Bis Malam Pertama*

Ke Bandung aku akan menuju. Dimanakah Bandung? Aku tidak tahu persis. Yang sering kudengar, orang menyebutnya ‘Bandung Jakarta’. Atau melengkapinya dengan pertanyaan seperti ini: “Bandung Campur atau Bandung Jakarta?” Bandung (Campur) adalah salah satu kecamatan di kabupaten tetanggaku, Tulungagung. Haha..pasti ini terdengar lucu. Atau memalukan? Tapi memang itulah yang terjadi, tak cukup banyak orang yang well-informed. Setidaknya di lingkungan terdekatku.

Bukannya aku tak tahu Bandung. Aku tahu meski sebatas informasi bahwa Bandung adalah ibukota Provinsi Jawa Barat. Dan bahwa Bandung punya angklung, alat musik tradisional yang dipajang di lemari SD Bendorejo II, sekolahku dulu. Ah, betapa terbatasnya informasi yang kupunya. Tapi aku tersenyum sendiri ketika ada tetangga yang mengabari aku lolos UMPTN: Jurusan Jurnalistik Universitas Padjadjaran. Aku tersenyum, karena akhirnya aku akan pergi jauh, hal yang selalu kubayangkan sedari SMP. Saat bapakku setengah menggumam berkata,”Kok adoh men to, nduk?” aku hanya menjawab “iya” sambil membalikkan badan menyembunyikan senyum.

Aku tidak tahu apa yang akan kuhadapi di Bandung nanti, tapi ini peristiwa menggembirakan buatku. Bagaimana tidak? Aku sama sekali tidak membayangkan bakal lolos karena pada dua hari ujian, kesehatanku drop. Kedua, aku berhasil menentukan pilihanku sendiri. Orang tuaku minta aku ikut tes untuk kuliah di Malang atau Surabaya. Dengan alasan dekat dan kedua kakakku kebetulan kuliah di dua kota tersebut. Orang tuaku hanya pernah mengenyam bangku sekolah dasar, tidak cukup paham urusan sekolah tinggi. Tapi tak urung mereka memberikan saran,”Ambil ekonomi saja, yang banyak lahan kerjanya.” Mungkin itulah yang orang tuaku pahami dari kasak-kusuk kiri-kanan. Kuliah adalah syarat mendapatkan pekerjaan dan ekonomi ngurusin duit, jadi pasti akan punya banyak duit. Tapi ya, aku sempat mengikuti kata orang tua. Hingga hanya sesaat sebelum mengembalikan formulir, tulisan ‘Akuntansi’ kuganti dengan ‘Jurnalistik’. Memang apa menariknya Jurnalistik? Aku tidak tahu persis juga. Hanya membayangkan bidang ini menarik. Tapi jurusan tersebut hanya ada di Universitas Hasanuddin, Ujung Pandang (Makasar sekarang) dan Universitas Padjadjaran, Bandung. Aku belum berani menyeberang laut. Maka pilihanku jatuh ke Bandung. Nah, apakah alasan ngawur pemilihan jurusan ini akan jadi boomerang nantinya? Aku juga tidak tahu. Aku hanya melakukan yang ingin kulakukan.

Maka begitulah. Ditemani ibuku, aku mempersiapkan segala sesuatunya. Ibuku bolak-balik nggremeng: “Jakarta ki lak yo larang, wis melu tes meneh tahun ngarep…” Aku tidak membalas, malah pura-pura tidak mendengar. Ibu menggerutu, tapi sambil tetap mengemasi bawaan. Ya, aku tahu..meski ada kekhawatiran soal biaya, ibuku juga excited, salah satu anaknya, perempuan, akan pergi ke kota lintas provinsi. Kubayangkan itu semacam kebanggaan sekaligus kekhawatiran.

Akhirnya tibalah harinya. Kami berangkat menuju Surabaya. Tiket bis malam jurusan Surabaya-Bandung sudah dipesankan oleh kerabat di Surabaya. Dari rumah Bendo, kami menggunakan Bis Pelita Indah hingga Terminal Tulungagung. Kurasa desaku adalah desa dengan akses termudah di Kabupaten Trenggalek ini. Mau pergi kemana-mana gampang. Ke Trenggalek kota, tinggal menggunakan bis atau angkutan kota. Kami menyebutnya Colt, merek mobil yang akhirnya menjadi sebutan umum bagi angkutan tersebut. Begitupun untuk menuju ke Kota Tulungagung atau kota-kota berikutnya ke arah Surabaya atau Malang. Kemudahan akses ini tidak dimiliki oleh semua desa, bahkan di tingkatan 12 kecamatan lain di Trenggalek.

Dari Terminal Tulungagung perjalanan berlanjut ke Surabaya, dengan bis yang sama. Kami seperjalanan dengan seorang bapak yang ramah. Dia ikut gembira dengan cerita tujuan perjalanan kami. Lalu ia menanyakan kemampuan Bahasa Inggrisku. Kubilang tidak bagus. “Adik musti bagus Inggrisnya, apalagi di Jurnalistik,” ujarnya yang membuat nyaliku langsung kisut mengkerut. “Tapi jangan takut, belajar saja yang tekun ya,” tambahnya menenangkanku. Selama perjalanan ia bicara ini-itu seputar kuliah dengan semangat. Di Kertosono ia pamit turun.

Setelah menginap semalam di Surabaya, tibalah saatnya berjumpa dengan armada yang akan membawa kami ke Bandung. Bis Kramat djati. Dengan warna putih kombinasi biru, bis berjajar rapi di antara keramaian armada lain di Terminal Bungurasih (Purabaya) yang masih baru. Harga tiketnya Rp 30.000 per orang. Aku kenal baik moda transportasi yang satu ini. Dua pamanku kebetulan adalah sopir. Pelita Indah trayek Malang dan Surabaya. Dari kecil aku biasa dititipkan ibuku dari Bendo ke Trenggalek, rumah kakek-nenekku. Kadang aku diikutkan perjalanan terakhir sebelum bis pulang ‘kandang’ di Jl. Veteran, tak jauh dari rumah kerabatku. Ketika sudah besar pun, meski agak malu, aku sering nebeng pamanku ketika ada perlu ke kota lain yang kebetulan menjadi rutenya. Ikut nongkrong bersama awak bis di terminal adalah hal yang biasa. Pendek kata, bis menjadi moda yang cukup akrab buatku.

Tapi ini bis yang berbeda. Kursi hanya empat buah dalam satu baris, dua-dua. Di samping sopir ada bangku kecil. Kemudian aku tahu itu menjadi tempat duduk kondektur atau asistennya. Kaca jendela rapat, tanpa celah. Sebuah tirai terpasang sepanjang jendela, kiri dan kanan. Dan ada pendingin ruangannya! Aku sempat kedinginan sebelum kemudian dibagikan selimut warna biru yang tampak hangat. Dengan memperhatikan cara penumpang lain, kutekan batang pengait di samping kursi. Klek! Sandaran kursi terdorong ke belakang. Merebahkan punggung lalu menarik selimut biruku. Aku tak bisa tidur. Ini perjalanan terjauhku yang pertama. Tak ada kerabat dan hanya berbekal nama dari kenalan jauh. Diawali dengan bis ini: percobaan kursi sandar, air conditioning yang menusuk-menembus selimut biru tebalku, orang tak saling bicara.. Seperti apakah Bandung? Tiba-tiba aku teringatkan beberapa peristiwa yang pernah kudengar, tentang Bis Lorena yang mengalami kecelakaan. Terguling atau terbakar. Apa jadinya kalau bis ini mengalami hal yang sama? Mungkin aku akan terjebak seperti para penumpang di bis naas itu. Teriakan minta tolong akan teredam oleh buntunya saluran udara. Atau terjun ke jurang tak terjangkau. Aku hangus terbakar atau hancur penuh luka? Khayalan-khalayalan menyeramkankan terus berkejaran hingga kemudian berhasil dilucuti kantuk yang akhirnya menguasaiku. Lelap, hingga bis berhenti: Cirebon.

Semua penumpang turun. Berbondong bersama penumpang dari bis-bis lain. Bukan cuma bis. Di ujung agak jauh tampak truk-truk besar diparkir juga. Semua orang makan. Akupun memaksakan diri untuk menyuap beberapa sendok makanan yang tidak menarik. Hmm..bukan makanannya mungkin. Aku tak punya perhatian ekstra terhadap makanan. Yang tidak menarik barangkali adalah suasananya. Asing. Rombongan orang tak saling kenal pada sekira pukul dua dini hari, waktu yang sangat tidak biasa untuk makan.

Setengah jam istirahat, perjalanan berlanjut. Kutarik tirai di jendela sebelah kananku. Samar di kejauhan tampak laut. Ah, laut! Tak terlalu banyak kesempatanku untuk mengunjungi tiga pantaiku: Prigi, Pelang, apalagi Munjungan yang sama sekali tidak kukenal. Tapi aku suka laut. Aku jatuh cinta pada laut sejak ombak Pantai Prigi sempat menenggelamkanku, di masa kanakku. Lalu bayangan teduh pantai menentramkanku dalam tidur dini hari.

Jam setengah 6 pagi, 9 Agustus 1993. Bis malam Kramat djati merapat di pangkalannya. Ucapkan selamat datang padaku, Bandung! Brrrrr…hanya dingin yang menyambutku. Kabut tipis mengangkasa di jalanan sepi. Cihampelas. Pada kiri-kanan ruas jalan berjajar pertokoan yang masih tutup. Kawasan yang unik. Tokoh pahlawan berukuran raksasa mematung di depan masing-masing toko. Sebagian besar para pahlawan Hollywood: Superman, Batman, Rambo, dan masih banyak lainnya. Hmmm..apakah Bandung akan semenarik sekilas lintas mataku menangkap keunikan ini? Aku tidak tahu. Aku tidak tahu… Tapi bis malam sudah mengantarku dalam 13 jam perjalanan. Inilah Bandung. Dan ini akan jadi awal perjalanan yang lain.

*) sebuah rekonstruksi perjalanan 19 tahun silam

Iklan

18 pemikiran pada “Bis Malam Pertama*

  1. Ceritamu tentang “pura-pura tidak dengar gremengan ibumu’ membuatku teringat pada diriku sendiri. Komentar ibuku sama, “kok adoh men, sudah ambil swasta aja di Salatiga”. Bedanya adalah, waktu itu aku menjawab, “Yang kuliah kan aku, bukan mami”. He..he.. Aku anak tertua dari 3 bersaudara yang semuanya perempuan. Perjalanan solo ku terjauh ke Semarang. Bandung, tempatku pertama kali keluar dari rumah orangtuaku. Saat tiba disana dengan Bis Rajawali, kami ditanya, “mau diantar kemana”, jawabanku adalah “tidak tahu”, karena memang tidak ada satupun rumah sanak kerabat yang bisa dituju. He..he.. Kita senasib rupanya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s