Menjelajahi Hutan Mangrove Indramayu (2)

National Geographic menulis, sepanjang 114 kilometer wilayah pantai Indramayu mengalami kerusakan kritis. Pesisir pantai telah tergerus sejauh 45 km dari garis pantai. Sejauh ini pihak pemerintah baik Pemkab Indramayu maupun Pemprov Jabar dan masyarakat melalui pendampingan LSM melakukan penanaman bakau serta membangun pemecah gelombang yang diharapkan dapat mengatasi abrasi. Namun hingga kini upaya tersebut dirasa belum membuahkan hasil yang optimal.

Nah, ingin melihat dari dekat seperti apa kehidupan pesisir Indramayu ini, tgl 7 Sept lalu (parah kan.. br bisa posting 3 minggu kemudian ;p) bersama seorang kawan aku mengunjungi kota yang memiliki slogan: remaja ‘relijius, mandiri, dan bersahaja’ ini.

Kabupaten Indramayu merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Barat yang ada di kawasan pesisir utara. Kabupaten ini berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Kabupaten Cirebon di tenggara, Kabupaten Majalengka dan Kabupaten Sumedang, serta Kabupaten Subang di barat. Kabupaten Indramayu terdiri atas 31 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah 313 desa dan kelurahan. Beberapa kota-kota penting di wilayah Kabupaten Indramayu di antaranya adalah Indramayu, Jatibarang, Haurgeulis, Karangampel, dan Terisi.

Seperti halnya Cirebon yang memiliki bahasa yang khas, begitu pula dengan Indramayu. Meski notabene Indramayu termasuk dalam lingkup bumi Pasundan, namun masyarakat Indramayu tidak menggunakan bahasa Sunda, dan bukan pula bahasa Jawa. Masyarakat setempat menyebutnya dengan Dermayon.

Kota yang pada 7 Oktober nanti genap berusia 584 tahun ini (lahir pada 7 Oktober 1527) memiliki luas wilayah 2.000,99 km2 dengan penduduk 1.795.372 jiwa (data BPS 2007).

Peta Kab. Indramayu (wikipedia)

Kerusakan pantai yang terjadi di pesisir Indramayu ini bukan semata abrasi namun juga penggundulan hutan mangrove untuk tambak udang dan bandeng. Banyak masyarakat pengelola tambak yang merasa dirugikan dengan keberadaan mangrove di sekitar tambak. Menurut mereka, mangrove mengganggu keberlangsungan usaha tambak mereka. Informasi ini aku dapatkan dari Bayi, salah seorang anggota LSM Siklus yang selama ini melakukan pendampingan kepada masyarakat setempat. “Jadi yang kami kemudian tawarkan adalah menanam tanaman mangrove sekaligus tetap membiarkan ambak udang dan bandengnya berjalan berdampingan.” Begitu kata Bayi.. (maap, aku lupa nama aslimu, mas hehe..)

Pesisir Indramayu yg rusak karena abrasi dan penggundulan hutan

Hutan mangrove Pantai Karangsong dan Pabean Udik; pembibitan, tanaman2 baru, dan burung2 penghuni hutan

Pada masa mendatang direncanakan belasan bahkan puluhan hektar lahan hutan mangrove ini dimanfaatkan sebagai tempat ekowisata yang berbasis komunitas (penduduk lokal). Maka sejauh ini program pendampinganpun menyiapkan warga yang potensial menjadi pemimpin dan penggerak. Dadang Sudardja, Walhi Jabar mengatakan cita-citanya adalah agar masyarakat bisa bekerja di lahan sendiri tanpa harus keluar daerah dan tentu saja juga bisa merasakan hasilnya sendiri. Dan ekowisata yang dimaksud selain terkait dengan hutan mangrove-nya sendiri, juga pelelangan ikannya karena Indramayu memiliki tempat pelelangan ikan yang cukup sibuk.

Suasana Tempat Pelelangan Ikan Karangsong

Amin..amin..semoga deh ya.. semoga tidak ada bonceng membonceng kepentingan tertentu. Semoga masyarakat bisa menjadi tuan di tanah sendiri. Semoga khususnya Indramayu bisa terbebas dari ‘cap2’ negatif yang selama ini nempel.. Semoga… 🙂

Menjelajahi hutan mangrove dan pantai bersama teman2 *sekaligus bergaya :)*

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s