Kecelakaan SUKHOI dan bias informasi di media

Pesawat SUKHOI mengalami kecelakaan. Dan media pun menjadi sarana penyebar informasi tercepat. Bukan sebatas informasi tapi juga spekulasi.

Inilah hasil googling-ku kemarin terkait informasi jatuhnya Sukhoi.

***

Spesifikasi Pesawat (sumber Antara):

1. Sukhoi Superjet 100 (SSJ100) merupakan pesawat kategori penumpang yang dibagi dalam dua jenis kapasitas, 75 orang dan 95 orang.
2. Setiap pesawat Superjet 100 didukung oleh mesin SaM146 turbofan baru yang dikembangkan oleh PowerJet.
3. Kecepatan maksimal pesawat yang diproduksi perdana pada 2007 itu adalah 0,81 mach (992,29 kilometer per jam) dengan ketinggian terbang maksimum 12,5 kilometer.
4. Berat maksimum yang dapat ditahan ketika ‘take-off’ 38.8 ton, 35 ton ketika mendarat, dan berat kosong 9,13 ton.
5. Pesawat yang melakukan terbang perdana pada 19 Mei 2008 itu memilki dimensi panjang 26,44 meter, tinggi 10,283 meter, dan lebar sayap 27,80 meter.
6. Pesawat itu dikendalikan oleh dua pilot itu membutuhkan landasan dengan lebar 1,803 kilometer untuk terbang.
7. Jarak tempuh yang dapat dicapai Sukhoi Superjet 100 kapasitas 95 kursi adalah 3.279 kilometer dan 4.620 kilometer untuk versi Superjet 100-95LR.
8. Di sisi interior, kabin pesawat superjet 100 kelas bisnis terdiri dari empat kursi dalam satu baris dan kelas ekonomi terdiri dari lima kursi dalam satu baris.
9. Dimensi lebar kabin pesawat 127,48 inci (3,22 meter), ketinggian kabin 2,12 meter, dan jarak lebar antar kursi 18,31 inci (0,47 meter).
10. Sukhoi Superjet 100 memiliki fitur sistem kontrol elektronik ‘fly-by-wire’ yang dapat menambah dan mengurangi gigi untuk pendaratan, selain sistem rem sebagai kestablilan pesawat ketika mehanan berat. (I026)

Berikut adalah nama-nama penumpang pesawat angkut sipil Sukhoi Superjet 100 (SSJ-100) berdasarkan data manifes yang ditempel Pusat Penanganan Krisis di Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta pada hari Rabu:

1. Kornel Sihombing (PT Dirgantara Indonesia)
2. Edie Satriyo (Pelita Air)
3. Darwin Pelawi (Pelita Air)
4. Gatot Purwoko (Airfast)
5. Budi Rizal Putra (Arta Dirgantara)
6. Syafrudin (Tartendran Mandiri)
7. Peter Adler (Sriwijaya)
8. Herman Suladji (Air Maleo)
9. Donardi Rahman (Avia Star)
10. Eloni (Kartika Air)
11. Nurdiana Wiganda (Kartika Air)
12. Arief Wahyudi (TR)
13. Nan Tram (Snecma)
14. Ruli Dermawan (Indo Asia)
15. Ahmad Faisal (Indo Asia)
16. Insan Kamil (Indo Asia)
17. Edward Edo M.
18. Ismie (Trans TV)
19. Aditya Sukardi (Trans TV)
20. Indra Halim (KAL)
21. Rietyan S. (KAL)
22. Doddy Aviantara (Majalah Angkasa)
23. DN Yusuf (Majalah Angkasa-Komando)
24. Femmi (Bloomberg)
25. Stephen Kanali (Kartika Air)
26. Capt Aan (Kartika Air)
27. Yusuf Adi Wibowo (Sk Aviation)
28. Maria Marcela (Sky Aviation)
39. Henny Stevany (Sky Aviation )
30. Maisyarah (Sky Aviation)
31. Dwi Mutiara (Sky Aviation )
32. Susana Vamela (SkyAviation )
33. Nur Ilmawati (Sky Aviation)
34. Rossy Willem (Sky Aviation )
35. Anggi (Sky Aviation)
36. Aditya (Sky Aviation)
37. Efami (Kartika Air)

Daftar Nama 8 Kru Pesawat Sukhoi Superjet 100 :
1. Pilot uji coba Aleksandr Yablontsev
2. Co-pilot Aleksandr Kotchetkov
3. Navigator udara (Aero Navigator) Oleg Shvetsov
4. Teknisi penerbangan Aleksey Kirkin
5. Pemimpin teknisi uji coba penerbangan Dennis Rakhmanov
6. Kepala deputi uji coba penerbagnan Nikolay Martyshenko
7. Direktur Penjualan perusahaan Sukhoi Evgeny Grebenshchikov
8. Manajer kontrak Kristina Kurzhukova.

Koreksi dari versi detik = 47 orang

*
Dan ini foto terkait pesawat Sukhoi Superjet 100 yang jatuh di sekitar Gn. Salak – Bogor, Jawa Barat.


Foto-foto di atas merupakan koleksi pribadi dari salah seorang Blogger Rusia, Sergey Dolya (sergeydolya.livejournal.com) yang ikut dalam delegasi Sukhoi. Melalui akun twitter @dolyasergey yang diunduh sebelum terjadinya peristiwa naas tersebut.

***

Lalu kubaca pula pernyataan Anggota DPR RI Yudi Widiana Adia dan Roy Suryo. Bertanya-tanya dengan pernyataan dan kompetensi mereka. Ini spekulasi. Belum lagi para seleb yang ikut-ikutan dimintai komentar tak sesuai kapasitasnya.

Kutemukan pula tulisan ini di wall fb seorang kawan. Mari kita baca dulu…

*

Membantah ulasan yang tak bertanggung jawab
by Fadjar Nugroho on Thursday

Sebuah kecelakaan penerbangan terjadi. Seperti biasa, ulasan sampah mengalir di media massa. Mulai dari penerbang sampai yang mulia anggota dewan. Semuanya berebut menjadi ahli penerbangan instan juga paranormal. Berikut adalah beberapa FAQ yang mungkin bisa menjawab penasaran anda:

1. Ruang hampa: Tidak ada ruang yang bernama ruang hampa di atmosfir bumi. Yang ada adalah turbulensi, itupun dipelajari oleh penerbang untuk mengenali turbulensi.
2. Percakapan pilot dan ATC: Secara umum ada 2 jenis penerbangan yang mempengaruhi percakapan ATC dan pilot: VFR (Visual Flight Rules) dan IFR (Instrument Flight Rules), yang boleh di IFR belum tentu boleh di VFR begitu pula sebaliknya.
3. VFR: Pilot harus terbang melihat keluar dari kaca depan pesawatnya, kalau dia terbang VFR dan menabrak gunung, maka disiplin terbangnya diragukan karena dia berarti masuk ke daerah jarak pandang rendah . Di Indonesia VFR butuh jarak pandang 5 km untuk terbang di bawah 10 ribu kaki.
4. VFR clearance: Ijin ATC untuk VFR menunjukkan bahwa pilot harus terbang berdasarkan penglihatannya termasuk menghindari tebing, gunung, antenna, gedung dan lainnya. Dengan ijin VFR ini pilot bisa terbang di ketinggian di bawah puncak gunung. Contohnya terbang di 5000 kaki di dekat gunung yang ketinggiannya 7000 kaki.
5. ELT: Emergency Locator Transmitter adalah alat yang akan menyiarkan sinyal darurat di 3 frekuensi termasuk data satelit dengan mengirimkan lokasi terakhir dan registrasi pesawat. Harus ada di pesawat besar. ELT ini akan aktif pada saat terjadi benturan atau terendam air.
6. Pilotnya baru sekali terbang di Indonesia: Pertama kali terbang di satu daerah tidak mempengaruhi keamanan penerbangan.
7. Kabut adalah masalah bagi penerbangan visual, tapi kabut bukan alasan untuk menabrak gunung karena pada waktu akan masuk kabut, penerbangan visual bisa di cancel dan diteruskan dengan penerbangan IFR.
8. GPWS: ada alat yang bernama GPWS (Ground Proximity Warning System) yang akan berteriak dengan suara manusia kalau pesawat mendekati dataran tinggi.
9. Ada perbedaan antara pesawat jatuh dan menabrak gunung, sama dengan jatuh dari motor berbeda dengan menabrak tembok.
10. Juga ada perbedaan antara mendarat darurat dengan diversion (mengalihkan pendaratan). Mesin pesawat terbakar, maka pesawat mendarat darurat, kalau ada penumpang sakit lalu pesawat mendarat di tempat lain maka namanya diversion.
11. Sertifikasi diperlukan jika registrasi pesawat diubah menjadi registrasi Indonesia, jika tidak, maka sertifikasi dari negara asal sudah cukup, syaratnya negara tersebut mengikuti Chicago Convention.
12. Kunci semua pertanyaan anda ada pada black box atau kotak hitam yang berada dalam badan pesawat. Black box inilah yang merekam percakapan pilot-ATC pada Cockpit Voice Recorder (CVR) dan data-data penerbangan dalam Flight Data Recorder (FDR). Jadi jangan percaya semua analisa kacangan di media massa biarpun diberikan oleh orang terkenal sekalipun.
13. Analisa black box akan memakan waktu bulanan atau malah beberapa tahun. Jadi sabar saja menunggu laporannya sebelum mulai berkomentar.

Tolong forward atau share hal ini untuk menghentikan pembodohan bangsa oleh bisnis media massa yang kurang bertanggung jawab. Yang paling penting saat ini kalau tidak bisa turut serta langsung dalam proses pemulihan dalam sebuah kecelakaan adalah berdoa bagi para korban dan menolong meringankan beban keluarganya.

*

Catatan: Fadjar Nugroho saat ini tercatat sebagai pilot Qatar Air dan penulis di situs ilmu terbang (http://www.ilmuterbang.com)

***

Aku ingat 15 tahun lalu. Pesawat Trigana yang dioperasikan oleh Sempati Air jatuh di dekat bandar udara Margahayu Kabupaten Bandung dan menewaskan semua orang yang ada di pesawat. Pesawat gagal mendarat darurat. Itu adalah kali pertama aku mendapat tugas liputan lapangan. Korlipnya terlalu ambil resiko. Aku yang belum pernah sekalipun dibekali tugas liputan, terpaksa diturunkan karena saat itu kru belum banyak dan sedang libur hari besar. Akupun menuju lokasi peristiwa.

Bagaimana hasilnya? Gagal total. Saat itu aku masih kuliah dan mustinya masih hangat teori-teori tentang liputan radio siaran. Tapi tanpa pengalaman lapangan, tanpa briefing, tanpa pelatihan, hasilnya adalah nol besar.

Karena yang kulihat ketika itu adalah pesawat yang poranda (perjumpaan pertama yang tidak asik dengan sosok yang namanya pesawat udara). Aroma tubuh manusia yang terbakar. Petugas berseragam yang hilir mudik mengusung mayat-mayat yang berhasil dievakuasi. Warga yang berdesakan, sekedar ingin melihat dari dekat. Aku panik. Aku kalut. Dan aku mual.

Akhirnya tidak ada laporan langsung. Yang ada hanya percakapan dengan penyiar on air. Baru keesokan harinya upaya pencarian informasi dilakukan dengan lebih baik. Teknologi belum secanggih sekarang. Belum ada Om Google. Semuanya dilakukan secara manual. Itu pula yang menjadikan kami lebih hati-hati. Pencarian nama narasumber juga diusahakan setepat mungkin. Narasumber yang punya kapabilitas menjelaskan.  Selebihnya diarahkan ke layanan publik, dengan narasumber yang juga punya kapasitas untuk memberi keterangan. Korlip-ku pun harus mempertanggungjawabkan kepada manajer siaran karena penugasan terhadapku adalah sebuah kesalahan. Menugasi kru yang belum memiliki kemampuan atas tugasnya adalah keteledoran seorang koordinator.

Ini sempat menjadi obrolan nostalgiaku dengan seorang kawan beberapa hari lalu. Bicara tentang budaya kerja kami dulu dan melihat perkembangan teknologi yang demikian pesat. Dalam sepuluh tahun terakhir terasa seperti sebuah lompatan besar, seolah tak terasa detil di antaranya. Betapa akan lebih menarik ketika perkembangan teknologi masih dibarengi dengan budaya hati-hati, budaya teliti, budaya jeli seperti yang dibangun ketika segala sesuatunya masih dilakukan secara manual.

Sebagai -yang masih mengaku2 sebagai- orang media, aku sedih. Tak menutup mata memang terhadap keberadaan media yang masih mempertahankan etika jurnalisme, tapi lebih banyak lagi media yang sekedar muncul, bikin heboh, dan populer.

Semoga kita makin melek media dan tak mudah tergerus arus informasi akibat perkembangan teknologi informasi.  (Dan semoga diberikan ketabahan kepada keluarga korban kecelakaan Sukhoi di Gunung Salak.)

Iklan

Satu pemikiran pada “Kecelakaan SUKHOI dan bias informasi di media

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s