Rest in peace, Gadis meongku :(

Mei 2009. Siang itu aku tiba di rumah setelah melewati perjalanan panjang Sorong-Jakarta-Bandung. Tiga bulan tidak bersama anak-anak meong, menggiring langkahku langsung menuju bagian belakang rumah kecilku, markas para meong. Wiks..ada 2 meong baru, krem emas dan belang. Dua-duanya betina. Kok bisa? Usut punya usut si teteh yang kuberi tugas menjaga rumah rupanya ketitipan anak kucing krem dari kenalannya. Berhubung tidak ada yang sepantaran, maka dipungutlah si belang anaknya Cumi, kucing liar yang suka maen ke rumah. Deuh..ada-ada aja. Sudah jelas yang empunya rumah sedang tidak di tempat, malah nambah penghuni meong baru. Tapi ya sudahlah, tidak ada alasan menolak meong.

Gadis dan Bule meong

Maka kedua meong cewe kecil ini menjadi penghuni baru. Yang krem emas kuberi nama Bule dan yang belang kuberi nama Gadis. Bule hanya bertahan beberapa bulan saja. Si cantik liar itu sudah kabur ketika aku kembali ke Bandung pada libur berikutnya. Cuma Gadis yang bertahan.

Gadis meong

Gadis ini termasuk tipe meong pendiam. Dia bersuara kalau lagi lapar atau lagi marah saja. Bulunya yang bersih dan belang tiganya yang cantik membuat dia banyak dikejar kucing-kucing jantan. Bukan cuma sekali dua kali para ucing garong itu bikin heboh atap rumah. Dan seperti halnya kucing-kucing betina lainnya, diapun menjadi korban tanpa bisa menolak. Gadis pun hamil. Tapi bayinya lahir prematur, tak terselamatkan. Kejadian itu berulang 3 bulan kemudian. Sama, 2 bayinya pun tak terselamatkan. Pada perkembangan berikutnya, mungkin karena sudah masuk fase ‘perempuan dewasa’ Gadis pun mulai nakal, sering keluar rumah. Tampaknya dia sudah mulai bisa merasakan indahnya bercinta.. kucing juga manusia (maksud loe? hehe).. Dia masih mengalami bunting 3 kali lagi. Hanya bunting ke-4 saja dia berhasil membesarkan salah satu dari 4 anak yang dilahirkannya. Si anak kuberi nama ‘Ncit, karena perutnya yang buncit. Sekarang dia berumur 5 bulanan.

Gadis ini sangat penyayang sama kucing-kucing kecil. Dia bahkan sangat memanjakan adik-adiknya, Naga dan Puma. Saking memanjakannya bahkan dia suka lupa sama bayinya sendiri. Atau sesungguhnya dia memang ga suka bayi ya? hiks.. Tapi biarpun tidak pintar mengurus bayi, dia tetap Gadisku 🙂 Yang hebatnya lagi, dia galak dan berani menghadapi ucing2 garong yang coba menyerang adik-adiknya 🙂

Sekitar 3 bulan terakhir penyakit menyerang kucing-kucingku. Gejalanya seperti influenza..dan kemudian menjadi pilek parah. Sama seperti manusia. Sekali pernah kuundang dokter ke rumah. 5 meong diberi suntikan. Seminggu sembuh tapi ‘menjadi’ kembali. Dalam keadaan sakit Gadis meongku bunting lagi. Heran juga, dalam keadaan flu parah masih bisa dia bercinta ;P

Tapi tampaknya kehamilannya ini menjadi yang terakhir kalinya. Aku tidak tau persis, apakah ada virus di rahimnya atau karena sakitnya terlalu parah. Gadis meongku pergi untuk selamanya.. Dia tidak mau melihatku menangis melihat kondisinya. Gadisku pergi tanpa memberi kesempatan padaku untuk mengucapkan terimakasih karena selama ini telah menemaniku.  

Rest in peace, sayang.. Baik-baik di rumahmu yang baru, Gadis meongku..

Catatan:
Hai Gadis..aku pernah bilang akan membuat buku cerita tentangmu. Aku janji akan melakukannya.. Aku janji, Gadis meongku!

 

cerita sebelumnya tentang Gadis meong

Iklan

18 pemikiran pada “Rest in peace, Gadis meongku :(

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s