Hari ini tanpa tembakau, besok bagaimana?

“Percumalah, hari ini diperingati sebagai Hari Tanpa Tembakau Sedunia tapi besok merokok lagi…” Banyak yang bilang begitu. Emang iya juga sih ya.. Tapi, gimana kalau diganti: “hari ini diperingati sebagai Hari Tanpa Tembakau Sedunia dan besok TIDAK merokok lagi?” 🙂


Sebagai mantan perokok, aku bisa mengerti kesulitan untuk berhenti merokok. Selain kandungan nikotinnya sendiri juga ada cukup banyak hal lain yang menjadi faktor. Apa saja itu? Berdasarkan survey dan coba kubandingkan dengan pengalaman sendiri:

1. Faktor sosial. Konon faktor terbesar dari kebiasaan merokok dipengaruhi oleh faktor sosial atau lingkungan. Pertama mencoba menghisap rokok betul-betul hanya penasaran, ingin tau. 1994. Berhubung baru kuliah dengan keuangan terbatas, merokok hanya sesekali aja. Dua taun kemudian masuk dunia kerja. Nah di sinilah terpupuk. Nyaris semua laki-laki merokok. Plus 2 perempuan. Masa itu perempuan merokok, terutama di tempat umum sangat jarang ditemukan. Aku ingat di kampus saja dulu hanya seniorku, Mona Sylviana (penulis), yang terlihat merokok di kantin. Beberapa kali aku memutuskan berhenti. Tapi berada di lingkungan yang relatif sama, memang agak susah. Bukan ga bisa lho, hanya agak susah.
2. Kebutuhan menghisap dan mengunyah. Ada hipotesis yang menyebutkan bahwa setiap orang memiliki kebutuhan untuk mengisap dan mengunyah yang merupakan kebutuhan bawaan lahir. Kebutuhan ini berangsur hilang saat dewasa, tapi pada sebagian orang masih ada sampai dewasa. Aku ga tau apa hipotesis ini berlaku terhadapku. Tapi kurasa substitusi dari rokok ke permen cukup membantu.

3. Respon mengulang otomatis. Gerakan mengambil sebatang rokok, menyalakan api, menekuk siku, mengangkat jari ke bibir, menjepit rokok ke mulut lalu menghisapnya itu adalah sebuah aktivitas rutin yang nikmat. Maka ketika duduk diam, keinginan itu seringkali cukup kuat menagih. Entah, bisajadi orang lain punya pengalaman respon mengulang yang berbeda. Tapi itulah yang pernah kualami.. Upaya mengusir hasrat itu ya musti menggantikannya dengan gerakan lain.

4. Nikotin sebagai “obat”. Nikotin memiliki efek penenang. Untuk jangka pendek ia memiliki beberapa efek anti-depresif. Aku mengalaminya betul. Dua peristiwa besar pernah kulewati, dan ketika itu rokok bener-bener menjadi sahabat yang sangat membantu. Ketika menghilangkan depresi ini menjadi kebutuhan, maka terjadilah kecanduan itu. Hoaaaa…

Setidaknya itu beberapa poin berdasarkan pengalamanku. Pernah berdebat dengan seorang kawan. Dia bersikukuh tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa rokok adalah penyebab semua penyakit yang selama ini kita kenal seperti gangguan jantung dan stroke. Menurutnya ada upaya dari pihak farmasi untuk mengkambinghitamkan rokok sebagai penyebab. Yo wis sak karepmulah hehe…

Yang pasti, pengalamanku menunjukkan rokok (nikotin) menjadi faktor resiko buruknya kesehatan. Efek terhadap tiap orang mungkin berbeda. Misalnya aku, dalam garis keluarga, dari sisi ibu lebih kebal terhadap nikotin, sedangkan dari sisi bapak lebih rentan mengalami gangguan karena konsumsi nikotin ini. Kita sendiri yang lebih bisa mengukur kadar kerentanan tubuh kita.

Aku sendiri mengalami jatuh bangun untuk berhenti merokok. Persoalannya bukan bisa atau tidak bisa, tapi mau atau tidak mau. Karena ketika “mau” maka persoalan “tidak bisa” akan selesai. Gampang amat yak bilang selesai?! Memang, tidak segampang itu. Sangat sulit malah…

Maka dibutuhkan alasan yang kuat, yang bisa dijadikan sugesti. Ingin tau alasanku?
1. Kesehatan. Pada kurun waktu tertentu aku mengalami gangguan kesehatan, paru-paru dan lambung. Dan pencetusnya jelas: rokok.
2. Konsistensi sikap. Menjadi aneh sendiri buatku, ketika mengatakan peduli lingkungan tapi tidak berhenti mengotori udara dengan asap rokok.
3. Rasa terimakasih. Berapa sering aku sakit, dan berapa banyak orang yang peduli? Betapa aku tak menghargai perhatian itu.. (makasih, kawans..untuk sudah menemaniku di saat sakit 🙂 )
4. Finansial. Para perokok akan selalu punya uang untuk rokok. Aneh ya? Tapi begitulah kenyataannya. Entah dari mana, tapi urusan rokok selalu terpenuhi 🙂 Kurasa lebih baik uang rokok kusimpan untuk meong-meong 😀

Itu beberapa alasanku. Silakan membuat alasan yang masuk akal untuk berhenti merokok. Pada titik-titik tertentu alasan-alasan itu bisajadi akan terdengar ga penting dan mengada-ada. Lalu akan muncul keinginan untuk merokok lagi. Aku pun mengalaminya, kawan. Di blog ini saja sudah dua kali kutulis soal berhenti merokok, catatan di tahun 2010 dan 2011. Tapi hingga awal tahun ini juga masih merokok kok, meski tidak serutin sebelumnya. Baru empat bulan terakhir bisa kubilang aku berhenti (sambil nginget2: iya gitu ga kecolongan? hehe).

Setelah mengalami kecanduan rokok, pertarungan melawan hasrat itu akan selalu ada. At least kita musti memastikan diri untuk siap bertarung. Karena percayalah, dengan paru-paru yang bersih badan akan lebih nyaman 🙂

Selamat Hari Tanpa Tembakau Sedunia (dan selamat siap-siap berhenti merokok).

Catatan:
Jumlah perokok aktif secara global terus bertambah. Data WHO pada 2008, jumlah perokok dari seluruh dunia mencapai 62.800.000 orang dan jumlah tersebut terus meningkat setiap tahunnya. Sebanyak 69 persen adalah perokok laki-laki, sisanya anak dan perempuan. Indonesia menduduki peringkat tiga dunia perokok terbesar, dan nomor 1 di Asia Tenggara.

dari berbagai sumber

***

Ada yang terlewat… Siang tadi sempat iseng cek pot tanaman di kantor. Di lantai 2 dan 3. Dan inilah yang paling menyebalkan dari para perokok: membuang puntung seenaknya, bahkan di pot bunga. Dan bahagia dengan alasan: asbaknya kan luas! Bukan aku yaaa… Ketika masih merokok aku selalu membawa asbak saku. Gambarnya hello kitty 🙂

Dan inilah hasilnya. Di lantai 3 ada beberapa ruang kantor. Di lorong diletakkan aneka bunga di pot. Dari 26 pot bunga…yang kutemukan:

Di lantai 2, lorongnya juga diletakkan pot tanaman dengan jumlah sama. Di sini yang tercemari lebih sedikit..

Ini belum termasuk lantai 1 (dasar) yang terdapat beberapa ruang pertemuan, halaman parkir, dan dapur.

Please, jangan siksa tanaman dooong!

Iklan

2 pemikiran pada “Hari ini tanpa tembakau, besok bagaimana?

  1. nice note! btw ekspresi Naga dengan dialognya kurang klop hahahaha….kalo sesuai ekspresi harusnya dia ngomong ” tuh kan tuh kan mulai lagi ngerokok…plisss dechhhh….hadeeeuuhh…” hehehehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s