domba, dan tempat nongkrong anak-anak muda. Banyak juga para penikmat bangunan tua yang singgah, menikmati aroma masa lalu atau sekedar ambil gambar.


Sayangnya untuk (bekas) keratonnya sendiri (Keraton Surosowan) kami tak sempat singgahi. Tapi kami mengunjungi Situ Tasikardi yang berjarak sekitar 2,5 km dari Keraton Surosowan. Situ ini dulu menjadi sumber air yang digunakan keluarga keraton. Kini situ ini dimanfaatkan sebagai tempat rekreasi rakyat yang pada libur Lebaran kali ini cukup ramai didatangi pengunjung.


Bangunan lain yang kami kunjungi adalah Bendung (Lama) Pamarayan. Bendungan ini terletak di wilayah Petir Kabupaten Serang. Sebelum dibangun bendungan, sistem irigasi sederhana sudah ada di kawasan Banten. Saluran irigasi yang disebut-sebut tertua adalah yang dibangun oleh Sultan Ageng Tirtayasa pada abad 17. Pada masa penjajahan Belanda barulah dibangun Bendung Pamarayan, persisnya pada tahun 1905. Pecahnya perang Eropa menjadikan pembangunan bendungan inipun terhambat. Bendungan baru berhasil diselesaikan pada 1935 dan mengaliri area lebih dari 3000 hektar.


Disebut “Lama” karena kini sudah dibangun bendungan baru tak jauh dari bendung lama yang saluran airnya sudah diurug dan kini menjadi bangunan cagar budaya.

Yang menyedihkan dari tempat-tempat yang kukunjungi ini adalah tidak adanya pengelolaan yang baik. Padahal seandainya bangunan dan bekas bangunan bersejarah itu dirawat mungkin akan memberikan kontribusi terhadap pendapatan daerah. Sementara Situ Tasikardi yang sudah mensyaratkan pengunjungnya untuk membayar (meski murah meriah) juga tidak dikelola dengan baik. Sampah tersebar di sembarang tempat, ajang permainan juga sekadarnya, begitupun fasilitas umum lainnya.

Semoga pada kesempatan lain jalan-jalan ke Banten akan kujumpai perubahan yang menyenangkan 🙂

dari sejumlah referensi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s