Lir Ilir, tembang sederhana yang sarat makna

Lir-ilir, lir ilir tandure wis sumilir,
Tak ijo royo-royo tak sengguh temanten anyar,
Cah angon, cah angon penekno blimbing kuwi,
Lunyu-lunyu peneken kanggo masuh dodotira,
Dodotiro, dorotiro kumitir bedhah ing pinggir
Domana jlumatana kanggo seba mengko sore,
mumpung gedhe rembulane, mumpung jembar kalangane.
Do….. suraka…. surak… hore!

Ya, betul..barisan kalimat di atas adalah lirik dari tembang jawa Lir Ilir. Yang hanya dengar selintas mungkin akan menikmati tembang ini sebatas harmonisasi bunyi dan suara. Yang tak kenal sastra Jawa juga akan sekedar menyanyi tanpa tau arti. Padahal tembang ini punya makna yang dalam. Mari kita lihat..

Lir-ilir, lir ilir tandure wis sumilir.. menggambarkan jiwa manusia yang telah bangun, menyadari akan adanya kuasa Ilahi.

Tak ijo royo-royo tak sengguh temanten anyar.. bermakna kesadaran terhadap adanya Sang Pencipta disertai rasa cinta kasih serta rasa asyik, seperti halnya rasanya pengantin baru.

Cah angon, cah angon penekno blimbing kuwi, Lunyu-lunyu peneken kanggo masuh dodotira… Blimbing mengandung asam, dapat dipakai sebagai sabun untuk mencuci pakaian. Dodot (kain panjang) adalah salah satu jenis pakaian Jawa yang melambangkan hati. Blimbing yang sulit mengambilnya karena licin, itu menjadi kewajiban para umat (cah angon) untuk mendapatkannya. Artinya menyucikan hati itu wajib bagi kita semua. Sementara hati yang suci dapat tercapai jika kita memiliki watak utama.
Watak utama itu ada lima:
1. Iklas,
2. Taqwa (dapat menerima kenyataan sebagaimana apa adanya)
3. Sungguh-sungguh dan jujur, yaitu satu keyakinan, kata dan perbuatan,
4. Sabar
5. Budi Pekerti yang luhur.

Menjalankan lima perkara itu tidak mudah, seperti pada kalimat lunyu-lunyu penekna (biarpun licin, tetapah memanjat)

Dodotiro, dorotiro kumitir bedhah ing pinggir.. Dodot/pakaian sudah sobek pinggirnya; maksudnya keimanan sudah tidak utuh lagi

Domana jlumatana kanggo seba mengko sore.. Keimanan yang tidak utuh lagi harus dipulihkan keutuhannya. Keimanan kepada Yang Kuasa harus bulat, tidak boleh ada retak atau kurangnya lagi. Iman yang utuh/bulat sangat penting, karena kesucian hati belum cukup menjamin kita dapat menghadap Gusti (dari kata: kanggo seba). Mengko sore mengandung makna bahwa waktu untuk menghadap Gusti sudah dekat, bak sore hari menjelang malam.

Mumpung gedhe rembulane, mumpung jembar kalangane… Mengandung makna bahwa kita musti segera menyiapkan diri dengan baik. Selagi muda, masih kuat, segeralah merasuk/memakai pakaian kesucian dan menggalang keimanan yang benar, jangan membuang-buang waktu. Sebab ‘panggilan’ bisa datang sewaktu-waktu.

Do….. suraka…. surak… hore!“
Mengambarkan rasa bahagia serta rasa syukur kepada Gusti, bahwa kita dapat memakai pakaian kesucian yang merupakan bekal kita dapat masuk dan kembali ke rumah Gusti.

Tembang ini konon diciptakan oleh Sunan Kalijaga. Tapi ada pula yang mengatakan Sunan Giri. Entahlah..yang jelas ini karya indah masa lalu yang layak untuk dinikmati 🙂

 

 

dari berbagai sumber

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s