Ekspedisi Citarum: sebuah harapan baru penuntasan masalah DAS Citarum

Sebuah buku mengenai Sungai Citarum kembali diluncurkan hari ini. Buku ini menambah deretan panjang buku dengan topik sama yang telah ada sebelumnya. “Kalau semua buku itu dijajar mungkin akan lebih panjang dari Sungai Citarum yang berjarak 270 km. Tapi masalah Sungai Citarum sampai hari ini belum tuntas juga.” Demikian dikatakan anggota Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda, Sobirin yang tampil sebagai pembicara pertama dalam Peluncuran dan Bedah Buku “Ekspedisi Citarum” di Graha Kompas Gramedia, Jalan LRE Martadinata 46, Bandung siang tadi. Meski demikian Sobirin mengakui buku berisi kumpulan hasil liputan para wartawan Kompas ini berbeda dengan buku-buku yang sudah ada. Sobirin berharap buku ini akan menjadi buku terakhir yang dapat memberikan sumbangan besar dalam penanganan masalah Sungai Citarum. “Slogan Citarum Bergetar-bersih geulis lestari sudah dari kapan? Sejak masih Gubernur Nuriana. Sampai sekarang juga Bergetar-bersampah geuleuh tara herang cai.”

Rp 1,3 triliun disiapkan untuk pengerukan Sungai Citarum

Dalam sambutan yang sekaligus pembukaan acara peluncuran buku ini Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan mengungkapkan tentang dianggarkannya dana sebesar hampir Rp 1,3 triliun untuk pengerukan Sungai Citarum. “Sebuah kabar gembira, pemerintah melalui Kementerian PU mengucurkan Rp 1,3 triliun untuk pengerukan Sungai Citarum. Dengan pengerukan ini diharapkan akan mengatasi persoalan banjir Bale Endah dan Andir. Pengerukan pertama rencananya akan dilakukan 1 November yang akan datang, dimulai dari Sapan-Nanjung,” ungkap Heryawan. Menurut Heryawan dana tersebut bukan hutang namun memang dianggarkan untuk menangani masalah Sungai Citarum. Lebih lanjut Heryawan mengatakan bahwa dalam menyikapi persoalan banjir ada tiga kemungkinan yakni memindahkan warga dari banjir, memindahkan banjir dari warga, atau hidup bersama antara banjir dan warga. “Mobilisasi warga tentu saja membutuhkan biaya besar. Begitu pula dengan memindahkan banjir atau sungai penyebab banjir. Jadi yang memungkinkan adalah living together antara warga dengan banjir. Caranya ya dengan misalnya membuat rumah panggung dan menyiapkan peringatan dini.”

Pernyataan tersebut ditanggapi negatif pembicara kedua, Pakar Sosiologi Budaya, Budi Radjab. “Dari dulu sungainya kan itu-itu juga. Yang menimbulkan masalah itu warga dan bukan sungai. jadi kalau perlu ya pindahkan warganya,” ujar Budi Radjab. Menurut Budi selama ini dalam masyarakat Jawa Barat tidak ada budaya memperlakukan sungai dengan baik, berbeda dengan warga di wilayah luar Pulau Jawa. Hal ini kemungkinan besar karena banyaknya jumlah sungai di wilayah Jawa khususnya Jawa Barat. Dikatakannya bahwa warga hanya menganggap sungai sebagai fungsi ekonomis, sebatas irigasi dan tempat pembuangan limbah. ‘Dosa’ warga tersebut menurut Budi mendapatkan dukungan dari pemerintah. “Selama ini menurut saya pemerintah ya sama-sama saja dengan warga dalam memandang sungai. Tidak memperlakukan sungai dalam fungsi ekologis dan positif. Maka aturan dan mekanisme pun tidak ada. Tak heran kalau penanganan yang muncul adalah pendekatan struktural misalnya dilakukan pengerukan. Tapi penanganan dari sisi sosial budaya terhadap manusianya tidak ada,” tandas dosen Fisip UNPAD ini.

Komitmen bersama menuntaskan persoalan DAS Citarum

Sejumlah peserta diskusi mengakui buku Ekspedisi Citarum yang merupakan kumpulan laporan hasil liputan para wartawan Kompas yang menyusuri dari hulu sungai di Kertasari, Kabupaten Bandung, hingga Muara Gembong, Kabupaten Bekasi ini sebagai buku yang menarik dan lengkap. Salah seorang peserta yang juga Sekjen Forum DAS Citarum Jawa Barat, Sutisna ‘menantang’ gubernur untuk membuat pernyataan yang jelas dan nyata untuk melakukan sesuatu terkait penanganan Citarum. “Ada fakta riil yang sudah dimunculkan oleh Kompas. Hal ini musti dibicarakan dan musti ada komitmen lebih lanjut. Bapak gubernur tinggal mengajak para stakeholder untuk melakukan penanganan serius terhadap persoalan Citarum,” ucap Sutisna.

Selain persoalan Sungai Citarum yang disebut-sebut sebagai salah satu sungai terkumuh sedunia ini diskusi juga berkembang ke persoalan lingkungan hidup lainnya yakni pengelolaan dan sampah dan penanganan tanah resapan.

Gubernur Jabar Ahmad Heryawan saat membuka acara

Para pembicara peluncuran dan bedah buku Ekspedisi Citarum

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s