Cerpen: Bapak (1)

Maksudnya cerpen alias cerita pendek. Tapi kenapa panjang ya? Begitulah.. Tapi ini satu-satunya cerpen yang berhasil kuselesaikan, satu-satunya yang dikirim ke media, dan satu-satunya yang dimuat. Lupa bulan apa, tapi tahunnya 2007. Lembaran budaya Pikiran Rakyat. Berhubung panjang kupecah jadi dua bagian. Semoga tidak bosan ya.. 🙂

***

Kutelusuri jalan setapak menuju rumahku. Tanaman pagar berjajar: pohon katuk, jarak, beluntas, kembang sepatu, klayu. Tampak tidak terurus, sebagian memanjang tidak beraturan, sebagian lagi layu dan kering. Tapi suasananya tidak jauh berbeda dengan 5 tahun lalu saat terakhir kutinggalkan kota kecil –atau lebih tepat disebut desa- ini. Sepi. Yang terdengar hanya desau angin siang dan gemerecit kumbang penghuni rumpun bambu di ladang tetangga sebelah. Tengah hari begini biasanya para tetangga sibuk di sawah atau belum pulang dari pasar. Sepanjang jalan, mulai dari persimpangan hingga mendekati rumah, pintu-pintu rumah tetangga tertutup rapat. Seolah tidak ingin bercakap denganku. Seolah enggan membuka cerita lama yang membuatku ingin pergi sejauh-jauhnya dari desa ini.

Jam 11 siang. Kudapati rumahku juga dalam keadaan terkunci. Lengkap sudah. Enam belas jam perjalanan dari Bandung menuju Bandung*, dan yang kujumpai hanya keheningan. Kutemukan kunci di jambangan besar, di bawah lebatnya Kuping Gajah. Inilah kebiasaan kami dari dulu. Tanpa kunci duplikat, hanya meletakkannya di bawah keset atau di jambangan bunga. Hati-hati kubuka pintu. Tapi kemudian kupikir mengapa harus hati-hati, toh tidak ada orang. Aku ingat dulu, waktu masih sering pulang, aku selalu membuka pintu dengan hati-hati. Apalagi setelah ibu sering sakit. Khawatir akan membangunkan ibu dari istirahatnya, meskipun akhirnya ibu selalu terjaga tiap kali aku pulang ke rumah.

“Nanik? Kamu to, Nduk?”
Entah darimana dia bisa memastikan yang datang adalah aku dan bukan anaknya yang lain. Biasanya aku akan langsung mencium tangannya, berharap bisa membuat ibu sedikit terbebas dari sakitnya.
“Lah, kok tanganmu kurus sih. Kurang makan ya? Masa jauh-jauh meninggalkan rumah kamu menderita begini.” Begitu komentar ibuku sambil mengelus pelan tanganku. Ibuku mengalami kebutaan dalam setahun terakhir karena diabetes yang diderita sebelumnya. Kebutaan dan kanker tulang sendi yang membuatnya sulit bangun dari tidur. Itulah yang selalu membuatku ingin pulang, sekedar menatap sosoknya. Sosok yang pernah sangat dekat denganku, meskipun aku tidak pernah tahu apa yang selama ini disimpan dalam hatinya. Dan meskipun juga permintaannya selalu membuatku tidak nyaman. Menikah!

“Tambah hari kamu tidak tambah muda. Perempuan kalau sudah tambah tua ndak laku. Perempuan itu juga belum bisa disebut perempuan sebelum dia melahirkan. Menikahlah, Nduk, biar ibu tenang sebelum pergi meninggalkan kalian.” Biasanya aku hanya diam. Tidak merasa harus membela diri. Entah itu pilihan yang tepat atau tidak. Yang pasti, sekarang, setelah lebih dari lima tahun kemudian aku belum memenuhi permintaan terakhir ibuku.

Siang ini aku kembali kesini, bersandar di peraduan yang selama hampir dua tahun menyangga tubuh lemah perempuan yang kucintai itu. Dua tahun! Ibu tidak pernah mengeluh, hanya sesekali terdengar desis menahan sakit. Tubuhnya mengurus dengan cepat. Aku sering bertanya-tanya, kenapa Tuhan begitu kejam membiarkan ibu mengalami siksaan itu. Tapi ternyata memang itulah kenyataan yang wajib kuterima, tanpa boleh bertanya.  Ini menjadi semacam kesepakatan, siap menjalani kehidupan berarti harus siap menyongsong kematian, siap berhadapan dengan kehilangan. Maka kehilangan menjadi sebuah keniscayaan! Tak terbantahkan!

Begitulah ibuku pergi, meninggalkan duka bagi kami, tujuh orang anaknya. Kami -tanpa Bapak- menangis di samping ranjang. Kami sudah menyiapkan diri dapat menerima kenyatan ini. Namun tak urung hembusan nafas terakhir ibu, tanpa pesan, menyisakan kepedihan. Bersama sejumlah tetangga, kami menyiapkan pemakaman. Bandung adalah sebuah kota kecamatan kecil, dengan warga yang tidak akan berpikir dua kali untuk membantu tetangga yang mengalami kesusahan. Apalagi kematian. Menjelang sore barulah bapak pulang. Aku menyalami dan mencium tangannya. Itu pula yang dilakukan saudara-saudaraku. Kami tidak bicara sepatah kata. Bapak juga hanya diam, dan kemudian duduk di samping jenasah ibu yang sudah dikafani. Aku tidak bisa membaca ekspresi Bapak. Apakah berduka? Ataukah merasa berdosa? Yang kulihat hanyalah sosok laki-laki enam puluh tahun. Masih menunjukkan sisa kegantengan masa muda meskipun terlihat ringkih. Pemakaman selesai hari itu juga.

Dalam tiga hari Bapak tinggal di rumah bersama kami. Selama itu pula ia hanya berdiam diri, tidak pernah terlibat pembicaraan dengan kami tentang ibu. Entah apa yang dipikirkannya. Barangkali juga memang tidak perlu dipertanyakan, seperti kami menjalani kehidupan kami selama ini. Kebisuan yang akhirnya terlembaga. Tidak ada yang pernah mencoba mengusiknya. Di mataku, bapak dan ibu serupa sketsa, tidak pernah tergambar sebagai sosok yang utuh, yang bisa dengan mudah kukenali. Aku tidak berhasil menangkap gambaran nyata mereka. Yang kudengar hanya selentingan dari orang. Bahwa ibuku tidak pernah bahagia dengan perkawinannya, perjodohan yang tak bisa ditolaknya. Bahwa ia secara sistematis telah disakiti bapak. Tapi ia menyimpannya rapat-rapat sebagai rahasia yang tak pernah disampaikan lewat tutur kata dan bahasa tubuhnya. Membesarkan anak-anaknya dengan kepasrahan yang nyaris sempurna. Sementara bapak, seorang guru yang dalam pandanganku baik. Aku pernah diajar bapak waktu masih di kelas tiga sekolah dasar. Bapak mengajar dengan baik meskipun dalam pandanganku ketika itu bapak selalu tampil terlalu rapi dengan rambut klimis*, terlalu dandy dibandingkan guru-guru lain di sekolah. Tapi di masa kanakku, apa yang bisa kuduga tentang itu? Baru setelah beberapa bulan sebelum ibu jatuh sakit parah, aku mendengar cerita itu. Bahwa bapak itu thukmis*, paling tidak bisa melihat perempuan sedikit mencrang. Bahwa bapak adalah seorang petualang. Di satu sisi dia seorang guru yang santun. Tapi di sisi lain dia seorang pecinta ulung. Seorang don juan dari Bandung. Siapa menduga?

Bersambung di sini

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s