SOEGIJA, Film tentang Kebangsaan, Kemanusiaan, dan Keimanan

Kemanusiaan itu satu. Kendati berbeda bangsa, asal-usul dan ragamnya, berlainan bahasa dan adat istiadatnya, kemajuan dan cara hidupnya, semua merupakan keluarga besar. Satu keluarga besar, dimana anak-anak masa depan tidak lagi mendengar nyanyian berbau kekerasan, tidak menuliskan kata-kata bermandi darah, jangan lagi ada curiga, kebencian, dan permusuhan.
(Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ)

“Mengalami kepemimpinan di masa lampau itu tidak gampang. Soegija berhasil dengan silent diplomacy dan kemanusiaannya. Soegija berhasil menunjukkan bahwa dasar dari seluruh nasionalisme adalah humanisme. Dan humanisme berdasar pada dialog antar multikultur.” Demikian dikatakan Garin Nugroho yang didaulat untuk menjadi sutradara film kolosal Soegija. Menurutnya isu tentang multikulturalisme penting untuk terus dimunculkan, di tengah aneka konflik di tanah air terkait persoalan kebangsaan. Ditambah lagi dengan krisis kepemimpinan yang saat ini menjadi kegundahan sebagian besar masyarakat.

Film Soegija mengambil setting masa perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia kurun 1940-1949, mengangkat kisah Mgr. Soegijapranata yang dikenal sebagai Pahlawan Nasional dan juga uskup pribumi pertama di Indonesia. Posisinya sebagai pemimpin Gereja Katolik saat itu tidak menghalanginya berjuang demi kemerdekaan bangsa Indonesia. Misalnya dalam perang 5 hari di Semarang, Uskup yang dikenal dengan kalimat “100 persen Katolik, 100 persen Indonesia” ini berhasil melakukan negosiasi dengan Jepang dan sekutu di Gereja Gedangan, tempat ia tinggal, untuk membuat gencatan senjata.

Dibutuhkan waktu 3 tahun untuk melakukan penelitian hingga film ini lahir dan akan tayang pada 7 Juni 2012 mendatang. “Tiga tahun lalu saya mulai melakukan riset berdasarkan buku Rm. Budi Subanar SJ sebagai peneliti dan penulis buku tentang Mgr Soegijapranata. Rencananya hanya akan dibuat dokumentasi dalam bentuk video. Baru pada 2 tahun lalu Djaduk Ferianto mempertemukan saya dengan Garin. Lalu mulai muncullah ide membuat film layar lebar,” ujar produser film dari SAV Puskat, Rm. Murti Hadi Wijayanto, SJ.

Dalam diskusi Film Soegija yang berlangsung di Gedung KWI, Jl. Cut Meutia 10, Jakarta, pada Minggu, 15 April 2012 ini hadir sejumlah narasumber lain diantaranya sejarawan Anhar Gonggong, kolumnis Sukardi, dan penulis buku Rm. Subanar. Hal yang menarik dari Soegija menurut Anhar adalah keluasan pikir dan tindaknya. Pada peristiwa pendudukan Jepang di Semarang, ia tidak hanya menyelamatkan umat Katolik namun juga bangsa Indonesia. “Dia bukan hanya uskup, dia pemimpin. Di tengah krisis musti ada orang yang bisa mengambil sikap dan melampaui dirinya. Itulah kategori pahlawan. Selain teruji sebagai pemimpin yang baik, ia memang layak disebut pahlawan,” kata Anhar.

Maka seperti digarisbawahi Garin, film yang mengambil setting lokasi Semarang, Jogjakarta, Klaten, serta Ambarawa dan sekitarnya ini bukanlah film dakwah melainkan film tentang kebangsaan, kemanusiaan, dan keimanan.

*******

Di film ini akan kita jumpai banyak lagu klasik yang barangkali sebagiannya sudah kita lupakan. Itu janji dari Djaduk Ferianto yang menjadi tim kreatif dan menggarap musik. Di antaranya 2 lagu kemarin ditampilkan oleh Endah Laras. Ini ekspresi penyanyi bernama lengkap Endah Purwani Laras saat membawakan Bunga Anggrek dalam diskusi kemarin. Selain menyanyi, perempuan asal Solo ini juga wasis bermain musik, diantaranya ukulele.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s