Sang Penari, antara cinta dan tradisi

Aku tertarik untuk menonton film ini sejak awal kemunculan promonya di layar televisi. Tapi sedikit ragu menyelinap: jangan2 keindahan cerita yang terekam otakku tentang ronggeng Dukuh Paruk itu bakal tergeser oleh penggambaran yang tidak pas. Karena seringkali itulah yang terjadi, mengadaptasi tulisan ke dalam gambar bergerak malah membuyarkan imajinasi penikmat kisahnya.

Aku ingat kecewaku waktu nonton Da Vinci Code, imajinasiku pada detil yang tergambar dalam novel Dan Brown termentahkan. Pada film nasional sebetulnya cukup banyak yang diangkat dari novel, seperti pada film layar lebar Roro Mendut (Ami Priyono) dari novel Roro Mendut karya YB Mangunwijaya, Si Doel Anak Betawi (Suman Djaya) dari novel Si Doel Anak Betawi karya Aman Dt. Madjoindo, Salah Asuhan (Asrul Sani) dari novel Salah Asuhan karya Abdoel Moeis hingga “Ca Bau Kan” (Nia Dinata). Sayangnya aku ga sempat nonton 😦 Terakhir yang kutonton adalah Laskar Pelangi. Aku nonton film adaptasi novel Andrea Hirata, setelah menamatkan 4 novel penulis asal Belitung tersebut. Tak sedetil yang digambarkan dalam novel memang, tapi filmnya bercerita sendiri. Jadi tidak terlalu menjadi soal, apalagi Andrea juga tidak terlalu tertib sastra. Beda halnya dengan Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk. Novel Ahmad Tohari itu kukenal pada pertengahan 90an atas rekomendasi seorang kawan. Dan aku jatuh cinta..

Tapi akhirnya kuputuskan juga untuk menontonnya. Sang Penari garapan sutradara Ifa Isfansyah ini.

Film dibuka dengan adegan penyekapan tahanan, kemudian muncul sosok pemuda tentara yang kemudian diketahui bernama Rasus (Oka Antara) menyusuri desa yang telah kosong. Hanya laki-laki tua dan buta yang tertinggal, Kang Sakung (yang bermain bagus hingga kutulis ini tak kutemukan siapa nama pemerannya). Sakung minta Rasus mencari Srintil. Kilas balik dimulai dari sini…

Dalam regengnya suasana perkampungan Paruk, Srintil kecil yang tengah bercengkerama dengan teman sebaya dibuat terpana oleh sosok Yu Surti (Happy Salma) ronggeng andalan Dukuh Paruk. Kekagumannya terekam baik menjadi sebuah obsesi. Srintil pun mulai berlatih menari.. Sayangnya di usia belia Srintil harus kehilangan kedua orangtuanya, karena racun tempe bongkrek yang mereka buat. Bukan hanya mereka berdua, racun tempe bongrek juga membunuh warga desa lain. Sang ronggeng kesayanganpun tak terselamatkan.

Waktu berjalan, Srintil beranjak dewasa. Srintil (Prisia Nasution) makin membulatkan niatnya untuk menjadi Ronggeng. Selain terobsesi sejak kecil, ada keinginan Srintil untuk menghapus dosa kedua orangtuanya yang telah membuat Yu Surti meninggal dunia dan menjauhkan Dukuh Paruk dari kesuburan dan kebahagiaan. Keinginan Srintil didukung oleh Kang Sakung. Sayang Srintil tidak mendapatkan restu dari Ki Reja (Slamet Raharjo)  yang merupakan dukun ronggeng di kampung kecil di Purwokerto tersebut. Namun Srintil berkeras.

Ijin tersebut akhirnya dikantongi Srintil setelah sang paman (Landung Simatupang) berhasil menunjukkan keris kecil yang diserahkan Rasus kepada Srintil. Keris tersebut ditemukan Rasus saat Yu Surti terjatuh pada hari kematiannya. Maka mulai hari itu Srintil dinobatkan sebagai Ronggeng Dukuh Paruk. Tahapan yang harus dilewati Srintil sebagai ronggeng berikutnya adalah upacara buka kelambu. Ki Reja dan istrinya (Dewi Irawan)  yang membuat persiapan upacara buka kelambu. Acara ini adalah saat dimana keperawanan Srintil diserahkan dengan lelaki yang membayar paling tinggi. Pada proses berikutnya digambarkan bagaimana Srintil harus melayani para laki-laki di kampung tersebut. Sejak itu digambarkan perekonomian mulai tumbuh.

Keadaan berubah dengan kembalinya Bakar (Lukman Sardi) ke kampung itu. Bakar yang membawa ideologi komunis mengajari mayarakat yang buta huruf tentang kepemilikan bersama; Srintil dibawa ke panggung politik sebagai apresiasi partai komunis terhadap kesenian rakyat. Maka ketika di Jakarta terjadi peristiwa pemberangusan partai komunis dan tokoh2nya, Dukuh Paruk pun terkena imbasnya. Dukuh Paruk merah, demikian istilahnya. Dan semua orang diciduk, tak terkecuali sang ronggeng. Hanya Kang Sakung yang tersisa.

Layar berganti kembali ke adegan awal, saat Rasus bertemu dengan Kang Sakung. Rasus pun mencari Srintil. Namun segala sesuatunya sudah berubah.

Sang Penari tidak mengecewakan. Berhasil. Bagus. Para pemain menjalankan tugasnya dengan baik. Pemain senior Slamet Raharjo dan Landung Simatupang jangan ditanya. Sebagai orang Batak, Prisia juga mampu membawakan perannya sebagai perempuan di kampung kecil Jawa dengan baik, luwes pula menjadikan dirinya ronggeng. Tapi kalau disuruh memilih kurasa Happy Salma lebih memiliki aura ronggeng. Nama-nama lain yang mendukung film ini juga tidak buruk. Begitupun musik yang dihadirkan pasangan Aksan, mendukung alur cerita.

Ada beberapa titik yang memang sama sekali berbeda dengan cerita aslinya. Detil suasana Dukuh Paruk yang begitu sempurna digambarkan Ahmad Tohari juga tidak terekam dengan cukup baik. Jadi tampaknya memang musti dipisahkan antara Novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk dan Film Sang Penari agar masing-masing bisa bercerita dengan caranya.

Satu yang kemudian membuatku kaget saat masuk gedung bioskop adalah suara anak2. Nah nah..kumaha dongengna para orangtua ini kok bisa2nya bawa anak2 nonton film ronggeng. Kurasa sebetulnya film ini lebih baik mengambil judul Sang Ronggeng atau Ronggeng Dukuh Paruk agar cukup jelas untuk yang tak punya referensi tentang cerita aslinya.

Ada yang belum nonton? Silakan kunjungi bioskop terdekat dan menarilah bersama Srintil 🙂

Sutradara: Ifa Isfansyah
Penulis: Salman Aristo
Penata musik: Wong Aksan dan Titi Sjuman
Penata kamera: Yadi Sugandi
Penata kostum: Chitra Subiyakto

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s