Bel Ami, film cinta abad 19 yang gagal

Baiklah, tampaknya siang ini saatnya menulis tentang Bel Ami, film yang kutonton minggu lalu. Seperti yang kubilang sebelumnya, film ini mengecewakan. Aku tak tertarik dengan Pattinson. Aku menonton satu episode Twilight, entah yang mana. Lalu Remember Me. Pada film yang kutonton kedua ini aku mulai pesimis dengan pemeran Edward Cullen di franchise Twilight ini.


Film dibuka dengan adegan Pattinson dalam suasana muram, muka kusut, rokok, dan kecoa. Berselang-seling dengan adegan pesta dengan suasana dan musik klasik. Di bagian ini mungkin para penggemar Pattinson sudah mulai jerit-jerit..hehe.. Justru dari sini aku sudah mulai putus asa dengan ekspresi depresi yang datar. Tapi aku coba menikmati suasana klasiknya. Aku selalu menyukai film klasik.

Bel Ami sendiri adalah film adaptasi novel karya penulis berdarah Perancis, Guy de Maupassant. Film ini berkisah tentang pemuda yang baru kembali dari perang di Aljazair dan mencoba peruntungan di Paris. Tidak memiliki cukup keahlian, si pemuda, George Duroy (Robert Pattinson), secara kebetulan berjumpa dengan kenalannya ketika menjadi serdadu, Charles Forestier (Philip Glenister). Charles mengundangnya untuk hadir dalam makan malam di rumahnya.

George lantas segera tahu, betapa di balik ketidakterlibatan perempuan dalam urusan publik, sesungguhnya mereka punya kontribusi besar dalam pengambilan keputusan. Madeleine (Uma Thurman), perempuan cerdas istri Charles memberitahu rahasia tersebut. Makan malam itupun menjadi ajang uji coba Madeleine untuk memberi George pembelajaran. Usulannya untuk menempatkan George di perusahaan surat kabar yang dipimpin  Monsieur Rousset (Colm Meaney), diterima.

Petikan rahasia yang disampaikan Madeleine menginspirasi George untuk mendapatkan keuntungan melalui para perempuan yang hadir di makan malam tersebut. Madeleine sudah terang-terangan menolaknya. Yang tersisa adalah Clotilde (Christina Ricci) yang genit dan Virginie (Kristin Scott Thomas), istri Rousset yang lebih berumur dan tenang.

Maka mulailah George melancarkan strateginya. Pendekatannya terhadap Clotilde berhasil. Ibu satu anak yang sering ditinggal pergi suami itu bahkan menyewa apartemen khusus untuk tempat pertemuan mereka. Dari seorang pemuda kere, George berhasil hidup layak. Pekerjaannya sebagai jurnalis di La Vie Francaise tetap berjalan, tentu saja dengan dukungan Madeleine karena kemampuannya sendiri nol besar. Tapi George adalah jenis manusia serakah, yang ingin
mendapatkan segalanya. “Love is not enough.” Begitu dikatakannya.

Ketika Charles mengalami sakit, George melihat peluang itu: mendekati Medeleine yang dari awal dikaguminya. Keberuntungan di pihaknya. Charles meninggal dan ia lantas menikahi Madeleine. Dia berubah menjadi Madame Rousset. Tapi ia salah besar. Madeleine adalah perempuan dengan obsesi. Dia punya aturan sendiri. George pun kemudian mencari jalan keluar lain: Virginie. Perempuan setengah baya itu tidak menolak. Merekapun bersama. Dengan jadwal berbeda, bercinta di apartemen yang sama. Apartemen yang disediakan Chotilde untuk mereka berdua.

George mengalami ketersinggungan yang luarbiasa. Pertama karena keberadaan laki-laki lain dalam hidup Madeleine dan tidak dilibatkannya dia dalam rahasia pemerintah menyerang Maroko. Membabi buta ia mencari jalan keluar. Mempermalukan Madeleine dan mengelabuhi putri semata wayang Virginie.

Pasti, sedikit banyak negatifku terhadap Pattinson mempengaruhi subjektivitasku menilai film ini. Tapi inilah yang sesungguhnya: Pattinson tidak melakukan apa-apa di film ini. Sangat datar. Bel Ami berkisah tentang seksualitas tapi sama sekali tidak sensual. Sebagai seorang laki-laki penggoda, Pattinson nyaris tanpa menunjukkan chemistry terhadap semua perempuan yang dikencaninya.

Uma Thurman dan Kristin Scott Thomas tentunya tidak diragukan. Nama mereka pernah muncul dalam daftar nominasi OSCAR dan menjadi langganan ajang penghargaan lainnya. Sosok Christina Ricci meski tidak cukup pas ada di era tersebut, ia berperan tidak buruk. Tapi itu  masih belum cukup untuk mendongkrak Pattinson tampil lebih optimal. Ditambah dengan plot cerita yang kurang kaya. Detil persoalan politik tak tertampilkan. Aku kurang menangkap proses politik abad 19 yang coba ditampilkan sebagai background di film ini.

Yang cukup disayangkan juga adalah duo Declan Donnellan dan Nick Ormerod, pendiri Cheek by Jowl yang notabene sudah terbiasa menggarap film klasik. Apalah daya, film ini tak bisa tampil sempurna. Bahkan untuk sekedar menjadi sebuah film hiburan pun tidak buatku.

Hmmm…mustinya siapa ya yang lebih tepat memerankan Georges Duroy? Ah, siapa aja deh, asal bukan Pattinson! Hahaha… Tapi ini serius. Kurasa kalau dia tidak berhasil membuka topeng Edward Cullen yang dingin dan tanpa ekspresi itu, ia tak akan pernah berhasil memerankan tokoh apapun.

Sutradara: Declan Donnellan, Nick Ormerod
Produser: Uberto Pasolini
Naskah: Rachel Bennette (screenplay), Guy de Maupassant (novel: Bel Ami)
Pemain: Robert Pattinson, Uma Thurman, Kristin Scott Thomas, Christina Ricci, Colm Meaney, Philip Glenister, Holliday Grainger, Natalia Tena, James Lance, Anthony Higgins
Musik: Lakshman Joseph De Saram, Rachel Portman
Sinematografi: Stefano Falivene
Editing: Gavin Buckley, Masahiro Hirakubo
Studio     Redwave Films
19 Entertainment
Protagonist Pictures
Rai Cinema
Durasi: 102 menit

Iklan

2 pemikiran pada “Bel Ami, film cinta abad 19 yang gagal

  1. Kalau dilihat dr awal sejarah Robert Pattinson sebagai Cedric Driggory, di Harry Potter Goblet of Fire…sebenarnya actingya jg tdk jauh beda dg Edward Cullen. Jadi memang dia sepertinya kurang bisa beracting. Hanya popularitasnya dia saja yg masih membuat para producer atau sutrada memilihnya. Saya curiga, jangan2 keseharian Rob Pattinson juga seperti itu???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s