Pada Sebuah Kapal aku mengenalnya.. (selamat ultah Nh. Dini!)

Pada sebuah siang, 3 tahun lalu, aku bertandang ke kantor istri sepupuku di Semarang. Dia punya usaha makanan kesehatan dengan metode mlm yg terbilang sukses. Setelah semalam menginap di rumahnya dan hanya mendengar ceritanya, siangnya aku menemuinya setelah beberapa jenak menyapa kota tua Semarang.

Saat aku datang, seorang perempuan paruh baya sedang duduk di kursi tamu bertanya ini dan itu tentang produk, cerita pengalaman konsumsi, dsb. Terdengar ceria dan sedikit cerewet. Bukan berarti negatif. Tak terlintas sedikit pun kesan itu, bahkan dari awal aku merasa bahwa dia adalah ‘seseorang’. Sambil melihat-lihat produk, sedikit mencuri dengar..diantaranya tentang mengajak teman-teman pengajar di Fakultas Sastra UNDIP untuk menggunakan produk tersebut. Hmm..mulai penasaran, siapakah dia?

Saat melihat tatapan antusiasku iparku langsung mengenalkanku. “Ibu ini penulis lho, bukunya banyak”. Kuduga dia tidak cukup hafal buku-bukunya makanya tidak memberiku judul. Hmm..dari usianya aku mulai menebak-nebak. Tapi khawatir salah, kuulurkan saja tanganku menyebut namaku. Dan ibu paruh baya inipun menyebut namanya: “Nh. Dini”

Wow! Sebetulnya bertemu dengan para penulis yang bukunya bertebaran di toko buku dan menjadi koleksiku dan banyak orang lainnya bukan hal yang aneh karena aku sering hadir di diskusi-diskusi sastra. Tp entah kenapa pertemuan dengan Nh. Dini membuatku takjub. Mungkin karena di tempat yang tak kuduga dan yang lebih tepat mungkin adalah karena aku melihatnya dalam kondisi sehat.

Tak lama sebelum pertemuan itu aku sempat membahas kondisi Nh. Dini dengan seorang kawan yang sama2 menyukai karyanya. Konon Nh. Dini sakit parah. Demi kesembuhannya bahkan ia sempat menjual barang2nya. Sumbangan pun mengalir dari para penggemarnya. Dewan Kesenian Jawa Tengah berperan aktif dalam upaya penggalangan dana tersebut. Bupati Jawa Tengah ketika itu juga mengulurkan tangan.

Saat kukonfirmasi, perempuan bernama lengkap Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin ini mengatakan kalau memang banyak pihak yang berisiatif membuka dompet peduli. Tampaknya email berantai masih terus berjalan bahkan setelah Nh. Dini sudah mendapatkan kesembuhan seperti saat kujumpai siang itu. Dan kukatakan pada Nh. Dini, aku gembira mendapatinya sehat 🙂

Aku mengenal karya Nh Dini sejak di bangku SMP saat pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Ketika itu salah satu bacaan wajibnya adalah Pada Sebuah Kapal (1972). Karya selebihnya baru kubaca ketika sudah kuliah antara lain La Barka (1975), Namaku Hiroko (1977), dan Pertemuan Dua Hati (1998). Karya2nya yang lain banyak kita jumpai dalam bentuk cerpen lepas, kumpulan cerpen, maupun novellet.  Yang menarik buatku adalah Nh. Dini menulis dengan gaya konvensional. Dan konsisten dari karyanya yang paling awal hingga yang terbaru. Menarik pula mencermati ide ceritanya yang sangat kental dengan pembelaan terhadap perempuan. Hal itu belakangan juga diakuinya sebagai keberpihakan terhadap keadilan gender. Untuk penulis pada jamannya ide tersebut tentulah sudah terbilang berani, setidaknya berbeda. Dan bahasanya pun santun. Perihal seks diceritakannya detil tapi tetap lembut meski ada keliaran di dalamnya (sangat terkesan dengan percintaan di La Barka).

Nh. Dini telah menulis sejak usia belasan. Di usianya yang ke-20, saat ia bekerja sebagai pramugari di Garuda Indonesia Airways, Dini menerbitkan kumpulan cerita pendeknya, Dua Dunia. Perempuan kelahiran Semarang, 29 Februari 1936 ini menjadi pemandu terbang selama 3 tahun. Selain sekedar singgah selama bekerja sebagai pramugari, sejumlah kota besar di beberapa negara pernah ia jelajahi dan diantaranya kemudian ia tinggali seperti  Jepang, Kamboja, Perancis, Amerika Serikati yakni saat ia menjadi istri seorang diplomat, Yves Coffin. Namun pada 1980 ia memutuskan kembali ke Indonesia. Pada 1985 ia baru mendapatkan kembali kewarganegaraannya setelah resmi bercerai dari Yves setahun sebelumnya. Akibat perceraian itu sendiri, mantan penyiar radio ini kehilangan hak asuh kedua anaknya, Marie-Claire Lintang (kini 51 tahun) dan Pierre Louis Padang (kini 45 tahun). Ia juga hanya mendapatkan  10.000 dollar AS yang kemudian malah digunakannya untuk membuat pondok baca anak-anak di Sekayu, Semarang. Bertahun-tahun kemudian Dini mengembangkan taman bacaan serupa di Jogjakarta.

Dini telah melahirkan 20 buku. Tapi hingga kini perempuan penyayang tanaman ini masih aktif menulis. Ia sekarang tinggal di tempat yang sudah direncanakannya jauh sebelumnya: Panti Wredha Langen Wedharsih, Ungaran.

Dan pada hari ini, hari yang hanya kita temui empat tahun sekali ini Nh. Dini bertambah usia. Selamat ulang tahun, Ibu Dini…tetap sehat dan aktif berkarya. Aku masih menunggu karya-karya berikutnya 🙂

dari beberapa referensi

Iklan

5 pemikiran pada “Pada Sebuah Kapal aku mengenalnya.. (selamat ultah Nh. Dini!)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s