Working Class Heroes, Wiji Thukul, dan Tukul Arwana (catatan kecil di Hari Buruh 2012)

BURUH-BURUH
(Wiji Thukul)

di batas desa
pagi-pagi
dijemput truk
dihitung seperti pesakitan
diangkut ke pabrik
begitu seterusnya

mesin terus berputar
pabrik harus berproduksi
pulang malam
badan loyo
nasi dingin

bagaimana kalau anak sakit
bagaimana obat
bagaimana dokter
bagaimana rumah sakit
bagaimana uang
bagaimana gaji
bagaimana pabrik? mogok?
pecat! mesin tak boleh berhenti
maka mengalirlah tenaga murah
mbak ayu kakang dari desa

disedot
sampai pucat
(solo, 4-86)

Kubaca puisi ini pada pagi tadi. Lalu melintas tanya iseng di kepalaku, apa jadinya kalau aku membuat pertanyaan ke sejumlah orang: “Tau Wiji Thukul ga?” Maka kubayangkan akan kudapat jawaban seperti ini:
A: Taulah…”kembali ke laptop”
B: Wiji Thukul? Tukul Arwana maksudnya?
C: Tau, yang bawain Empat Mata itu kan?
D: Think quick!

Lalu aku teringatkan pada lagunya John Lennon, Working Class Hero. Kubuka folder koleksi The Beatles-ku, kuputar dan kudengarkan. “A working class hero is something to be,” begitu katanya.

Apakah kita selalu butuh pahlawan? Barangkali. Barangkali kita memang membutuhkan sosok yang setidaknya mampu menumbuhkan gairah, mengembalikan semangat yang melemah karena benturan keadaan, mengingatkan idealisme semula, mempertahankan mimpi-mimpi yang dalam dunia nyata bagai utopia semata. Pertanyaannya: pahlawan yang seperti apa?

Berangkat dari pertanyaan iseng sebelumnya, mencoba melihat dua sosok yang kebetulan memiliki sejumlah kemiripan itu: Wiji Thukul dan Tukul Arwana.

Kedua laki-laki ini lahir dari provinsi yang sama, Jawa Tengah. Wiji Thukul yang lahir di Solo, hanya selisih 2 bulan lebih tua dibandingkan Tukul Arwana. Mereka lahir di tahun yang sama. Keduanya berangkat dari kalangan yang terbatas secara finansial. Saat keluarganya kesulitan membiayai sekolahnya, Tukul Arwana (lahir di Semarang, 16 Oktober 1963) berkeliaran di jalan menjadi sopir angkutan. Selain itu laki-laki yang lahir dengan nama Riyanto ini juga memanfaatkan kemampuannya melawak untuk menyokong kebutuhan ekonomi keluarganya. Keadaan yang tak kunjung membaik membuatnya berpikir untuk hijrah ke Jakarta. Mengubah nasib di ibukota, seperti harapan banyak orang.

Nasib baik memang berpihak padanya. Meski tidak berjalan mulus, akhirnya Tukul mengalami perjumpaan dengan media massa: menjadi penyiar radio, bintang video klip, hingga bergabung dengan Srimulat. Kemampuannya yang cepat menemukan ide segar merespon banyolan ditangkap dengan baik oleh pengelola media tv yang lalu memberinya sebuah ruang khusus. Maka berkibarlah namanya. Lalu seperti lazimnya media yang telah menjadi industri, hukum pasar pun berlaku. Minat pasar yang besar, rating yang tinggi, jam tayangpun ditambah. Keunikan itupun hilang. Tayangan itu di mataku tak ubahnya tontonan populer yang menjemukan. Terlebih ketika perempuan lebih banyak diposisikan sebagai objek.

Terlepas dari penilaian subjektifku, Tukul Arwana mungkin sudah menjadi pahlawan. Euforia sentimen irasional ‘wong cilik’ yang melihat sosok dari kalangannya bisa muncul meraksasa sedemikian rupa. Dilengkapi dengan buaian mimpi akan kemewahan yang telah dimahfumi dan diterima sebagai sajian yang wajar dari sebuah industri media. Lantas bagaimana dengan Wiji Thukul?

Laki-laki bernama asli Wiji Widodo (lahir di Sorogenen, Solo, 26 Agustus 1963) ini dibesarkan oleh keluarga tukang becak. Ia gemar menulis puisi sejak SD dan melanjutkannya dengan dunia teater saat masuk bangku SMP. Thukul sempat mengenyam pendidikan hingga kelas dua Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Solo jurusan tari. Untuk menunjang hidupnya dan keluarganya, Thukul bekerja sebagai pedagang koran, menjadi calo karcis bioskop, dan menjadi tukang plitur di sebuah perusahaan mebel. Meski demikian ia aktif mengajak anak-anak di kampungnya untuk berkegiatan teater dan dan melukis. Ia juga bergabung dengan Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (Jakker).

Sejak semula Thukul sudah terlibat dalam sejumlah aksi massa. Pada tahun 1992 ia ikut demonstrasi memprotes pencemaran lingkungan oleh pabrik tekstil PT Sariwarna Asli di Solo. Lalu pada 1994 ia pernah ditangkap dan dipukuli militer karena memimpin aksi massa petani di Ngawi. Tahun 1995 ia mengalami cedera mata kanan karena dibenturkan pada mobil oleh aparat sewaktu ikut dalam aksi protes karyawan PT Sritex. Thukul terlibat aktif dalam proses pembentukan Partai Rakyat Demokratik, PRD. Lima hari setelah deklarasi PRD, terjadi kerusuhan, penyerbuan Kantor DPP PDI Megawati di Jalan Diponegoro, Jakarta. Pada peristiwa 27 Juli 1996 tersebut pihak militer menuduh PRD sebagai dalang. Partai dan organisasinya dilarang, tapi Thukul tetap bergerak. Puisi-puisinya muncul di bawah tanah, baik terbit di majalah PRD Pembebasan maupun dalam bentuk fotokopi. Tersebar dari tangan ke tangan. Satu bait dari puisinya yang berjudul Peringatan menjadi sangat terkenal dan terus diteriakkan dalam berbagai aksi mahasiswa di berbagai kota, yaitu “hanya ada satu kata, lawan“.

Rekam jejak Wiji Thukul menunjukkan masih ada komunikasi antara dia dan kawan-kawan aktivisnya pada tahun 1998, sebelum kemudian menghilang. Pada April 2000, istrinya, Sipon menyampaikan laporannya ke Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras).

Sudah jelang petang, John Lennon masih bernyanyi: “A working class hero is something to be…”

Dan malam nanti, sementara layar dengan gambar bergerak menampilkan para perempuan berpupur tebal, bergincu merah, dan bergaun indah tertawa ceria di antara gurauan yang entah artinya apa, seorang perempuan di sebuah sudut kota lain sedang mengingat ungkapan suaminya:

aku pasti pulang
mungkin tengah malam dini
mungkin subuh hari
pasti
dan mungkin
tapi jangan
kau tunggu

(15 Januari 1997)

Lima belas tahun sudah berlalu. Pada akhirnya ungkapan itu hanya menjadi Catatan, persis seperti sang suami menjuduli puisinya.

*1 Mei 2012: untuk semua yang terpinggirkan… (oleh hegemoni kekuasaan, apapun wujudnya)

***

mengurai ketegangan dengan..biasa…meong 🙂

Iklan

3 pemikiran pada “Working Class Heroes, Wiji Thukul, dan Tukul Arwana (catatan kecil di Hari Buruh 2012)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s