Menjenguk Kota Apel (2 – Wisata Ziarah ke Gua Maria Pohsarang)

Mustinya keberadaanku di Malang dsk berakhir di hari Jumat (17/2). Tapi beberapa hari sebelum keberangkatan, ada ajakan dari  kenalan di fesbuk untuk hadir di peluncuran album Nagara Kretagama-Artmoschestra pada Sabtu (18/2). Menarik juga mengingat aku sudah lama menikmati Kota Malang. Maka jadilah extend..yang untungnya pesawat masih bisa digeser waktunya. Awalnya terpikir untuk mencari penginapan murah meriah dilanjutkan dengan kelayapan di seantero Malang. Tapi ada tawaran menarik: berziarah ke Gua Maria Pohsarang. Hmm, baiklah…

Perjalanan dimulai sekitar pukul 10 pagi. Saat sebagian peserta rapat menuju bandara, bertiga kami diantar oleh sopir seorang peserta rapat, warga Malang yang berbaik hati memfasilitasi perjalanan kami. Sebetulnya ini bukan saat yang baik untuk perjalanan ini. Beberapa hari di Pandaan tubuhku berusaha keras untuk melawan sakit. Begitu rapat kerja sudah selesai, makanan tertolak semua.. Maka jadilah melewati perjalanan dengan lemas. Akhirnya banyak moment yang tak terabadikan, terlewatkan begitu saja.

Dari Kota Malang kami melakukan perjalanan dari pintu keluar kota, Dinoyo, menuju kawasan Batu yang sudah kami kunjungi kemarin, Ngantang, Pujon, dst.. Ada satu kawasan yang ingin kami singgahi sebelum sampai di Pohsarang, yakni Kampung Inggris. Selain ingin tau informasi tentang kursus untuk musim libur, sebagai orang Jawa Timur penasaran juga. Masak selama ini ga ngeuh sama sekali dengan kawasan yang sudah banyak diberitakan media itu?! Sebelumnya sempat singgah di Pujon untuk membeli beberapa peralatan dan sayuran. Aneh juga ini Yuli, kawanku dari Lampung, belanja panci jauh2 ke Pujon xixixi..


Perjalanan pun dilanjutkan hingga tiba di Pare dan singgahlah kami ke Kampung Inggris. Kampung Inggris terletak di dua desa, Singgahan dan Tulungrejo. Dari jalan raya kita akan berjumpa dengan pintu gerbang dengan ucapan selamat datang ke Tulungrejo. Begitu masuk ke kawasan ini Anda akan langsung disambut dengan papan promo di hampir setiap bangunan. Baik promo tempat kursus, tempat tinggal, maupun rumah makan. Meski demikian terbilang bersih dan rapi. Mungkin bukan musim libur, maka kawasan ini tampak sepi. Hanya sesekali terlihat anak-anak muda jalan atau makan di tempat makan.


Konon di Kampung Inggris ini ada sekitar 80 tempat kursus atau camp (pondokan). Di wilayah ini peserta diwajibkan berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Saat kami singgah di sebuah rumah makan, tampak dua anak muda juga sedang berbincang asik dalam bahasa Inggris. Berapakah biayanya? Sekilas baca kulihat angka termurah untuk kursus sebesar Rp 75.000,- Dengan jam kursus paling pendek dan tanpa tempat tinggal. Karena ada tempat kursus yang sekaligus menyediakan camp. Selamat berburu untuk yang ingin mengkursuskan anak dan sanak keluarga.

*******

Dari Pare kami melanjutkan perjalanan ke Kota Kediri. Seperti tujuan semula: Gereja dan Gua Maria Pohsarang, yang berlokasi di Desa Pohsarang (dikenal juga sebagai Puhsarang), Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri. Mencarinya tidak sulit karena tempat ini sudah terdaftar dalam kawasan wisata religi Kota Kediri. Papan petunjuknya terpasang dengan jelas di jalur menuju lokasi. Kalau tidak menggunakan kendaraan pribadi, jalur kendaraan umum juga mudah. Dari Terminal Tamanan Kediri tinggal naik ojeg, tidak terlalu jauh.

Gereja dan Gua Maria Pohsarang awalnya pembangunannya hanya terdiri dari gereja dan sebuah ampiteater.  Gereja ini dibangun oleh Ir. Henricus Maclaine Pont pada tahun 1936 berdasarkan permintaan dari Pastor H. Wolters, CM yang memimpin Paroki Kediri pada waktu itu. Henricus sendiri dikenal sebagai arsitek yang menangani pembangunan Museum di Trowulan, Mojokerto, yang menyimpan peninggalan sejarah Kerajaan Majapahit.


Gereja Pohsarang memang mengadopsi kultur lokal Kerajaan Majapahit. Gereja tampak seperti perahu yang menempel di gunung. Gereja ini terdiri dari dua bangunan, yakni bangunan induk dan bangunan pendapa (lha kok potone ndak ada ya ;p). Di sebelah gereja juga dibuat Gua Maria dalam ukuran kecil. Maria di sini tampil beda dengan rambut digerai tanpa kerudung.

Lalu pada tahun 1986, dibangun Gua Maria yang lain di sebelah utara makam, berbarengan dengan renovasi bangunan gereja utama. Dalam perjalanannya umat yang datang berziarah bertambah banyak sehingga kemudian dilakukan perluasan. Penambahan fasilitas ini meliputi gereja yang dibuat dalam bentuk terbuka, atapnya yang menyerupai bangunan awal dengan lokasi di belakang gereja pertama. Ada pola salip di atap dengan genteng kaca.


Selain itu dilakukan pula pembangunan Gua Maria yang jauh lebih besar. Pembanguan Gua Maria Pohsarang ini sempat mengundang pendapat pro dan kontra. Persoalan sudah mulai muncul saat pembebasan lahan. Warga sekitar keberatan untuk menjual tanahnya. Namun dengan pendekatan yang dilakukan pihak Keuskupan Malang terhadap warga yang sebagian besarnya umat Katolik, akhirnya disepakati pembelian tanah mereka dengan harga yang jauh melampaui harga pasaran ketika itu. Meski demikian pro dan kontra tetap bermunculan. Banyak yang beranggapan ini sebagai proyek ambisius keuskupan. Namun pembangunan terus berjalan.

Gua Maria mengambil konsep Gua Maria Lourdes, Perancis, dengan tinggi mencapai 4 meter. Peletakan batu pertama dilakukan pada 11 Oktober 1998. Pembangunan berlangsung sekitar 3 bulan namun baru diberkati pada 2 Mei 1999. Sejak itu para peziarah berdatangan dari berbagai daerah di tanah air terutama pada hari-hari besar Katolik. Diantaranya neng Dhenok ;p


Tak jauh dari Gua Maria kita akan jumpai kawasan jalan salib. Sebanyak 14 peristiwa tertuang dalam rangkaian cerita melalui patung-patung berukuran besar berwarna emas.

***

Itulah perjalanan hari pertama. Lemes banget badan, tapi seru. Perjalanan kembali ke Malang pun lelap dalam mimpi panjang. Oiya…ini dia mereka yang kujumpai di perjalanan ini 🙂

Dan….si meong penjaga 🙂

~Bersambung~

Perjalanan sebelumnya: Menjenguk Kota Apel (1)

Iklan

2 pemikiran pada “Menjenguk Kota Apel (2 – Wisata Ziarah ke Gua Maria Pohsarang)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s