Menjenguk Kota Apel (3 – Inggil Museum Resto, berkuliner dan belajar sejarah)

Terjaga di sebuah kamar yang nyaman. Sudah pagi dan peningku sudah hilang. Hmm…saatnya menjelajahi kota. Setelah menikmati makan pagi bersama tuan rumah, aku terpikir untuk melihat lebih dulu lokasi launching album Artmoschestra: Nagara Kretagama United di Jl. Keramik Dinoyo. Ketemu! Kupikir aku akan berjumpa dengan kru yang sedang bersiap. Rupanya persiapan panggung sudah semalam dan tinggal persiapan akhir pada sore harinya.

Baiklah..kucoba menghubungi Mas Ahmad Nasuha dan Mas Ramdan Malik, dua LKer (komunitas Leo Kristi) yang mengajakku untuk datang ke acara ini. Mereka sudah tiba di Malang, dan singgah di Inggil Museum Resto, makan sambil menunggu LKers lain yang akan menjemput. “Pake angkutan yang ke Gadang” begitu aku disarankan seorang bapak yang kutemui di jalan. Kurasa Malang belum terlalu banyak berubah sejak terakhir aku berkunjung lebih dari 10 tahun lalu. Kecuali mungkin udaranya yang sudah terasa panas. Setelah ngobrol-ngobrol dengan sesama penumpang, akhirnya kutemukan tempat yang kucari: Jl. Gajah Mada no. 4. Rupanya aku salah memahami informasi “museum resto” dengan museum yang berlokasi di dekat stasiun kereta.

Menyusuri jalan yang adem di bawah rindang pohon-pohon besar aku bertemu dengan Mas Nasuha yang sebelumnya hanya kukenal lewat fesbuk. “Sorry, tangannya kotor,” ujarnya saat kusodorkan tangan. Lalu kami bergegas masuk ke dalam Inggil Museum Resto, bertemu dengan Mas Ramdan yang sebelumnya sudah pernah kutemui.

Dua laki-laki berkacamata ini rupanya sedang sibuk menikmati menu pesanan mereka: Trancam, Pecel Terong, dan Mendol. Konon pecel terong dan minuman Jamu Kebon Agung adalah menu andalan Inggil.


Tapi sebagainya bukan pemburu kuliner, aku lebih suka mencermati bangunan tempat makan ini. Menarik. Pada masa lalu, yakni masa pemerintahan Belanda sekitar tahun 1928-1935 bangunan ini menjadi rumah pejabat tinggi dan merupakan perumahan pertama di Kota Malang. Unik, karena gedungnya masih dipertahankan keasliannya. Namun sebagai sebuah resto, secara umum sebetulnya tidak terlalu berbeda dengan tempat makan lainnya, disediakan meja kursi dan balai untuk makan. Yang membuatnya berbeda adalah dekorasinya. Di segenap penjuru bangunan berarsitektur perpaduan Jawa dan Belanda ini kita bisa nikmati koleksi benda kuno dan bersejarah. Sejak pintu masuk kita disuguhi dekorasi unik, baik hiasan meja maupun pajangan dinding diiringi dengan uyon-uyon Jawa yang bikin adem.


Pada dinding bagian dalam terpampang aneka foto tentang sejarah Kota Malang dan sebuah foto yang besar mencolok dari para founding father negeri ini saat menghadiri Kongres KNIP yang digelar di Gedung Concordia (kini menjadi pertokoan Sarinah).

Kebesaran budaya peninggalan Kerajaan Majapahit, Demak, dan Mataram Islam juga menghiasi resto yang sedang menambah fungsi museum khusus di samping gedung utama. Benda-benda unik juga menghiasi sisi dinding bagian dalam: poster-poster jadul, tulang kerbau yang berusia ratusan tahun, mesin tik-setrika-radio-tape-kamera jadul, alat-alat masak dan masih banyak lagi. Pada ujung ruang belakang ada sebuah panggung pertunjukan tobong 1930-1940.

Satu yang cukup menarik perhatianku adalah wayang kulit.


Wayang kulit ini konon khas Jawa Timur, lebih langsing daripada wayang Jawa Tengahan atau Jogja. Wayang yang didapatkan dari daerah Gubuk Klakah Kabupaten Lumajang ini konon sudah berusia 100 tahun. Yang menarik lainnya adalah box bola yang sering kita jumpai di area bermain anak, di sini dikemas dalam nuansa tradisional. Barangkali bertujuan mengenalkan anak pada wayang.


Belum tertelusuri semua. Anggota LKers yang ditunggu sudah datang. Mbak Ninuk Retno Raras yang juga penulis dan anggota komunitas pemburu batu (Bol Brutu) datang bersama Boen Mada dan Mas Widi, rombongan dari Jogja beserta keponakan cantiknya. Sebuah perjumpaan yang agak aneh. Tak disengaja, namun seperti dipertemukan dengan kerabat dekat karena Mbak Ninuk rupanya berasal dari kota yang sama denganku, Trenggalek. Bahkan sang suami, Eko Teguh -salah seorang dari sedikit ahli vulkanologi Indonesia- adalah tetangga dekat di kampung halamanku, Desa Bendo. Hmm..pertemuan tak terduga yang menyenangkan.

Tak lagi berlama-lama ada di dalam museum resto, karena agenda berikutnya sudah menunggu: berburu batu. Tapi suatu kali aku berharap bisa kembali ke tempat ini, semoga ketika museumnya sudah siap dikunjungi. Tapi sebagai catatan untuk Anda pemburu kuliner yang menyukai sejarah, resto ini sebuah pilihan yang menarik.

~Bersambung~

Tulisan sebelumnya:

Menjenguk Kota Apel 1 (Wisata Agrowisata Batu Malang)

Menjenguk Kota Apel 2 (Wisata Religi Gua Maria Pohsarang)

 

Perjalanan berikutnya:

Candi Singosari, sedikit dari sisa kejayaan Kerajaan Singosari

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s