Perjumpaan dengan Jaleswari Pramodhawardani

“Saya sudah di tkp ya.” Sebuah pesan masuk. Alamak! Jam 16 lewat 2 menit. Aku baru turun dari Kopaja 502. Kami janji bertemu di Starbuck, jam 4 sore. Tidak cukup jauh sih, perempatan BI menuju Sarinah, jalan kaki lima menit sampai. Tapi inilah kesalahan pewawancara, yang datang lebih terlambat dari narasumbernya. Untungnya, narasumber kali ini baik banget. Dimaafkan 🙂

***

Jaleswari  Pramodhawardani
: Mengkritik Militer dari Barak Tentara

Saya mencintai Indonesia. Persisnya, mencintai Indonesia dengan tabah.


Kalimat yang mungkin terdengar ganjil ini datang dari seorang perempuan cantik, Jaleswari Pramodhawardani. Jika melihat penampilannya, kita mungkin tak akan menyangka, dia seorang pengamat militer. Mengenakan blus batik soga berlengan panjang dengan rias wajah ringan dan senyum sumringah, ia tampak feminin, jauh dari kesan dunia militer yang selama ini diidentikkan dengan dunia maskulin.

Perempuan yang akrab disapa Dani ini adalah “anak kolong”. Ia besar di lingkungan militer. Sekitar 75 persen dari keluarga besarnya merupakan anggota kesatuan militer baik Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara. Sebagian anggota Kepolisian. Ayahnya seorang perwira menengah TNI Angkatan Laut.

Tak heran ketika aneka pelanggaran yang dilakukan militer setelah turunnya Soeharto mulai diungkap, ia mengalami kejengahan. Dunia militer yang selama itu diakrabinya dengan hangat rupanya banyak dituding sebagai sumber petaka. Sejak itu Dani berfokus dalam penelitian tentang dunia pertahanan. “Saya ingin Indonesia memiliki militer yang tangguh, kuat, dan profesional yang mampu melindungi bangsa dan negaranya. Untuk menjadi seperti itu harus ada kesediaan dikritik,” tegasnya.

Saat itu tahun 1999, bersama teman-temannya peneliti muda di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ia membuat workshop di lima kota besar di Indonesia dengan tema Hegemoni Militerisme terhadap Kesadaran Sipil. Ia percaya Indonesia memiliki kultur militer yang berbeda dari kultur militer negara lain. Dibutuhkan kajian khusus tentang keterkaitan antara doktrin, struktur, dan kultur. Reformasi sektor keamanan pun lantas menjadi kajian utamanya sebagai peneliti LIPI yang kemudian ia lanjutkan bersama tim peneliti The Indonesian Institute. Dari situ kiprahnya mulai diperhitungkan.

Militer selalu dikesankan maskulin. Maka begitu masuk dalam jajaran pengamat militer, nama Dani terdengar seksi. Ia banyak hadir dalam tulisan dan diskusi publik,  bersanding dengan pengamat lain yang memiliki latar belakang politisi dan doktor yang memiliki jam terbang tinggi. Bagi dia, itu bukan hal mudah.Perlu upaya luar biasa bagi perempuan untuk mewarnai atau merebut forum itu.

“Kesannya pertarungan ya? Bukan berarti saya seksis. Saya  ingin katakan, meski sulit, perempuan harus berani mengambil ruang agar dilihat dan dipertimbangkan. Menulis adalah pertarungan mengambil ruang dalam wilayah tempur gagasan untuk diwacanakan ke publik,” ungkap perempuan yang saat ini menjadi Kepala Penelitian Bidang Hukum LIPI dan Dewan Penasehat The Indonesian Institute ini.

Feminis

Walaupun lebih populer sebagai pengamat militer, Dani sebetulnya master lulusan Program Studi Kajian Wanita Universitas Indonesia.  Subjek ini adalah kegelisahan yang selalu mengganggu pikiran Jaleswari sejak dulu sampai sekarang. Sebagai perempuan, ia sering melihat bahwa kaumnya sering berada pada posisi korban—walaupun tidak seluruhnya demikian.


Salah satu solusi yang penting menurutnya adalah perempuan harus masuk di wilayah kebijakan politik. Kebijakan yang dimaksud bukan sekadar merefleksikan nilai, norma dan prinsip legalitas semata, tapi juga langsung menyentuh problem sosial. Perempuan, menurutnya,  terbiasa memikirkan orang lain sebelum diri sendiri. “Perempuan memiliki ethics of care. Kalau dalam politik, bukan sekedar politics of right melainkan juga politics of justice,” ungkapnya.

Apakah masuknya perempuan ke wilayah kebijakan akan menjamin keadaan lebih baik?

Tentu saja tidak sesederhana itu. Menurut Jaleswari,  tetap dibutuhkan gerakan kultural yang masif. Pemberlakukan kuota jumlah perempuan dalam wilayah kebijakan tetap diperlukan. Dia mencontohkan beberapa negara demokratis seperti Amerika sudah lama memberlakukan kuota 30 persen di parlemen untuk perempuan. Negara-negara Skandinavia (Norwegia, Swedia, Denmark) bahkan menetapkan angka 40 persen. Demokrasi kuncinya partisipasi. Sebagai warga negara, perempuan harus ada di dalamnya. “Matangnya demokrasi sebuah negara itu terlihat dari keterlibatan perempuan dalam kebijakan,” katanya.

Bekerja sebagai peneliti, Lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Imu Politik (FISIP) Universitas Tujuh Belas Agustus, Jakarta ini sering bergelut dengan fakta yang berlapis-lapis dari suatu gejala yang tampak di masyarakat. Hal ini membuatnya sering kali mempertanyakan dan mengevaluasi lapis-lapis keyakinannya sendiri. Ia mencontohkan ketika membuat tesis tentang homoseksual. Ia perlu melakukan usaha ekstra untuk membebaskan diri dari kapling-kapling yang selama ini ada di benaknya, seperti kepedulian hanya pada isu tertentu, stereotipe, pemikiran seksis dan sebagainya.

Walaupun memantapkan diri sebagai feminis, Dani mengaku suka pergi ke salon. Baginya perempuan yang bebas adalah yang sadar dengan pilihannya, termasuk berdandan. Kepungan iklan yang menyuruh perempuan tampil manis dan konsumtif bukan halangan bagi Dani untuk memilih penampilan terbaik bagi dirinya. Bagi dia, tampil menyenangkan itu bukan untuk orang lain tapi untuk dirinya sendiri. Kalau orang lain senang, itu adalah dampak tidak langsung.

Percaya Pada Dialog

Perjalanan hidup perempuan kelahiran Surabaya 48 tahun lalu ini  tidak selalu mulus. Tidak semua mimpinya terwujud. Banyak persoalan yang ia hadapi. Pada titik-titik tertentu ia berhenti dan berdialog. “Hidup itu kan berisi tawar-menawar dan kompromi,” ujarnya.

Salah satu titik pertentangan yang dijalaninya adalah pilihannya bertempat tinggal. Hingga kini Jaleswari tinggal bersama keluarganya di kompleks Departemen Pertahananan-Mabes TNI Cibubur, Jakarta. Proses dialog itu pun menjadi lebih intens karena ia mengkritik dunia militer dan pertahanan justru dari balik dinding rumah kompleks militer. Ia menjadi peneliti yang berjarak sekaligus berada di dalamnya. “Saya butuh otokritik. Berada bolak-balik di antara keduanya malah bisa menyeimbangkan,” ungkapnya.

Proses dialog dan kesadaran untuk membuat keputusan sendiri itu pun ia coba tularkan pada dua anak gadisnya, Widy dan Gendis. Sebagai orang tua tunggal, Jaleswari mengaku sangat dekat dengan anak-anaknya.

Pada saatnya nanti ia ingin melihat anak-anaknya tumbuh sebagai pribadi yang tahu akan pilihan dan keputusannya. Sementara untuk dia sendiri, Dani yang berencana mengambil studi doktoral ini mengatakan akan tetap di jalur penelitian. Lima atau sepuluh tahun lagi ia akan tetap menggeluti dunia penelitian. “Saya mencintai dunia penelitian dan saya tidak menguasai bidang yang lain, “ katanya sederhana.

Sebagai peneliti ia kerap berjumpa dengan ketidakadilan. Tak jarang ia frustrasi dan mempertanyakan apakah yang dilakukannya selama ini masih penting. Tapi ia tidak mau menyerah. Ia mengaku sangat sulit untuk mencintai Indonesia pada kondisi sekarang. Menurutnya, mencintai Indonesia adalah sebuah pilihan, meski diperlukan ketabahan untuk melakukannya.

Lewat penelitian, Dani akan terus mendorong untuk perempuan lebih banyak berkiprah di wilayah publik, memasuki arena kebijakan, baik melalui lembaga eksekutif maupun legislatif. “Selalu tidak mudah untuk mencapai ke sana. Begitupun dengan upaya untuk mengubah kultur militer kita. Tapi saya percaya proses,” tandasnya.

*
baca versi cetaknya di INTISARI edisi Perempuan, Juni 2012.

***

Iklan

2 pemikiran pada “Perjumpaan dengan Jaleswari Pramodhawardani

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s