Kisah nyata: ketika Sri Sultan HB IX terkena tilang di Pekalongan

Selama dua hari berturut-turut ini aku mendapati postingan ini di wall teman-teman di fesbuk. Di tengah kekecewaan terhadap kepemimpinan nasional dan perilaku para pejabat negara yang sudah banyak melanggar etika, tulisan sederhana ini terasa adem dan mengharukan. Tak heran kalau kemudian tulisan ini beredar cepat. Maka terpikir juga untuk mencantumkannya di sini. Tulisan ini ku-copas dari http://jogjakini.wordpress.com/2011/12/09/kisah-nyata-ketika-sri-sultan-hb-ix-terkena-tilang-di-pekalongan/.. yang dipost pada 9 Desember 2011. Kuedit penggunaan huruf dan tanda baca tanpa mengubah makna. Selebihnya persis sama.

*******


Kota Batik Pekalongan di pertengahan tahun 1960an menyambut fajar dengan kabut tipis. Pukul setengah enam pagi polisi muda Royadin yang belum genap seminggu mendapatkan kenaikan pangkat dari agen polisi kepala menjadi brigadir polisi sudah berdiri di tepi posnya di kawasan Soko dengan gagahnya. Kudapan nasi megono khas Pekalongan pagi itu menyegarkan tubuhnya yang gagah berbalut seragam polisi dengan pangkat brigadir.

Becak dan delman amat dominan masa itu. Persimpangan Soko mulai riuh dengan bunyi kalung kuda yang terangguk angguk mengikuti ayunan cemeti sang kusir. Dari arah selatan dan membelok ke barat sebuah sedan hitam berplat AB melaju dari arah yang berlawanan dengan arus becak dan delman. Brigadir Royadin memandang dari kejauhan, sementara sedan hitam itu melaju perlahan menuju kearahnya. Dengan sigap ia menyeberang jalan di tepi posnya. Ayunan tangan ke depan dengan posisi membentuk sudut Sembilan puluh derajat menghentikan laju sedan hitam
itu. Sebuah sedan tahun lima puluhan yang amat jarang berlalu di jalanan Pekalongan berhenti di hadapannya.

Saat mobil menepi, Brigadir Royadin menghampiri sisi kanan pengemudi dan memberi hormat.
“Selamat pagi!” Brigadir Royadin memberi hormat dengan sikap sempurna.
“Boleh ditunjukan rebuwes!” Ia meminta surat surat mobil berikut surat ijin mengemudi kepada lelaki di balik kaca. Jaman itu surat mobil masih diistilahkan rebuwes. Perlahan, pria berusia sekitar setengah abad menurunkan kaca samping secara penuh.
“Ada apa, Pak Polisi?” Tanya pria itu. Brigadir Royadin tersentak kaget. Ia mengenali siapa pria itu. “Ya Allah…sinuwun!” Kejutnya dalam hati. Gugup bukan main namun itu hanya berlangsung sedetik. Naluri polisinya tetap menopang tubuh gagahnya dalam sikap sempurna.
“Bapak melangar verbodden, tidak boleh lewat sini, ini satu arah” Ia memandangi pria itu yang tak lain adalah Sultan Jogja, Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Dirinya tak habis pikir, orang sebesar sultan HB IX mengendarai sendiri mobilnya dari Jogja ke Pekalongan yang jauhnya cukup lumayan. Entah tujuannya kemana.

Setelah melihat rebuwes, Brigadir Royadin mempersilahkan Sri Sultan untuk mengecek tanda larangan verboden di ujung jalan. Namun sultan menolak.
“Ya ..saya salah, kamu benar, saya pasti salah!” Sinuwun turun dari sedannya dan menghampiri Brigadir Royadin yang tetap menggengam rebuwes tanpa tahu harus berbuat apa.
“Jadi…?” Sinuwun bertanya. Pertanyaan yang singkat namun sulit bagi Brigadir Royadin menjawabnya.
“Em..emm ..Bapak saya tilang, mohon maaf!” Brigadir Royadin heran, sinuwun tak kunjung menggunakan kekuasaannya untuk paling tidak bernegosiasi dengannya. Jangankan begitu, mengenalkan dirinya sebagai pejabat Negara dan rajapun beliau tidak melakukannya.
“Baik..Brigadir, kamu buatkan surat itu, nanti saya ikuti aturannya, saya harus segera ke Tegal!” Sinuwun meminta Brigadir Royadin untuk segera membuatkan surat tilang. Dengan tangan bergetar ia membuatkan surat tilang. Ingin rasanya tidak memberikan surat itu tapi tidak tahu kenapa ia sebagai polisi tidak boleh memandang beda pelanggar kesalahan yang terjadi di depan hidungnya. Yang paling membuatnya sedikit tenang adalah tidak sepatah katapun yang keluar dari mulut sinuwun menyebutkan bahwa dia berhak mendapatkan dispensasi. “Sungguh orang yang besar…!” Begitu gumamnya.

Surat tilang berpindah tangan, rebuwes saat itu dalam genggamannya dan ia menghormat pada sinuwun sebelum sinuwun kembali memacu sedan hitamnya menuju ke arah barat, Tegal. Beberapa menit sinuwun melintas di depan Stasiun Pekalongan, Brigadir Royadin menyadari kebodohannya, kekakuannya dan segala macam pikiran berkecamuk. Ingin ia memacu sepeda ontelnya mengejar sedan hitam itu tapi manalah mungkin. Nasi sudah menjadi bubur dan ketetapan hatinya untuk tetap menegakkan peraturan pada siapapun berhasil menghibur dirinya.

Saat aplusan di sore hari dan kembali ke markas, ia menyerahkan rebuwes kepada petugas jaga untuk diproses hukum lebih lanjut. Lalu ia kembali kerumah dengan sepeda abu abu tuanya. Saat apel pagi esok harinya, suara amarah meledak di markas polisi Pekalongan. Nama Royadin diteriakkan berkali-kali dari ruang komisaris. Beberapa polisi tergopoh gopoh menghampirinya dan memintanya menghadap komisaris polisi selaku kepala kantor.
“Royadin, apa yang kamu lakukan..sa’enake dhewe ..ora mikir.. iki sing mbok tangkep sopo heh..ngawur..ngawur!”  Komisaris mengumpat dalam Bahasa Jawa. Di tangannya rebuwes milik sinuwun pindah dari telapak kanan kekiri bolak-balik.
“Sekarang aku mau tanya, kenapa kamu tidak lepas saja sinuwun..biarkan lewat, wong kamu tahu siapa dia, ngerti nggak kowe sopo sinuwun?” Komisaris tak menurunkan nada bicaranya.
“Siap, Pak,  beliau tidak bilang beliau itu siapa. Beliau ngaku salah ..dan memang salah!” Brigadir Royadin menjawab tegas.
“Ya tapi kan kamu mestinya ngerti siapa dia ..ojo kaku kaku, kok malah mbok tilang..ngawur ..jan ngawur…. Ini bisa panjang, bisa sampai menteri!” Derai komisaris. Saat itu kepala polisi dijabat oleh Menteri Kepolisian Negara. Brigadir Royadin pasrah, apapun yang dia lakukan dasarnya adalah posisinya sebagai polisi, yang disumpah untuk menegakkan peraturan pada siapa saja..memang koppeg (keras kepala) kedengarannya.

Kepala Polisi Pekalongan berusaha mencari tahu dimana gerangan sinuwun, masih di Tegalkah atau tempat lain? Tujuannya cuma satu, mengembalikan rebuwes. Namun tidak seperti saat ini yang demikian mudahnya bertukar kabar, keberadaa sinuwun tak kunjung diketahui hingga beberapa hari. Pada akhirnya kepala polisi Pekalongan mengutus beberapa petugas ke Jogja untuk mengembalikan rebuwes tanpa mengikut sertakan Brigadir Royadin.

Usai mendapat marah, Brigadir Royadin bertugas seperti biasa. Satu minggu setelah kejadian penilangan, banyak temannya yang menertawakan bahkan ada isu yang ia dengar dirinya akan dimutasi ke pinggiran kota Pekalongan selatan.

Suatu sore, saat belum habis jam dinas, seorang kurir datang menghampirinya di persimpangan Soko yang memintanya untuk segera kembali ke kantor. Sesampai di kantor beberapa polisi menggiringnya keruang komisaris yang saat itu tengah menggengam selembar surat.
“Royadin…minggu depan kamu diminta pindah!” Lemas tubuh Royadin. Ia membayangkan harus menempuh jalan menanjak di pinggir Kota Pekalongan setiap hari, karena mutasi ini, karena ketegasan sikapnya di persimpangan Soko .
“Siap, Pak!” Royadin menjawab datar.
“Bersama keluargamu semua, dibawa!” Pernyataan komisaris mengejutkan, untuk apa bawa keluarga ke tepi Pekalongan Selatan, ini hanya merepotkan diri saja.
“Saya sanggup setiap hari pakai sepeda, Pak Komandan, semua keluarga biar tetap di rumah sekarang!” Brigadir Royadin menawar.
“Ngawur…kamu sanggup bersepeda Pekalongan – Jogja? Pindahmu itu ke Jogja bukan di sini. Sinuwun yang minta kamu pindah tugas kesana, pangkatmu mau dinaikkan satu tingkat!” Cetus Pak Komisaris. Disodorkan surat yang ada di gengamannya kepada Brigadir Royadin. Surat itu berisi permintaan bertuliskan tangan yang intinya: “Mohon dipindahkan Brigadir Royadin ke Jogja, sebagai polisi yang tegas saya selaku pemimpin Jogjakarta akan menempatkannya di wilayah Jogjakarta bersama keluarganya dengan meminta kepolisian untuk menaikkan
pangkatnya satu tingkat.” Ditanda tangani Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

Tangan Brigadir Royadin bergetar. Namun ia segera menemukan jawabannya. Ia tak sanggup menolak permintaan orang besar seperti sultan HB IX, namun dia juga harus mempertimbangkan seluruh hidupnya di Kota Pekalongan. Ia cinta Pekalongan dan tak ingin meninggalkan kota ini.

“Mohon bapak sampaikan ke sinuwun, saya berterima kasih. Saya tidak bisa pindah dari Pekalongan, ini tanah kelahiran saya, rumah saya. Sampaikan hormat saya pada beliau, dan sampaikan permintaan maaf saya pada beliau atas kelancangan saya!” Brigadir Royadin bergetar. Ia tak memahami betapa luasnya hati Sinuwun Sultan HB IX. Amarah hanya diperolehnya dari sang komisaris namun penghargaan tinggi justru datang dari orang yang menjadi korban ketegasannya.

July 2010, saat saya mendengar kepergian Purnawirawan Polisi Royadin kepada sang khalik dari keluarga di Pekalongan, saya tak memilki waktu cukup untuk menghantar kepergiannya. Suaranya yang lirih saat mendekati akhir hayat masih saja mengiangkan cerita kebanggaannya ini pada semua sanak family yang berkumpul. Ia pergi meninggalkan kesederhanaan perilaku dan prinsip kepada keturunannya, sekaligus pada saya selaku keponakannya. Idealismenya di kepolisian Pekalongan tetap ia jaga sampai akhir masa baktinya. Pangkatnya tak banyak bergeser terbelenggu idealisme yang selalu dipegangnya erat-erat yaitu ketegasan dan kejujuran.

Hormat amat sangat kepadamu, Pak Royadin, Sang Polisi sejati. Dan juga kepada pahlawan bangsa Sultan Hamengkubuwono IX yang keluasan hatinya melebihi wilayah negeri ini dari Sabang sampai Merauke.

Depok June 25′ 2011
Aryadi Noersaid

-> Update terakhir tentang penulis artikel: Bp Aryadi Noersaid saat ini tinggal di Depok. Saya sempat konfirmasi via SMS kepada penulis untuk memastikan dan meminta comment atau pernyataan dari beliau. Setelah menunggu beberapa waktu saya mendapat respon dari Bp Aryadi Noersaid. Saya copy dari comment beliau. Terima kasih, Pak, respon
kilatnya:

Aryadi Noersaid (aryadi17@yahoo.com)
Bapak ibu sekalian, surprise tulisan ini hadir setelah sekian bulan saya menulisnya, saya mendapatkan linknya melalui teman facebook. Cerita ini bagian dari catatan tepi yang saya terbitkan secara rutin di milis dan kompasiana, berupa pengalaman saya dan orang lain yang saya dapatkan dari sumbernya. Almarhum Pak Royadin adalah kakak ayah saya. Beliau berpulang tahun lalu di rumah sederhananya di Proyonanggan di Batang, kota dekat Pekalongan. Kisah ini selalu
menghiasi hari saya kalau pulang ke kampung halaman orang tua. Meskipun tak persis detil demi detil percakapan yang diceritakan dari beliau tertulis didalam kisah ini, termasuk penggunaan bahasa Jawa yang saya memang kurang menguasai untuk menuliskannya kembali serta tanggal dan tahun kejadian. Namun beliau memang sangat memegang apa yang diomongkannya serta lurus dalam hidupnya. Dan ini cerita masterpiece yang saya kenang selalu khususnya jika mengenang beliau.
Terakhir bertemu beliau adalah ketika ia secara tiba-tiba ke Jakarta saat ayah saya tiada dan ia menyusul kemudian kembali kepada Allah SWT tanpa saya bisa menjenguknya. Semoga Allah menerima Kanjeng Sultan dan Pak Royadin di sisiNya. Amin.

********

Iklan

Satu pemikiran pada “Kisah nyata: ketika Sri Sultan HB IX terkena tilang di Pekalongan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s