Gereja Katolik Indonesia: Alam tidak lagi dipandang sebagai teman seperjalanan hidup manusia

Persoalan lingkungan merupakan milik seluruh penghuni bumi ini. Maka upaya penyelamatan lingkungan menjadi tanggung jawab semua orang. Gereja Katolik melalui  Komisi Keadilan, Perdamaian dan Pastoral Migran-Perantau Konferensi Waligereja Indonesia (KKP-PMP KWI) mengajak seluruh umat dan semua orang untuk bersama-sama menjaga alam. Hal ini terungkap dalam Rapat Pleno KKP-PMP KWI yang berlangsung tanggal 16 hingga 20 September 2011 lalu, di Lembang, Kabupaten Bandung. Selain persoalan lingkungan, dua hal lain juga menjadi fokus komisi ini, yakni perdagangan manusia dan kekerasan.

Rapat pleno ini dihadiri dan dibuka Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan. Mengawali rapat pleno dilangsungkan diskusi yang menghadirkan keynote speaker Prof Emil Salim, dan 3 pembicara lain yaitu wartawati Kompas Maria Hartiningsih, pakar ekonomi lingkungan Maria Ratnaningsih, dan pakar filsafat Budi Hardiman. Sedangkan peserta rapat adalah 56 utusan keuskupan dan kongregasi (26 pastor, 9 suster, 2 frater diakon, dan 19 awam) yang bergerak di bidang keadilan dan perdamaian serta pastoral migran perantau. Selain itu, hadir juga undangan dan anggota badan pengurus KKP-PMP KWI.

Pembukaan Rapat Pleno KKP-PMP KWI 2011

Pembukaan Rapat Pleno KKP-PMP KWI 2011

Berikut ini pernyataan sikap dan komitmen KKP-PMP KWI terkait ketiga hal tersebut dan kondisi kekinian di Jawa Barat dan tanah air.

 Gereja Katolik Indonesia: Alam tidak lagi dipandang

sebagai teman seperjalanan hidup manusia

 Gereja Katolik Indonesia melihat bahwa saat ini sedang terjadi krisis ekologis.  Krisis tersebut lahir karena semakin kuatnya motivasi ekonomi  dan gaya hidup  yang mendorong manusia untuk mengeksploitasi sumber daya alam dengan mengesampingkan etika.  Akibatnya, kondisi alam menjadi rusak. Terjadi pula ketidakseimbangan dalam persaingan untuk memanfaatkan sumberdaya alam dan kesempatan pembangunan yang hanya berpihak pada yang berkuasa dan kuat dalam modal. Ini menjadikan yang miskin semakin miskin dan banyak anak bangsa tidak lagi bisa menjadi tuan atas tanahnya sendiri.

Gereja Katolik melihat bahwa saat ini alam tidak lagi dipandang sebagai teman seperjalanan hidup manusia tetapi sebagai obyek pemuas nafsu keserakahan manusia. Hal ini ditandai dengan tingginya alih fungsi lahan dan pembalakan hutan yang kian hari kian meluas, kegiatan penambangan yang tidak ramah lingkungan dan pembangunan infrastruktur yang tidak memperhatikan daya dukung lingkungan. Alam pun menanggapi secara negatif dalam berbagai bentuk yang pada akhirnya melahirkan kerawanan sosial dan kemurkaan alam.

Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan,  dalam pembukaan Rapat Pleno Komisi Keadilan, Perdamaian dan Pastoral Migran-Perantau Konferensi Wali Gereja Indonesia (KKP-PMP KWI), 16 September 2011,  menyatakan bahwa saat ini di Jawa Barat mengalami masalah pelik terkait Sungai Citarum. Penggundulan lahan di hulu, pembuangan limbah pabrik dan peternakan dan limbah rumah tangga sepanjang tepian sungai Citarum, mengakibatkan Sungai Citarum menjadi rusak. Mengingat arti pentingnya sungai Citarum bagi jutaan warga Jawa Barat, penyelamatan Citarum menjadi sebuah keniscayaan dan kewajiban kita bersama.

Gereja Katolik melalui KKP-PMP KWI mendukung untuk terlibat aktif dalam setiap upaya penyelamatan lingkungan, baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun pihak lain; baik untuk Sungai Citarum maupun kerusakan lain yang terjadi di bumi Indonesia.

KKP-PMP KWI juga berkomitmen memperjuangkan keutuhan ciptaan dengan memerangi perdagangan manusia dan menolak kekerasan. Perjuangan ini akan ditingkatkan baik secara kuantitatif maupun kualitatif mengingat permasalahan tersebut terus meningkat seiring waktu.

Terkait upaya memerangi perdagangan manusia, KKP-PMP KWI berkomitmen melakukan berbagai usaha konkret berupa pemulihan martabat para korban, seraya terus melawan tindakan dan sistem yang mendukung perdagangan manusia. Sedangkan dalam melawan tindakan dan sistem yang bernuansa kekerasan, KKP-PMP KWI berkomitmen untuk  meningkatkan gerakan aktif tanpa kekerasan dan membangun budaya kasih melalui dialog inklusif dalam bidang ekonomi, sosial, budaya, politik, pendidikan, dan agama.

Demikian pernyatan sikap dan komitmen Komisi Keadilan, Perdamaian dan Pastoral Migran-Perantau Konferensi Wali Gereja Indonesia.

Lembang, 19 September 2011

Komisi Keadilan, Perdamaian dan Pastoral Migran-Perantau Konferensi Wali Gereja Indonesia

Mgr. Agustinus Agus                                                                             Dany Sanusi, OSC

(Ketua)                                                                                                       (Sekretaris Eksekutif)

Selain pernyataan sikap rapat pleno ini merumuskan Arah Dasar yang akan menjadi landasan kegiatan KKP-PMP KWI selama 3 tahun ke depan.

Iklan

2 pemikiran pada “Gereja Katolik Indonesia: Alam tidak lagi dipandang sebagai teman seperjalanan hidup manusia

  1. sudah cukup lama manusia ini tidak lagi bersahabat dengan lingkungan. kadang lingkungan tidak dapat lagi memeberikan kedamaian, keuntungan dan kenyamanan oleh karena manusia rakus, berkuasa atas alam lingkungan dia hidup.
    namun adalah yang sanagat sulit bila manusia harus bergantung pada lingkungan untuk setip kebutuhannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s