The Iron Lady: ajangnya sang diva Hollywood, Meryl Streep

Akhirnya ketemu waktu juga untuk nonton film ini. Setelah datang ke acara peluncuran buku, ketemu partner nonton..jadi deh 🙂

Menyebut “Iron Lady” sebagian besar orang akan langsung mengasosiasikan dengan sosok perempuan kuat Inggris yang selama lebih dari satu dekade menjadi perdana menteri (1979-1990). Yup, Margaret Thacher. Film ini memang berkisah tentang perempuan yang bisa dikatakan sebagai perempuan pertama dengan peran kuat di kancah politik tersebut. The Iron Lady tampil dalam 2 sosok, ketika muda (Alexandra Roach) dan tua (Meryl Streep).

Film menggunakan alur maju mundur, dari masa kini ke masa lalu, saat Thacher muda mengawali kariernya. Bagaimana perjuangan gadis muda penuh ambisi itu memulai perjalanan karirnya di dunia politik, saat mulai masuk partai Konservatif Inggris hingga mencalonkan diri menjadi ketua partai yang seklaigus menjadi Perdana Menteri Inggris. Kemajuan berpikirnya dan ketegasan sikap merupakan kunci Thacher yang lantas mendapatkan dukungan untuk menduduki kursi pemerintahan tertinggi di negara Inggris tersebut.

Satu dekade bukanlah masa yang singkat. Konstelasi politik mengalami banyak perubahan. Tentunya sulit untuk menampilkan seluruh konflik dengan drama yang sempurna dalam sebuah durasi singkat film. Begitupun yang muncul di film ini. Penggambaran ditekankan pada ketegasan Thacher yang sanggup membawa kemajuan, baik di bidang ekonomi, sosial dan politik untuk Inggris. Kemudian kegagalannya karena keputusan-keputusannya yang kontroversial dan sikap keras yang dinilai berlebihan oleh sebagian koleganya, para kolega yang akhirnya menyingkirkannya. Dan berakhir pada frustasi yang berbarengan dengan pertambahan usianya yang makin menua.

Secara keseluruhan sebetulnya film ini tampil seperti film biopik pada umumnya. Yang membuatnya berbeda adalah sang tokoh sentral yang diperankan dg sangat baik oleh Meryl Streep (dan karena namanya pula aku pengen nonton film ini). Meryl Streep tampil sempurna di film ini. Baik dari bahasa tubuh, logat bicara, maupun emosi yang sangat kuat dalam menggambarkan berbagai ekspresi. Penampilan Streep didukung oleh tata rias yang sangat detil dan membuat tampilan Streep benar-benar menyerupai Thatcher, baik ketika masih menjabat sebagai perdana menteri yang cantik bersinar hingga ketika ia telah menjadi sosok rapuh yang menderita demensia.


Menurutku Meryl Streep memang nyaris tak pernah gagal dalam memainkan perannya. Tengok saja perannya di Kramer vs Kramer, Out of Afrika, Devil wears Prada, Julie and Julia, dan banyak filmnya yang lain. Ia seolah tau betul karakter orang yang dilakonkannya. Maka menjadi penting memang untuk sekedar tahu sejarah Britania Raya di bawah pemerintahan Thacher. Termasuk kisah hidupnya baik di masa kecil, di masa remaja dengan kemampuan pikir yang bahkan melampaui para laki-laki yang ketika itu lebih banyak berkuasa, bagaimana dia mengendalikan pemerintahan, dan kisah pasca dia berkuasa dan segala sindrom dan sakit yang dideritanya. Karena kalau tidak, sebagai sebuah film biopik film ini juga tidak cukup lengkap menjawab kebutuhan penonton akan pengetahuan terhadap salah satu sosok yang berpengaruh di abad 20 ini.


Dan sekali lagi, karena kalau tidak kita hanya akan melihat permainan sang tokoh utama saja; rangkaian cerita tidak cukup tergarap apik, hanya tampak seperti potongan kisah yang digarap bolak-balik dan para pemeran pendukung tidak tampil optimal karena kurangnya pendalaman karakter. Kecuali kalau tujuan nontonnya seperti aku, melihat penampilan Meryl Streep, kita akan benar-benar terpuaskan.

Sutradara: Phyllida Lloyd
Produser: Damian Jones
Penulis: Abi Morgan
Pemain: Meryl Streep, Jim Broadbent, Anthony Head, Richard E Grant, Alexandra Roach, Harry Lloyd, Olivia Colman, Nicholas Farrell, Paul Bentley, Robin Kermode, John Sessions, Roger Allam, Michael Pennington, Angus
Wright, Julian Wadham, Reginald Green, Teresa Mahoney, Mary Robinson, Nick Shaw
Musik: Thomas Newman
Sinematografi: Elliot Davis
Editing: Justine Wright
Studio Film4/UK Film Council/Canal +/CinéCinéma/Goldcrest Film Production LLC/DJ Films/Pathé
Durasi: 105 menit

Iklan

6 pemikiran pada “The Iron Lady: ajangnya sang diva Hollywood, Meryl Streep

    • si cavill itu maen apalagi sih? aku ga begitu tau.. taunya dia sebagai cowo ganteng kurang ajar di the tudors hehe.. tp body language dan penguasaan dialek meryl emang jago. btw kok lama ga resensi film dikau?

      • Aku malah Tudors yang belum nonton, dia terakhir main di film The Immortals (2011), sebelum Tudors, dia main di film Tristan + Isolde (2006) dan Stardust (2007)

        Hehe, iya lama nih, sebenernya sudah ada 4 postingan yang mau kubuat, pertama mini resensi 9 film terbaik oscar, The Iron Lady ini, Being Elmo: A Puppeter’s Journey dan satu postingan gambar. Tapi karena yang difokuskan dulu adalah Oscar, sedang salah satu film yang masuk nominasi belum juga tertonton, mangkrak semua deh.

        Plus, kemaren masih ada acara keluarga, *yang terakshir gak begitu penting* 🙂

  1. yup,ni film kayanya emang berantakan—dan ga lebih dari semacem dokumenter kehdupan MT,
    jadi kaya datar2 aja ceritanya..padahal klo mau digali,banyak bgt momen penting khidupan MTyg bkal bgus dijadiin ‘konflik’

    Yeah…Meryl-lah penyelamat ni film

      • The Lady-nya Michele Yeoh?
        blom nonton saya…berhubung ga ada buzz-nya and reviewnya juga ga gimana2,jadi blom ada niat nonton,hehe

        Kalo The Iron Lady,walo filmnya sendiri berantakan,tp wktu itu buzz-nya kenceng (Meryl.of course),hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s