SOEGIJA, film biopik yang kurang biopik

Aneh gitu ya judulnya? Ga bisa bikin judul yang lebih keren po? 😀 Tau ah! Tapi setidaknya akhirnya sudah ada hasrat nulis, setelah beberapa hari ini otak rasanya beku.

Siapakah Soegija? Tak akan banyak yang menjawab ‘tahu’. Karena di bangku sekolah pun nama Soegija tidak pernah disinggung, sama sekali. Tak heran kalau nama itu tidak dikenal. Aku juga baru mendengar nama Soegija saat mengikuti diskusi tentang peran orang muda katolik dalam persoalan kebangsaan pasca pemberian gelar pahlawan terhadap Kasimo. Pada saat itu sedikit disinggung tentang film yang sedang digarap oleh Garin sebagai sutradara. Film berbiaya besar, begitu katanya.

Baru dua bulan lalu penjelasan lebih detil soal Soegija kudapatkan dalam diskusi film sebagai bagian dari promo film tersebut. Tak kurang sejarawan Anhar Gonggong juga urun suara. Pun Sukardi, kolumnis yang banyak menulis tentang persoalan sosial-budaya. Dan tentu saja Rm. Banar yang kemudian banyak melakukan penggalian sejarah.

So, mari kita lihat…


Soegija, lengkapnya Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ (1896-1963) adalah uskup agung pribumi yang pertama di Indonesia. Ia dikenal sebagai pejuang ‘silent diplomacy’ dan slogan ‘100% Katolik, 100% Indonesia‘. Pengangkatan Soegija (Nirwan Dewanto) sebagai uskup mengawali film ini. Digambarkan, umat sibuk mempersiapkan hajatan besar ini. Sebagian lainnya duduk diam di dalam gereja, sebagian lainnya menemani tamu, baik dari kalangan kraton maupun Belanda. 6 November 1940, di Gereja Randusari, Semarang.

Sebuah peristiwa besar dunia terjadi dan berimbas ke Hindia Belanda: kemenangan Jepang atas Pangkalan Militer Amerika Serikat di Pearl Harbour. Peristiwa ini sekaligus mengobarkan Perang Pacific termasuk Hindia Belanda. Pada 1942 Jepang merebut wilayah Hindia Belanda dari kekuasaan Belanda. Pada masa ini semua yang berbau Belanda disita oleh Pemerintah Jepang. Bukan hanya benda, mereka juga menawan para imam, suster dan tenaga-tenaga gereja. Sekolah-sekolah yang dikelola oleh para imam dan suster disita, tidak terkecuali seminari menengah. Anak-anak pribumi dipulangkan, para seminaris dititipkan di pastoran-pastoran untuk melanjutkan pendidikan calon imam dalam diaspora. Maka tinggallah Uskup Soegija yang akrab dipanggil Rama Kanjeng bersama beberapa imam pribumi, ditemani kosternya, Toegimin (Butet Kartaradjasa).

Jepang diserang sekutu. Heroshima-Nagasaki runtuh. Momentum Indonesia merdeka dan Jepang angkat kaki dari tanah air. Konflik berikutnya terjadi saat Belanda berusaha kembali menguasai Indonesia. Selain penindasan yang dilakukan para tentara Belanda, konflik lain yang muncul adalah kelaparan. Dalam konflik-konflik tersebut Soegija mengambil peran bukan hanya sebagai gembala, namun juga seorang tokoh politik yang musti tanggap dalam persoalan mempertahankan NKRI.

Di tengah kancah peperangan sebelum dan pasca kemerdekaan ini tampil tokoh-tokoh, dalam kisah kemanusiaannya masing-masing. Beragam karakter antar etnis muncul. Adalah Mariyem (Annisa Hertami), seorang calon perawat yang ditinggal mati Maryono (Muhammad Abbe), satu-satunya anggota keluarganya yang tersisa. Sebelumnya, di antara cita-citanya sebagai perawat ia berjuang mencari Maryono yang hilang karena perang. Sayangnya, Maryono ditemuinya sudah dalam keadaan terbujur kaku, setelah ia berhasil menjadi seorang perawat. Lalu ada seorang jurnalis Belanda yang gemar sekali mengikutinya. Namanya Hendrick Van Maurick (Wouter Braaf). Sang jurnalis rupanya bersimpati dengan Indonesia dan jatuh hati pada Mariyem.

Tokoh Belanda lain, seorang serdadu haus perang, Robert (Wouter Zweers). Ia memimpin anak buahnya dengan gayanya yang berandalan. Sosok tentara lain, Nobuzuki (Nobuyuki Suzuki), pimpinan tentara Jepang dan Lantip (Rukman Rosadi), pimpinan pejuang pemuda. Sosok lain yang muncul adalah gadis kecil Lingling (Andrea Reva) terpisah dari ibunya (Olga Lydia) serta Banteng, gerilyawan terbelakang (Andriano Fidelis) dengan pistol yang selalu terselip di punggungnya.

Yup, terlalu banyak tokoh. Masing-masing cukup dominan dalam perannya. Mereka tidak bermain buruk, tapi menjadi tidak fokus pada sosok utama yang ingin diusung dalam film ini: Soegija. Penonton tidak disuguhi cerita tentang siapa sesungguhnya Sogija. Baik perjalanan hidupnya dari kecil, kehidupan spiritualitasnya hingga ia dianggap cukup mampu untuk menjadi seorang uskup. Juga detil perjuangannya yang disebut silent diplomacy.

Aku tidak tau, apakah mengangkat kisah masa kanak Soegija akan memunculkan konflik sehingga dianggap bukan bagian penting dalam mengenalkan sosok pahlawan ini? Atau karena Garin memang hanya ingin menampilkan sosok Soegija di masa keemasannya tersebut? Tapi itupun tidak tertampilkan dengan optimal. Karena terlalu banyak tokoh lain yang dimunculkan untuk melengkapi pesan kemanusiaan yang ingin disampaikan lewat film ini.

Secara umum film ini tidak sesuai dengan ekspektasiku sebagai sebuah film biopik. Terlalu banyak tokoh, terlalu banyak pesan. Namun film ini tetap sangat layak tonton. Masing-masing pemain melakukan tugasnya dengan baik. Nirwan Dewanto, sebagai sosok yang bukan pemain film tidak buruk juga, meski aku juga tidak melihat kelebihannya. Bisajadi karena sosok Soegija yang memang tidak cukup banyak ditampilkan perannya. Aku suka Annisa Hertami, terutama adegan saat ia menjumpai jenasah Maryono. Pada beberapa scen lain memang tampak agak berlebihan sih.. Dua bule londo, Wouter Braaf dan Wouter Zweers melakonkan karakternya dengan tepat. Pun dengan Butet, meski agak bertanya-tanya: mungkinkah seorang koster bisa bersikap ‘se-begitu-enaknya’ terhadap seorang uskup?

Sudut-sudut pengambilan gambar juga menarik. Begitupun dengan lagu. Meski kuakui cukup kecewa juga dengan janji Djaduk Ferianto yang akan memuaskan penonton dengan banyak lagu kenangan tempo dulu. Kurasa itu tidak bisa disebut banyak dan tidak cukup menjiwai tiap adegan.

Terlepas dari cerita yang terlalu banyak fokus, Garin berhasil menyuguhkan sejumlah informasi yang selama ini tidak cukup banyak diketahui publik, seperti fakta bahwa Vatikan adalah negara pertama yang mengakui kedaulatan Indonesia. Hal menarik lainnya adalah ‘kepentingan’ Garin untuk memasukkan unsur multikulturalisme dalam film ini. Kepentingan dalam tanda petik, karena selama ini memang Garin banyak menggarap dialog multikultur.

Bagaimanapun Soegija telah menjadi warna, di antara film kepahlawanan yang selama ini hanya memunculkan tokoh Islam. Soal tuduhan Kristenisasi sih, buatku sudah ‘selesai’. Toh orang juga tau siapa Garin Nugroho dan Nirwan Dewanto 🙂 Dan dari logika manapun juga tidak ditemui gambaran itu. Tapi kalau masih ada yang menganggap itu sebagai upaya kristenisasi ya wis, silahken..sono..ke laut aja..ngobrol sama ikan. Itupun kalau ikannya mau hehe..

Sementara di kalangan Katolik sendiri setidaknya ada dua pendapat yang berseberangan. Di satu sisi orang menyayangkan 12 M yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk sesuatu yang lebih penting bagi bangsa ini. Hal-hal yang riil, bukan romantisme dan mistis kepahlawan. Pada sisi lain, orang melihat sosok pahlawan perlu diangkat, untuk memunculkan kembali semangat kebersamaan yang terlukai oleh banyaknya konflik di tanah air akhir-akhir ini, terutama terkait dengan multikultur. Spreading ‘ajakan nonton Soegija’ juga sebuah topik yang lain. Tak sedikit yang memandang sinis proses ajakan (ada yang memaknainya sebagai paksaaan) nonton massal ini.

Tapi akhirnya, mari kita lihat positifnya saja: Bioskop dipenuhi oleh penonton. Apapun prosesnya, mereka antri tiket bukan untuk nonton Harry Potter atau Twilight. Mereka nonton Soegija, salah satu pahlawan nasional, sosok humanis yang selama ini diabaikan dalam catatan sejarah.


Kemanusiaan itu satu. Kendati berbeda bangsa, asal-usul dan ragamnya, berlainan bahasa dan adat istiadatnya, kemajuan dan cara hidupnya, semua merupakan keluarga besar. Satu keluarga besar, dimana anak-anak masa depan tidak lagi mendengar nyanyian berbau kekerasan, tidak menuliskan kata-kata bermandi darah, jangan lagi ada curiga, kebencian, dan permusuhan.
(Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ)

*

SOEGIJA

Sutradara : Garin Nugroho
Produser: Djaduk Ferianto, Murti Hadi Wijayanto SJ, Tri Giovanni
Penulis naskah: Garin Nugroho, Armantono
Pemain: Nirwan Dewanto, Annisa Hertami, Muhammad Abbe, Wouter Braaf, Wouter Zweers, Nobuyuki Suzuki, Rukman Rosadi, Andrea Reva Olga Lydia, Andriano Fidelis, Butet Kartaradjasa
Musik: Djaduk Ferianto
Produksi: Studio Audio Visual Puskat Yogyakarta/Puskat Pictures, 2012
Durasi: 115 menit

Iklan

13 pemikiran pada “SOEGIJA, film biopik yang kurang biopik

  1. Sudah seharusnya kisah Raden Mas Tirto Adi Suryo juga difilmkan. Sekiranya para pembuat film Indonesia lebih banyak membaca, mereka akan sadar ada terlalu banyak mutiara terpendam bangsa kita yang belum pernah digali. 🙂

    Subhan Zein

    • ya ya, setuju! seandainya lebih banyak yang peduli dan tidak hanya sekedar hitungan bisnis. karena sayangnya bisnis di industri film di Indonesia ga jauh dari tampilan kemewahan, hantu, dan esek-esek.

      • Sebenarnya kalau dikemas dengan bagus film perjuangan juga bisa berprospek bagus, seperti Sang Pencerah, misalnya. Inshaallah suatu saat saya mau bikin PH buat bikin film2 bertema perjuangan nasionalis. Salah satunya yang pantas difilm-kan itu ya, Raden Mas Tirto Adi Suryo. Juga Dewi Sartika, Pangeran Diponegoro, KH. Wachid Hasyim, dan sederet pahlawan lainnya. Masih cita-cita. Mudah2an terwujud satu saat nanti. Mohon bantu doanya yah! 🙂

        Suwun…

        Subhan Zein

      • diponegoro ada film animasinya, tapi aku belum sempet nonton. film tentang hasyim asyhari juga kelewat. sang pencerah aku nonton. ya, bagus. dan betul, banyak sekali sosok dan juga kisah yang masih bisa digali dari negeri ini. bahwa akan muncul kontroversi, biar saja. anggap pembelajaran. iya to?

        doa? boleh deh…tp lebih bagus sih kalau ajak2 gabung hehehe.. semoga film nasional kita ke depan lebih baik.

      • gabung? tentu boleh.. 🙂

        ohya, bulan depan aku ke Indo, kebanyakan sih bakal di Jawa tengah, tapi ada kemungkinan ke Jakarta juga. kamu di Jakarta di mananya? Boleh nanti kita berjumpa..

        Subhan Zein

  2. terlepas dari segala kontroversinya..mestinya sineas lebih bisa lebih jernih dan selalu mengangkat tema2 yan indonesia…sedih rasanya melihat seni indonesia tak berkembang..sementara opurtunis memanfaatkan hanya untuk mengeruk keuntungan saja…bangkit sineas muda.!!!!!

    • iya, mas.. film2 yg hanya membangkitkan naluri primitif, mementingkan bungkus bukan isi, dan yang parahnya mengikis kepedulian terhadap sesama. semoga makin banyak sineas baru yang punya idealisme ya..

      • betul…idealis yang penuh integritas dalam mengembangkan seni….banyak orang bilang. lahirnya film dalam sebuah negara merupakan gambaran dari sebuah negara..

  3. klo menurut ku film ini sangat biopik… dengan konteks indonesia dengan pergumulannya (semarang-jogja), soegija muncul dengan celotehan dan tulisannya yang bagiku sudah bisa menggambarkan siapa diri soegija, dia bisa memanusiakan manusia, dengan keterbatasan pemikiran saat itu. soegija mampu berbuat dngan bijak… mempunya ide kreatif, berani… dan aku rasa dia hidup dari golongan yang bukan orang biasa, tapi merakyat dan masih peduli pada budaya spt ruwatan… gambaran siapa itu soegija bagiku cukup jelas di film ini… setelah nonton 3x

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s