Hari Kematian Si Binatang Jalang

Foto Chairil Anwar yang sangat terkenal

KRAWANG-BEKASI

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi

(1948)

Seperti kebanyakan anak sekolah lainnya, akupun mengenali puisi di atas sebagai bagian dari pelajaran sekolah, ketika dimasukkan dalam buku wajib Bahasa dan Sastra Indonesia SMP. Ketika itu aku bukan penulis puisi dan aku juga tak mampu menulis puisi. Dan sampai sekarang juga bukan… (jadi maksudna naon nya? :D). Sekarang baru aku sadari betapa tidak menariknya pembelajaran sastra yang kudapatkan di bangku sekolah dulu. Barangkali karena sastra tidak dianggap materi yang penting sehingga kajian sastra di bangku sekolah tidak semuanya diberikan oleh guru yang tepat. Guru-guru yang ada hanya sejauh mengajarkan pelajaran bahasa saja.

Pada perjalanannya, komunitas dan teman-teman yang kujumpai banyak yang menjadi penggiat atau sekedar gandrung dunia seni dan sastra, akhirnya sedikit banyak mulai menyimak lebih teliti puisi-puisi yang kujumpai. Termasuk puisinya si abang yang satu ini. Dahsyat! Buatku Chairil Anwar penyair yang cerdas. Pada masanya, pada usianya, dia sanggup mendeskripsikan apresiasinya terhadap dunia sekitar dalam kalimat-kalimat terbatas yang bagus. Pemilihan katanya berbeda dengan para penyair yang muncul pada jamannya. Maka memang layak kalau laki-laki kelahiran Medan, 26 Juli 1922 ini disebut sebagai pelopor Angkatan ’45.

Selain kepiawaiannya mengolah kata, Chairil Anwar juga dikenal memiliki kehidupan yang ganjil. Perokok berat ini divonis TBC karena buruknya gaya hidupnya. Konon ia juga gemar mengutil buku. Para pedagang buku di Kwitang (Jakarta Pusat) kabarnya tau betul kebiasaan Chairil Anwar, namun tak satupn yang melarang atau menindak. Mereka hanya semakin meningkatkan pemantauannya saja. Chairil juga diketahui gemar menggauli kehidupan malam; namanya juga dihubungkan dengan sejumlah nama perempuan. Namun di sisi lain, ia bahkan tak mampu mengungkapkan rasa pada cinta sejatinya, Sri Ayati, yang kemudian hanya dia ungkap dalam puisinya: Senja Di Pelabuhan Kecil.

Satu karyanya barangkali yang mengungkap betul siapa Chairil, bagaimana dia sebagai pribadi dan pemosisian diri di tengah lingkungan sosialnya ketika itu.

AKU

Kalau sampai waktuku
Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

Maret 1943

Ya, dialah Si Binatang Jalang, yang ingin hidup seribu tahun lagi, tapi ketika ajalnya tiba, ia tidak ingin seorangpun meratapinya. Chairil Anwar meninggal dunia pada hari ini, 28 April, 63 tahun silam (1949). Ia tak meninggalkan apa-apa selain karyanya yang abadi.

Chairil Anwar dalam patung

Iklan

Satu pemikiran pada “Hari Kematian Si Binatang Jalang

  1. Biasanya orang yang senang sastra adalah ”pemberontak”, begitu ujar orang kebanyakan. pemberontak bukan dalam artian negatif tentunya. Dia kerap tak sepakat dengan realita atau imaji yang ditawarkan kehidupan umumnya. Seringkali sastra membentuk imaji yanglain dengan menguak citra yang tersembunyi, melihat sisi kehidupan yang tak nyata. Dan sastra kerap digunakan sebagai penyeru.. Setelah imaji kehidupan yang lain telah ia susun, maka ia menyeru masyarakat/pembaca dengan metafora yang ia bangun. yang ia inginkan bukanlah suatu bentuk dukungan atau minimal satu persetujuan, bukan pula pertentangan.
    Sebaliknya yang ia inginkan adalah pertanyaan.. Pertanyaan yang muncul dari masyarakat setelah tergelitik dengan metafora yang menggeliat sehingga tersibaklah kebenaran.. dan tersingkaplah apa yang tersembunyi.. sebuah pemaknaan diri dan alam, kehidupan, dan juga penciptaan. Seperti halnya seruan yang ingin diutarakan Chairil dalam setiap puisi-puisinya.

    Anak muda adalah bermanifestasi dan bercita-cita.. Seyogianya manusia bertindak atas empat kaidah: Kaidah benar-salah (logika), baik-buruk (norma), bijak-tidak bijak (etika) dan indah-tidak indah (estetika). Seyogianya pula yang akhir itu tak dapat digapai sebelum yang awal tercapai.

    Biasanya manusia harus menjadi orang benar dulu, baru menjadi baik. Setelah menjadi menjadi baik, barulah ia menjadi orang bijak. Dan kemudian setelah itu, jadilah manusia yang indah..

    Bagi anak muda, yang dekat dengan anti kemapanan dan dengan romantisme masa muda, ternyata kaidah diatas tidak berlaku sepenuhnya…karena anak muda mencampur yang awal dengan yang akhir. Antara logika, perasaan dan estetika.. menjadi pembela kebenaran sekaligus menggelorakan keindahan kata dalam koridor romantisme perjuangan atau penyebaran ide. Hal inilah yang membuat bahwa biasanya memang sastrawan lahir dari anak muda.. anak muda tidak perlu menjadi orang baik atau orang bijak, cukup ia menjadi orang benar. sehingga memang selalu ada benang merah antara sastra dan anak muda..

    Lantas apa yang bisa dilakukan oleh sastra?
    Bisakah ia mengubah gerak sejarah dan peradaban? Bukan tanggung jawab sastra untuk mengampu roda sejarah dan peradaban.. cukuplah sastra mewarnai peradaban dengan menyeru para aktor sejarah untuk selalu merefleksikan diri dan kehidupan.. disisi lain sastra adalah pembelenggu karena ia selalu mengikat manusia agar tak lepas dari pemaknaan kemanusiaannya..hingga masyarakat yang nirmakna tak perlu ada. Sastra adalah pembatas sekaligus pembebas..ia memberi narasi besar peradaban dan membatasi semuanya hingga tak lepas dari nilai kemanusiaan..
    Selalu ada benang merah antara sastra dan semangat muda. Entahlah itu juga berlaku dengan Dhenok Hastuti… hehehe..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s