Jelang malam bersama Murniwati Harahap

Duk! Sebuah tangan kekar menyodok kepalaku. Tidak terlalu keras memang. Tapi cukup bikin sakit dan membuatku mengelus kepala dengan punggung tanganku. Setelah minta maaf, laki-laki tinggi tegap itu memperbaiki posisi berdirinya. Agak lama. Aku tak punya waktu dan kecurigaan untuk bertanya-tanya. Bis terlalu sesak dan aku masih melindungi kepalaku.

Itulah peristiwa terakhir yang kuingat sebelum aku turun dari bis transjakarta di shelter Grogol. Lalu kusadari buah dari peristiwa tadi adalah hilangnya BB-ku. Sempat kucritakan di post sebelumnya, cerita tentang Jumat pagi ini.. Aku lemas, bingung, dan linglung. Banyak data yang kusimpan di situ. Termasuk nomor telefon narasumber yang akan kutemui.

Alhasil, aku terlambat lagi memenuhi janjiku tepat waktu menemui narasumber. Ini yang kedua, setelah Jaleswari Pramodhawardani di minggu sebelumnya. Untungnya -lagilagi- narsumnya baik. Selain karena lokasi yang memang jauh sekali, aku belum hafal dan sempat nyasar2, juga karena aku musti melacak lagi data si ibu.

Begitulah akhirnya, sudah jelang jam 7 aku baru bisa menemui Ibu Murniwati Harahap. Dan harapan untuk memotret senja di hutan mangrove pudar sudah 😦

***

Murniwati Harahap
: Mangrove untuk Bumi

Dalam hidup harus memilih. Dan pilihan yang baik akan selalu menemukan jalan keluar.

sumber foto: punya marga dot com

Menuju malam, lampu-lampu sudah dinyalakan. Dalam temaram suasana Taman Wisata Alam Angke, Kapuk, Jakarta Utara  saya menjumpai Murniwati Harahap (67). Ibu Murni, demikian ia akrab dipanggil  adalah pendiri dari taman wisata, yang sesungguhnya merupakan hutan konservasi mangrove ini.  Ia menerima kami di salah satu saung kantin, tidak jauh dari gerbang masuk. Senja itu Murni mengenakan pakaian khasnya kaos dan celana selutut. Perempuan berdarah Batak ini tampak jauh lebih muda dari usianya.  “Mensyukuri apa yang diterima dan menjalani hidup dengan ikhlas,” kata Murni menjelaskan rahasia awet mudanya.

Dibesarkan oleh seorang ibu tunggal, sejak muda Murni sudah belajar mandiri. Ia tumbuh sebagai gadis bengal. Bengal yang positif persisnya. Terpaut usia yang jauh dari dua kakaknya, Murni mendapat limpahan kasih sayang neneknya. Sang nenek nyaris tak pernah membiarkannya melakukan pekerjaan kasar. Rupanya hal itu justru membuatnya penasaran. Murni muda belajar berladang sendiri. Diam-diam ia menyewa tanah milik kawan sekolahnya. Ia tanami, rawat, hingga panen sendiri. Ia belajar cara mencangkul, membersihkan tanaman pengganggu, cara memanen hingga menumbuk padi. Murni sudah mencintai tanaman sejak kecil.

Tak heran jika ia sanggup alot berjibaku dengan aneka kesulitan saat mempertahankan upayanya menjaga hutan konservasi mangrove di kawasan Angke Kapuk. Hutan ini pun sudah menjadi rumahnya. Rumah tinggalnya di Bandung dan di kawasan Warung Buncit, Jakarta Selatan hanya sesekali saja ia kunjungi. “Enak di sini, udaranya segar. Saya bisa lihat ikan-ikan dan burung-burung yang jarang kita temui di luar. Saya juga senang bertemu dengan anak-anak yang berkunjung,” ujar ibu rumah tangga kelahiran Rantau Parapat, Sumatera Utara, 31 Agustus 1944 ini. Dengan gembira ia menceritakan bagaimana tingkah anak-anak yang belajarmangrove di kawasan ini. Bahkan ada yang menjulukinya Oma Sampan, karena ia sering dijumpai tengah bersampan.

Jatuh bangun mempertahankan hutan Mangrove

Taman Wisata Alam Angke Kapuk terletak di belakang kawasan perumahan Pantai Indah Kapuk atau PIK Jakarta Utara. Di kawasan seluas 99,82 hektar itu terdapat vegetasi pepohonan mangrove atau pohon bakau. Dalam sejarahnya kawasan pantai Jakarta memiliki ribuan hektar hutan mangrove. Namun dalam perkembangannya area mangrove semakin menyempit hingga sekitar 300 hektar saja, termasuk di dalamnya TAW Angke Kapuk.  Murni dengan nama perusahaannya PT Murindra Karya Lestari mendapatkan hak pengusahaan TWA Angke Kapuk berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 537/Kpts-II/1997. TWA secara administrasi di bawah pengawasan Balai Konservasi Sumber Daya Alam DKI Jakarta, Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Departemen Kehutanan (Dephut).

Rendahnya pengetahuan dan ketidakpedulian masyarakat akan fungsi mangrove serta ketidaktegasan pemerintah dalam pengelolaannya memberi andil terhadap menyempitnya lahan hutan mangrove dan kerusakan ekosistemnya. Kerusakan besar terjadi pada era reformasi 1998. “Karena reformasi kebablasan itu hutan mangrove di sini ikut dijarah dan lahannya dikapling para petambak liar. Yang tadinya bagus, rusak semuanya,“ kenang perempuan bernama lengkap Sri Leila Murniwati Harahap ini.

Pelan-pelan bersama karyawannya Murni bangkit mengembalikan fungsi Taman Wisata Angke Kapuk sebagai kawasan hutan wisata. Hingga akhirnya, setelah 15 tahun, kawasan ini ditetapkan sebagai kawasan hutan wisata yang dimanfaatkan untuk kegiatan penghutanan kembali atau rehabilitasi hutan mangrove.  Kawasan ini juga diizinkan sebagai tempat wisata alam atau ekowisata. Penetapan baru dilakukan pada 25 Januari 2012, diresmikan oleh Menteri Kehutanan, Zulkifli Hasan.

Hingga kini penanaman mangrove masih terus dilakukan terutama jenis api-api dan bakau. Tapi jangan tanyakan soal jenis bakau kepada Murni. Meski sudah belasan tahun menggeluti mangrove, ia mengaku tidak tahu persis jenis mangrove.  Ia jatuh cinta pada mangrove begitu saja saat ia berkunjung ke Bali lebih dari dua puluh tahun yang lalu.  “Saya tidak mengertilah kalau ditanya jenis. Tapi saya tahu kalau mangrove menjadi tempat bermain aneka macam burung. Ikan dan banyak macam binatang laut hidup di akar-akarnya. Saya hanya ingin menanam, itu saja,” ujar Murni.

Pengorbanan

Perjuangan Murni tidak mudah. Pascareformasi beberapa kali peristiwa buruk menimpanya.  Suatu kali bahkan ia terusir dari kawasan tersebut oleh para petambak liar yang tanpa segan-segan datang dengan menghunus golok. Puluhan ribu bibit mangrove yang mereka timbun, mati. Pohon-pohon yang besar dipotong akarnya hingga layu. Ada pula yang dibakar. Murni meratapi kematian pohon-pohon yang dibesarkannya dengan cinta itu. Sempat ia berhenti mengurusi TWA.

Tahun 2004 perempuan yang sempat setahun mengenyam pendidikan kedokteran Universitas Padjadjaran ini bangkit lagi. Ia kumpulkan barang-barang berharganya, mulai dari perhiasan hingga kebun untuk dijual. Itu masa yang sulit buat Murni.  Sebab ia butuh biaya yang tidak sedikit untuk mewujudkan mimpinya untuk konservasi mangrove ini. Salah satu harta yang ia punyai  bersama suaminya adalah 10 ribu hektar perkebunan sawit di Tapanuli Selatan. “Kalau Saya mempertahankan sawit itu hanya untuk kepentingan saya sendiri. Akhirnya saya pilih mangrove,” ungkap Murni yang akhirnya melepas perkebunan sawitnya itu.

Upayanya ini tak urung mengundang aneka reaksi miring. Sebab tak banyak orang tahu fungsi menanam mangrove.  Banyak orang yang menganggapnya aneh bahkan gila. “Nanam mangga masih mending, ada hasilnya, bisa dijual. Lha ini malah nanam tanaman yang gak jelas hasilnya apa, “ katanya tertawa.

Ujian terus berlanjut. Ia sempat tak sanggup menggaji karyawan. Tahun berikutnya, walaupun sudah bisa menggaji,  ia tak sanggup memberi tunjangan hari raya. Sebagai seorang muslim yang taat, istri Bambang Haryo Soesilo ini memahami betul makna berhari raya bersama keluarga. Tapi seperti yang selalu ia percayai bahwa pertolongan Tuhan tiba tepat pada waktunya, entah kenapa di saat itu pembeli bibit mangrove tiba-tiba berdatangan.

Kini kawasan TWA Angke Kapuk sudah terpenuhi 60 persen mangrove dengan usia bervariasi. Fasilitas juga sudah relatif lengkap. Sebuah masjid besar menyambut pengunjung di pintu masuk hutan. Tersedia pondok-pondok bagi yang ingin menginap, gedung besar untuk menyelenggarakan acara, kantin, dan panggung. Tersedia pula arena permainan anak.

Semua bangunan berarsitektur khas dengan bahan kayu merbau yang didatangkan Murni khusus dari Papua. Aneka program disiapkan untuk para pengunjung. TWA Angke Kapuk sudah tampil sebagai sebuah area wisata yang memadai.

Petambak Liar

PR utama yang dihadapi Murni sejak awal masih ada yakni petambak liar. Maka jangan heran jika mendapati petugas keamanan yang bersiaga 24 jam di kawasan ini. Bukan hanya sekali dua kali Murni mencoba melakukan pendekatan kepada para petambak ilegal tersebut, baik secara pribadi maupun bekerjasama dengan Dinas Kehutanan. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk ‘menyerah’. Bukan karena takut tapi Murni memilih sikap untuk keukeuh dengan perjuangannya mempertahankan konservasi.  Ia ingat apa yang dikatakan (mantan Pangdam III Siliwangi, Raja Inal Siregar) “Jangan urus negara, sudah ada  presiden yang mengurus. Jangan pula urus kota, kecamatan, RW, karena masing-masing ada yang mengurus. Pulang saja ke kampung nenekmu, mulai urus dari rumahmu sendiri,” ungkap perempuan yang tinggal di Bandung sejak usia 16 tahun ini.

Dia tidak mau peduli lagi dengan orang lain yang bersikap sinis bahkan menentang upayanya. Ia percaya niat baik akan selalu menemukan jalan. Kepercayaan itu sudah teruji sebagiannya. Para petambak liar yang tadinya ‘menjahili’  pohon-pohon mangrove kini banyak yang bekerja di TWA, mengawal keamanan hutan konservasi ini.

Bergandengan tangan membangun mimpi

Saat ini bersama 100 karyawannya, Murni  merancang program daur ulang sampah. Ia melihat sampah terkumpul di sepanjang tepi pantai dan ingin ambil bagian. “Bayangkan kalau orang mau melakukan pengolahan sampah sendiri, pemerintah tidak harus repot-repot dengan sampah yang saat ini jadi masalah besar perkotaan,” ujarnya.

Selain di dalam kawasan hutan mangrove, Murni berencana membawa programnya ke lingkungan sekitar bekerjasama dengan RT/RW setempat. Program lain yang akan dikembangkan Murni adalah program tanam pohon untuk anak-anak sekolah. Program tanam mangrove masih akan berlangsung, tapi ia juga ingin mengajak anak-anak untuk belajar menanam pohon, mulai dari bibit hingga bisa dibawa pulang dan ditanam di rumahnya sendiri.  Menumbuhkan kebanggaan kepada anak atas usahanya menjaga alam.

Program-program tersebut merupakan penerjemahan dari mimpi Murni. Namun buat Murni mimpi tak pernah usai. Ia ingin melihat TWA Angke Kapuk sebagai kawasan yang indah, tempat orang gembira karena bisa menghirup udara segar, menikmati pohon dan aneka satwa. Murni menyadari mimpinya ini belum menjadi mimpi semua orang. Tapi ia akan terus menanam dan berharap virus itu menyebar ke kawasan pantai lainnya di Indonesia. Ia yakin suatu saat orang akan bergandengan tangan menyelamatkan bumi dari kerusakan. Seperti desain kaos yang sedang dikenakannya: pohon bakau dan tiga orang yang sedang bergandengan tangan, dilengkapi dengan tulisan Save Our Mangroves.

Kapan mimpi itu akan terwujud? “Mungkin setelah saya mati pun itu belum terlaksana,” tandas Murni. Namun kesempatan hak kelola hutan konservasi selama 50 tahun akan ia manfaatkan sebaik-baiknya.
Melampaui pengalaman hidup yang beraneka, Murni menyadari betul keberadaannya sebagai manusia di bumi ini disertai dengan tugas. Ia sendiri mengaku sadar akan tugasnya setelah melewati setengah abad usianya. “Saya ingat pada ulang tahun ke-63, saya termenung di beranda belakang dan tiba-tiba menyadari bahwa inilah tugas saya. Tuhan tidak memberi saya anak karena inilah kewajiban saya, menjaga alam melalui mangrove,” tuturnya.

Di sela azan Isya yang berkumandang Murni juga mengaku bahagia bisa membangun masjid di kawasan hutan mangrove dan menyatukan umat di sekitar wilayah tersebut. Ia bahagia karena menjalankan tugasnya.

*

baca versi cetaknya di INTISARI edisi Perempuan, Juni 2012.

Iklan

8 pemikiran pada “Jelang malam bersama Murniwati Harahap

  1. Banyak orang mencari ilmu, karena ilmu memang menjanjikan banyak.. Banyak orang yang kerap reflektif atas lingkungan dan keadaan sesamanya karena terbakar rasa empati didirinya. Barangkali yang lengkap itu, mereka yang mencari ilmu dengan api semangat dan selalu reflektif dengan keadaan sekitarnya.

    Mungkin kita tidak perlu bermimpi dulu untuk memperbaiki alam yang makin rusak ini tetapi paling tidak kita tidak perlu ikut berpartisipasi menambah kerusakannya dan mengatakan berhenti bagi siapa saja yang mencoba merusaknya.

    …Just look at all those hungry men, we have to feed …
    …so many lonely faces together all around
    searching for what they need…
    Is this the world we created, we made It all our own……? (Queen)

  2. Ibu Murni… Inang2 yg saya kagumi.. Saya sdh bawa anak2 ke Hutan Mangrove Angke.. Sebelumnya saya juga bbrp kali bawa anak2 ke Mangrove Suwung Bali bu, itulah tempat kami bersembunyi dari kebisingan kota…

    Trimakasih Bu, ‎​Tuђån sudah pake Ibu utk melakukan tugas2 manusia utk memelihara bumi… ( Sedikit dari org2 yg perduli). Saya bangga, Indonesia memiliki wanita luar biasa spt Ibu. Ibu adalah wanita cantik di mata saya… Dan ibu adalah wanita cerdas yg rendah hati…

    Trimaksh mbk Dhenok yg sdh menulis ttg seorg Inang2 yg langka… Gbu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s