Menguji nyali lewat Insidious :D

Film horor bukanlah genre yang ada dalam kamus perfilmanku. Makanya aku masih ingat betul film horor apa saja yang pernah kutonton. Pada masa kanakku, aku ingat nonton film “Pulau Putri” di layar tancap di lapangan kampungku. Aku tidak ingat persis detilnya, tapi masih kuingat perasaan mencekam yang muncul saat nonton film yang salah satunya dibintangi S Bagyo ini. Film horor berikutnya adalah “Malam Jumat Kliwon”. Tidak mengikuti keseluruhan, tapi kesan horor Suzana langsung melekat di benakku. Film lainnya aku tidak ingat judulnya. Film Hollywood tentang sihir yang mengerikan. Setelah di Bandung, sekali-kalinya aku nonton film horor di layar lebar adalah “The Ring” dan aku memutuskan tidak akan menonton film genre ini di bioskop. Tapi kemudian sempat tertarik untuk nonton “Six Sense” karena banyak yang memuji film tersebut. Meski seram kurasa aku tidak menyesal telah menonton film ini. Tapi tetap..film horor tidak akan pernah menjadi prioritas.

Nah setelah sekian lama, beberapa waktu lalu seorang kawan memaksa mengajak nonton film ini. Untuk mengurangi kadar kengerian, maka kami menonton di rumah dan di siang hari hehehe..

Judulnya Insidious. Film ini berkisah tentang keluarga Lambert yang baru menempati rumah barunya. Rumah yang tampak nyaman ini rupanya menyimpan potensi horor yang kemudian muncul dalam serangkaian teror.

Teror dimulai ketika anak tertua pasangan Josh Lambert (Patrick Wilson) dan Renai (Rose Byrne), Dalton (Ty Simpkins) penasaran dengan loteng rumah baru mereka. Rupanya Dalton menemukan sesuatu yang menyebabkannya tak sadarkan diri. Pasangan ini lantas membawa sang anak ke dokter. Namun rupanya sang dokter tidak menemukan gangguan kesehatan dalam tubuh Dalton. Keanehan ini kemudian disusul dengan kejadian-kejadian lain yang aneh pula. Renai dibayangi penampakan-penampakan dari yang samar berupa suara hingga penampakan wujud. Renai mencoba menceritakan apa yang dialaminya kepada sang suami. Namun Josh tampaknya mengabaikan cerita-cerita dari sang istri. Hingga akhirnya Renai tak sanggup bertahan ketika ia mendapati bekas tapak tangan dengan noda darah pada sprei tempat Dalton tidur. Ia pun mengajak Josh pindah rumah.

Namun rupanya kepindahan itu tidak serta merta urusan teror arwah gentayangan ini selesai. Penampakan terus berlanjut hingga akhirnya atas saran ibu Josh, Lorraine (Barbara Hershey), mereka minta bantuan profesional. Adalah Elise Reiner (Lin Shaye), seorang paranormal yang memiliki tim plus perangkat lengkap pendeteksi energi yang mengingatkanku pada film Ghostbuster. Elise rupanya telah mengenal Josh sejak ia kecil. Lewat deteksi yang cukup memakan waktu akhirnya terbukalah penyebab munculnya serangkaian teror di rumah pasangan ini.

Berhubung bukan penonton film horor aku tidak cukup bisa membuat perbandingan dengan film-film dari genre ini. Tapi dari tayangan yang sesungguhnya hanya kutonton sepotong-sepotong ini..hehe.. kurasa film ini cukup menarik. Ada penjelasan yang masuk akal dari cerita yang ditampilkan, bukan sekedar ketegangan ala film horor.

Naskah Insidious ditulis oleh Leigh Whannell, aktor yang juga dikenal telah menulis sejumlah naskah film horor. Dukungan musik juga sukses menjadikan film ini mencekam. Namun memang ada beberapa titik yang intensitasnya menurun dan mudah terbaca. Tapi justru pada titik ini aku bisa bertahan melotot 😀

Insidious didukung oleh para pemain yang menarik. Selain para pemeran utamanya, peran kecil yang dimainkan oleh sang asisten paranormal, Leigh Whannell dan Angus Sampson, juga terbilang memuaskan. Tapi entahlah, apa aku masih punya cukup nyali untuk nonton film horor lainnya ;p

Sutadara: James Wan
Produser: Jason Blum, Jeanette Brill, Oren Peli, Steven Schneider, Aaron Sims
Penulis naskah: Leigh Whannell
Pemain: Patrick Wilson, Rose Byrne, Ty Simpkins, Barbara Hershey, Lin Shaye, Andrew Astor, Leigh Whannell, Angus Sampson
Musik: Joseph Bishara
Sinematografi: David M. Brewer, John R. Leonetti
Editing: Kirk M. Morri, James Wan
Studio Alliance Films/Stage 6 Films
Distribusi: Film District
Durasi: 100 menit

Iklan

2 pemikiran pada “Menguji nyali lewat Insidious :D

  1. wah…kyknya film ini boleh juga ya untuk ditonton…..
    klo boleh jjr…..sy aja yg cwo gak berani nnton film horror sendiriian (klo mlm)……
    prnh emang dicoba utk mmberanikan diri mencoba mnnton mlm hari….wktu itu sy mo nnton flim “beranak dalam kubur”…..belum smpai 1/2 prjalanan sy sudah gak berani lagi ngelanjutin….
    ok…..salam kenal ya…..!

    • wah..aku kok baru ngeuh ada respon di sini. sorry, bung bens! salam kenal lagi..

      emang ada hubungannya ya jenis film sm jenis kelamin? hehe.. kl saya krn kebanyakan sendiri dan sebetulnya berani2 aja dimana2 dan kemana2 sendiri. tp film horror itu mendramatisir buatku, jd menciptakan ketakutan yg tak perlu. jd lebih baik dihindari daripada bikin halusinasi 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s