Belajar dari Bung Hatta

Sedang melakukan kekonyolan yg luar biasa: terjebak di dalam gedung kantor setelah semalam diserang pening dan tidak sanggup pulang.. Pagi semua terkunci dan satpam entah dimana, tak tampak 😦 Dan aku cuma menemukan biskuit dan kopi. Ah, biarlah..mari lakukan sesuatu yang masih bisa dilakukan (semoga peningnya ga muncul lagi).

Lalu kutemukan tulisan ini, tampak menarik untuk dibagikan. Dari tulisan kawan di fesbuk: Sunardian Wirodono, penggiat sastra dan media di Jogja.

***

DONGENG SEDERHANA MENGENAI BUNG HATTA

Pada Januari 1935, Bung Hatta dan kawan-kawan seperjuangan, tiba di Tanah Merah, Boven Digoel (Papua). Kepala pemerintahan di sana, Kapten van Langen, menawarkan dua pilihan: bekerja untuk pemerintahan kolonial dengan upah 40 sen sehari dengan harapan nanti akan dikirim pulang ke daerah asal, atau menjadi buangan dengan menerima bahan makanan in natura, dengan tiada harapan akan dipulangkan ke daerah asal. Hatta menjawab, bila dia mau bekerja untuk pemerintah kolonial waktu dia masih di Jakarta, pasti telah menjadi orang besar dengan gaji besar pula. Maka tak perlulah dia ke Tanah Merah untuk menjadi kuli dengan gaji 40 sen sehari.

Hatta memilih di penjara. Dan dalam pembuangan, Hatta secara teratur menulis artikel-artikel untuk surat kabar Pemandangan. Honorariumnya cukup untuk biaya hidup di Tanah Merah dan dia dapat pula membantu kawan-kawannya. Rumahnya di Digoel dipenuhi oleh buku-bukunya yang khusus dibawa dari Jakarta sebanyak 16 peti. Beberapa buku yang ditulisnya selama pembuangan itu, antara lain, “Pengantar ke Jalan llmu dan Pengetahuan” dan “Alam Pikiran Yunani”.

Pada awal Agustus 1945, Panitia Penyidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia diganti dengan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, dengan Soekamo sebagai Ketua dan Mohammad Hatta sebagai Wakil Ketua. Anggotanya terdiri dari wakil-wakil daerah di seluruh Indonesia, sembilan dari Pulau Jawa dan dua belas orang dari luar Pulau Jawa. Pada tanggal 16 Agustus 1945 malam, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia mempersiapkan proklamasi dalam rapat di rumah Admiral Maeda (JI Imam Bonjol, sekarang), yang berakhir pada pukul 03.00 pagi keesokan harinya. Panitia kecil yang terdiri dari 5 orang, yaitu Soekamo, Hatta, Soebardjo, Soekarni, dan Sayuti Melik memisahkan diri ke suatu ruangan untuk menyusun teks proklamasi kemerdekaan. Soekarno meminta Hatta menyusun teks proklamasi yang ringkas. Hatta menjawab tangkas, “Bung yang menuliskan, saya yang mendiktekan,…” Dan Soekarno yang sama-sama keras kepala pun, menurutinya.

Jaman Perang Kemerdekaan, Indonesia harus mempertahankan kemerdekaannya dari usaha Pemerintah Belanda yang ingin menjajah kembali. Pemerintah Republik Indonesia pindah dari Jakarta ke Yogyakarta. Dua kali perundingan dengan Belanda menghasilkan Perjanjian Linggarjati dan Perjanjian Renville, tetapi selalu berakhir dengan kegagalan akibat kecurangan pihak Belanda. Untuk mencari dukungan luar negeri, pada Juli I947, Bung Karno memerintahkan Bung Hatta untuk meminta bantuan senjata kepada Jawaharlal Nehru. Cara untuk pergi ke India pun dilakukan secara rahasia. Bung Hatta memakai paspor dengan nama ‘Abdullah, co-pilot’. Lalu beliau berangkat dengan pesawat yang dikemudikan Biju Patnaik, seorang industrialis yang kemudian menjadi menteri pada kabinet PM Morarji Desai. Bung Hatta diperlakukan sangat hormat oleh Nehru dan diajak bertemu Mahatma Gandhi. Nehru adalah kawan lama Hatta sejak 1920-an, dan Gandhi mengetahui perjuangan Hatta. Setelah pertemuan, Gandhi diberi tahu oleh Nehru, bahwa ‘Abdullah’ itu adalah Mohammad Hatta. Apa reaksi Gandhi? Dia marah besar kepada Nehru, karena tidak diberi tahu yang sebenarnya. “You are a liar!” ujar Mahatma Gandhi sang kharismatik itu. Bisa jadi, itu satu-satunya kebohongan Bung Hatta, demi kemerdekaan Indonesia.

Salah satu yang menonjol dari Hatta, tentu kesederhanaannya. Sri Mulyani Indrawati, mantan Menkeu RI, pernah membuat analisis bagus, bahwa salah satu faktor kebangkitan ekonomi nasional di periode awal paska krisis moneter (sekitar Tahun 1999 hingga 2001) adalah karena adanya semangat “menunda berkonsumsi”. Bedanya, Sri Mulyani berteori, sementara Hatta mempraktikkannya. Menurut Hatta, rakyat Indonesia harus pandai menunda hasrat berlebihan dalam mengkonsumsi.

Dongeng menunda konsumsi Hatta ini menjadi sangat klasik, seperti bagaimana ia mesti menabung untuk membeli sepatu Bally. Bung Hatta menggunting sepotong iklan dari koran, ia simpan baik-baik dan disisipkan di meja kerjanya. Guntingan “pariwara” koran itu adalah tentang produk sepatu Bally yang ia idam-idamkan, yang tidak pernah kesampaian hingga akhir hayatnya. Padahal, waktu itu beliau adalah wakil presiden sebuah negara dengan penduduknya yang puluhan juta. Bukankah Bung Hatta sebenarnya bisa menggunakan kekuasaanya sebagai wapres? Dan berlusin-lusin sepatu Bally akan datang ke rumahnya? Tetapi si Bung sanggup menahan diri. Menunda konsumsi.
Konon pula, si Bung pernah ditawari oleh produsen mobil Ford, untuk membangun jalan lintas se-Sumatera, dengan syarat produk-produk Ford bebas diperjualbelikan di Indonesia. Bung Hatta menolak. Bukan karena tak butuh jalan, tetapi khawatir rakyatnya keranjingan mobil Ford, sesuatu yang belum pantas saat itu.

Bahkan soal air mandi pun, Hatta sangat hemat. Sewaktu di pengasingan, Bung Hatta sangat “dibenci” oleh sahabat-sahabatnya hanya gara-gara soal air di kolam pemandian. Si Bung tahu persis, berapa gayung harus dikucurkan untuk membersihkan seluruh tubuh. Ia memperlakukan air dengan sangat hemat. Wakil Presiden pertama RI itu marah jika kawan-kawannya boros air. Masalah sepele? Mungkin. Tapi bayangkan Indonesia sekarang, ada daerah banjir, ada daerah kekeringan, ada orang memandikan mobil dengan mengocorkan air seboros-borosnya.

Wakil presiden yang menggunakan mobil dinas De Soto ini, bukan fasilitas negara. Itu mobil hadiah seorang pengusaha, Djohan Djohor. Kenapa beliau mau menerima pemberian seorang pengusaha? Karena Djohan Djohor kebetulan adalah pamannya. Sang Paman mengancam, jika tidak mau menerima mobil pemberiannya, itu sama saja mempermalukan perjuangan rakyat Indonesia! Entah bagaimana logiknya, Hatta yang selalu menolak pemberian pengusaha itu, akhirnya menerima. Jangankan sepatu Bally yang waktu itu harganya selangit, barang lain yang juga tak mampu dibelinya adalah mesin jahit, yang juga sudah lama didambakan sang istri. Waktu itu, memang Hatta sudah mengundurkan diri dari jabatan wakil presiden, 1 Desember 1956. Uang pensiun yang diterimanya sangat kecil. Uang pensiun sebagai wapres itu, hampir sama dengan Dali. Pelukis Salvador Dali? Bukan, ini nama sopir Bung Hatta yang digaji pemerintah.

Dalam kondisi seperti ini, keuangan keluarga Bung Hatta memang sangat kritis. Sampai-sampai, pernah suatu saat Bung Hatta kaget melihat tagihan listrik, gas, air, dan telepon yang harus dibayarnya. Menghadapi keadaan itu, Bung Hatta tidak putus asa. Dia semakin rajin menulis untuk menambah penghasilannya. Baginya, biarpun hasilnya sedikit, yang penting diperoleh dengan cara yang halal. Itu sebabnya, mengapa Bung Hatta mengembalikan sisa uang yang diberikan pemerintah untuk berobat ke Swedia. Itu dilakukan, karena sepulang dari Swedia, Bung Hatta mendapati bahwa uang tersebut masih bersisa, dan dia merasa itu bukan haknya.

Bung Hatta, adalah seorang pendiam. Namun pernah suatu ketika, ia berpidato di Lapangan Ikada (sekarang Lapangan Merdeka) pada tanggaI 8 Desember 1942. Cukup menggemparkan banyak kalangan. Ia mengatakan, “Indonesia terlepas dari penjajahan imperialisme Belanda. Dan oleh karena itu saya tak ingin Indonesia menjadi jajahan kembali. Tua dan muda merasakan ini setajam-tajamnya. Bagi pemuda Indonesia, saya Iebih suka melihat Indonesia tenggelam ke dalam lautan, daripada mempunyainya sebagai jajahan orang kembali,…”

Jadi pengen nyanyiin lagunya Iwan Fals..

sumber tulisan: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=3132753848877&set=a.1390672857941.2052602.1565711715&type=1

Iklan

7 pemikiran pada “Belajar dari Bung Hatta

    • jadi judulnya: mari berandai2 ya, mbak? 🙂
      tapi setidaknya masih ada yg bisa kita contoh buat sehari2 kita kan, mbak ya.. ide “menunda konsumsi” itu terdengar sederhana, tapi itu luar biasa dan menjalankannya pun pasti berat. serbuan produk kapitalis sangat luar biasa.. tapi setidaknya sangat perlu kita coba. setuju kan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s