Catatan kecil untuk Mardika

Selamat malam, Mardika..

Malam sudah menyelimuti bumi ketika kutinggalkan mejaku yang masih lengkap dengan berkas tak beraturan. Aku suka dengan keberantakanku. Kau tau kenapa? Karena itu membuatku merasa hangat šŸ™‚

Ke Metropole aku menuju, menggigil diantara ruap panas Jakarta. Kurapatkan jaket menutupi badan. Ah, aku benci sakit ini. Tapi kemudian aku musti kembali ekstra keras menghadapi dinginnya gedung yang disebut-sebut sebagai gedung bioskop pertama di Jakarta itu. Seandainya kau disini, mungkin tak kulepaskan genggamanku pada jemarimu.

Kutengok jadwal tayang. Delapan malam. Artinya aku harus menunggu hampir 2 jam. Kusandarkan tubuhku yang rasanya tanpa bobot ke dinding yang dipenuhi poster. Sejenak kunikmati interaksi orang-orang di sekitarku. Selalu menarik mencermati tingkah manusia, sembari menimbang akan melanjutkan nonton atau tidak. Musik dari speaker studio membuatku perih: Terpuruk – Kla Project.

Apa kau merasakan perihku, Mardika? Mungkin tidak, karena segenap indramu tengah tersita rutinitas jelang akhir tahun. Kadang pekerjaan membuat kita teralienasi menjadi wujud lain, yang kadang kita sendiri tak kenali lagi. Ingin aku bicara padamu, sekedar mengucap selamat malam atau sedikit berani bertanya: maukah berjumpa denganku malam ini? Ah, mungkin kusimpan saja harapku.Ā  Baiknya kutulis saja status di akun jejaring sosialku:

setengah demam + terpuruk-nya kla + machine gun preacher-nya butler = ? *ragu2 dengan hasilnya*

Tak terlalu lama badanku sudah enggan melanjutkan adaptasinya. Dingin membuatku semakin menggigil. Akhirnya kutinggalkan ruang ber-ac ini: mari kita susuri Cikini!

Hai, Mardika..masihkah kau mendengarku? Jalanan Cikini tak terlalu berbeda dengan malam saat kususuri bersamamu. Tiga minggu mungkin terlalu singkat untuk melihat sebuah perubahan. Tapi bukankah acapkali kita tak menyadari perubahan hingga kita dapati usia yang menua, dengan helai putih di antara rambut hitam kita atau mengaminkan makin lemahnya tenaga yang kita punya?

“Meooong..” Seekor kucing menatapku curiga. Barangkali ada tanya di benaknya: “apakah dia akan menendangku atau sekedar menyapaku?” Kau tau, betapa gembiraku saat mendapati kau mencintai binatang seperti aku menganggap mereka sebagai bagian dari hidupku. “Suatu kali aku ingin berjumpa langsung dengan mereka.” Begitu katamu suatu kali. Cukup senang aku mendengarnya, entah itu sebuah janji atau sekedar apresiasi. Tidak mengapa..

Mardika, kalau kau disini, mungkin kita akan tertawa bersama. Menertawakan Sutardji yang ingin menjadi tuhan. Atau kekonyolan-kekonyolan kecil di pekerjaan. Bercerita tentang persaudaraan tak terpisahkan. Atau kita akan mencuri dengar obrolan para lelaki yang menjadi kuli. Berkerumun melepas lelah, minum kopi di seberang stasiun Cikini. Mungkin pula kau akan berpuisi, tentang kota yang tak pernah mati.

Lihat! Itu warung kopi yang kita singgahi, dalam tawa tak henti. Sejak itu namamu terpatri.

“Meong..meong” Sepasang kucing bersiaga di depan restoran siap saji. Mungkin sedang berharap ada tulang ayam rasa baru yang bisa dicicipi. Bosan dengan tulang ayam lamongan yang mereka kunyah tiap hari.

Pada lorong sepi aku terkesiap. Sepasang tangan kokoh mendekap. Mulutku dibekap. “Berikan barang berhargamu, atau pisau ini akan menusukmu!” Dingin belati merayapi kudukku.

Ah, itu imajinasiku saja, Mardika. Ketakutanku akan Jakarta seringkali menghadirkan halusinasi berlebihan. Barangkali cerita media tentang kekejaman Jakarta telah membelengguku dalam ketakutan bawah sadarku. Tentang mayat yang ditemukan terpisah dalam kardus. Tentang bayi yang dibuang dan nyaris tak bersisa disantap binatang malam. Tentang perempuan korban perkosaan. Bukankah itu memang nyata, Mardika? Ataukah memang media telah merawat subur hantu yang kita cipta?

Sebuah gedung mengingatkanku akan sesuatu: masa lalu. Ketika hasrat muda tak mengenal tabu. Hei, Mardikaku..(semoga kau tak keberatan dengan panggilan ini) apa kau pencemburu? Baiklah, lupakan bagian ini. Kini, langkahku mulai menapaki kawasan Taman Ismail Marzuki. Di sini kita berbincang hingga pagi.

“adakah sebuah ruang
di mana segala kecemasan
dan belenggu masa silam
dapat kita lepaskan?”

Itu katamu dulu. Kutemukan diantara ratusan kalimat yang kau buat. Bukan untukku, aku tau. Tapi kini, kususun itu jadi tanyaku. Adakah jawabmu, Mardika? Ketika jarak dan waktu terentang diantara kita, tanpa kata tanpa suara… Atau kalimat itu akan terus menjadi tanya, di ruang terbuka? Hingga semesta mengajaknya pergi tanpa jawab yang pasti?

Melewati TIM. Jajaran pedagang kaki lima. Tak leluasa. Tapi kunikmati saja pantulan lampu dan aroma masakan dari tiap gerobak. Pedagang dan pembeli, percakapan sekadarnya.
Trotoar lebar. Beberapa orang menatapi langkahku. Aku tidak tahu, apakah karena aku terlihat cantik malam ini, ataukah kalung mutiaraku membuatku tampak aneh seperti gadis tempo dulu di majalah bekas berdebu. Ah, apa peduliku!

Tapi, Mardika..apa aku cantik menurutmu? Apa aku terlihat cantik ketika bibirmu menyentuhku malam itu?

Barangkali tanya inipun tak akan menemukan jawab. Teredam, terkubur, tersublim…dan menghilang di antara ribuan kisah manusia di jagad alam yang maha luas ini.

Baiklah Mardika,

kueja saja namamu dalam diam
bersama seuntai cerita yang sempat singgah
seperti malam yg mendaraskan salam maria
setelah siang menyisakan sepekat gundah

Selamat malam, Mardikaku…
*Kuharap kau baik-baik saja. Seperti harapku juga, besok akan lebih baik setelah kuminum obat pengusir demam ini*

(imajinasi 20 menit perjalanan Metropole-Gedung Joang, 14 Desember 2011)

 

 

 

Iklan

Satu pemikiran pada “Catatan kecil untuk Mardika

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s