Cerpen: Bapak (2)

Kami pun tidak menduga dan tidak mau mempercayai omongan orang. Karena mengulik persoalan rumah tangga orang lain bisa jadi memang telah menjadi bumbu yang menyenangkan dari warga desa yang hanya memiliki sepenggal waktu untuk bercengkerama itu. Waktu mereka habis untuk bertanam atau berdagang. Jadi kami memilih untuk tidak mempercayai desas desus itu hingga hari ketiga setelah ibu meninggal. Bapak tiba-tiba menghilang. Tak satupun dari kami, anak-anaknya dan kerabat yang masih tersisa dipamiti. Tapi kami pun tidak berinisiatif untuk mencari. Mungkin mulai mengamini desas desus yang kami dengar selama ini. Bahwa bapak memang sering pergi tanpa pesan kepada ibu, setelah kami, anak-anaknya merantau. Dan kami pun menerima kenyataan itu –lagi-lagi- tanpa pertanyaan. Entah dunia macam apa yang telah kami bangun selama ini. Kami tidak pernah betul-betul menyadari, sejak kapan bapak dan ibu membangun benteng kebisuan itu.  Kami menerimanya sebagai kepatuhan.

Selamatan hari ketiga ibu meninggal dilangsungkan  tanpa kehadiran bapak. Dan hari itu berlalu seperti tidak terjadi sesuatu. Aku tidak pernah menganggap selamatan itu penting. Buatku, ketika kematian menjemput, semua urusan selesai. Tapi karena rayuan dari saudara dan para kerabat, akhirnya aku menunda kepulangan. Begitu pula dengan peringatan 40 harinya ibu. Aku enggan pulang. Apalagi deadline berita untuk koran minggu sudah menunggu. Tapi kali ini bapak yang memintaku pulang. Permintaan yang jarang disampaikan. Aku tidak mampu menolak. Untung redakturku bersedia memberiku kelonggaran.

Dengan kereta malam aku meninggalkan Bandung, kota yang sudah hampir dua puluh tahun kutinggali. Kota yang punya kesamaan nama dengan desa asalku. Kebetulan atau entah apa yang membuatku terdampar di kota ini untuk kemudian mencintainya. Aku ingat waktu pertama kali akan meninggalkan kampung halamanku, ibu mengatakan,”Ngapa to, Nduk, cari kerja aja kok jauh-jauh. Lha wong mbakyu sama mas-masmu memilih untuk tinggal tidak jauh dari rumah. Apalagi bapakmu itu kan paling sayang sama kamu.” Tapi tekadku sudah bulat, menjadi wartawan. Yang terpikir ketika itu, menjadi wartawan berarti ketemu banyak orang penting, menjadi orang yang paling tahu tentang hal-hal yang penting. Ada benarnya. Tapi ternyata tahu sesuatu tidak selalu menjadi hal yang menyenangkan. Termasuk ketika aku mulai dapat menerima kebenaran cerita tentang bapak. Ada rasa tidak nyaman dan bergejolak, tapi tidak punya kemampuan untuk melakukan sesuatu. Berbeda dengan ketika aku tidak tahu -atau persisnya tidak mau tahu- dengan apa yang terjadi antara bapak dan ibu.

Tapi kalimat terakhir ibu membuatku sedikit bertanya-tanya, apakah kali ini bapak memutuskan untuk bercerita padaku, anak perempuan yang paling disayanginya? Namun pertanyaan itu tak terjawab. Peringatan empat puluhtahunan ibu berjalan lancar. Bapak sempat menyampaikan kata pembuka dan ucapan terimakasih. Selebihnya ia hanya diam, takzim mengikuti acara sampai selesai. Saat kami berpapasan di pintu dapur ia memandangku sejenak, untuk kemudian berujar,”ibumu itu terlalu banyak mikir!”. Aku tidak mengerti apa yang dimaksudkannya. Tapi aku pun tidak berhasil mendapatkan jawaban karena banyaknya orang berlalu-lalang dan disibukkan dengan urusan makanan. Sampai pada keesokan harinya, kami mendapati bapak lagi-lagi pergi dari rumah, tanpa permisi, tanpa pesan. Kali ini kami memutuskan untuk menunggu sebelum kami meninggalkan rumah. Tebersit kekhawatiran bapak akan melakukan sesuatu yang buruk. Tapi yang terjadi jauh diluar dugaan kami. Jelang subuh keesokan harinya, pintu rumah kami digedor tetangga.

“Mas, Mbak.. maaf, ini ada warga desa sebelah yang menemukan bapak pingsan di kebun pisang.” Kami mendapati bapak dengan pakaian seadanya. Tanpa banyak tanya kami membawa bapak ke dalam, setelah sebelumnya mengucapkan terimakasih kepada para tetangga dan warga desa sebelah. Menjelang pagi bapak sadar. Kami menyiapkan makanan dan minuman panas. Tak seorang pun diantara kami yang mencoba bertanya. Bapak pun hanya diam, menganggap itu sebagai sebuah kewajaran yang harus diterima. Berbagai komentar kudengar siangnya. Dari yang sekedar bertanya tentang kondisi bapak sampai ke komentar-komentar yang tidak mengenakkan. Tapi nadanya sama, mencemooh.
“Bapak sudah sehat, Mbak? Gitu ya.. kalau sudah sepuh, sering sakit.”
“Bapak itu harus ada yang nemenin, Mbak, biar ndak kemana-mana.”
“Suruh kawin lagi sajalah bapaknya, Mbak..”
“Bapak itu dijebak perempuan di desa sebelah tuh. Emang dia kegatelan sih.” Dengan nyinyir seorang ibu di pasar yang kutemui melengkapi. Tapi yang terdengar di telingaku,”bapaknya Mbak itu emang sundal laki-laki!”

Aku tidak tahan dengan aneka ocehan orang. Aku semakin tidak tahan setelah mendengar sejumlah cerita lainnya. Bapak belum lama itu mencabuli mantan muridnya, menggoda istri tetangga, nyaris menyetubuhi pembantu rumah tangga yang sengaja dibawa kakakku untuk mengurus keperluan bapak. Ya, kakak dan saudara-saudaraku yang lain tahu persis apa yang terjadi belakangan ini. Tapi mereka tidak mau memberitahuku. Akupun merasa harus menutup mata. Aku akan pergi dari desa ini untuk selamanya. Aku betul-betul muak. Diskusi tentang wacana gender yang seringkali kuhadiri menjadi retorika kosong yang gemanya terdengar samar di telingaku. Bapakku menjadi pelaku pelecehan!

Kini, aku kembali ke rumah ini. Dua buah surat sampai ke kantor tiga hari lalu. Surat pertama datang dari bapak, mengabarkan kalau dia sakit dan ingin kutengok. Surat kedua dari kakakku yang mengharapkan aku pulang dengan harapan bapak mau bertobat, mengubah perilaku buruknya. Harapan yang terlalu berlebihan. Tapi akhirnya aku pulang juga. Ke rumah yang ternyata tanpa penghuni. Kutengok jam. Sudah hampir empat jam aku menziarahi masa lalu. Bergegas aku mendatangi tetangga terdekat.
“O.. bapak? Kemarin dijemput itu.. siapa ya? Saudaranya yang di Prigi itu kayanya.”
Prigi adalah sebuah kawasan wisata di pantai selatan. Ada kakaknya bapak disana. Dan aneka kecurigaan bersliweran di kepalaku. Kuputuskan untuk pergi menyusul.

*******

Setengah empat sore aku tiba di kediaman pakdhe. Ada hingar pesta. Gending tayub bertalu. Dari kejauhan kulihat sejumlah laki-laki dan tledek* menari di tengah arena. Saling menggenggam tangan dan melempar senyum saling menggoda. Laki-laki yang kukenal sebagai bapak itu juga ada disana, menyumpalkan uang kertas ke balik kutang yang menyembunyikan dada montok sang penari. Dia tertawa bungah. Aku seperti tidak mengenalinya. Bapak yang tidak banyak bicara, yang seperti mengharamkan tertawa tiba-tiba berubah menjadi manusia lain. Betulkah itu bapakku? Bapak yang pernah menanamkan benihnya di rahim ibuku dan kemudian muncul dalam wadag perempuan, ya aku ini?
“Biarkan bapakmu, Nduk. Sudah sewajarnya laki-laki begitu.” Pakdhe sudah berdiri di sebelahku.
“Dasar feodal kampungan sialan!” Aku hanya bisa mengumpat dalam hati sambil berlalu. Tiba-tiba aku merasa sangat letih. Aku meninggalkan arena pesta tanpa sempat bertatap muka dengan bapakku. Tidak sempat mendapatkan jawaban, apa betul aku anak perempuan yang disayanginya? Aku tidak menginginkan apa-apa lagi. Aku tidak peduli dengan seruan pakdhe. Yang kuinginkan cuma satu: pulang ke Bandung.

Cikoneng, 12 Januari 2007, dini hari.

Keterangan:
Bandung    : sebuah desa di Kab. Tulungagung, Jawa Timur
klimis    : licin dan mengkilap
thukmis    : sebutan untuk pria hidung belang
tledek    : penari tayub, ronggeng

***

Tulisan 5 tahun lalu, dan aku belum menulis apa-apa lagi setelah itu 😦 Wake up, dhenok.. wake up!

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s